<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941</id><updated>2012-01-15T07:08:06.097-08:00</updated><category term='DUNIA MAHASISIWA'/><category term='DUNIA KEULAMAAN'/><category term='POLITIK'/><category term='BUDAYA'/><category term='KHUTBAH JUMAT'/><category term='PEMUDA'/><category term='KALIGRAFI'/><category term='REFLEKSI'/><title type='text'>arabiyyatuna</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>81</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-1813831929536523729</id><published>2009-05-31T22:40:00.001-07:00</published><updated>2009-05-31T22:42:06.481-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Ketika 'Gaji' Pengemis Melebihi Gaji Pejabat</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan dan kehidupan manusia tak bisa dipisahkan. Ia hadir untuk menjadi bunga penghias keberagaman kehidupan. Ada kemiskinan yang disengaja, tidak disengaja bahkan ada kemiskinan yang diciptakan. Ada kemiskinan materi, kemiskinan rohani dan ada juga kemiskinan nurani. Dalam segala hal, wacana kemiskinan tak enak didengar sekaligus tak sedap dilewati dalam kehidupan. Sebuah negara disebut terbelakang, berkembang ataupun maju, salah satu patron koherensinya adalah jumlah orang miskin di negara tersebut. Orang Arab mengatakan kata ‘miskiin’ untuk mengatakan kasihan deh loh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian Priangan, Sabtu 30/5 lalu, mengangkat kisah Tini –entah nama asli atau samaran– baramaen yang sukses mencetak anak-anaknya menjadi ‘orang’ dari kerja kerasnya menjual kemelaratan. Kaget juga ketika kita mendapat informasi bahwa pendapatan Tini perhari melebihi gaji para pejabat. Di Tasik, Ciamis dan Garut ia bisa mendapat Rp. 100.000 perhari dari aktingnya memerankan tokoh orang miskin. Sementara penghasilan dua hari, Sabtu dan Minggu ‘berdinas’ di Bandung ia mendapatkan income minimal Rp. 150.000 perhari. Subhaanallaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradoksi kehidupan tengah terjadi, dan kita tak pernah mencari apa hikmah di balik kisah Tini ini. Tini, adalah gambaran kecil dari luasnya cakrawala kehidupan manusia dalam perjalanan sejarahnya. Kota, di manapun ia, adalah surga yang menjanjkan, terutama dalam wacana kehidupan modern. Tak hanya untuk pelaku bisnis, ternyata kota pun menjadi ‘surga’ bagi para pengemis. Dampaknya pasti mudah ditebak, warna kota jadi terkotori. Di Jakarta, untuk mengurangi hingga mengusir para pengemis, pemda DKI hingga harus mengeluarkan perda untuk mengancam para pemberi sedekah bagi para pengemis dengan denda uang 50 juta rupiah atau enam bulan kurungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya di Jakarta, di Bandung pun pengemis menyemut. Setiap perempatan lampu merah, area perbelanjaan umum terutama pasar, setiap bubaran jumatan dan acara-acara massal lainnya adalah bagaikan gula yang mudah mereka endus. Dengan berpenampilan kumuh, kisruh, menjijikan dan memuakkan mereka ‘bergaya’ di catwalk kota Bandung yang hawanya beranjak panas ini. Dengan nada sinis para ahli sosiologi di Bandung merubah gelar ‘kota kembang’ dan ‘Paris Van Java’ Bandung dengan ‘kota pengemis’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan serupa terjadi juga di Priatim. Di Tasik misalnya, jumlah pengemis, lokal maupun impor luar biasa banyaknya. Mereka datang dengan membawa pasukan kecil hingga balita yang sengaja ‘diteteki’ di tengah halayak ramai. Sebuah proses regenerasi pengemis sedang dan terus terjadi. Ironisnya, mereka mempertontonkan kemelaratan hidup di hadapan kantor pemda dan gedung DPRD yang dihuni orang-orang yang dalam jargon politiknya menjanjikan peningkatan kesejahteraan dan pengentaskan kemiskinan di tatar Priangan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemis Dalam Perspektif Islam  &lt;br /&gt;Pengemis, adalah entitas kecil dalam kehidupan manusia yang menyejarah. Para pengemis hidup bukan hanya di negara-negara miskin dan berkembang, tapi juga di negara-negara maju. Mereka hadir bukan untuk dibasmi dan dilenyapkan, tapi untuk dikurangi dengan cara dibina dan diberi harapan. Walaupun penghasilan mereka fantastis  –bandingkan dengan guru bantu di beberapa daerah terpencil yang bergaya di atas motor dan menenteng hp, padahal gaji mereka Rp. 200.000/bulan–, tetap saja mereka terhina, bak sampah yang mengumuhi kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Islam, pengemis telah menjadi elemen penting dalam pengembangan sikap karitas, pilantropi (kedermawanan) dan altruisme. Keanggunan sifat Nabi Muhammad saw., para sahabat dan para tokoh besar lainnya tercermin dari kebiasaan mereka mengorbankan hak-hak pribadinya untuk diberikan kepada pengemis. Nabi sendiri tak pernah menolak permintaan siapapun yang meminta sesuatu kepadanya. Kemasyhuran keluarga harmonis Ali bin Abi Thalib dengan istrinya Fatimah adalah karena pengorbanan mereka kepada para pengemis, walaupun kehidupan keduanya bukanlah refresentasi orang-orang beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Quran menyebut pengemis dengan saail (tunggal/singular) atau saailiin (jamak/plural). Empat kali al- Quran menyebut saail dan sekali saja menyebut saailiin. Perlakuan dan sikap kita terhadap mereka, tentunya harus mengacu kepada pendapat para ulama tafsir, terutama dalam memahami surat al- Dhuha [93]: 10, “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya”. Salah satu tafsir kebanggaan warga Indonesia, Al- Misbah karya M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa di satu sisi, Nabi memperingatkan kita untuk tidak menolak orang yang datang meminta-minta. Dalam beberapa hadits beliau bersabda, “janganlah seseorang di antara kamu menolak permintaan walaupun yang meminta-minta itu memakai gelang emas” dan “bersedekahlah walaupun hanya dengan sebiji kurma”. Namun di pihak lain beliau juga bersabda, ”Tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (penerima)” dalam hadits lain, “siapa yang meminta untuk memperbanyak apa yang dimilikinya, maka sesungguhnya ia hanya mengumpulkan bara api neraka” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Quraish Shihab juga mengingatkan kita, bahwa larangan menghardik di atas tidaklah berlaku terhadap peminta yang yang sanggup bekerja, usia produktif dan bertenaga kuat. Mereka yang demikian itu perlu diarahkan, dibimbing agar bekerja dan apabila mereka enggan, menghardiknya dengan tujuan menginsafkan merupakan sesuatu yang dapat dibenarkan. &lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung, dosen LB di STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-1813831929536523729?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/1813831929536523729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/ketika-gaji-pengemis-melebihi-gaji.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1813831929536523729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1813831929536523729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/ketika-gaji-pengemis-melebihi-gaji.html' title='Ketika &apos;Gaji&apos; Pengemis Melebihi Gaji Pejabat'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-4011078568736231044</id><published>2009-05-31T22:38:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T22:40:14.520-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUDAYA'/><title type='text'>Dari Elegi Gedung Dewan, Pilpres hingga Kontroversi Facebook</title><content type='html'>Oleh: Asep M. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua menit!”, kalimat itu sepertinya telah menjadi idiom yang tergumam dari bapak-bapak yang baru keluar dari mulut mesjid, tanda obrolan sabulangbentor ba’da bubaran wirid subuh dimulai. Tradisi itu telah mewarnai sejarah mesjid kami sebelum bapak-bapak itu pulang ke rumah masing-masing. Di undakan mesjid, obrolan berat urusan negara, kelakuan para inohong, rencana kegiatan RT hingga melonjaknya harga cabe merah keriting diulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan dua menit yang terkadang memanjang menjadi setengah jam itu, kadang sampai menghabiskan dua hingga lima topik. Arah obrolan berpindah sesuai celetukan sekena dan semaunya dari peserta ‘rumpi’ pagi itu. Obrolan ringan yang kadang juga berat itu, bagi penulis adalah gambaran kecil dari rangkaian suara rakyat akan berbagai harapan mereka, yaitu terwujudnya kehidupan ideal dalam tatanan ekonomi, sosial hingga politik.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, topik yang sedang hangat dalam wacana masyarakat Tasik adalah masalah perbaikan interior gedung dewan yang menghabiskan lebih dari satu miliar Rupiah dibahas. Dengan geramnya bapak-bapak mengutuk rencana yang sudah berjalan itu hingga bila walikota dan anggota dewan hadir dan mendengar, pastilah kuping mereka panas dan mereka akan marah. Bapak-bapak itu tak tahu bahwa dari sudut pandang hukum, tak ada yang salah dengan proyek yang telah tercium bau di hidung rakyat Tasik itu. “Tapi bayangkan”, kata seorang bapak, “rakyat baru saja terbuai dengan janji demi janji untuk kesejahteraan dan perbaikan hidup mereka, janji yang terucap dari para caleg belum juga hilang dari ingatan mereka, bibir para caleg belum juga mengering, eh, legislatif dan walikota malah hom pim pah mendahulukan kepentingan mereka dan melupakan rakyatnya, manajemen pemerintahan macam apa ini?” bapak tadi, saking bernafsunya menaikkan nada suaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membelokkan arah pembicaraan, seorang bapak yang rutinitas hariannya menonton berita di televisi mengangkat isu yang lain. Isu yang paling hangat dalam wacana sosial politik hari-hari terakhir ini, juga sebulan ke depan adalah isu pilpres. “Lagi-lagi untuk kenduri politik besar-besaran itu, rakyat dipaksa untuk memilih dan lagi-lagi hak mereka untuk memilih berubah menjadi kewajiban untuk memilih”, katanya. Bapak-bapak tadi lalu bergantian memaparkan ‘presentasi’ dari thesis mereka setelah mencerna berbagai masukan informasi dari berbagai pemberitaan televisi. Semua membawa hasil “kuliah pemadatan” semalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik, selain menghadirkan wacana serius karena berhubungan dengan ilmu dan seni pengelolaan negara, ternyata ia juga menghadirkan wacana sensitif karena bila seorang calon presiden diunggulkan di hadapan seseorang yang berbeda pilihan, masalah justru akan meruncing dan kemudian menjurus kepada pertengkaran. Politik, selain menjanjikan wacana serius dan sensitif tadi, ternyata juga menjanjikan wacana yang lucu dan menggelitik. Bagaimana tidak, dari mulai pejabat tinggi hingga ketua RT, dari mulai ekonom kelas berat hingga tukang jualan bakso, dari mulai pekerja berat hingga kaum pengangguran, dari mulai pejabat higga penjahat, dari mulai seniman, agamawan, pelaku pendidikan hingga pengamen jalanan, semuanya berhak jadi pengamat politik. Anehnya, tukang becak dan kuli angkut di pasar Cikurubuk menganggap dirinyalah yang paling tahu urusan politik. Dengan penuh keyakinan, seorang pemulung di terminal Indihiang memprediksi SBY-lah calon pemenang pilpres mendatang. Lain di terminal, lain pula di pangkalan ojek, seorang pengojek yang punya kemampuan menggirig opini massa, mengarahkan opini tentang kemenangan JK Juli mendatang. Di sudut lainnya, di pesawahan dan di pinggiran pantai, para petani dan nelayan yakin MSP-lah calon juaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan bapak-bapak tadi, biasanya dibubarkan oleh ibu-ibu yang sekedar nongol memperlihatkan batang hidungnya di depan suaminya, atau juga bisa jadi dibubarkan oleh teriakan seorang ibu yang menyuruh suaminya segera pulang untuk membantu pekerjaan rumahnya atau sekedar meringankan tugas memperiapkan anak-anaknya yang segera akan pergi sekolah. Namun untuk menutupi pembicaraan, biasanya tersisa satu topik penutup. Kali ini, judulnya cukup berat, yaitu ketika penulis ditanya, apa itu facebook (FB)? Apa urusannya sehingga ulama Jawa Madura mengharamkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis menjawab bahwa benar bahtsul masail XI Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur memutuskan bahwa FB haram. Tentu banyak alasan yang mengarahkan pendapat para ulama yang berkumpul di Pesantren putri Hidayatul Mubtadiat Kediri itu berujung di kesimpulan facebook haram. Seperti fatwa-fatwa haram terdahulu; haram rokok, haram pornografi dan pornoaksi, fatwa haram FB ini juga menuai pro kontra. Wajar saja, anggota facebook saat ini marah, mereka merasa seperti anak-anak yang baru saja punya mainan baru nan amat menyenangkan, –hinggga untuk masuk jalur FB siap menghabiskan waktu berjam-jam– lalu ada pihak lain yang siap merebut dan mengambil kembali mainan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haram tidaknya FB, hemat penulis, tergantung sejauhmana FB memberi dampak madaharat kepada penggunanya sehingga hak dirinya, hak usaha dan waktu kerja produktifnya, hingga hak Allah (agama) terabaikan. Bila FB haram, maka akan sangat banyak variable lain selain FB yang harus difatwa haram. Memang, ada benang merah antara bermain FB dengan penelantaran waktu ataupun hal-hal yang mengarah kepada perselingkuhan dan perzinahan, tapi itu kasuistis, sementara nilai positif FB tak kalah dari nilai negatifnya. Nilai positif itu misalnya, adalah keanggotaan KH. Hasyim Muzadi (ketua umum PBNU) dan Prof. Dien Syamsudin (ketua umum PP Muhammadiyah) di FB. Tentu, keberadaan keduanya bukan legitimasi halalnya FB, tapi sosialisasi program kerja PBNU dan PP Muhammadiyah setidaknya terwakili dan terbantu dengan kehadiran FB ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting untuk dilakukan, adalah sertifikasi atau akreditasi WARNET! Penulis punya cukup pengalaman ketika harus kehabisan tempat di warnet karena penuh oleh anak-anak sekolah. Di satu sisi, anak anak kita (pelajar SMP dan SMU) di zaman sekarang ini sudah melek teknologi, tidak ketinggalan informasi dan tidak jadul. Tapi, lagi-lagi hemat penulis, nilai negatif keberadaan mereka memenuhi ruangan warnet memunculkan pertanyaan, apa yang mereka perbuat di kamar warnet yang nyelegon itu? Situs apa yang mereka hunting? Apakah berjam-jam keberadaan mereka di kamar itu setelah berbagai kewajiban mereka sebagai anak-anak sekolah dan kewajiban mereka sebagai orang-orang beragama telah terpenuhi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak-bapak yang khusyuk mendengar “ceramah” penulis pun bubar. Salah seorang di antara mereka nyeletuk, “teu ngarti ah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah peminat masalah sosial keagamaan, tinggal di Tasikmalaya, pengelola asmat-arabiyyatuna.blogspot&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-4011078568736231044?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/4011078568736231044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/dari-elegi-gedung-dewan-pilpres-hingga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/4011078568736231044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/4011078568736231044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/dari-elegi-gedung-dewan-pilpres-hingga.html' title='Dari Elegi Gedung Dewan, Pilpres hingga Kontroversi Facebook'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-5750915826889440652</id><published>2009-05-31T22:36:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T22:38:16.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA MAHASISIWA'/><title type='text'>Dunia Pendidikan, Dunia Hati Nurani</title><content type='html'>Oleh: Asep M. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian Nasional (UN) yang telah berlalu beberapa minggu ke belakang, ternyata masih menyisakan permasalahan. Katakanlah, bila pun segalanya telah terlupakan, tapi apakah kita rela kerancuan demi kerancuan yang terbiarkan itu terjadi lagi di tahun-tahun mendatang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kerancuan dunia pendidikan yang terjadi dalam UN itu lolos dari tanggung jawab berbagai pihak termasuk kita semua, dikhawatirkan ke depan akan menjadi sebuah budaya yang melembaga. Budaya korupsi misalnya, pada awalnya hanya dilakukan oleh segelintir orang saja, namun karena dibiarkan dan dianggap lumrah, maka begitu kuat daya tularnya dan kemudian menjangkiti berbagai tempat, berbagai lembaga dan intansi, lalu mewabah dan menjelmalah sebuah budaya korupsi yang massif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu lembaga pendidikan elit di kota Tasikmalaya, ada penguatan paradigma yang terbangun apik dan menjadi sebuah pilihan pahit dari para pengelolanya. Setiap masa pelaksanaan UN berlangsung, semua pihak; kepala sekolah, para guru dan murid-muridnya ‘memasang kuda-kuda’ dan  memagari diri untuk tidak terjebak pragmatisme menghalalkan segala cara untuk menunjang kelulusan siswa-siswanya yang diuji. Asumsinya, lebih baik mendapatkan nilai kecil dan murni tapi memuaskan batin daripada lulus dengan nilai tinggi tapi menyakiti dan menghianati hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi di atas, tak lebih merupakan gambaran dari dua opsi mikro yang selalu menghinggapi para pengelola lembaga pendidikan kita, entah itu pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Dilema demi dilema tak pernah berhenti menghampiri dan ketika itu harus terjadi, betapa beratnya bagi mereka untuk bermakmum pada hati nurani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN DAN KEMENANGAN HATI NURANI &lt;br /&gt;Tulisan ini, adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya (kebahagiaan hakiki para pejuang ilmu) yang mengurai survive dan bahagianya para pejuang ilmu; para guru, dosen, ulama, terutama guru swasta, guru bantu, guru honorer di negeri ini, walaupun mereka harus melewati hari-hari panjang perjuangannya itu dengan pendapatan minim dan irasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan sederhana yang ditemani bertahtanya hati nurani dalam tingkah laku dan pilihan-pilihan hidup lainnya, sejatinya menjadi bagian inherent dari semua pengelola dan pelaku dunia pendidikan kita, swasta ataupun negeri. Keterpujian ataupun ketercelaan nama mengintai mereka kala godaan demi godaan datang dari berbagai penjuru. Berbahagialah mereka yang hanya memilih jalur kejujuran dan istiqamah dengan dunia ilmu. Kemanfaatan lahir batin akan bisa dinikmati semua pihak terutama para siswa terdidik. Sebaliknya kerugian massal, lahir dan batin, mengintai mereka ketika untuk meraih nama baik, mereka memilih untuk mengorbankan norma-norma yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur dan tidaknya para pengelola dan pelaku dunia pendidikan kita, akan kuat berimbas pada perilaku para siswanya. Pemberitaan tentang demoralitas siswa-siswa didik di tanah air, tidak serta merta menjadi buah dari serangan boombastis teknologi informasi yang tidak terpagari nilai-nilai agama dan budaya, tapi juga karena nilai keteladanan dan kejujuran para ‘abdi ilmu’ (guru) yang semakin tergusur oleh tuntutan dunia pendidikan yang masih berbasis nilai ujian dan kelulusan. Moral para guru, dosen dan para stake holder dunia pendidikan lalu dipertanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan akan terwujudnya pendidikan yang tidak melulu mengandalkan dan menitikberatkan sisi kognisi siswa semakin menggema di mana-mana. Sisi afeksi dan psikomotor yang terabaikan selama ini semakin meronta untuk diberikan porsinya yang memadai. Dimensi intelektualitas siswa memang paling penting, tapi bukan berarti dimensi emosional dan spiritual harus terpinggirkan dan kemudian terhempas ke pojokan. Maka dalam hal ini, meruyaknya pelatihan-pelatihan demi kelulusan sertifikasi dan menjual acara seminar demi sertifikat lalu dipertaruhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaman rasanya, bila suatu saat kita menyaksikan dunia pendidikan di negeri ini tidak lagi direcoki oleh kepentingan politik yang sisi negatifnya lalu berimbas pada perilaku para pelaku pendidikan. UN yang sejatinya menjadi ujian para siswa lalu berkembang menjadi ujian bagi guru pengampu, kepala sekolah, kepala KCD, kadisdik hingga kepala daerah (bupati dan walikota). Ke depan, ketika suasana dunia politik semakin nyaman, ketika penyakit-penyakit yang diidapnya sembuh, maka dunia pendidikan kita yang sedang menggeliat, dengan kocoran anggaran yang semakin mengarah kepada kemajuan, maka yang muncul dan menjelma adalah prestasi siswa yang menanjak dan porsi moralitas mereka yang meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aib yang tak henti menghempas dunia pendidikan kita, sudah saatnya dibenahi dengan —salah satunya— kembali pada norma-norma yang bersumber pada kedalaman hati nurani yang tak pernah bisa dibohongi. Ketika anak-anak didik kita lulus seratus persen dan hati nurani kita mengakui bahwa hal demikian dihasilkan dari kerja keras ‘bermain’ curang, betapa nelangsanya hati terdalam dan tersembunyi itu. Tapi ketika kerja keras telah dilakukan, doa telah dipanjatkan, mental para siswa sudah dikuatkan dan kejujuran siap diperjuangkan, maka apalagi yang lebih indah daripada taqwa dan tawakal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan hakiki para pejuang ilmu, berarti ada dan bertengger pada kemenangan hati nurani. Tertanamnya nilai kejujuran dalam benak para siswa yang dipraktekkan para guru, kepala sekolah dan stake holder dunia pendidikan di depan para siswa, adalah satu di antara beribu jalan untuk menghasilkan anak-anak didik kita yang berakhlak mulia. Dengan demikian, demoralitas para pelajar yang berjangkit, mewabah dan menjadi endemi di negara tercinta ini, lambat laun akan menemui titik akhirnya. &lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung Tasikmalaya, dosen LB pada STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis, pengelola blog asmat-arabiyyatuna.blogspot&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-5750915826889440652?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/5750915826889440652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/dunia-pendidikan-dunia-hati-nurani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/5750915826889440652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/5750915826889440652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/dunia-pendidikan-dunia-hati-nurani.html' title='Dunia Pendidikan, Dunia Hati Nurani'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-281769609938901990</id><published>2009-05-31T22:34:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T22:36:32.148-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA KEULAMAAN'/><title type='text'>moderat; sikap keagamaan dan politik alumni darussalam</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Darussalam, khususnya Akang (Pak Kiai, KH. Irfan Hilmi), belum sempat meneliti sikap keagamaan dan politik para alumninya setelah tiga, enam atau sepuluh tahun nyantri, lalu keluar menjadi alumni. Tahunya, mungkin sebatas kabar afiliasi beberapa alumni di beberapa partai, atau terdaftarnya mereka sebagai pengurus di beberapa ormas keagamaan lokal, regional ataupun nasional.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini, mungkin subjektif bila dikatakan refresentasi sikap keagamaan dan politik para alumni Darus —demikian kami menyingkat Darussalam— secara keseluruhan. Dan bila ternyata salah, maka tulisan ini berarti hanya sebatas ‘curhat’ pribadi penulis sendiri. Namun demikian, penulis mempunyai keyakinan —bila penelitian benar-benar dilakukan— bahwa thesis ini bisa dibuktikan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri, adalah alumnus yang hanya tiga tahun menikmati kedalaman kasih sayang Darus dalam bingkai pendidikan. Sekarang, entah apa nama sekolah tempat kami dibina dulu, atau mungkin sudah hilang tergerus masa, tapi dulu, dua puluh tahun yang lalu, saya dan 40 orang teman sekelas mengukir sejarah diri dalam suka dukanya hidup menjadi murid MAPK angkatan kedua (1988-1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahit Artinya Manis&lt;br /&gt;Sebelum jauh melangkah ke topik di atas, saya mohon diizinkan menulis pengalaman ‘super’ indah yang telah membawa kami pada posisi seperti sekarang ini. Kalau dihitung-hitung, tiga tahun digodok dalam belanga ilmu di Darus, rasa dukanya lebih dominan dibandingkan rasa sukanya, pengalaman pahit lebih banyak dirasa daripada pengalaman manisnya. Subjektivitas demikian wajar disampaikan oleh sesosok diri yang datang ke Darus dengan modal ilmu yang biasa-biasa saja, pas-pasan dibanding teman-teman yang lebih dulu mematangkan ilmu dan kepribadian mereka di MTs-MTs asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pahit dan rasa duka selama tiga tahun itu, bila dirinci takan bisa diulas hanya dalam 5000 characteres tulisan sebuah artikel. Singkatnya saja, bagaimana seorang santri bisa kerasan mengisi hari demi hari dengan efektivitas belajar 15 jam —dari jam empat dini hari hingga jam sembilam malam dengan asumsi, ada dua jam istirahat makan, mandi, qailulah dan canda— perhari. Demikian kuatnya arus kompetisi kala itu hingga jika tidak ikut ‘karapan’, pastilah satu demi satu tunas bangsa itu berguguran sebelum bunganya meranum buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun ‘surga’ Darus bisa dinikmati, itu hanya sesaat saja. Sejak lonceng sekolah di Sabtu siang berdenteng, kami beroleh ‘kemerdekaan’ hingga senja di hari Minggu tiba. Malam Senin menjelang dan kami kembali masuk ‘neraka’. Shalat Maghrib adalah tanda genderang perang mulai ditabuh. Siklus itu berlangsung hingga Sabtu siang hadir kembali di pangkuan. Dalam enam hari itu, sahabat kami adalah al- Quran, buku pelajaran dan kitab kuning. Seharian setiap harinya, mulut kami tak henti “menghitung jumlah huruf” al- Quran, buku dan kitab kuning itu. Jam satu siang, ketika anak-anak SMA pada umumnya sudah santai di depan TV sambil ongkang kaki dengan makanan ringan di tangan, kami justru harus mengenakan kembali seragam putih abu, melanjutkan misi, memforsir perangkat ilmu untuk lagi dan lagi membaca, menulis, menghafal, diskusi, mengonklusi dan menyantap aneka hidangan berbagai ilmu dari para guru.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Ciamis umumnya merah bata. Bila kering pecah dan bila hujan lengket. Kemarau atau pun musim hujan sama menyiksanya. Kemarau hanya menyisakan sedikit air hingga untuk mandi harus terlebih dahulu berkompetisi memperebutkan air ‘bajigur’ yang lecek. Jika tak mandi, kami takan bisa melawan panasnya hawa Ciamis dan tidur malam pun pastinya berteman mimpi buruk. Musim hujan pun tiba dan kami yang duduk di kelas tiga, telah terlatih dengan ledoknya tanah merah bata yang leueurnya minta ampun itu. Dulu, di tahun pertama, kami pergi ke mesjid dan harus berjibaku melawan leueurnya jalan menurun menuju mesjid. Seringnya kami tisorodot, tikosewad, tigorewal, tijumpalit dan tijurahroh. Saya sendiri, sumpah! dalam sehari pernah tiga kali ganti sarung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila jam makan tiba, dada kami berdetak lebih kencang bagai genderang mau perang. Kami benar-benar khawatir dengan nasib piket penggotong nasi, terutama nasinya, akankah  perjuangan keras piket penggotong nasi tiba di warung bu Dedeh dengan selamat? Apakah jalan licin itu mampu ditaklukkan? Bila tidak, kami haris kembali pulang ke kamar, sambil memukul-mukulkan sendok ke piring, berjama’ah bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kiai dan Sikap Moderat Kami&lt;br /&gt;Di tengah suasana serba ‘mencekam’ itu, kebersamaan yang terajut antar teman sekelas dan sobat seasrama, ditambah suhu keilmuan Darussalam yang menakjubkan membuat suasana mencekam itu menjadi cair. Sampai hari ini, ketika ada acara di Darus yang sengaja saya ambangi, tradisi intelektualitas yang terbudayakan itu masih tertata apik dan menjadi alasan kuat kenapa orang tua kami dulu menyekolahkan dan memesantrenkan anak-anaknya di ranah nyiur melambai itu. Satu hal yang harus ditiru pesantren lainnya di wilayah Priatim, adalah budaya baca yang sudah terbenam kuat di kalangan santrinya. Berbagai harian surat kabar lokal maupun nasional bisa dibaca setiap harinya di MTs, MAN, IAID, perpustakaan Darussalam dan rumah keluarga pak kiai; santapan penutup di samping bacaan utama, buku pelajaran dan kitab kuning.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas segalanya, sebenarnya ada faktor lain yang membuat kami bisa betah menggayung samudera ilmu Darussalam, ia adalah sosok pak kiai, juga civitas academica pesantren; guru-guru, pengurus pesantren, keluarga besar pak kiai dan lingkungan sekitar yang melebarkan pintunya untuk kami semua sebagai pendatang yang jauh dari keluarga. Sosok yang sering mengatakan dirinya ‘bapak’ dari semua santrinya dan tidak membedakan siapa dari siapa ini, adalah perekat bathin yang tak seperti leader yang sok mengatur, tapi sebagai manager yang mengayomi semua unsur dengan penuh tanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anakku”, kata-kata itulah yang terekam kuat dan takan terlupakan dari pak kiai. Suara lirihnya yang sangat dijiwai itu selalu saja membuat kami ‘merinding’ dan sejenak melupakan orang tua kami, lalu bangga dengan sosok bapak penyabar, bijak dan ikhlas menjaga keseimbangan langkah kami kala itu. Kata-kata itu juga yang kami lantunkan di hadapan anak didik kami dan nyatanya, semua yang mendengarnya terdekap dalam kedalaman kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, kami hanya tiga tahun merasakan kehangatan pribadi khas pak kiai. Kepemimpinannya dalam mengatur arah Darus, di tengah usianya yang tak muda lagi, telah berhasil mengantarkan Darus menjadi pesantren modern, inklusif, dan multi prestasi. Layaknya madu, manisnya Darus telah tercicipi oleh berbagai kalangan, suku, organisasi dan lainnya. Kesatuan dari berbagai unsur perbedaan latar belakang siswa yang datang ke Darus, menjadi unsur terpenting dalam mengarahkan pilihan dan sikap para santrinya setelah kelak keluar dari Darus dan berkiprah di masyarakat. Bila dulu pak kiai mengarahkan santrinya kepada fanatisme buta dan kepentingan sektarian, maka sikap yang terbangun di setiap benak alumni pasti tak seindah apa yang terjadi hari ini. Ikhtilaf latar belakang santri yang sebagian NU, sebagian lainnya PERSIS, Muhammadiyah, PUI, thariqah dan lainnya berhasil diramu dalam bingkai ittifaq, lalu muncullah keanggunan ukhuwah; hal yang di zaman sekarang ini tak mudah untuk diamalkan di tengah-tengah masyarakat biasa.             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di manapun alumni Darussalam berada, ia —harusnya— memperlihatkan maturitas (kedewasaan) sikap ketika ‘terpaksa’ ada dalam kepentingan organisasi massa atau partai politik dan berhadapan dengan kepentingan berbeda dari berbagai arah. Fanatisme buta dan kepicikan berfikir yang dibawa dari kampung halaman —dan itu modal saya sendiri ketika datang ke Darus— nyaris terpangkas habis di tahun-tahun yang penuh kesan dan kepuasan bathin ini.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, di tiga tahun yang terenyam itu, saya mencoba menyelami kedalaman makna dari visi Darussalam mencetak muslim yang mederat, mu’min yang demokrat dan muhsin yang diplomat. Setelah tak berhasil memaknai tiga kata kunci (moderat, demokrat dan diplomat) itu, maka setelah keluar dan menyelaminya di permanent system, kehidupan nyata, maka jawaban sebenarnya terhidang begitu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kecil dari sikap moderat —satu saja dari tiga visi itu yang diangkat dalam makalah singkat ini— adalah apa yang saya alami sendiri (ma’af narsis). Ketika itu, Al- Muttaqin, yayasan elit di Tasikmalaya membutuhkan seorang ‘ustadz’ untuk mengisi pengajian mingguan orang tua murid. Pengajian ini adalah ajuan orang tua murid yang ingin ikut belajar mengaji seminggu sekali di komplek SMP SMA yang megah itu. Ustadz yang dibutuhkan tadi ternyata harus berkeriteria moderat. Saya, kebetulan punya koneksi dengan seorang guru di yayasan itu yang mengenali luar dalam kemoderatan sikap saya dalam perbedaan sekecil apapun di dalam wacana keagamaan bahkan juga politik. Lima tahun kebersamaan bersama ibu-ibu yang berlatarbelakang berbeda; NU, Muhammadiyah dan Persis itu telah mengajarkan saya bahwa visi Darus mencetak muslim moderat, titik kuncinya ada pada pengalaman nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, kita, pembaca khususnya, bisa mendulang kekayaan sikap moderat dari para alumni Darussalam di manapun mereka adanya. Fanatisme berlebih sepertinya tak koheren dengan alumni Darussalam. Jika pun dalam prakteknya masih ada yang bersikap demikian, maka ia harus kembali ke pangkuan Darussalam, dan mesantren lagi barang tiga, enam atau sepuluh tahun.&lt;br /&gt;Hasbunallaah wa ni’mal wakiil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Alumni Darussalam 1988-1991, tinggal di Tasikmalaya. DPK UIN Bandung di IAIC Cipasung. Dosen LB STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis. Pengelola blog asmat-arabiyyatuna.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-281769609938901990?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/281769609938901990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/moderat-sikap-keagamaan-dan-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/281769609938901990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/281769609938901990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/moderat-sikap-keagamaan-dan-politik.html' title='moderat; sikap keagamaan dan politik alumni darussalam'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-6544879967469843189</id><published>2009-05-12T00:21:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T00:23:49.240-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA KEULAMAAN'/><title type='text'>tasik antara santri, gay dan babi</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa orang Tasik yang tak bangga dengan Tasik? Pastinya tidak ada. Kota cantik  tempat tinggal kita semua ini -dengan hawa sejuknya yang membetahkan- terkenal karena tangan penduduknya yang motekar. Tikar mendong, kelom geulis, sandal kulit, payung geulis, berbagai karya bordir, berbagai karya kerajinan tangan, batik dan lainnya menjadi bukti nyata kemotekaran warga Tasik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah di setiap jengkal tanahnya, gunung, laut, kekayaan bumi dan letak geografisnya yang luar biasa indahnya. Lihatlah juga mojangnya yang gareulis dan jajakanya yang karasep dengan adat priangannya yang sopan dan pikayungyuneun. Intip juga di setiap pori-pori kampungnya, lantunan suara merdu dari load speaker masjid mengumandangkan lantunan bacaan al- Quran dan puji-pujian; sebuah tradisi yang berpuluh-puluh tahun telah terbina apik, wujud dari nafas religis warganya yang selain nyakola juga nyantri. Nikmati juga pemandangan di tiap sore hari, tak ada aktivitas bagi ibu-ibu kita selain mengaji. Bagi mereka, slogan ”tiada hari tanpa mengaji” sudah menjadi nafas dan mendarah daging dalam keseharian. Perhatikan juga rutinitas di pesantren-pesantren, siapa yang tak reugreug menyaksikan anak-anak kita digembleng siang dan malamnya untuk menjadi penerus tradisi kesalehan masyarakat Tasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tasikmalaya (kabupaten dan kota) pada tahun 1993 tercatat 613 pesantren dengan jumlah santri 61.000 orang. Data tahun 2009 menyebutkan di kabupaten Tasikmalaya terdapat 604 pesantren dengan jumlah kyai 837 orang, jumlah santri laki-laki 41.203 orang dan 38.241 santriwati. Di kota Tasikmalaya, data terbaru mencatat jumlah pesantren 249 buah dengan 19.093 santri mukim dan 29.541 tidak mukim. Ini adalah prestasi membanggakan di mana Tasik menjadi wilayah tingkat dua di negeri ini yang menampung pesantren dan santri terbanyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Balik Kebanggaan itu  &lt;br /&gt;Kentalnya aroma Tasikmalaya dengan nuansa ‘seribu santri’ bisa disaksikan dari wara-wirinya para kiai dan para santri yang hilir mudik di setiap tempat dan sepanjang jalan, dari utara sampai selatan dan dari barat sampai timur hingga di pusat kota Tasik. Hal ini diperkuat dengan visi “religius Islami” yang senantiasa dipegang teguh dan menjadi wacana yang terus mengumandang di tengah warganya.      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun di balik kebanggaan itu, hari-hari terakhir ini Tasikmalaya diguncang dua isu menghebohkan; gay dan babi. Ke-kotasantri-an Tasikmalaya lalu dipertaruhkan dan dipertanyakan. Akankah predikat yang telah lama melekat dalam wacana ke-Tasik-an itu akan terus tergerus dan rasa keagamaannya akan bertambah hambar? Ataukah Tuhan sengaja menghadirkan dua isu besar ini agar kita semua introspeksi dan memperkuat barisan agar radiasi daya cemarnya tak bertambah luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas segalanya, dua isu besar itu cukup mengganggu suasana nyaman Tasik pasca kerusuhan Desember 1997 yang adem ayem. Isu gay yang tak bisa dianggap main-main itu misalnya, harus menjadi bahan kajian berbagai elemen dan isu ini adalah kesalahan kolektif warga Tasik. Jangan-jangan, selama ini semua sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga semua dibuat terlena. Pemerintah sibuk dengan program-programnya, para ulama sibuk mengasuh santri dan jamaahnya, anggota dewan sibuk dengan kampanye dan dunia politiknya, para guru, civitas akademika kampus, para pengusaha dan para tokoh warga masyarakat sibuk dengan dunianya masing-masing sehingga akhirnya kecolongan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, bila benar entitas kaum homo itu ada di Tasik dan jumlahnya benar fantastis yaitu 900 orang, ini benar-benar memalukan sekaligus memilukan. Jumlah itu bahkan disinyalir lebih banyak dari jumlah gay yang ada di padayeuh Bandung. Namun sekali lagi, tak elok rasanya bila kesalahan itu dialamatkan ke salah satu alamat karena ini adalah kesalahan kolektif yang hadir tidak untuk diratapi, tapi agar semua elemen sinergis dan bergerak ke depan mencari solusi mengembalikan anak-anak kita ke jalan yang lurus dan mencerahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUI sebagai garda terdepan dalam menjamin kesehatan rohani warga Tasik, harus lebih pro aktif dalam menangani masalah serius ini untuk mengurai benang kusut yang terjadi di tengah-tengah umatnya. Bila ketua MUI kota Tasik yang di awal kemunculan isu gay ini berjanji untuk segera bergerak dan sinergis dengan pihak kepolisian, maka kita sebagai warga Tasik harus mendorong dan menjadi bagian dari proses itu. Tentunya, kita tengah menunggu janji ketua MUI itu digodok hingga matang dan diimplementasikan dalam bentuk aksi nyata, tentunya lebih lekas lebih bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila di Amerika, Eropa dan di negara-negara besar dan demokratis lainnya homoseks merupakan fenomena biasa, tapi di Tasikmalaya yang nyantri dan agamis, hal ini luar biasa, kita harus mengkaji ulang dan mencari solusi terbaik agar herang caina, beunang laukna. Di tengah wacana digulirkannya perda syari’ah, di kala kasus-kasus yang menimpa anak-anak Tasik terus diangkat dalam pemberitaan media, maka isu gay ini harus menjadi prioritas utama mengingat “daya tularnya” yang sporadis dan sangat cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya kasus gay, munculnya kasus global yang menjadi bahan kewaspadaan warga negara kita, flu babi (H1 N1) memunculkan kembali wacana RPH (rumah pemotongan hewan) babi yang lokasinya ada di wilayah hukum kota Tasikmalaya. Dilema besar bagi pemerintah kota dan kabupaten Tasikmalaya ini harus didiskusikan ulang oleh pemerintah, DPRD, para ulama dan tokoh masyarakat lainnya sehingga opsi terbaik, sepahit apapun hasilnya bisa menjadi pegangan. Lokalisasi ‘barang haram’ ini tak ubahnya seperti lokalisasi WTS, artinya dilokalisasinya babi ini di satu tempat saja, agar dampak negatifnya –seperti dikatakan drh. H. Budi Utarma, kadis peternakan, perikanan dan kelautan kabupaten Tasikmalaya, Priangan 6/5- tak sampai meluas dan mencemari kehidupan warga Tasik secara umum.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam yang diajarkan para ulama kepada umatnya, khususnya di Tasikmalaya telah menempatkan babi pada posisi yang begitu kotornya. Maka amatlah wajar ketika isu global flu babi ini muncul, mata warga Tasik kembali terbelalak. Mereka pun akhirnya tahu bahwa permintaan pasar di Tasik, Banjar, Ciamis dan kota lainnya akan daging babi cukup tinggi. Dilema seperti tahun-tahun ke belakang itu lagi-lagi menyeruak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita berharap, keseriusan berbagai pihak dalam menangani dua isu besar yang melanda warga Tasik ini segera menemukan jalan keluar terbaiknya. Tentunya kita tak ingin gara-gara dua isu ini semua kalangan menjadi katempuhan, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Maka gebrakan para pemimpin kita dalam menyelesaikan masalah ini, tak sabar kita nantikan. &lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAI Cipasung dan dosen LB STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-6544879967469843189?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/6544879967469843189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/tasik-antara-santri-gay-dan-babi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/6544879967469843189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/6544879967469843189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/05/tasik-antara-santri-gay-dan-babi.html' title='tasik antara santri, gay dan babi'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-9203165726874171356</id><published>2009-04-27T02:33:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T02:34:18.770-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA MAHASISIWA'/><title type='text'>belajar dari Jajang dan Tian</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ajaran 2008/2009, bagi IAIC Cipasung terasa cukup istimewa. Di kelas tingkat satu fakultas Syari’ah, jumlah mahasiswa yang hadir di kelas dua orang lebih banyak dari mahasiswa yang tercatat di absensi. Ternyata, dua orang tersebut adalah pendamping dari dua mahasiswa sebenarnya yang bernama Jajang L Amarullah dan Tian Jayanti Lestari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jajang dan Tian adalah mahasiswa tuna netra yang karena kelebihan yang Allah titipkan di balik keterbatasan fisiknya, sampai juga ia di bangku kuliah. Walau masih menyisakan guratan kekakuannya di hadapan teman-temannya yang ‘normal’, tapi Jajang dan Tian tetap memantapkan injakan kakinya di kampus, melawan panasnya hawa Tasik yang belakangan terus meninggi maupun hujan deras yang masih menyisakan curahan-curahan terakhirnya. Mereka berdua yakin dan optimis bisa menyumbang saham bagi berjayanya Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis sendiri, setelah setahun ini mengajar di kelas mereka tergoda untuk mengangkat keteladanan dua anak muda yang Allah jaga matanya dari jutaan godaan dosa yang setiap saat mengepung mata orang-orang normal. Kali ini, ketika awal bulan Mei sebagai bulan pendidikan bagi warga Indonesia tiba, kisah Jajang dan Tian dirasa sangat layak untuk diapresiasi sebagai bahan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih Ingatkah Anda Dengan Orang-orang Hebat Ini? &lt;br /&gt;Menghayati semangat belajar Jajang dan Tian, penulis ingat Michio Inoue. Ia adalah juara nasional di Jepang untuk karya tulisnya, Air Mata Ibu dan Diriku Dalam Genggaman. Ternyata anak ajaib itu adalah seorang tuna netra yang sejak lahir ia buta dan terlahir dengan berat 500 gram saja.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan dingin seorang ibulah yang membuat Michio Inoue lalu menjadi inpirasi bagi jutaan orang di dunia untuk tidak menyerah dengan keterbatasan fisik. Selain mengilhami penduduk dunia akan makna terdalam dari rahasia “kerja keras” dan “belajar keras”, kehadirannya pun menjadi dorongan kuat bagi siapapun yang terlahir dalam keadaan normal agar tidak terlena dengan kesempurnaan fisik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Michio Inoue, masih banyak lagi manusia pilihan lainnya yang lahir dan menjadi ilham prestasi bagi anak-anak dunia. Sebut saja misalnya Hee Ah Lee dari Korea. Ia menjadi pesohor dunia sebagai seorang pianist anak-anak. Hee Ah Lee berhasil memukau dunia dengan permainan pianonya walaupun jari-jari tangannya hanya empat jumlahnya. Selain itu, dua telapak kakinya adalah lutut, artinya ia tak punya kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kita mengenal Titiana Adinda. Ia adalah penulis yang memulai karyanya setelah mengidap penyakit Meningoensafalgtis tb (infeksi selaput otak disertai TB). Setelah sempat beberapa hari koma, ia sadar kembali dan mengalami kelumpuhan. Selain Titiana Adinda, ada juga Bahril Hidayat Lubis, penulis buku Aku Tahu Aku Gila. Ia adalah bekas orang gila (Psikosis) yang sembuh dan karena IQ-nya cukup tinggi dan berkarya, ia mampu menyumbangkan sesuatu yang bisa menjadi rujukan ilmu bagi para psikolog dan penyembuh penyakit kegilaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling menakjubkan, adalah Prof. Randy Pausch. Ia adalah professor computer Universitas Carnegie Mellon, Amerika. Setelah dokter bidang medis memvonisnya memiliki sisa umur hanya enam bulan lagi karena sepuluh tumor ganas menyerang pankreasnya, ia dan kawannya, Jeffrey Zaslow menulis The Last Lecture (Pesan terakhir). Tak ia nyana, karyanya telah diakses oleh lebih dari tiga juta orang dan situsnya, YOUTUBE.COM telah mampu menguras air mata mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi Hari Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;Anak-anak kita, siswa dan mahasiswa dewasa ini tengah menghadapi masa-masa yang cukup berat berkenaan dengan keberadaan mereka sebagai tunas-tunas bangsa. Di balik seabreg kegiatan yang membanggakan dan torehan berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional di bidang sains, matematika, fisika, olahraga dan lainnya, mereka pun dihadapkan dengan berbagai pemberitaan minor dan pejoratif, seperti kasus brutalisme, seks bebas, narkoba dan kasus-kasus lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Pendidikan Nasional tahun ini, seharusnya direfleksi dalam rangka meningkatkan semangat belajar dari anak-anak negeri. Bangga rasanya bila di pagi buta, kita berada di kawasan pegunungan, perkampungan terpencil dan wilayah-wilayah yang jauh dari perkotaan dan kendaraan umum. Sejam lebih mereka menghabiskan perjalanan berkilo meter, melewati lembah, ngarai dan menyebrangi sungai menuju sekolah. Ketika jam pelajaran di sekolah habis, mereka kembali melewati waktu dan melalui jalan yang sama. Di jalan becek yang dilewati, mereka membuka sepatu butut mereka dan sampai di tempat tujuan, baju mereka kotor oleh keringat dan cipratan air bercampur lumpur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perkotaan, kita juga bangga menyaksikan anak-anak kita berjuang dan berkeringat di tengah jubelan penumpang kendaraan umum. Pagi-pagi adalah saat paling mengharukan menyaksikan ribuan anak-anak kita berpacu memburu masa depan dengan wajah optimis penuh keceriaan. Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri mereka seiring seleksi zaman yang akan menentukan nasib mereka di masa depan kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kehausan mereka akan ilmu dan kerinduan mereka akan figur teladan sering ternoda oleh ulah segelintir oknum dari kalangan mereka sendiri. Hal inilah yang harus menjadi “titik refleksi” lainnya bagi para pemegang kebijakan negeri ini untuk lebih intens menggodok ‘ramuan ampuh’ dalam rangka membenahi sistem pendidikan di tanah air. Bila hal itu terwujud, anak-anak didik kita dan orang tua mereka akan bahagia dan tak ada kekhawatiran dalam rangka menyongsong nasib yang lebih berpihak kepada mereka di hari esok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Jajang dan Tian. Setiap kali memandangnya, penulis melihat adanya kelemahan dalam fisik ataupun raga mereka. Mereka tak leluasa dalam bergerak dan beraktivitas sehingga dunia pun, bagi mereka tak seluas apa yang biasa dinikmati orang-orang normal. Namun ke-Mahaadilan Allah swt memberikan keyakinan kepada kita bahwa orang-orang seperti Jajang dan Tian pastilah mendapatkan ribuan jalur kebahagiaan yang tidak diberikan kepada orang-orang normal seperti kita. Maka persoalannya adalah, sudah seberapa kuatkah tenaga batiniah kita -bila dibandingkan dengan tenaga bathiniah Jajang dan Tian- dalam mencintai ilmu pengetahuan dan mentransformasikannya kepada keluarga, kerabat, tetangga dan lingkungan sekitar kita?&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAI Cipasung, juga dosen LB STAI Tasikmalaya dan UNIGAL Ciamis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-9203165726874171356?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/9203165726874171356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/belajar-dari-jajang-dan-tian.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/9203165726874171356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/9203165726874171356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/belajar-dari-jajang-dan-tian.html' title='belajar dari Jajang dan Tian'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-4930601270680286355</id><published>2009-04-27T02:31:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T02:33:08.871-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA KEULAMAAN'/><title type='text'>ulama dan pencerahan politik umat</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, kondisi politik pasca pemilu terdegradasi pada kondisi yang carut marut. Tapi naif dan kurang adil rasanya, bila berpuluh dan beratus kerancuan pemilu legislatif yang telah berlangsung hanya ditujukan kepada kesalahan KPU semata. Bila jujur kita membuka mata hati, jauh sebelum pemilu digelar, prediksi tentang berbagai kemungkinan buruk yang akan menimpa dunia politik kita —bila dihubungkan dengan perilaku para politikus kita di lapangan dan sistim pemilu yang diterapkan— nyatanya benar-benar terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum 9 April tiba, benih-benih konflik politik dengan segala resikonya telah terbaca sejak awal. Stress caleg dan tim sukses yang ‘kalah perang’, protes dan gugatan berbagai kalangan dan gejala-gejala lainnya yang mengarah pada instabilitas politik telah diwanti-wanti akan terjadi. Kita masih ingat ketika itu, para caleg dan perwakilan setiap parpol, dari pusat hingga daerah berjanji dan berikrar damai dan di hadapan KPU, kepolisisan, mahasiswa, para ulama, wartawan dan masyarakat lainnya. Kini, semua itu benar-benar berbeda dan berubah dan berbagai prediksi tentang akan munculnya ‘watak asli’ para politikus kita itu ternyata tak meleset. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENENGOK KE BELAKANG&lt;br /&gt;Keran politik yang dibuka di awal musim kampanye, lalu semakin menggelontor ketika MK mendefinisikan kemenangan caleg mengacu kepada perolehan suara terbanyak, membuat seluruh caleg berkompetisi secara ‘habis-habisan’. Siapapun anggota masyarakat, dari kelas teri hingga kelas kakap lalu menjadi pengamat yang intens mengomentari tingkah dan kelakuan para caleg. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerancuan itu bermula dari sini. Tak ada satu kekuatan pun yang bisa menekan dan menghentikan jutaan, puluhan, ratusan juta hingga miliaran rupiah uang haram, sekali lagi uang haram yang mengalir deras dan hinggap di berbagai kantong saku, utamanya rakyat miskin di kota sampai masyarakat terpencil. Sampai di sini, tak ada satupun kekuatan yang memberikan pencerahan dan pencerdasan, utamanya dari perspektif agama bahwa kelakuan memperebutkan jabatan dengan mengeluarkan amunisi materi besar-besaran itu ‘tak elok’ di mata agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini syndrom stress ringan dan berat hingga gejala kegilaan menghinggapi para caleg dan tim suksesnya yang kalah dan tak ada satu kekuatan pun yang bergerak untuk mengantisipasi dari awal agar hal-hal demikian tidak terjadi. Ketika hal itupun akhirnya terjadi, lagi lagi blaming the fictim, menyalahkan pihak luar menjadi bagian penting yang berpotensi menambah keruh suasana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENANTI KERJA KERAS ULAMA   &lt;br /&gt;Mu’adz bin Jabal, tokoh sahabat nabi yang masyhur akan ketinggian kharismanya pernah menyatakan, “Ulama adalah hamba-hamba Allah yang terpilih. Tingkah, ucap, dan langkah mereka adalah panduan dan referensi bagi umat. Segala permasalahan umat, dari yang ringan hingga yang berat selalu terselesaikan dengan campur tangan dan keterlibatan mereka. Betapa cintanya segenap ciptaan Allah, di darat juga di laut kepada mereka…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berwarnanya masyarakat Islam selalu identik dengan kehadiran para ulama. Lintasan zaman pun lalu melahirkan jutaan ulama shalih, berilmu tinggi dan bukan hanya sebagai pengasuh umat dalam hal keilmuan dan keagamaan saja, tapi bahkan hingga melampaui wacana sosial hingga politik. Dalam hal ini, ribuan buku terbit dalam rangka ‘membenamkan’ berbagai dimensi positif mereka di hati umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman modern sekarang ini, warna para ulama pun semikan beragam. Tantangan hidup mereka yang didedikasikan di jalan dakwah pun semakin hebat. Kini, rambahan kaki mereka hingga memasuki wacana perebutan jabatan dan kekuasaan. Maka tak ayal, posisi umat pun berubah. Tak seperti dulu di mana posisi ulama ada di wilayah uncriticable atau sakral, zaman modern ini praduga umat kepada mereka seiring sejalan dengan gerakan sosial politik yang mereka tempuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini dikhawatirkan semakin merosot ketika keberadaan mereka di ‘panggung kotor’ politik tak memberikan signal positif. Alih-alih ingin mengasuh arah politik dan mengarahkannya ke jalan yang lebih bermartabat, posisi para ulama yang ‘polos’lah yang justru dimanfaatkan ‘oknum-oknum’ tertentu dan lalu menjadikan misi ulama di kancah politik semakin bias. Alih-alih ingin menyucikan dunia politik dari berbagai unsur syubhatnya intrik-intrik dan haramnya suap politik, kaum ulamalah yang justru “dikhawatirkan” menjadi bagian darinya. Bila kekhawatiran itu lalu terjadi, maka unsur kekuatan apalagikah yang bisa bergerak untuk membersihkan dunia politik?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan-teriakan dari luar panggung agar ulama kembali ke umatnya, khusyu’ melayani mereka dan melangkah menjauhi ‘wilayah abu-abu’ politik nyaris tak didengar. Seiring datangnya musim politik, umat nyaris tak bisa memisahkan mana ulama dan mana yang bukan ulama ketika eskalasi suhu politik meningkat. Dari titik inilah lalu gerakan pemurnian nilai-nilai ideal dalam berpolitik terhambat dimunculkan.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu (15/4) kemarin, Majlis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten Tasik menggelar musdanya dan sukses mengantarkan KH. Ii Abdul Bashit, ulama muda kharismatik sebagai pucuk pimpinannya. Ulama pengasuh PP. Sukahideng yang sangat dihormati dan dibanggakan santri-santrinya ini —penulis tahu hal ini dari obrolan ringan dengan para santri PP. Sukahideng yang kuliah di IAIC, tempat khidmat penulis— tentunya akan menjadi harapan baru di di kabupaten Tasik bukan hanya dalam membebaskan area Tasik dari faham dan aliran sesat, tapi juga dalam rangka mengembalikan pamor para ulama ke posisi terlayak ketika mereka terpaksa harus ancrub ke dalam kolam politik atau sudah kaduhung terpilih dan melenggang ke gedung dewan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan umat begitu kuatnya agar dunia keulamaan di tanah air, khususnya di Tasikmalaya, bisa bersih dari segala unsur kepentingan politik. Harapan lebih kuat lagi adalah bila mana para ulama ada di wilayah imparsial (netral) ketika musim politik tiba. Bila demikian halnya, maka ulama ada di pihak yang bisa memberi jalan tengah, pencerahan dan pencerdasan politik. Jebakan demi jebakan yang terpasang untuk mengeluarkan para ulama dari dunianya dan masuk ke wilayah pragmatisme, seringnya membuat umat ambigu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini merupakan resume subjektif dari bincang-bincang ringan penulis dengan teman-teman mahasiswa dan rakyat di dataran paling bawah yang berada di luar pagar politik. Diharapkan, tulisan ini memberi sumbangsih pemikiran dan wacana yang bisa didiskusikan dalam rangka optimalisasi peran ulama dalam pencerahan politik umat. &lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah peminat masalah politik, keagamaan dan keulamaan. Tinggal di Tasikmalaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-4930601270680286355?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/4930601270680286355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/ulama-dan-pencerahan-politik-umat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/4930601270680286355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/4930601270680286355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/ulama-dan-pencerahan-politik-umat.html' title='ulama dan pencerahan politik umat'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-4770165283486856764</id><published>2009-04-27T02:29:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T02:31:30.774-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KHUTBAH JUMAT'/><title type='text'>meyakini kemahapengampunan Allah</title><content type='html'>oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. &lt;br /&gt;(QS Az-Zumar [39]: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun kita, pastinya berharap kehidupan yang sedang dialami adalah kehidupan yang bergerak menuju idealitas yang berwujud insan kamil, manusia paripurna. Namun siapa nyana, di tengah perjalanan menuju posisi ideal itu, kita selalu saja terantuk dalam sebuah kenyataan, bahwa manusia adalah makhluk tak sempurna. Kodrat kemanusiaan yang melekat melazimkan kita lagi dan lagi masuk ke perangkap dosa. Di saat masuk dalam perangkap itu, sebagian kita ada yang berusaha dan mengerahkan segenap tenaga untuk keluar darinya, sebagian tak bisa bergerak, ia terjebak dalam perangkap itu dan lambat laun menikmatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya, kita merasa hidup seakan berada di atas awan, jauh dari dosa dan begitu mudah kita menyapa-Nya, menyebut asma-asma-Nya dan mengantarkan segala anggota badan ke jalan yang dicintai-Nya. Namun anehnya, seringnya kita bagai hidup di neraka dunia, terhimpit dalam perasaan dosa, tercekam dalam hitamnya lumpur kemaksiatan yang selalu saja menjanjikan kenikmatan dan keindahan sesaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Arab mempredikati kita dengan kata insan. Ia berasal dari kata nisyaan yang bermakna lupa dan lalai. Lupa dan lalai ini mengantarkan kita ke gerbang dosa. Nabi bersabda, “Semua manusia adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah ahli taubat” Bila kita dalam posisi berdosa dan belum tergerak hati untuk bertaubat, maka betapa kita merasa jauh dari Sang Khaliq, Allah SWT. Jangankan menyebut-Nya, ingat pun kita luput. Bila demikian, berarti kita tengah menjauhi-Nya, jauh dari lingkaran kasih sayang-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA TAUBAT&lt;br /&gt;Setelah kita kenyang menikmati dosa dan kemaksiatan, lalu berkehendak memperbaharui hubungan dengan-Nya, maka kembalilah kita kepada rangkulan-Nya, bersimpuh memohon maghfirah-Nya, menangis sejadi-jadinya dan berjanji tak akan mengakrabi kesalahan serupa di kemudian hari. Maka betapa bahagianya Allah, betapa Ia akan menghamparkan senyum ramah menerima penyesalan dan ikrar janji hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah nabi SAW pernah menggambarkan bahagianya Allah ketika menerima taubat setiap pendosa? Ya, ia menggambarkan seorang pengembara yang kelelahan di tengah lautan padang pasir. Ia bertemu pohon besar yang terbayangkan betapa nikmat berteduh dan mengusir lelah sambil tidur pulas di bawahnya. Sayang, ketika bangun ia mendapati unta yang membawa segenap bekalnya kabur. Sedihnya tak alang kepalang, ia menangis dalam kebingungan, terbayang langkah jauh yang akan dilewatinya dalam melanjutkan perjalananyya. Dan, ketika suasana sedemikian mencekam, untanya datang lengkap dengan bekal dan bawaannya. Tak sadar ia berteriak, “alhamdu lillaah ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerangan apa yang membuat ia berteriak dan salah melafalkan kata-kata? Ya, tak lain adalah karena rasa bahagia yang tak terkira dan…nabi lalu melanjutkan sabdanya, “Demi Allah! kebahagiaan Allah menerima taubat hamba-hambanya yang ahli dosa dan maksiat jauh lebih besar dari kebahagiaan musafir tadi yang karena saking bahagianya hingga salah melafalkan kata-kata”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-GHAFFAR, AL- GHAFUR, AT- TAWWAB DAN  AL’AFUW&lt;br /&gt;Maha suci Allah SWT, ia memiliki 99 nama indah dan sempurna, Al- asma al-husna. Di antara 99 nama itu ada empat nama yang bermakna  “Allah Yang Maha Pengampun”. M. Quraish Shihab dalam bukunya Menyingkap Tabir Ilahi, mengutip pendapat Imam Al- Ghazali dan menjelaskan ke-empat nama indah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghaffar yang tertuang dalam Alquran sebanyak lima kali, bermakna Allah maha pengampun, Ia mengampuni dosa-dosa manusia dan menutupi berbagai kesalahan dan dosanya hingga di mata orang, ia tak seperti berdosa. Al- Ghafur yang tercatat sembilan puluh satu kali dalam Alquran, bermakna Allah maha pengampun, Ia mengampuni dosa-dosa manusia dan membuka peluang seluas-luasnya bagi manusia untuk memohon ampunan-Nya. At- Tawwab yang tertulis sebelas kali alam Alquran, bermakna Allah maha pengampun dan memberi dorongan kepada manusia untuk kembali dan kembali lagi kepada-Nya dan menjanjikan ampunan dari dosa seluas dan sedalam apapun. Sementara itu Al-‘Afuw yang terekam tiga puluh lima kali dalam Alquran, bermakna Allah maha pengampun, Ia mengampuni dosa-dosa manusia dan menghapus segala kesalahan dan dosa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, Abu Dzar Al- Ghifari, seorang sahabat sampai ‘protes’ kepada nabi ketika beliau menyampaikan berita bahwa Allah SWT akan menyambut dan mengampuni seorang hamba yang berulang sampai tujuh puluh kali dalam sehari mengulang dosa dan mengulang taubatnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Al- Hayat Ar- Rabbaniyah wa al- ‘ilm, DR. Yusuf Qardhawi, ulama kontemporer yang kharismatik asal Mesir menyampaikan kekagumannya akan kemaha pengampunan Allah atas hamba-hamba-Nya. Dalam ayat 53 surat Az- Zumar [39] yang menjadi pembuka artikel ini, Allah memanggil para pendosa yang melampaui batas dalam kemaksiatannya dengan panggilan sayang “Wahai hamba-hambaku”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaguman akan kemaha pengampunan Allah ini, akan memerindingkan kita manakala kita membaca penafsiran para ulama terhadap puluhan ayat-ayat Alquran yang menjelaskan sifat Al- Ghaffar Al- Ghafur, Al- Tawwab dan Al-‘Afuw dan puluhan hadits-hadits shahih lainnya. Dalam surat Al- Furqan [25] ayat 70 misalnya, Allah SWT berfirman, “orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dalam hadits qudsi riwayat At-Tirmidzi, Allah SWT bersabda, “hamba-Ku, jika engkau datang kepada-Ku membawa dosa sebanyak isi bumi, Aku akan datang menyambutmu dengan maghfirah seisi bumi juga, selama engkau tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu”. Sementara itu para ulama meyakini bahwa pengampunan Allah tidak hanya terhadap dosa yang ditaubati, Allah bahkan mengampuni hingga terhadap dosa-dosa manusia yang tidak tertaubati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila keyakinan kita tak berubah dan berkurang tentang kemaha pengampunan Allah SWT, tentunya kita akan melewati babak demi babak kehidupan kita dengan tanpa menyisakan keraguan tentang eksistensi kita, manusia sebagai pendosa yang harus kembali kepada-Nya setiap kali melakukan dan mengulang dosa. Kita dan dosa tak bisa dipisahkan, hanyasaja pengetahuan kita akan kemaha pengampunan Allah yang tersurat alam ayat-ayat-Nya dan dalam hadits-hadits nabi-Nya, akan memandu kita untuk terus dan terus memohonkan ampunan-Nya. Bukankah nabi SAW sendiri yang memberi contoh, bahwa beliau beristighfar dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali (HR. Bukhari), bahkan lebih dari seratus kali (HR. Muslim)?&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qshd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung dan dosen LB STAI Tasikmalaya dan UNIGAL Ciamis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-4770165283486856764?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/4770165283486856764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/meyakini-kemahapengampunan-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/4770165283486856764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/4770165283486856764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/meyakini-kemahapengampunan-allah.html' title='meyakini kemahapengampunan Allah'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-7777524903130780552</id><published>2009-04-10T01:34:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T01:35:54.522-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>suap meruyak di musim politik</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap perhelatan politik; pilkada, pilbup, pilwalkot, pilgub, pilpres dan pemilu legislatif, ada menu wajib yang ‘porno’ atau telihat kasat mata. Ia adalah suap politik. Anehnya, karena sudah umum dan belum jelasnya definisi suap dalam ajang politik bagi masyarakat, maka ia akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia politik. Dan nyatanya, suap politik ini bukan hanya meramaikan perhelatan politik di negara miskin dan berkembang, tapi juga di negara maju.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu sosiologi agama, ada adagium “bila sebuah kebatilan umum dilakukan warga masyarakat, ia akan berubah menjadi kebenaran, dan bila kebenaran jarang dilakukan warga masyarakat, ia akan berubah menjadi kebatilan”. Pendapat sastrawan dan pemikir Islam, Ibnu Muqaffa’ ini, bila dikontekstualisasikan dalam realitas kehidupan sosial politik di negeri ini, benang merahnya nampak jelas dan terang benderang. Berbagai kalangan dari rakyat jelata hingga orang berpunya, dari orang awam hingga orang berpendidikan mengakrabi suap politik hingga menjadi begitu umum, meruyak dan merajalela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kerancuan politik (budaya suap) yang begitu ‘ramah’ di dalam wacana perpolitikan kita ini tetap dibiarkan, sistem politik di Indonesia bertahap akan ambruk dan menuju jurang kehancuran. Untuk pemilu tahun ini saja diperkirakan, caleg yang beramplop tebal, walaupun human recources atau SDMnya lemah, dia akan melenggang menang mengalahkan caleg tak beramplop yang integritas, kapabilitas dan kredibilitasnya tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita, karena tidak adanya ketegasan dari para penegak hukum dan para ulama, pada umumnya menganggap wajar dan sah terhadap pemberian material tak resmi yang mereka terima. Mereka bahkan menunggu-nunggu setiap orang yang datang dan membawa oleh-oleh politik (suap) tanpa adanya kekhawatiran dan rasa takut. Sementara itu, karena faham bahwa mereka sedang menyuap ‘wong cilik’, tim sukses dan para caleg melancarkan aksinya dengan sembunyi-sembunyi, layaknya pencuri yang sedang melancarkan kejahatannya di malam hari.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat kentut, suap politik ini sulit dan sangat sulit dibuktikan. Dan memang, dari semua delik korupsi yang terjadi di Indonesia, entah itu delik penyalahgunaan kewenangan, delik penggelapan dan lainnya, hanya delik suaplah yang pembuktiannya sangat sulit sehingga pasal suap dalam undang-undang tindak pidana korupsi sebelum KPK bertaji hanya dianggap ‘pasal tidur’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMAHAMI DEFINISI SUAP&lt;br /&gt;Dalam wacana keislaman, ada dua objek pembahasan krusial yang titik perbedaannya sangat tipis, satu negatif dan dilaknat, satunya lagi positif dan sangat dianjurkan. Dua hal itu adalah suap dan hadiah. Suap atau risywah, menurut Syaikh Ahmad at- Thawil dalam buku al- Hadiyah bainal halal wal haram (benang tipis antara hadiah dan suap, 2006) adalah “memberikan sesuatu kepada seseorang untuk sebuah keinginan dengan adanya tuntutan, syarat atau timbal balik.” Ali al- Jurjani dalam al- Ta’rifatnya mendefinisikan suap dengan “sesuatu yang diberikan untuk membatalkan yang hak dan membenarkan yang bathil”. Berbeda dengan suap, Ahmad ath- Thawil mendefinisikan hadiah dengan “memberikan sesuatu kepada seseorang untuk menjalin tali persahabatan dan mengharapkan pahala tanpa adanya tuntutan, syarat atau timbal balik.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, memberi, menerima, membalas hadiah dan mendoakan pemberi hadiah sangat dianjurkan. Begitu banyak hadits yang berkenaan dengan kebaikan tahadi (saling memberi hadiah) ini di antaranya, “Saling memberi hadahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai” (HR al- Bukhari). Lain halnya dengan hadiah, suap adalah perbuatan yang mengundang murka Allah. “Laknat Allah kepada pemberi dan penerima suap.” Demikian sabda nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wacana umum, kata suap (bribe) bermula dari asal kata briberie (istilah Prancis) yang artinya mengemis. Dalam perkembangan selanjutnya, bribe bermakna sedekah (alms) dan kemudian berkembang lagi maknanya menjadi extortion (pemerasan), dalam kaitannya dengan pemberian atau hadiah yang diterima atau diberikan dengan maksud untuk mempengaruhi secara jahat dan korup. Suap pada gilirannya menjadi tindak pidana karena mengisyaratkan adanya maksud untuk mempengaruhi. Orang yang disuap kemudian berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban dan tugas pokoknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikategorikannya suap ke dalam tindak pidana karena pada prakteknya, ia tidak lagi dipandang sebagai kejahatan konvensional (biasa), tetapi sebagai kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime) karena karakter korupsi yang dikandungnya sangat kriminogin (dapat menjadi sumber kejahatan yang lainnya) dan viktimogin (berpotensi merugikan berbagai dimensi kepentingan).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUAP DALAM TRADISI POLITIK INDONESIA&lt;br /&gt;Dalam konteks politik saat ini, kita tak begitu sulit untuk membedakan suapkah atau hadiahkah kebaikan dan pemberian, apakah dalam bentuk uang, sembako, modal usaha, alat olahraga, seragam sekolah, bedah rumah, dan sejuta bentuk kebaikan lainnya yang dilakukan para caleg menjelang hari ‘H’ perhelatan pemilu. Sistem yang umum berlaku membuat para caleg sulit memisahkan acara sosialisasi dengan ‘sawer’ uang, sembako dan lainnya karena kalau tidak, ia tak akan dipilih atau peluang untuk dipilih kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringnya hati nurani berontak manakala menyaksikan dan mengetahui warga miskin menentukan pilihan atau memindahkan pilihan setelah menerima ‘segepok’ uang Rp. 20.000 atau lebih sedikit. Maka tak aneh bila beberapa oknum caleg tertangkap tangan membagikan ‘sesuatu’ di acara pengajian, muludan dan bakti sosial lainnya yang terjepret kamera panwas, lantas diperkarakan dan berakhir di jeruji besi. Selebihnya, kelihaian para caleg dalam bermain ‘petak umpet’ dengan panwas selalu sukses karena luput dari bidikan mata panwas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, sejarah suap dapat ditarik akar budayanya dalam perilaku pemberian upeti. Upeti dalam bahasa Sansakerta berarti tanda kesetiaan. Upeti adalah suatu bentuk persembahan dari adipati atau raja-raja kecil kepada raja penakluk. Sebagai sebuah simbiosis mutualisme, para adipati memberikan persembahan kepada raja penakluk dan sebagai imbalannya, raja penakluk memberkan perlindungan kepada kerajaan-kerajaan kecil yang diperintah oleh adipati-adipati tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberlangsungan sistem upeti ini berlangsung berabad-abad hingga periode Indonesia modern seperti sekarang ini. alhasil, pola Patron-Client dimana upeti kepada atasan merupakan alat tukar kekuasaan dan dianggap sebagai standar yang wajar dalam membeli jabatan dan kursi kekuasaan. Karena sudah mengakar dan terbiarkan dengan bebas, maka budaya suap kepada atasan lalu sulit dibuktikan dan sulit diberantas.         &lt;br /&gt;(BAGIAN PERTAMA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;(BAGIAN KEDUA)&lt;br /&gt;SUAP DALAM PERSPEKTIF ISLAM&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang mengajarkan ajaran suci yang bisa membangun keseimbangan hidup yang berkeadilan. Kerancuan kehidupan sosial, budaya dan politik selalu bisa diatasi dengan doktrin-doktrinnya yang memuaskan semua pihak. Itulah sebabnya, suap atau risywah dalam Islam merupakan pelanggaran yang membawa ketimpangan sosial dan kerancuan hidup bermasyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW, dalam statusnya sebagai kepala negara sering menerima hadiah, dan ini menjadi kekhususan bagi beliau. Maka di zaman Umar bin Abdul Aziz (682 M-719 M), khalifah tersukses dari khilafah Bani Umayah ia mengharamkan segala jenis pemberian. Ketika ia menolak suatu hadiah, dan dikatakan kepadanya bahwa nabi SAW menerima hadiah, maka beliau berkata, “Dahulu, pemberian untuk nabi adalah hadiah, sedangkan untuk kita adalah suap. Nabi didekati karena kenabiannya, bukan karena kekuasaannya, sementara kita didekati karena kekuasaan kita”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan, jabatan dan posisi strategis lainnya seperti hakim dan jaksa adalah status sosial yang erat kaitannya dengan suap menyuap. Gaji yang dipandang kurang biasanya menjadi alasan untuk mencari masukan tambahan dan salah satunya adalah dari hadiah, grativikasi, dan persentasi dari proyek-proyek yang ditangani. Islam memandang penghasilan di luar gaji sebagai ghulul (korupsi) atau penghianatan. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa aku tempatkan dalam suatu jabatan, aku beri dia gaji, maka apapun yang dia terima selain dari gaji itu (dengan memanfaatkan jabatan yang diembannya) adalah ghulul atau korupsi” (HR. Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah bagi para pemimpin, entah dari rekanan, pemborong, pengusaha, bawahan dan orang-orang yang berkepentingan lainnya di zaman sekarang ini, sangat kental dengan nuansa suap. Asy-Syaukani dalam Nailul Autharnya menyatakan bahwa secara zhahir, hadiah yang diberikan kepada orang yang berkedudukan merupakan bentuk suap. Untuk membuktikan suap atau tidaknya hadiah bagi penguasa, nabi pernah bersabda, “Mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya (maksudnya tanpa kedudukan dan status), kemudian dia menunggu (tanpa kedudukannya itu) apakah dia mendapat hadiah atau tidak?” (HR. Bukhari). Alquran, dalam QS Ali Imran 161 mengancam siapapun yang mencari kekayaan dari hasil usaha memperkaya diri dari jabatan yang diembannya dengan firmannya, “Barangsiapa yang berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu,”. Nabi pun bersabda, “hadiah bagi para pemimpin itu adalah penghianatan” (HR. Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku al-Halal wa al- Haram fi al- Islam, Syaikh Yusuf Qardhawi, menjelaskan marahnya nabi SAW terhadap pejabatnya yang menginginkan hadiah dari jabatan yang diembannya. Marahnya nabi ini, oleh Imam Ghazali dalam Ihya Uluumiddiinnya menjadi dalil tentang besarnya dosa dan kesalahan seorang pejabat yang  terbiasa menerima hadiah. Maka nabi selalu memerintahkan untuk mengembalikan harta haram tersebut ke baitul mal. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia pun memaksa Abu Hurairah, gubernur Bahrain, untuk mengembalikan hadiah yang ia terima ke kas negara. Umar sendiri, beberapa kali mengembalikan hadiah yang diterima isterinya, Ummi Kultsum ke kas negara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain khulafa rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz, Islam juga telah mencatat prestasi tokoh-tokoh pejabat yang anti terhadap hadiah dari jabatan yang diembannya pada zaman keemasan Islam, di antaranya Abul Abbas al- Hanafi, Ibrahim bin Khuzaimah al- Zuhri, Abu Isa al- Maqburi al- Kurki, Majdudin al- Bilbisi dan berpuluh dan beratus pejabat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STOP MENGIDENTIKKAN POLITIK DENGAN UANG&lt;br /&gt;Pastinya hingga hari ini, masyarakat bawah masih kuat mengidentikkan musim politik dengan hadiah-hadiah yang mereka terima selain kaus, tukar bensin kampanye dan lain-lain. Ada ungkapan yang akrab di telinga kita, “mun teu dibensinan mah cadu, moal rek milu kampanye” . Maka kita pun sering menyaksikan acara TV yang mengulas ‘biro’ kampanye, di mana orang yang mampu mengerahkan masa dibayar untuk menurunkan ratusan massa untuk meramaikan kampanye partai tertentu. Begitu kuatnya masyarakat di bawah memegang prinsip yang mereka yakini benar ini karena belum adanya upaya sistematis untuk mengubah paradigma itu menuju kondisi masyarakat yang lebih bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya, para pemimpin dan tokoh-tokoh kita masih saja menyuarakan adagium, “Ambil uangnya, jangan pilih orangnya”. Sepintas, adagium ini benar dan tidak ada yang perlu dipertanyakan. Tapi coba kita hayati lebih ke dalam, adagium ini justru mengajarkan berbagai kesalahan. Rakyat kita yang masih polos diajarkan untuk menerima suap politik, lalu mereka pun pada saat yang sama diajarkan untuk tidak fair, menerima dari ‘yang ini’ dan memilih ‘yang itu’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Track politik kita hari ini, memang disinyalir menuju ke jalur yang lebih demokratis. Namun demikian, kerancuan politik masih saja kasat mata, terutama setelah MK mengeluarkan definisi pemenang pemilu menjadi peraih suara terbanyak. Maka semua caleg kita dari tingkat kabupaten/kota sampai nasional terdorong untuk berebut jatah kursi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tahun 2009 ini tahun pertama politik kita menganut sistim suara terbanyak, maka para caleg terdorong untuk mengikuti latah politik. Ujung-ujungnya modal politik membengkak dan semua caleg tak ada yang diam. Gerakan penghamburan uang pun terjadi, dan kita menyaksikan mobilitas para caleg luar biasa kuatnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, RSU pun lalu menyiapkan ruangan khusus bagi caleg yang kalah bertanding dan rugi dengan modal besar yang ‘kadung’ dikeluarkan. Diprediksi, stressnya caleg yang kalah adalah karena akumulasi problem yang dialami; faktor utang finansial ke sana dan ke sini, faktor janji yang terlontar di acara kampanye dan terutama karena faktor kekalahan yang dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila wacana perpolitikan kita masih terus diidentikan dengan pengeluaran modal besar-besaran —yang bila mengacu pada wacana ke-Islaman sudah jelas salah karena Islam tidak menghendaki jabatan diraih dengan membeli/mengeluarkan modal— dan memperjuangkan kemenangan dengan berbagai cara, maka kita pesimis para pelaku politik (politikus) kita akan membawa rakyatnya ke jalan yang benar. Islam mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah dan masuliyah, tanggungjawab yang bukan hanya dipertanyakan di dunia ini saja, tapi di kampung tetangga (akhirat) sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila keinginan berbagai kalangan untuk memperbaiki sistim politik kita di tingkat bawah, kita tak akan butuh waktu terlalu lama dan terlambat untuk sampai di tempat tujuan. Para ulama tentunya dituntut untuk berandil lebih banyak lagi dalam menyampaikan hak itu hak dan bathil itu bathil. Merubah paradigma politik rakyat memang sulit dan butuh waktu lama, tapi membiarkan kondisi politik identik dengan uang dan modal, resikonya pasti lebih besar dan ujung-ujungnya, rakyat jugalah yang jadi korban. &lt;br /&gt;Wallahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah peminat masalah politik, budaya dan keagamaan, tinggal di Tasikmalaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-7777524903130780552?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/7777524903130780552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/suap-meruyak-di-musim-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/7777524903130780552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/7777524903130780552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/suap-meruyak-di-musim-politik.html' title='suap meruyak di musim politik'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-2579827975717610625</id><published>2009-04-10T01:33:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T01:34:48.241-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>borok Tasik dalam liputan televisi</title><content type='html'>Refleksi bagi para pemimpin dan warga Tasikmalaya&lt;br /&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Anak-anak’ Tasik berulah. Dalam dua bulan ini saja ada sedikitnya empat kasus yang karena takaran kehebohannya berat, lalu layak masuk TV. Dua bulan lalu, Dara (nama samaran, siswa SMP asal Taraju) digarap pacarnya, kemudian sang pacar iseng menjualnya seharga sebungkus rokok kepada lebih dari empat puluh lelaki ‘buas’ yang mangsanya tak berdaya ini. TV ONE mengangkat kisah memalukan dan memilukan ini dalam program Telusur dan lalu menjadi konsumsi publik warga republik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV ONE juga, Senin 16 Maret menayangkan program Kerah Putih dan mengangkat kasus dugaan korupsi DAK (Dana Alokasi Khusus) yang melibatkan mantan Kadisdik Kabupaten Tasikmalaya AK. Beberapa hari setelah acara itu ditayangkan, kejaksaan negeri Tasikmalaya menetapkan AK sebagai tersangka. Kasus dugaan penyelewengan DAK di Disdik Kabupaten Tasikmalaya ini semakin menarik karena di bulan-bulan sebelumnya rakyat Tasik cuek, apatis dan pesimis kasus itu bertemu ujung. Cuek, apatisme dan pesimismenya rakyat ini rasional dan beralasan. Kejaksaan di Tasikmalaya, kota ataupun kabupaten tak seperti kejaksaan kabupaten tetangga, Ciamis dan Garut yang bertaji untuk menyeret para koruptor ke meja hijau. Penulis sendiri, sejauh ini husnuzhzhan, bahwa di Tasikmalaya tak ada korupsi, bersih dari koruptor sehingga Tasikmalaya layak jadi kota dan kabupaten terbersih. Tapi benarkah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, di akhir bulan ini, Selasa 24 Maret, TV ONE juga yang menayangkan program Telusur yang untuk kali ini mengangkat kasus kejahatan seksual; perkosaan di dalam angkutan kota. Tayangan berdurasi tiga puluh menit ini mengangkat dua kasus perkosaan yang terjadi di angkot 010 (terminal bus-Geger Noong) yang memakan korban mahasiswi salah satu PTS di Tasik dan angkot 04 (Cibanjaran-Pancasila) yang korbannya ternyata anak SD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Apa Dengan Tasikmalaya?&lt;br /&gt;Sebetulnya, selain kasus-kasus di atas masih banyak kejahatan ‘anak-anak’ Tasik lainnya yang hanya terekspos di TV lokal, surat kabar lokal hingga surat kabar regional, entah kejahatan korupsi, seksual maupun kriminal. Beberapa hari ke belakang (Rabu, 26/3) surat kabar ini mengangkat berita sembilan pasangan ‘nakal’ yang dalam satu hentakan aksi terjaring operasi di hotel-hotel dan tempat peristirahatan umum. Di bidang korupsi, surat kabar ini juga menyingkap kasus yang melibatkan anggota DPRD kabupaten Tasik, HDSA. Sayangnya, sampai artikel ini ditulis, kasus HDSA ini tak terdengar langkah lanjutnya, entah sengaja dikubur dan dipetieskan seperti kasus-kasus korupsi tiga-empat tahun ke belakang, atau mungkin sampai sekarang masih dalam proses penyidikan. Tentu, berlanjut tidaknya kasus ini erat hubungannya dengan berbagai kepentingan; sebuah kisah klasik yang lumrah terjadi di bumi Priangan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus kejahatan, memang bukan hanya milik ‘anak-anak’ Tasik saja, tapi koheren dengan semua umat manusia penghuni alam raya ini, dari mulai kasus Kabil dan Habil (anak-anak nabi Adam) hingga berakhirnya masa edar planet bumi ini. Namun apa yang terjadi di ‘kota santri’ ini dan dipirsa jutaan pasang mata di seantero tanah persada, tentu terkesan agak berbeda. Bongkahan-bongkahan pertanyaan di dalam batok kepala lalu menyeruak, apa yang terjadi dengan Tasikku tercinta ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus Disikapi Positif&lt;br /&gt;Artikel ini ditulis, tentunya untuk menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Para pemimpin formal (pemerintah kabupaten dan kota Tasikmalaya yang menggawangi keberlangsungan kehidupan warga Tasik), pemimpin informal (para ulama yang ratusan bahkan ribuan jumlahnya) dan tentunya  kita semua sebagai warga, ada di garda terdepan untuk mengungkap benang merah dan mencari solusi dari prahara yang melanda urusan dalam negeri kabupaten dan kota Tasikmalaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan mendasar yang patut diajukan adalah, sudah seriuskah kita (para pemimpin eksekutif, legislatif dan yudikatif, para ulama dan kita sebagai warga) dalam menunaikan tugas, kewajiban dan tanggungjawab masing-masing dalam mengawal dan menjaga ke-kotasantrian Tasikmalaya ini? Apakah hiruk pikuk dan gonjang-ganjing dunia politik yang sejauh ini setia kita ikuti dan menguras biaya, tenaga dan perhatian, telah sampai melenakan kita semua dari tugas, kewajiban dan tanggungjawab itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Ponari, si dukun cilik asal Jombang itu hadir di tengah kekisruhan bangsa ini, lalu mengingatkan dan mengajarkan kita akan kesemrawutan di berbagai sektor dan semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara, maka hadirnya berbagai kasus di Tasikmalaya pun harusnya disikapi positif. Kalau kasus demi kasus ini tak terjadi, maka kita akan semakin terlena dalam urusan kita masing-masing. Nah, bila dalam kondisi Tasik yang ‘mencekam’ ini kita masih saja terlena dan tak mau berbuat apa-apa, maka betapa biadabnya kita. Kasus-kasus yang muncul sporadis dan dalam takaran yang sangat berat ini ‘wajib’ dijadikan pe-er bagi kita agar ke depan, kita bisa meminimalisir atau menghentikan kasus-kasus lanjutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila semua badai yang melanda Tasik ini dianggap sebagai teguran dari sutradara kehidupan, Allah swt dan menjadi pelajaran berharga bagi warganya, maka ke depan kita akan lebih serius lagi bekerja dalam posisi dan ruang kerja masing masing. Masa depan kita sebagai penghuni kolong langit Tasik pun akan menjanjikan harapan lebih cerah lagi. &lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAI Cipasung. Dosen LB STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-2579827975717610625?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/2579827975717610625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/borok-tasik-dalam-liputan-televisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/2579827975717610625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/2579827975717610625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/04/borok-tasik-dalam-liputan-televisi.html' title='borok Tasik dalam liputan televisi'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-3367028867440590633</id><published>2009-03-26T02:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-26T02:21:46.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>prahara di tengah keluarga nabi</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabi’ul awwal atau bulan Maulid ada di ujung hari-harinya. Namun kesan dan pelajaran dari bulan mulia ini tak akan pernah kering. Lantunan puja sanjung tanda cinta umat meruah memenuhi relung-relung bulan ini. Sebagian umat Islam menikmati bulan ini hanya sebatas ritual seremonial belaka, sebagian lainnya merefleksi perjuangan, pengorbanan dan keteladanan sang nabi dengan lebih jauh; membumikan tindakan, perbuatan dan ucapan mereka berdasar sunnahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad SAW, adalah figur sentral umat Islam yang ingin membahagiakan diri dalam setiap episode hidupnya. Dan, babak demi babak kehidupan nabi merupakan babak hidup yang tak putus dirundung malang. Perihnya hidup di jalur dakwah dan kerasnya tantangan karena memperjuangkan nilai-nilai kebenaran adalah hal yang harus ditempuh siapapun yang siap dan rela menghambakan dirinya di jalan Allah SWT. Nabi SAW sendiri menyabdakan, “orang yang paling keras tantangan hidupnya adalah para nabi” (HR. Bukhari Muslim). Maka sejatinya, kepahitan yang juga senantiasa menyertai hidup kita akan mengantarkan kedekatan dan kemesraan kita dengan pemberi cobaan itu, seperti juga yang dinikmati nabi dalam hidupnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya kenistaan hidup, kepahitan yang sempat menghampiri kehidupan rumah tangga nabi, harusnya juga dijadikan pegangan ketika di tengah keluarga kita pun terjadi kemelut, prahara atau badai yang seringnya mengganggu sisi lahir maupun dimensi batin suami dan isteri. Ketika pengetahuan kita tentang sejarah keluarga nabi sampai kepada sisi yang demikian, maka apapun yang terjadi antara pasangan suami dan isteri akan dirasa lebih ringan dan keutuhan hubungan pun akan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada dua prahara yang pernah menerjang keluarga nabi. Dari apa yang akan terpapar berikut ini kita bisa menakar sejauhmana prahara yang menimpa keluarga kita, seberapa kuat kita merasakan tusukan batin yang ditimbulkannya dan seberapa keras kerja kita dalam menghadapi dan mengupayakan jalan keluarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADITS IFKI (BERITA BOHONG)&lt;br /&gt;Kisah ini telah menguras emosi dan air mata bagi seorang Aisyah RA. Bagaimana tidak? Karena peristiwa ini, dua puluh hari lebih ia sakit keras dan merasa terusir dari rumah nabi dan tak seperti isteri-isteri yang lain, selama waktu itu ia tak merasakan pesona manusia teragung, suaminya sendiri, Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku asbab al- Nuzulnya imam al- Wahidi atau buku Lubaab al- Nuqulnya imam Suyuthi disebutkan, berita bohong ini terjadi sepulang dari perang Bani Mushtaliq bulan Sya'ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula Aisyah berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. Aisyah keluar dari sekedup (sejenis tandu yang digotong) untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah ada dalam sekedup. Setelah 'Aisyah mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat di tempat itu seorang sahabat nabi, Shafwan ibnu Mu'aththal. Diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, isteri Rasul!" Aisyah terbangun. Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Shafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut versi masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, maka fitnah atas Aisyah RA itupun bertambah luas sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. al- Syirbashi, dalam bukunya, Yasaluunaka fi al- Diin wal- Hayaat sampai menyatakan bahwa orang cerdaspun akan mudah terhasut oleh issu murahan yang paling diminati penduduk jagat pemburu kuliner gossip, apalagi ini berhubungan dengan keluarga nabi. Dalam kegamangan suasana itu, nabi tak mampu menentukan sikap dan Aisyah pun pulang untuk tinggal bersama orang tuanya. Dua manusia yang saling cinta dan saling membutuhkan ini pun terpisah untuk sekian lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hebatnya gossip ini, hubungan Aisyah dengan Ali RA. pun merenggang. Ali dikisahkan merupakan salah seorang yang tidak membohongkan kebenaran peristiwa yang ‘menghebohkan’ ini. sementara itu, tiga orang dihukum dera delapan puluh kali karena terhasut dan ikut menyebarkan berita bohong ini. Mereka adalah Hamnah binti Jahsy, Mishthah bin Atsatsah dan Hasan bin Tsabit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gonjang-ganjing peristiwa ini berakhir dengan happy ending. Allah SWT menurunkan ayat yang menghibur nabi, terutama Aisyah dan menyatukan dua insan itu dalam ikatan yang lebih mesra lagi. Allah bebaskan ia dari segala tuduhan dari atas langit ke tujuh. Maka Aisyah pun digelari Al- mubarra ah (terbebas dari tuduhan). Ayat yang menyatukan kembali pasangan suami isteri yang saling menyayangi ini adalah surat an- Nur [24]: 11-19. Ayat pembebas itu berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELAHIRAN IBRAHIM DARI MARIA&lt;br /&gt;Husain Haikal, penulis buku Hayaat Muhammad menjelaskan, prahara yang menguras emosi nabi, para isterinya sampai melibatkan emosi kalangan sahabat ini terjadi ketika usia nabi lewat enam puluh tahun. Sebulan lebih nabi tak menegur isteri-isterinya dan nabi, isteri-isterinya dan para sahabat ada dalam posisi yang serba salah. Abu Bakar sampai memukul putrinya, Aisyah, dan Umar memukul putrinya, Hafshah. Buntut dari prahara ini adalah munculnya issu di kalangan sahabat bahwa nabi akan menceraikan semua isteri-isterinya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Ibrahim dari Marialah yang membuat isteri-isteri nabi cemburu, lalu mereka salah langkah. Maria adalah wanita shalihah yang dihadiahkan sahabat nabi, Mukaukis raja Habasyah. Dari dialah nabi memperoleh anak; hal yang tidak ia terima dari isteri-isterinya selain Hadijah, isteri pertamanya. Kecemburuan isteri-isteri nabi memuncak. Mereka bersepakat untuk membuat nabi merasa tertekan dan merasa bersalah. ‘Kelakuan’ mereka membuat kemelut rumah tangga menjadi bertambah runyam Inilah yang membuat nabi tak keluar rumah dan untuk sekian lamanya luput dari pergaulan dengan para sahabatnya. Tapi Allah SWT membimbingnya menghadapi masalah pelik ini sehingga justru isteri-isterinyalah yang merasa bersalah, terkucil dari kalangan sahabat (laki-laki dan perempuan) dan lalu mendorong mereka datang kepada nabi dan memohon maaf. Peristiwa ini, selain menjadi sebab turunnya ayat-ayat pertama surat Al- Tahrim {66, juga menjadi sebab turunnya ayat ke 28-29 dari surat al- Ahzab {34}.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, kisah berat yang melanda keluarga nabi ini berakhir dengan happy ending. Nabi menerima mereka kembali dan suasana dalam rumah tangga pun menjadi lebih indah lagi. Unek-unek mereka sebagai isteri nabi yang tersalurkan di tengah konflik dan mengundang antipati dari para sahabat menjadi pelajaran berharga bagi mereka khususnya, isteri-isteri para sahabat, dan tentunya untuk seluruh keluarga muslim yang hidup di sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua peristiwa pahit yang dialami nabi dan isteri-isterinya ini, adalah bekal teramat berharga bagi para pasangan suami isteri dari keluarga muslim manapun yang hidup dalam naungan ajaran-ajaran suci agama Islam. Sehebat apapun kita, tak ada yang mampu untuk menghindari diri dari kemelut rumah tangga. Namun sikap kita dalam menghadapi prahara dalam hidup berumah tangga, berarti harus mengacu pada akhlak dan teladan yang telah sukses dilalui nabi bersama keluarganya.&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAI Cipasung. Dosen LB pada STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-3367028867440590633?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/3367028867440590633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/prahara-di-tengah-keluarga-nabi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3367028867440590633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3367028867440590633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/prahara-di-tengah-keluarga-nabi.html' title='prahara di tengah keluarga nabi'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-3267217661897362717</id><published>2009-03-26T02:16:00.001-07:00</published><updated>2009-03-26T02:19:29.753-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>ternyata, wara' di kalangan pejabat masih tersisa</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CFORTUNA%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C04%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:42.55pt 65.2pt 14.2pt 65.2pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;0leh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kunjungan ketua KPK, Antasari Azhar dalam &lt;i&gt;Dies &lt;/i&gt;emas ITB Bandung 7 Maret lalu menyisakan cerita yang mengharukan. Ceritanya adalah ketika di akhir kunjungan ia menolak jamuan makan para petinggi ITB dan juga menolak amplop ceramahnya yang berjudul “&lt;i&gt;Model Pemberantasan Koupsi, Kendala dan Prospek”. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Apa yang ditempuh ketua KPK, Antarsari Azhar ini adalah dalam rangka usahanya memperbaiki mental pejabat bangsa ini yang dari hulu sampai hilir menerapkan kinerja berbasis uang. Kaya rayanya para pejabat negeri ini biasanya tak lepas dari kelihaian mereka menumpuk kekayaan dari pemasukan di luar gaji mereka sebagai pegawai negeri dan pejabat publik. Gaji dan tunjangan mereka sangat terukur secara matematis, tapi rumahnya, sertifikat tanahnya, mobil pribadi dan keluarganya tak bisa dirasionalisasi dengan gajinya itu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Perilaku terpuji yang dilakukan pria berkumis tebal, seram tapi pandai melucu ini mengingatkan penulis akan pejabat publik lain yang posisi jabatannya tak kalah dari Anatasari Azhar. Ia adalah Menko Polkam kita, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Widodo&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;AS.&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; Prof. DR. Syafi’i &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ma’arif dalam resonansi Republika tahun 2006 lalu (guntingan artikelnya masih ada di penulis) menulis &lt;i&gt;Masih &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Orang Baik di Negeri Ini. &lt;/i&gt;Tokoh ‘orang baik’ yang ditulis Syafi’i&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ma’arif itu adalah jendral berusia 65 tahun yang tak suka popularitas dan jarang masuk TV ini. Jangankan adik-adiknya, ketiga anak-anaknya pun bahkan diharamkan menikmati dan memanfaatkan jabatan strategis bapaknya itu untuk dijadikan akses dalam bisnis dan acara lainnya dalam rangka mengumpulkan dan menumpuk kekayaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Keluarga jendral yang juga berperan aktif dalam rekonsiliasi Aceh ini sangat sederhana. Adik-adiknya berangkat kerja dengan bis umum, dan sang kakak seakan acuh tak memedulikannya. Sering keluarganya menganggap sikapnya terlalu puritan dan kaku dalam memegang teguh amanah yang diembannya, tapi demikianlah harusnya jadi pejabat publik. Bandingkan dengan pejabat-pejabat kita yang begitu ringannya dalam memahami amanah yang berwujud jabatan publik. Jangakan adik dan anak, keluarga, tetangga bahkan teman dan sahabat pun ikut menikmati fasilitas, lalu sang pejabat merasa sangat berjasa dengan itu semua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;WARA’ &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;DALAM PERSPEKTIF ISLAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ali bin Muhammad al- Jurjani dalam bukunya &lt;i&gt;al- Ta’rifat&lt;/i&gt; mendefinisikan&lt;b&gt; &lt;/b&gt;wara’ sebagai ‘menjauhi hal-hal yang syubhat sebagai upaya menghindarkan diri dari yang haram’. Syubhat sendiri didefinisikan al- Jurjani sebagai ‘hal yang tidak diyakini halal atau haramnya’. Dalam alquran, kata &lt;i&gt;wara’&lt;/i&gt; tidak diketemukan kecuali dalam memahami ayat, &lt;i&gt;“dan pakaianmu, bersihkanlah” &lt;/i&gt;(QS. al- Mudatstsir [74]: 4), Ibnu Qayyim al- Jauziyah dalam bukunya, &lt;i&gt;Madaarij al- Saalikiin &lt;/i&gt;memahami ayat ini sebagai perintah untuk &lt;i&gt;wara’, &lt;/i&gt;ia memahami pendapat sahabat nabi, Ibnu Abbas dalam &lt;i&gt;Tanwiir al- Miqbas&lt;/i&gt;nya yang menafsirkan ayat ini dengan makna “janganlah kamu busanai dirimu dengan dosa, kemaksiatan dan penghianatan”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam prakteknya, akhlak &lt;i&gt;wara’ &lt;/i&gt;ini sangat identik dengan keseharian kehidupan nabi dan para sahabat. Dalam buku &lt;i&gt;Sirat al- Sahabah &lt;/i&gt;karya DR. Mustafa Murad dikisahkan, Abu Bakar Sidik dua kali memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutnya karena mendengar makanan yang telah ditelannya itu hasil dari usaha yang haram. Pertama, ia mendapatkan makanannya itu dari hamba sahayanya sendiri yang di masa jahiliah menjadi peramal dan baru dibayar setelah ia mencicil pelunasan kebebasannya kepada Abu Bakar (HR. al- Bukhari). Kedua adalah makanan yang diberikan Ibnu Nu’aiman yang menghadiahkan sebagian badan kambing yang ia masak kepada Abu Bakar. Setelah tahu bahwa daging itu hasil perdukunan, ia berdiri memuntahkan makanan yang telah masuk perutnya itu dan berkata, “Kalian licik memberiku makanan dan tak memberitahukan dari mana ia didapat.” (HR. Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sahabat-sahabat nabi, terutama empat khalifahnya, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah tokoh terbaik dari pejabat publik yang sukses memeragakan &lt;i&gt;wara’ &lt;/i&gt;dalam menjalankan tugasnya. Bukti otentik menunjukan, di penghujung hayat mereka sebagai manusia dan kepala negara, kekayaan mereka sangat ‘mencolok’. Berbeda dengan pejabat jaman sekarang yang mencolok ketika di akhir masa jabatannya, mereka punya kekayaan yang tak habis dimakan generasi tujuh turunan, maka para sahabat sebaliknya. Abu Bakar, ketika meninggal tak meninggalkan harta yang bisa dinikmati anak-anaknya. Aisyah RA puterinya, ketika menjelang wafat ayahnya menangis dan berujar, “ayah, engkau tidaklah semiskin ini hingga tak bisa membeli kain kafan untuk penguburan ayah”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Umar bin Khattab pun demikian, ketika akhir hayatnya tiba, maka rumahnya segera dijual demi untuk menutupi beban utang pribadinya semasa pemerintahannya yang gemilang. Kekayaan kaum muslimin di masanya menggunung dari hasil zakat, pajak dan rampasan perang. Rumahnya yang dijual lalu diberi nama &lt;i&gt;dar al- qadha&lt;/i&gt; (rumah bayar utang). Utsman pun demikian, demi &lt;i&gt;wara’nya &lt;/i&gt;ia telah gemilang menaklukkan keserakahan pribadinya. Bayangkan saja, ketika jabatan khalifah diserahkan kepadanya, ialah orang terkaya di Jazrah Arab. Namun menjelang wafatnya, ia hanya meninggalkan beberapa ekor ternak saja. Ali bin Abi Thalib apalagi, khalifah keempat yang bergelar &lt;i&gt;imam al- masaakiin &lt;/i&gt;(pemimpin orang-orang miskin)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;ini dalam empat tahun lebih masa pemerintahannya tak pernah menambah perabotan rumah tangganya, apalagi menambah kekayaan di luar rumah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dari kalangan para ulama, Imam Hanafi an- Nu’man adalah contoh pelaku &lt;i&gt;wara’ &lt;/i&gt;yang cukup ekstrim. Bagaimana tidak, ketika domba-domba yang ia titipkan kepada seorang penggembala bercampur dengan domba-domba milik orang lain, ia tak berani makan daging domba selama tujuh tahun sesuai umumnya usia kambing yang hidup di masanya. Ketika suatu saat ia menyaksikan tentara Islam memakan daging kambing dan tulang-tulangnya dibuang ke sungai yang ada di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Kufah tempat tinggal sang Imam, imam Hanafi lalu tidak berani makan daging ikan bertahun-tahun sesuai usia ikan yang hidup di sungai itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;MENGINTIP SISTEM YANG BERLAKU HARI INI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Siapapun pejabat publik di negeri ini, eksekutif, legislatif dan yudikatif hari ini telah masuk pada perangkap ‘pragmatisme’ yang arus godaannya luar biasa kuat. Sistem yang terbangun dan budaya massal yang mengelilinginya memungkinkan siapapun tergoda untuk menikmatinya. Hadirnya institusi kepolisian, kejaksaan, bawasda hingga KPK tak menyurutkan mereka untuk mencari celah yang bisa ditempuh untuk memperkaya diri, keluarga dan handai taulan.&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Untungnya, tak semua pejabat publik kita tergoda, lalu masuk ke perangkap pragmatisme ini. Ketua KPK kita misalnya, atau juga Menko Polkam kita atau dari kalangan hakim agung di Mahkamah Agung kita, Artidjo Alkotsar yang tak sungkan untuk naik ojeg, becak atau kendaraan umum lainnya dalam kehidupan sehari-harinya. Di belakang mereka ada ratusan, ribuan dan jutaan pejabat kita —dari pejabat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, propinsi dan nasional— yang komitmen moral dan pemahamannya akan doktrin agama masih dipegang teguh, kukuh dan kuat. Di atas pundak merekalah kita menitipkan keberlangsungan kehidupan sosial politik di negeri ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kekayaan bagi kita, adalah hal yang walaupun sedikit tapi enak dimakan, nyaman dipakai, bisa dipertanggungjawabkan di dunia juga tak membebani langkah kaki kita di akhirat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Kekayaan yang dihasilkan dari jauhnya kita dari &lt;i&gt;wara’, &lt;/i&gt;pastinya akan berujung penyesalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;*&lt;b&gt;Penulis adalah ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), dosen LB di STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-3267217661897362717?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/3267217661897362717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/ternyata-wara-di-kalangan-pejabat-masih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3267217661897362717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3267217661897362717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/ternyata-wara-di-kalangan-pejabat-masih.html' title='ternyata, wara&apos; di kalangan pejabat masih tersisa'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-1405338871199036486</id><published>2009-03-26T02:11:00.001-07:00</published><updated>2009-03-26T02:11:50.656-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-1405338871199036486?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/1405338871199036486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1405338871199036486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1405338871199036486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/blog-post.html' title=''/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-3042370617079330360</id><published>2009-03-09T00:03:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T00:04:24.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUDAYA'/><title type='text'>kembalikan anakku pada usianya</title><content type='html'>Oleh: asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa bulan ke belakang, ada yang aneh terjadi pada anakku yang belum genap tujuh tahun. Sepulang mengaji, ia selalu bergegas mengambil buku dan ballpoint untuk menulis lagu-lagu yang setiap malam diputar di TRANS 7. Judul lagu dan penyanyi dia tulis lengkap sambil mulutnya komat kamit menghafal syair lagu-lagu yang disajikan dengan ‘bumbu’ hot gossip terbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya kebiasaan itu dibiarkan dengan asumsi bahwa dia masih anak-anak. Alasan lainnya, karena musik secara universal mempengaruhi tingkat kecerdasan terutama bagi anak-anak. Namun semenjak setahun ke belakang, terutama setelah RCTI punya acara yang ditayangkan live tiap Sabtu siang dan Minggu sore yaitu Idola Cilik, kehawatiran mulai menggoda. Acara yang juga dirindui anakku ini sempat menjadi polemic dan diprotes karena hampir semua lagu yang dibawakan anak-anak bau kencur itu bertema cinta. Tapi kemudian lagu-lagu itu ‘dipaksa’ untuk dimodifikasi sehingga menjadi lagu anak-anak. Alasan yang mengemuka ketika itu adalah karena cinta itu universal, cinta bisa terekspresi ke berbagai objek; Tuhan, orang tua, sesama, semua tumbuhan, hewan dan alam raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan, kekhawatiran itu bertambah karena seharian, anakku mengumandangkan lagu demi lagu yang syair-syairnya —gradually— pasti menghampiri sanubari terdalamnya dan memberi pengaruh walau tak secara langsung. Lagu-lagu yang berjudul terlanjur cinta (Rossa feat Pasha Ungu), Penghianat Cinta (Duo Maya feat Cinta Laura), Ular Berbisa (Hello Band), Pemain Cinta (Ada Band), Cinta Sampai di Sini (The Massiv) dan lain-lain begitu akrab dengan lidah cadel dan badan kerempengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PREMATURITAS ANAK-ANAK INDONESIA&lt;br /&gt;Sejak sekitar setahun lebih hingga hari ini, lagu pop merajai belantika musik di tanah air. Penyanyi single, duo, trio dan grup band pengusung musik aliran pop sejak subuh hingga malam hari sambung menyambung bak acara infotainment di berbagai stasiun TV. Derasnya penyanyi dan grup band baru dalam dunia musik pop di tanah air memasuki puncaknya sehingga lagu dangdut dan lagu anak-anak tiarap dan sekarat. Namun bila melihat ke belakang, boombastisnya acara TV yang digandrungi —entah acara musik, komedi, sitkom dan lainnya— akan melintasi masa menjemukan dan sampai di antiklimaks. Ketika siklus itu terjadi, maka siklus lagu dangdut dan lagu anak-anak akan mendapatkan momentumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aliran dangdut masih bisa bertahan walaupun dalam ‘radius’ terbatas, maka lagu anak-anak berada dalam kondisi kritis sehingga mendesak untuk diselamatkan. Wajah imut dan menggemaskan dari penyanyi-penyanyi cilik semisal Tasya, Cikita Meidy, Kristina, Tina Toon, Joshua, Chantika dan yang lainnya masih tarbayang dan belum hilang dari ingatan kita. Sementara itu, Leony, Dea Ananda, Eno Lerian, Bondan Prakoso, Agnes Monika, Eza Yayang dan lainnya bahkan sudah tak menyisakan guratan anak kecil lagi seperti yang dulu kita saksikan sekitar sepuluh tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang belum kita lupa, adalah bahwa mereka menyanyi sesuai usia mereka. Lagu anak-anak yang diciptakan khusus untuk mereka membuat dunia anak-anak pada masa itu benar-benar berkibar. Anak-anak Indonesia pun hidup dalam suasana merdeka, alami, penuh ceria dan tidak ada suasana yang dipaksakan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang ini, begitu banyak tontonan di televisi yang memaksakan anak-anak kita harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Bukan hanya acara-acara di televisi, tatanan adat dan budaya masyarakat tradisional pun sudah terlanjur berubah. Kebiasaan bayi kecil yang di zaman kakek nenek kita dahulu dibedong sampai usia tiga bulan, sekarang ini baru seminggu saja bayi-bayi kita kegerahan dengan bedong. Permainan anak seperti gatrik, cat-catan, jibeh, sermen dan puluhan permainan lainnya telah pula hilang di telan acara-acara TV, komputer sampai internet. Dunia pacaran yang sepuluh tahun lalu divisualisasi untuk remaja SMA dan anak kuliahan, kini sudah sebegitu permissif hingga bukan hanya anak SMP, anak-anak SD pun mulai ‘dikenalkan’, sebuah bentuk euphimisme dari kata ‘diajarkan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ELEGI DARI DUNIA PENDIDIKAN KITA&lt;br /&gt;Teriris hati kita manakala kasus demi kasus tentang kenakalan remaja dan anak-anak sekolah kita menohok dan menyentak semua orang. Di Tasikmalaya, kasus adegan syur anak SMP favorit menjadi bukti prematuritas anak-anak kita. Beberapa bulan sebelumnya, di kecamatan Taraju, seorang siswa SMU tega menjual pacarnya yang nota bene anak murid SMP kepada lebih dari empat puluh pemuda tanggung dan di beberapa di antaranya adalah lelaki paruh baya. Ini adalah sebuah hasil gemilang dari pembelajaran maturisasi (proses pendewasaan) anak kecil yang dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan pergaulan anak remaja kita seperti yang terekam dari pemberitaan media massa —selain beberapa peristiwa kekerasan yang sambung menyambung diberitakan dan mudah diakses di dunia maya— hanyalah setetes dari potret sebenarnya dari realitas kebebasan mereka di lapangan. Data yang mengerikan tentang hilangnya virgiditas (keperawanan) anak SMU di Tasikmalaya saja menunjukkan angka di atas 30% dan di Bandung bahkan melebihi 50%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salut bagi para pengelola pendidikan kita; diknas, kepala sekolah, dewan pendidikan dan semua pihak yang telah berusaha keras dalam memerangi atau minimal meminimalisir kasus lanjutan. Tapi akan lebih ‘mengharukan’ lagi apabila kerja keras itu berlangsung secara berkesinambungan dan bersifat antisipatif, bukan reaktif seperti sekarang ini, di mana razia HP dan sosialisasi pelanggaran siswa baru dilakukan setelah kasus demi kasus terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat tulisan ini, penulis ingin melempar wacana sekaligus harapan agar dunia anak-anak yang sekarang ‘hilang dicuri’ segera dikembalikan. Hak anak-anak Indonesia untuk hidup dalam dunianya mendesak untuk diperjuangkan oleh siapapun yang mencintai dan menyayangi mereka. Generasi terbaik akan tercipta dari pola pendidikan sistimatis dan berjenjang. Suatu saat nanti, pemaksaan dari maturisasi anak-anak tidak lagi dialami anak-anak kita, semoga.&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;*Penilis adalah ketua Jurusan Bahasa Arab Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) dan dosen LB di STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-3042370617079330360?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/3042370617079330360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/kembalikan-anakku-pada-usianya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3042370617079330360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3042370617079330360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/kembalikan-anakku-pada-usianya.html' title='kembalikan anakku pada usianya'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-3227853753423760831</id><published>2009-03-09T00:02:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T00:03:25.301-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>pesan ponari untuk para caleg</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang terlihat digendong ayahnya, lalu mencelupkan tangannya ke ribuan gelas plastik di depannya itu baru berusia sepuluh tahun. Tapi booming pemberitaannya di head line televisi sempat mengalahkan pemberitaan Obama, perang di Timur Tengah atau berita tarian Lionel Messi yang sedang menggila bersama FC Barcelona dan tim Tanggo Argentina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Anak itu adalah Muhamad Ponari, warga kampung Kedung Sari, desa Bolongsari, kecamatan Megalus kabupaten Jombang. Tanpa ia sadari, ia datang di tengah pusaran absurditas zaman, mengagetkan semua orang dan mengabarkan kita “inilah realitas sebenarnya tentang gambaran manusia Indonesia”. Ia datang di tengah suasana politik, ekonomi, sosial, budaya dan moral anak bangsa yang tanpa haluan. Seringnya, Tuhan mengajarkan kita tak secara langsung, bisa dengan gejala alam, bencana, kegoncangan ekonomi, dan untuk kali ini, ia mengajari kita dengan menghadirkan bocah lugu, lucu dengan penampilan tak seberapa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingatkan kita dengan serial Highlander di akhir tahun 90-an, Ponari memulai petualangannya sebagai ‘bocah ajaib’ yang menyedot 10.000 sampai 15.000 orang yang setiap hari datang ke rumahnya. Di awal Januari lalu, sambaran petir mengiriminya batu berbentuk seperti kepala belut sebesar kepalan tangan. Ditunjang suhu budaya di Jawa Timur yang lekat dengan dunia supra natural, ia lalu menjelma menjadi ‘selebritis’. Karena masih bau kencur, ia dianggap keramat. Belakangan, bukan hanya dirinya, tapi bahkan sumur di rumahnya, tanah sampai —maa syaa Allah— air selokan di belakang rumahnya pun dianggap ‘suci’ dan bertuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung Jawab Bersama&lt;br /&gt;Kehadiran si anak ajaib Ponari, sejatinya menjadi peringatan dan tamparan keras bagi kita, khususnya para pemimpin, formal dan non-formal, pemerintah, para ulama, maupun para politikus yang akan memasuki arena ‘ujian seleksi’ agar mau menengok masyarakat bawah dan memahami denyut nadi yang mereka rasa saat ini. Mampirnya Ponari memasuki wacana nasional dan lalu dibesarkan media massa, seharusnya direfleksi sebagai bahan renungan menghadapi eskalasi suhu politik April mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa media massa, cetak atau elektronik, langsung maupun tidak langsung menjadi bagian penting dalam mencari benang merah, apa hikmah dari kehadiran Ponari untuk kebaikan bangsa pasca pemilu 2009 ini. Secara menukik, beberapa stasiun televisi menuding berbagai variable sebagai biang permasalahan dari benang kusut yang menimpa rakyat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahalnya biaya kesehatan, lemahnya akidah umat, bodohnya warga masyarakat, gandrungnya mereka dengan budaya antri, lemahnya posisi pendidikan ketika dihadapkan dengan kebutuhan materi dan tuntutan mengisi perut disinyalir menjadi bagian terpenting dari bombastisnya pemberitaan Ponari di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Ponari untuk para caleg&lt;br /&gt;Kebanyakan kita, pastinya punya pengalaman pahit ketika berobat ke rumah sakit swasta, apotik yang merangkap tempat praktek dokter spesialis atau ke rumah pribadi dokter spesialis. Sosialisasi JAMKESKIN dan wacana berobat gratis yang nyaring dijadikan bahan kampanye politik, rupanya sia-sia belaka. Mahalnya harga kuliah kedokteran spesialisasi bidang tertentu mengharuskan siapapun yang berobat ke dokter spesialis, sekali lagi, siapapun itu, harus merogoh kocek lebih dalam. Bagi rakyat miskin yang berobat ke tempat praktek dokter spesialis, tak ada ampun, mereka harus membayar sesuai angka nominal yang diberikan petugas apotik. Harga obat paten pun dijual super mahal bila dibeli langsung di tempat praktek, berbeda ketika kita mencoba membelinya di apotik lain. Anehnya, sistim pembayaran mengharuskan pasien menukar resep di tempat itu juga, tak bisa di apotik lain seperti yang terjadi sepuluh tahun ke belakang. Kehadiran beberapa laboratorium kesehatan, rupanya juga menjadi bagian penting lainnya yang menjadikan biaya kesehatan bagi warga bertambah mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Ponari datang mengingatkan kita, pemimpin khususnya, terlebih husus lagi para caleg kita agar jangan pura-pura tak tahu dan tak mengerti apa yang tejadi. Keinginan kuat dari para pemimpin untuk membenahi sistem yang membelit dunia kesehatan di negeri ini adalah esensi terpenting dari teguran Tuhan yang dihadirkannya lewat kehadiran Ponari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada hal yang lebih penting dari masalah kebutuhan warga masyarakat akan kesehatan jasmani mereka, yaitu kesehatan rohani. Rohani siapapun akan terusik melihat berjubelnya belasan ribu warga yang antri menunggu giliran diobati oleh Ponari. Mereka sakit secara jasmani, tapi yang lebih memilukan adalah sakitnya spiritualitas dan kerontangnya tauhid dalam lubuk rohani mereka. Di manakah akal sehat disimpan saat kita menyaksikan mereka mengais lumpur dari jamban keluarga Ponari, lalu membalurkannya ke seluruh tubuh? atau dimana akal sehat para kerabat Ponari saat ayah Ponari sendiri tergolek lemas di rumah sakit, bahkan saat kita tahu bahwa Ponari pun sakit dan saat itu ia dilarikan ke rumah sakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kehadiran Ponari sangat tepat waktu. Akidah umat yang camporet terlihat dari kepercayaan berlebih kepada Ponari sebagai sumber kesembuhan yang menyerempet wilayah musyrik. Hal ini menggambarkan lahan garapan para ulama belum juga tertuntaskan. Kegemaran warga masyarakat untuk antri pembagian sembako, pembagian zakat dan antri berobat gratis menjadi gambaran memilukan di tengah suasana kampanye dengan hiasan angin surga dan janji-janji muluk untuk menjadikan rakyat makmur dan sejahtera. Sungguh, ini adalah isyarat jelas bahwa masyarakat terdidik di negeri ini, sampai saat ini belum bisa mencerahkan pemikiran mereka yang tidak terdidik..       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas segalanya, hadirnya Ponari di tengah-tengah kita adalah skenario dari Allah swt. untuk kebaikan rakyat Indonesia. Dan secara tak langsung, ini adalah bahan garapan serius bagi caleg kita bila di April nanti mereka terpilih. Empat tahun ke belakang, prestasi mereka jeblok, yang makmur dan sejahtera hanya anggota dewan dan partainya, bukan rakyatnya. Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) dan. Dosen STAI Tasikmalaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-3227853753423760831?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/3227853753423760831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/pesan-ponari-untuk-para-caleg.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3227853753423760831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3227853753423760831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/pesan-ponari-untuk-para-caleg.html' title='pesan ponari untuk para caleg'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-7623525182264593215</id><published>2009-03-09T00:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T00:02:25.896-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>muhammad, inspirator segala zaman dan kalangan</title><content type='html'>Refleksi maulid Nabi Muhammad saw. 1430 H &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Asep M. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari dalam sebulan ini, kita ada di bulan ke tiga penanggalan Hijriyah yaitu Rabi’ul Awwal. Tepat 1438 tahun yang lalu, sejarah menyaksikan kisah kelahiran nabi terakhir sekaligus teragung dari kalangan bangsa Arab. Sebelumnya, kisah kelahiran para nabi umumnya muncul dari utara jazirah Arab yaitu Syam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran manusia biasa yang luar biasa ini menghentak dunia karena tak sampai seabad ba’da wafatnya, agama yang ia bawa telah melewati batas mimpi warga dunia Arab masa itu, yaitu tumbangnya dua imperium penguasa dunia; Romawi dan Persia. Tak hanya itu, Islam, agama yang dibawanya, telah pula menjadi pilihan keyakinan jutaan pengikut Nasrani (Romawi) dan Majusi (Persia) yang telah dianut berabad-abad lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad, utusan terakhir itu lahir dan menjadi inspirasi berjuta, bahkan bermilyar orang di setiap masanya. Tak ada seorang pun manusia yang lahir dari rahim bumi dan kemudian menjadi inspirasi setiap generasi tentang sosok ketokohan, pengabdian, pengorbanan, kesetiakawanan, kepahlawanan, kepemimpinan, keteladanan; sesuatu yang menjadi rujukan utama dalam wacana umat manusia yang berperadaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang prestasi kerja dan capaian perjuangannya ini, tak hanya umat Islam —yang diwakili para ulama dan cendekiawan— yang mengangkatnya dalam karya lidah dan tangan, orasi dan tulisan, tapi juga “ulama-ulama” dari agama lain; Kristen, Hindu, Budha dan lainnya. Mereka menyempatkan diri mendalami kehidupan sang Nabi, kemudian menulis catatan tentang keanggunan pribadinya. Inspirasi yang alami dan dihadirkan dari sosok yang bersahaja dan apa adanya ini bak dian yang menerangi langkah penduduk planet bumi. Karena itulah ia menjadi Rahmatan lil’aalamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUHAMMAD DI MATA ‘ULAMA’ AGAMA LAIN&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Muhammad, Prophet for Our Time (2007), Karen Armstrong —Islamolog perempuan Amerika yang dikenal santun dan objektif menulis tentang Islam— menulis berbagai pengakuan tokoh-tokoh agama besar dunia tentang Muhammad saw. Ia misalnya menulis pengakuan Michael H. Hart, penulis buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History yang menempatkan Muhammad di ranking pertama dari seratus tokoh dunia seanjang masa. Hart berujar, “keputusan saya memilih Muhammad sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia mungkin mengagetkan sebagian pembaca dan akan mempertanyakannya. Namun, dialah satu-satunya manusia dalam sejarah yang mencapai level prestasi  paling puncak dalam berbagai bidang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nobelis sartra 1925, George Bernard Shaw menyatakan, “Saya percaya, jika manusia seperti dia diserahi kendali kememimpinan dunia modern, dia akan berhasil memecahkan problema-problemanya sehingga penduduk dunia akan damai. Saya ramalkan, kelak agama yang Ia bawa akan semakin diterima Eropa.” Sebelum George Bernard Shaw, Alponse de Lamartine, sastrawan dan cendekiawan Prancis abad ke-19 menyatakan, “Muhammad adalah filosof, orator, nabi, pembuat hukum, pejuang, penakluk pikiran, pemulih dogma-dogma rasional dan peribadahan tanpa patung dan gambar: pendiri dua puluh kerajaan dunia dan satu kerajaan spiritual. Berdasarkan semua standar untuk mengukur keagungan seseorang, kita bisa bertanya, adakah manusia yang lebih agung daripada dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaguman lainnya diungkapkan William Montgomery Watt, seorang professor bahasa Arab dan studi Islam di universitas Edinburgh. Ia berujar, “Semakin kita merenungkan sejarah Muhammad dan masa awal Islam, semakin kita terkagum-kagum akan cakupan kesuksesannya. Andai dia tak memiliki bakat sebagai pengamat, negarawan, administrator dan, di balik semuanya ini, keyakinannya kepada Tuhan dan bahwa dia diutus oleh Tuhan, maka sebuah babak penting sejarah umat manusia tidak akan pernah tertulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari belahan Amerika dan Eropa, Pemimpin dunia dari belahan Asia yang juga pemimpin para pengikut Hindu, Mahatma Gandhi, mengungkapkan kekagumannya terhadap Muhammad dalam kata-katanya, “Saya takjub, manusia seperti apakah yang hingga hari ini menawan hati jutaan manusia… Saya menjadi lebih dari sekedar yakin bahwa bukan pedang yang membuat Islam berjaya. Kebersahajaan, pelenyapan ego sang nabi, tekad kuat untuk memenuhi semua janjinya, pelayanannya yang amat mendalam kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya yang tak mengenal rasa takut, keyakinan penuhnya kepada Tuhan dan kepada misinya, semua inilah, dan bukannya pedang, yang menyebabkan umat muslim berjaya dan mampu menyingkirkan semua penghalang. Ketika menamatkan biografi sang nabi, saya sedih karena tak ada lagi yang bisa saya baca tentang kehidupan yang agung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUHAMMAD, PUNCAK INSPIRASI&lt;br /&gt;Para cendekiawan dunia, masa lalu dan hari ini, masih saja seperti kehausan mencari air inspirasi yang menyegarkan dahaga mereka tentang sosok-sosok yang telah sukses mewarnai perjalanan sejarah bumi. Muhammad, manusia agung itu, sampai hari inipun tetap laksana oase yang airnya tak penah kering. Berbagai buku tentang sejarah kehidupannya telah ditulis dalam ratusan bahasa di dunia dan ditulis bukan hanya oleh umat Islam, tetapi bahkan oleh intelektual-intelektual non muslim yang kebanyakan objektif menulis sejarah sang nabi, sementara sebagian lainnya cenderung mencari-cari celah untuk memojokkannya, namun mereka tak bisa menemukan cara untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya sejarah hidupnya dari A sampai Z, atau dari mulai ia dilahirkan sampai wafatnya, tapi tak sedikit juga yang menulis tentang pribadi beliau secara tematis. Puluhan bahkan ratusan buku telah ditulis untuk mengungkapkan sejarah nabi Muhammad poin demi poin, judul demi judul seputar sejarah beliau yang telah sukses menjadi politikus, enterpreiner, kepala keluarga, panglima perang, imam spiritual, kepala negara, sahabat dari para sahabat dan lain-lain. Sekedar contoh, penulis mencatat buku Al- aayaat al- Bayyinaat fii A’dhaa i Rasuulillaah min Mu’jizaat karya Sa’id bin Abdil Qadir Basyanfar. Buku ini secara eksklusif menggambarkan visualisasi fisik badani nabi dan tidak menyentuh sisi spiritualnya yang memang telah ditulis puluhan bahkan ratusan orang ulama yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintisan Sa’id Basyanfar ini lalu disempurnakan oleh ulama Arab kontemporer DR. Aidh al- Qarni yang menulis Muhammad, Ka Annaka Taraa. Sisi spiritualitas nabi, bahkan ditulis hingga menyentuh episode mistisnya. Dalam hal ini, Badiuzzaman Said Nursi menulis Prophet Muhammad’s Miracles. Keunikan karya para ulama tidak hanya berhenti sampai di situ, tapi bahkan hingga mengangkat sisi lain dari nabi Muhammad, yaitu episode tertawanya. Dalam hal ini Khumais al- Sa’id menulis buku Mawaaqif Dhahika fiihaa an- Nabi. Karya demi karya tentang nabi Muhammad saw, pastinya akan semakin deras seiring tuntutan perkembangan zaman yang tak pernah puas dengan pola kepemimpinan para pemimpin dunia yang tidak mengusung nilai keteladanan dalam kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita, umat Islam Indonesia yang tengah menghadapi episode baru dalam tatanan kehidupan berpolitik, bernegara, dan berkehidupan sosial, tentunya nabi Muhammad adalah sumber segala inspirasi bagi terciptanya kehidupan yang lebih baik. Anomaly dalam kehidupan sosial dan politik hari ini, terjadi karena tidak adanya inspirator yang bisa diteladani. Akibatnya, masalah demi masalah malah bertambah dan ini akan terus membebani para pemimpin kita dan juga rakyatnya, sekarang dan esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulid nabi Muhammad tahun ini, sejatinya diacu untuk memberi pencerahan umat dan warga masyarakat, terlebih bagi para pemimpin dan calon wakil rakyat agar kembali membaca sejarah hidupnya, menghayati sisi lahir dan bathinnya, mempelajari pola hidupnya dalam mengabdikan diri kepada Tuhannya, agamanya dan umatnya.&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- Qashd      &lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;*Penulis adalah Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) dan dosen LB STAI Tasikmalaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-7623525182264593215?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/7623525182264593215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/muhammad-inspirator-segala-zaman-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/7623525182264593215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/7623525182264593215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/muhammad-inspirator-segala-zaman-dan.html' title='muhammad, inspirator segala zaman dan kalangan'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-4991605876184748726</id><published>2009-03-08T23:59:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T00:01:13.898-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA KEULAMAAN'/><title type='text'>kewajiban dakwah dan problema keumatan</title><content type='html'>Oleh: Asep M. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Ali ‘Imran ayat 104 ini, adalah salah satu ayat paling populer yang berhubungan dengan dakwah selain ayat ke 125 dari surat an- Nahl [16] “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”, Ali ‘Imran [3]: ayat 110 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”  dan Fushshilat [41]: ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini (Ali ‘Imran [3] ayat 104) Mengandung tiga hal yang harus dilakukan oleh umat Islam, baik secara pribadi ataupun berkelompok, berhubungan dengan upaya pemeliharaan masyarakat dari berbagai hal yang bisa menjerumuskan mereka kepada kesengsaraan di dunia dan kecelakaan di akhirat. Pertama, yad’uuna ilal khair mengajak kepada kebajikan, kedua ya muruuna bil ma’ruuf menyuruh kepada yang makruf dan ketiga yanhauna ‘anil munkar mencegah dari yang munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsir al- Misbahnya (2002), M. Quraish Shihab menjelaskan kewajiban dakwah kepada dua pendapat umum para ulama yang berbeda. Perbedaan demikian dikarenakan kata minkum dalam ayat di atas difahami oleh sebagian mufasir dengan makna ‘sebagian di antara kamu’, dan mufassir yang lainnya memahami min (harf jar) lilbayaan atau ‘penjelasan’, artinya kewajiban dakwah dibebankan kepada semua umat Islam. M. Quraish Shihab sendiri lebih memilih pemahaman pertama, dakwah adalah kewajiban sebagian muslim saja tanpa menutup kewajiban semua umat Islam untuk saling mengingatkan satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Abdullah Ahmad al- ‘Allaf dalam bukunya Kullunaa du’aat aktsar min aalaaf fikrah wa wasiilah wa usluub fii al- da’wah ilallaah (2008) dan banyak ulama lainnya memahami bahwa da’wah adalah kewajiban setiap individu tanpa kecuali. Dengan kata-katanya yang indah ia berujar, “Da’wah adalah kewajiban yang mesti dilakukan seluruh umat Islam yang mampu memikulnya, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, baik secara teoritis maupun praktik”. Terlepas dari dua pendapat yang sebetulnya sama tapi berbeda penekanan ini, aktifitas da’wah dalam Islam tak dapat ditawar-tawar lagi, ia adalah prasyarat keberlangsungan hidup umat Islam di sepanjang zaman. SK dari Allah SWT. untuk merekomendasikan setiap orang menyibukkan diri di dunia dakwah termaktub dalam ayat ke 110 dari surat Ali ‘Imran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini (Ali ‘Imran 104) terdapat dua kata yad’uuna (mengajak) dan ya muruuna (memerintah). Sayyid Quthub dalam fii zhilaal al- Qur’aan mengemukakan bahwa, penggunaan dua kata yang berbeda itu menunjukkan keharusan adanya dua kelompok dalam masyarakat Islam. Kelompok pertama bertugas untuk mengajak khair, dan kelompok kedua bertugas untuk memerintah ma’ruuf dan melarang munkar. Kelompok kedua ini, tentulah memiliki kekuasaan di bumi, termasuk di antaranya adalah pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa makna al- khair, al- ma’ruf dan al- munkar? Ibnu Katsir dalam  tafsir al- Quran al- ‘azhimnya memberikan batasan al-khair dengan nilai kebaikan universal yang diajarkan dalam al- Quran dan sunnah. Sedangkan al- ma’ruf adalah sesuatu yang baik menurut pandangan umum satu masyarakat selama sejalan dengan al- khair. Adapun al- munkar, ia adalah sesuatu yang dinilai buruk oleh suatu masyarakat serta bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Ayat di atas menjelaskan betapa pentingnya mengajak kepada al- khair yang kemudian didahulukan penyebutannya, kemudian memerintahkan kepada yang ma’ruf lalu melarang yang munkar.                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAKWAH DAN PROBLEMANYA&lt;br /&gt;Di setiap masanya, Indonesia adalah negeri yang kaya akan ulama. Mereka berdakwah sesuai kapasitas masing-masing dan efektivitas dakwah mereka terlihat dari tersebar dan mendominasinya umat Islam di pelosok tanah air. Gerakan dakwah massif ini telah merubah Indonesia yang Hinduis dan animis menjadi Islamis. Dan secara mencengangkan, Indonesia lalu menjadi sebuah negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus menjadi bahan renungan bagi kita, adalah kenapa dalam beberapa dekade ke belakang umat Islam terdegradasi secara kuantitatif, bahkan juga secara kualitatif? Jawaban dari pertanyaan ini sangat komplek menyangkut faktor internal umat Islam sendiri ditambah faktor eksternal. kemudian, sering juga penulis dihadapkan dengan pertanyaan klasik “kenapa gairah umat islam untuk mengamalkan ajarannya sedemikian lesu?” jawaban dari pertanyaan inipun sangat komplek. Lalu pertanyaan berikutnya muncul, “apakah kehadiran berbagai institusi dan lembaga dakwah di Indonesia sudah efektif?” sekali lagi, jawaban dari pertanyaan inipun juga komplek. Satu lagi pertanyaan tersisa, gencarnya dakwah di media massa, cetak ataupun elektronik, juga banyaknya da’i da’i muda yang cukup enerjik, kenapa tidak kohesif dengan perubahan dan perbaikan? Jawabannya pun tentunya komplek.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas problematika yang dihadapi umat Islam ini, bila dikaitkan dengan masalah dakwah, andai ditelisik lebih ke dalam sebetulnya tak ‘rumit-rumit’ amat. Bangsa Indonesia adalah bangsa penonton dan pendengar, bukan bangsa pembaca. Menonton dan mendengar adalah amaliah keseharian umat Islam di Indonesia. Menonton dan mendengar dakwah pun bukan hal baru bahkan sudah melekat kuat pada jiwa dan raga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah pokok yang perlu dikemukakan untuk menjadi bahan renungan kita adalah, ruh atau jiwa dari dakwah yang dihadirkan para pendakwah dan ulama jaman dulu masih murni dan tak terkontaminasi unsur luar yang sekarang ini sedemkian sulit dikendalikan. Sementara ruh dan jiwa dakwah saat ini, maaf, seakan gersang karena kurangnya nilai-nilai keteladanan, keikhlasan, kesungguhan, profesionalitas, dan dari hati ke hati. Faktor-faktor inilah yang dikatagorikan sebagai faktor psikologi massa dalam dunia dakwah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni dakwah yang dipraktekkan dengan teori alakadarnya di jaman dulu, juga merupakan faktor yang saat ini sudah sangat mendesak untuk dihadirkan. Seni dakwah yang dimaksud adalah tadarruj (berjenjang) dalam dakwah. Ibrahim bin Abdillah al- Muthlaq menulis buku al- Tadarruj fii da’wati al- Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (2008). Secara sistematis beliau merunut sejarah dakwah Nabi SAW yang memperagakan keberjenjangan dakwah, apakah dari segi materi, waktu, tempat dan objek dakwah. Sekarang ini, materi dakwah yang disuapkan langsung ke objek dakwah (audience) terpotong-potong dan tematis, sesuai kecenderungan dan minat mereka dalam menonton TV atau mendengar siaran radio.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPTIMALISASI KHUTBAH JUMAT            &lt;br /&gt;Satu hal yang pasti, khutbah jumat adalah cara yang paling efektif dalam keberlangsungan dakwah di zaman Nabi SAW dan para sahabat RA. Disebut efektif karena di zaman ini, Nabi —juga para sahabat— sekaligus menjadi khatib jumat setiap hari Jumat dan dihadiri oleh semua sahabat. Berbeda dengan khutbah Jumat, ta’lim yang dilakukan Nabi tidak dihadiri oleh semua kalangan sahabat. Dalam hal ini, Prof. DR. Mustafa Murad dalam bukunya siirat al- Shahabah (2006) menuliskan cerita para sahabat tentang suasana dan keadaan dakwah di zaman Nabi. Umar bin Khattab dalam hadits riwayat al- Bukhari menceritakan, bahwa beliau mencari nafkah dengan berdagang di kampung Bani Umayyah bin Zaid. Namun demi kecintaannya pada Nabi dan ilmu, ia melakukan tanaawub (giliran) dengan seorang sahabat dari kalangan Anshar, sehari ia sendiri yang datang kepada Nabi, lalu hari berikutnya giliran sahabatnya itu yang menemui Nabi. Sepulang dari Madinah, kedua sahabat ini pasti saling berkunjung untuk menyampaikan apa yang diterimanya dari Nabi, apakah ayat-ayat al- Quran yang baru turun ataupun hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Barra bin ‘Ajib juga berkata, “Tidak semua sahabat Nabi mendengar setiap hadits yang disampaikanya. Di antara kami ada yang bertani, berdagang, dan bekerja dengan pekerjaan lainnya. Selain itu, kami pun butuh waktu luang untuk kumpul keluarga, ia berkata, “kaanat lanaa dhai’ah wa asyghaal” untungnya, ada kegemaran lain di antara mereka, yaitu mereka akan selalu menyampaikan apapun yang didengar dari Nabi itu kepada sahabat-sahabat lain yang tidak hadir, ia melanjutkan, “walaakinnannaasa laa yakdzibuuna hiinaidzin” (HR. Ahmad dan al- Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, miris juga kita menyaksikan ironi dakwah yang terjadi di tanah air, pulau Jawa khususnya berkenaan dengan suasana dalam mesjid di saat khutbah Jumat sedang berlangsung. Disebut ironi karena suasana itu mencerminkan sistematika dan materi dakwah yang disampaikan tidak atau belum membumi. “Gemprah”nya jamaah berjamaah tidur di saat khutbah disampaikan memunculkan pertanyaan, siapakah yang bersalah dan bertanggungjawab atas apa yang tengah terjadi dalam tubuh umat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan di atas seharusnya bisa terjawab. Acara pelatihan khatib dan imam jumat harus digalakan dengan target untuk mencapai memperbaiki dan mengobati kondisi ironis dalam acara jumatan. Pelatihan-pelatihan seperti ini, juga diyakini mampu mengarahkan sistematika dan materi khutbah yang lebih baik, dan ini secara tak langsung akan memberi pengaruh dalam pengobatan berbagai penyakit kronis yang menimpa umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FENOMENA DAKWAH MODERN&lt;br /&gt;Dalam dua dekade ke belakang, dakwah yang disampaikan kiai pop (demikian Prof. DR. Jalaluddin Rachmat menyebut para muballigh yang dibesarkan media, seperti yang ia tulis dalam buku Ajengan Cipasung karya Iip D. Yahya, 2004) sedemikian membahana di tengah-tengah masyarakat kita. boombastisnya dakwah di TV lalu menjadi tren dakwah yang di awal-awal masanya benar-benar bisa memberikan daya gugah dan daya rubah. Namun belakangan, umat terkesan kecapean dan lalu melewatkan begitu saja tontonan gratis yang dibawakan para da’i kondang yang sebetulnya sayang untuk dilewatkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah umat telah merasa jenuh untuk sekedar meluangkan waktu paginya demi hal positif penyiram dahaga rohani ? ataukah mereka lebih suka memilih acara berita terhangat ataupun acara infotainment? Apakah —kalau boleh lebih jauh kita mempertanyakanmasalah pelik ini— ada yang salah secara internal atau eksternal dalam tubuh umat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah demi masalah yang diajukan dari awal sampai akhir dalam penulisan makalah sederhana ini, adalah bahan refleksi untuk kita semua, penulis khususnya, dalam rangka ‘mengurai benang kusut’ dari pertanyaan yang terjadi seputar kabar paling mutakhir dari problematika dakwah Islam di republik tercinta ini.&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-4991605876184748726?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/4991605876184748726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/kewajiban-dakwah-dan-problema-keumatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/4991605876184748726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/4991605876184748726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/kewajiban-dakwah-dan-problema-keumatan.html' title='kewajiban dakwah dan problema keumatan'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-1839144732655828931</id><published>2009-03-08T23:57:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T23:59:45.892-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DUNIA KEULAMAAN'/><title type='text'>di kedalaman makna ma'ruf dan munkar</title><content type='html'>Oleh: Asep M Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 26 Februari lalu, MUI kota Tasikmalaya sukses menggelar Majlis Mudzakarahnya yang kedua. Sebagai anggota umat Islam kota Tasikmalaya, penulis mengapresiasi acara majlis mudzakarah ini dengan positif. Di balik hangar bingar dunia politik yang masih jauh dari unsur keteladanan, MUI mampu menghadirkan acara yang menyejukkan. Ulama-ulama besar dan pinisepuh-pinisepuh kota Tasik, ‘ulama pop’ dan ‘ulama tidak pop’, wakil walikota, para pejabat yang ingin ‘mengaji’, unsur pengurus ulama tingkat kelurahan, kecamatan dan ‘sebagian’ anggota MUI kota Tasik tumplek memeriahkan acara ini. Meskipun masih merangkak mencari bentuk, Majlis Mudzakarah ini —mudah-mudahan— bisa memberikan rangsangan dan pencerahan significan bagi warga kota santri yang masih dihantam issu faham sesat, batu petir bertuah, kenakalan pelajar dan korupsi pejabat.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, tema yang terangkat dan menjadi diskusi hangat adalah definisi ‘ma’ruf dan munkar’. Mengagumkan, demikian kesan penulis dengan pendapat para peserta yang datang lengkap dengan berbagai referensi, klasik ataupun kontemporer. Namun demikian, waktu yang camporet  membuat acara ini belum maksimal memberi arah dan belum membumi. Sosialisasi kegiatan bermutu ini, karena pentingnya harus terus ditingkatkan seiring kebutuhan warga/umat yang ‘kelaparan’ akan hidangan bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami makna ma’ruf dan munkar&lt;br /&gt;Secara etimologi, ma’ruf artinya dikenal dan diterima dan munkar sebaliknya, ia berarti tak dikenal dan tak diterima. Dalam ilmu fiqh Lughah (linguistik) yang salah satu cabangnya adalah tarikh al- mufradat (sejarah kata-kata), kata ma’ruf dan munkar telah ada sejak pra-Islam atau sebelum Muhammad saw. menjadi Rasulullah. Di kalangan masyarakat Arab jahiliyah, ma’ruf dan munkar umum digunakan untuk menggambarkan sesuatu perbuatan atau perkataan itu baik ataupun buruk sesuai saliqah (indera bathin) masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam hadir dan memakai dua kata itu di lebih dari empat puluh ayat al- Quran. Selain menggunakan dua kata itu, Islam juga meluruskan pengertiannya. Menurut terminologi Islam, ‘Ali bin Muhammad al- Jurjani dalam bukunya, al- ta’riifaat mendefinisikan ma’ruf sebagai ‘apa yang dianggap baik dan bernilai ibadah sesuai syara’. Sebaliknya, munkar didefinisikan Ibnu Taimiyah sebagai ’segala sesuatu yang dilarang oleh agama’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian dari kedua kata yang dalam ilmu Balaghah (sastra Arab) disebut Thibaq (dua kata yang berlawanan) ini lalu berkembang. Prof. DR. M. Quraish Shihab misalnya —setelah membandingkan berbagai pendapat para ulama tafsir dalam berbagai tafsirnya dan memahami sejarah dua kata tersebut sebelum Islam— mendefinisikan ma’ruf dengan ‘sesuatu yang baik menurut pandangan umum dan adat suatu masyarakat selama sejalan dengan nilai-nilai agama’. Beliau lalu mendefinisikan munkar dengan ‘sesuatu yang dinilai buruk oleh pandangan umum dan adat suatu masyarakat serta bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi’. Demikian M. Quraish Shihab ketika memahami surat an- Nahl [16] ayat 90. Dalam memahami ayat lain, al- Maidah [5] ayat 79, M. Quraish Shihab bahkan memahami penekanan dua kata ma’ruf dan munkar ini bahkan lebih banyak kepada adat istiadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena telah di-Islamisasi, pengertian ma’ruf dan munkar menjadi lebih terarah kepada Isamisasi adat. Karena itu, Islam sangat akomodatif terhadap budaya lokal Arab dan kemudian al- Quran, ayat demi ayatnya turun menguatkan adat yang baik, meluruskan adat yang bengkok dan membenarkan adat yang salah. Di negeri ini, kita pun mengenal peribahasa “adat bersendi syara, syara bersendi kitabullah”. Hal ini memperkuat kesan tentang karakter ajaran Islam yang menurut DR. Yusuf Qardhawi dalam al-hayaat al- Rahbaaniyah wa al-‘ilm, salah satu karakternya adalah sangat mudah dan komprehensif (yusr wa sa’ah). Yang wajib digaris bawahi di sini berarti, Islam melalui ajaran al- Quran dan hadits Nabi adalah sumber tertinggi sehingga adat istiadat harus tunduk pada keduanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian ma’ruf, setelah datangnya Islam lalu melebar dan meluas. Namun demikian, pengertian munkarlah yang cakupannya menjadi sangat luas. Kata-kata seperti al- junah, al-harj dan al-lamam (dosa kecil), al-itsm dan al-dzanb (dosa secara umum), al-ma’shiyah, al- jariimah dan al-kabiirah (dosa besar), al-fahisyah (dosa terbesar) merupakan cakupan munkar. Munkar, saking luas cakupannya bahkan menyentuh bukan hanya mukallaf (orang yang baligh dan terkena tuntutan agama), tapi juga yang tidak mukallaf. Seorang anak kecil yang mengonsumsi narkoba dan minuman keras, walau tidak berdosa ia telah melakukan munkar. Munkar bahkan mencakup bukan hanya ‘aqil (makhluk berakal atau manusia), tapi bahkan yang tidak berakal. Seekor kerbau dan gembalaan lain yang memakan tumbuhan yang sengaja ditanam, walau tidak berdosa tapi ia telah munkar.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’ruf, munkar dan aksi kita&lt;br /&gt;Keluasan ajaran Islam memungkinkan kita memanfaatkan panca indera kita bukan hanya melakukan ma’ruf (ityaan al- ma’ruf) dan menjauhi munkar (ijtinaab al- munkar), tapi meningkat ke amar  ma’ruf dan nahy munkar (memerintah ma’ruf dan melarang munkar kepada orang lain). Kita, siapapun juga yang beragama Islam diperintahkan untuk menganjurkan kepada kebaikan (da’wah ila al- khair), memerintahkan yang ma’ruf (amar ma’ruf) dan melarang yang munkar (nahy munkar) sesuai dengan ayat ke 104 dari surat Ali ‘Imran [3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SK (Surat Keputusan) dari Allah jelas-jelas diberikan kepada siapapun yang tergugah untuk beramar ma’ruf dan nahy munkar. Siapapun yang melibatkan diri pada aktivitas ini, entah para ulama, pemerintah (umara), para guru, pelajar atau mahasiswa, siapapun itu ia akan mendapatkan gelar khaira ummah (umat terbaik). SK itu tertuang dalam suat Ali ‘Imran [3]: ayat 110.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegamangan hidup seperti ini, di mana kejujuran semakin mahal, pusat pusaran dosa semakin mengepung, budaya setan semakin menggejala, dunia politik semakin buram, keteladanan semakin terpencil, maka gerakan amar ma’ruf nahy munkar adalah pilihan terbaik yang harus dilakukan secara massif.&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam (IAIC) Cipasung,  staf pengajar  STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-1839144732655828931?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/1839144732655828931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/di-kedalaman-makna-maruf-dan-munkar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1839144732655828931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1839144732655828931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/03/di-kedalaman-makna-maruf-dan-munkar.html' title='di kedalaman makna ma&apos;ruf dan munkar'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-2906984423818905297</id><published>2009-02-10T22:05:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T22:08:56.138-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUDAYA'/><title type='text'>Kontroversi Film Perempuan Berkalung Sorban</title><content type='html'>oleh: Asep M. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminggu ini, dunia budaya di langit Indonesia kembali berselimut pro-kontra. Wilayah sakral dan uncriticable yang bernama “pesantren” terusik oleh hadirnya film Perempuan Berkalung Sorban. Sekali lagi, bukti demi bukti meyakinkan kita bahwa masyarakat kita adalah masyarakat penonton, bukan masyarakat pembaca. Film yang diadaptasi dari novel 309 halaman berjudul sama karya Abidah el- Khalieqy  ini, di masa rilisnya tak sempat menjadi kontroversi massa karena pembaca buku novel ini tak banyak,  hanya segelintir saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila rajin ‘berkunjung’ ke situs “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS), kita bisa mengais informasi bahwa novel ini, sejak dirilis tahun 2001 memang telah memiliki bakat ‘dicekal’. Konten cerita dan vulgaritas dalam beberapa adegan pecintaan —walaupun pelakunya suami isteri— di dalamnya memunculkan kekhawatiran dari para penikmat karya sastra Indonesia yang telah membacanya. Dan ternyata, kekhawatiran mereka tebukti. Berbagai kalangan, bahkan MUI pusat, keberatan bila film perempuan Berkalung Sorban ini terus diputar. Prof. KH. Ali Musthafa Ya’qub, Imam besar mesjid Istiqlal dan pengurus teras MUI pusat, dalam wawancaranya di beberapa stasiun TV, meminta film ini dihentikan sementara sebelum beberapa isi dan visualisasi beberapa adegan di dalamnya diperbaiki terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENSASI DAN POLITIK MARKETING&lt;br /&gt;Khalif tu’raf, demikian bunyi sebuah pribahasa Arab yang artinya “buatlah sensasi, pastilah kamu terkenal”. Pribahasa ini kemudian menjadi judul sebuah buku yang ditulis Ashof Murtadho (2007). Dalam pribahasa arab yang lain, bul zamzam fatu’raf, (kencingi sumur zamzam, pasti kamu terkenal!). Dan memang, dalam sejarahnya, para pesohor; entah artis, politisi, pebisnis dan tokoh dari status sosial lainnya yang akrab dengan kontroversi, dia akan terkenal dan lebih marketable dibandingkan mereka yang lurus-lurus saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri, nama-nama seperti Inul Daratista, Dewi Persik, Ahmad Dani, Pasha Ungu, Ariel Peterpen, keluarga Azhari, Julia Perez, Luna Maya, dan lainnya termasuk yang terakhir, Hanung Bramantyo adalah nama-nama yang terbiasa mendekati grey area atau wilayah-wilayah yang controvertable. Dengan sensasi yang mereka lakukan, sengaja atau tidak, eksistensi mereka sebagai pelaku bisnis di bidang entertainment terjaga. Undangan untuk tampil pun ngantri dan berjejer, head line surat kabar gossip dan acara-acara infotainment di berbagai stasiun TV pun menampilkan wajah mereka. Bisa dibayangkan, banjir keuntungan mengalir di balik kelelahan lahir batin yang mereka alami dalam menyikapi pemberitaan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling penting untuk diingat, popularitas yang dihasilkan dari sebuah aksi kontroversi adalah semu dan hanya sementara, easy come, easy go. Wara-wirinya batang hidung si artis sensasional di berbagai media massa, bukan berarti selalu mengundang wacana positif di kalangan halayak, tapi bahkan —dan justru seringnya— menghadirkan  kesan negatif dan minor. Contohnya, dicekalnya seorang dewi persik di beberapa kota dan kebupaten di negeri ini menggambarkan ketidak sukaan, bahkan kebencian anggota masyarakat agamis yang punya girah agama yang cukup atau berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENSASI HANUNG BRAMANTYO&lt;br /&gt;Kekuatan sensasi dalam Novel berbau religi Perempuan Berkalung Sorban (PBS) yang dicetak pertama kalinya tahun 2001 ini, hampir sama dengan novel yang dirilis dua tahun setelahnya, Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan (2003). Namun dipilihnya PBS ini karena setting sosial dan kulturalnya begitu kuat dan cukup mengusik kemapanan dunia pesantren yang untouchable, khususnya di Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Hanung Bramantyo, sejauh ini telah berhasil mempermainkan suhu emosi para penonton PBS yang sampai hari ini diputar di cinema 21 dan blitz megaplex di kota-kota besar. Masuknya PBS ini ke wilayah kontroversi tentu telah mengangkat namanya di jajaran sutradara yang diperhitungkan, setelah dua tahun lalu ia sukses mengemas Ayat-ayat cinta menjadi La phenomenon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila PBS ini telah melahirkan sensasi di tanah air, maka Ayat Ayat Cinta (AAC) yang sukses di tanah air, justru telah mengangkat kontroversi di Mesir. Muhammad bin Ismail abdul hafizh, seorang asli Mesir dosen IAIC Cipasung yang baru dua bulan ini tinggal di Indonesia memberikan informasi bahwa film AAC yang tiga kali ia tonton, telah berhasil menggegerkan jagat Mesir dengan minimal dua issu;  pertama, Ketika Bahadur memukul Naura di depan umum yaitu di pasar. Kedua, budaya pacaran yang sampai hari ini di Mesir masih tebilang tabu. Warga Mesir, demikian menurut ustadz Ismail, keberatan dengan aksi pemukulan yang dilakukan terhadap kaum perempuan. “Mustahil orang Mesir memukul perempuan, apalagi di jalan, apalagi di depan halayak ramai”, demikian kata ustadz Ismail. Lalu budaya pacaran, walaupun penceritaannya dalam novel dan filmnya terkesan Islami dan suci, tetap saja orang Mesir berkeberatan sehingga dihawatirkan budaya ini menular kepada muda mudi Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENI, DUA MATA PISAU&lt;br /&gt;Berkesenian, dalam Islam ibarat dua sisi mata pisau, bisa positif dan bisa negatif, bisa manfaat dan bisa madharat, tergantung misi dan azas pemanfaatan para pelakunya. Betapa banyak orang luar Islam tertarik dengan kesenian Islam yang mengeluarkan ‘daya rinding’nya yang langsung menusuk ke bawah kesadaran manusia, dulu dan hari ini. Banyak buku yang ditulis mengisahkan kisah masuk Islamnya orang-orang Barat justru karena menikmati kesenian Islam. Sebut satu saja misalnya buku Santri Santri Bule karya Prof. R. Deddy Mulyana M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku al- Islam wa al- Fann (Islam dan seni), DR. Yusuf Qardhawi memilah dengan tegas mana seni yang berkategori mubah (boleh) dan haram. Kekuatan dari pengaruh seni dalam kehidupan manusia, di manapun juga, begitu kuat sehingga muncullah adagium art for art, al-fannu lil-fanni (seni untuk seni). Dalam beberapa era, adagium ini telah berhasil menciptakan opini publik yang mengusung kebebasan berekspresi. Posisi agama dalam hal ini termarginalisasi. Maka sering kita mendengar kalimat, “jangan bawa-bawa agama dalam dunia seni, agama adalah masalah pribadi, wilayah privat seseorang dengan Tuhannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film PBS yang ketika di awal launchingnya menyedot perhatian masyarakat yang antusias dan merindukan film-film benuansa pembangunan moral, kini menjadi polemik. Maka kebijakan semua pihaklah yang tentu menjadi solusi pemecahan masalah. MUI, yang sekarang ini semakin bertaji dan semakin produktif, diharapkan bukan hanya memokuskan perhatian kepada film-film seperti PBS ini, tapi justru harus lebih meluangkan waktu dan perhatian untuk meluruskan film-film sekuler, berbau mistis dan film vulgar berthema seks. Bila PBS ini hanya ‘menyerang’ lembaga pesantren dan korp ulama, maka film-film mistis dan vulgar justru ‘menyerang’ agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah peminat masalah sosial, budaya dan keagamaan. Alumni Fakultas Sartra UIN Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-2906984423818905297?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/2906984423818905297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/02/kontroversi-film-perempuan-berkalung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/2906984423818905297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/2906984423818905297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/02/kontroversi-film-perempuan-berkalung.html' title='Kontroversi Film Perempuan Berkalung Sorban'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8043800807524025602</id><published>2009-02-10T22:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T22:05:44.637-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Menikmati Keindahan Bahasa al- Quran</title><content type='html'>Oleh: Asep M. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusaka kebahasaan bangsa Arab merupakan bahan kajian kebahasaan terpenting di dunia. Orang-orang Arab sangat mencintai bahasa Arab bahkan hingga tingkat mensakralkan. Mereka memandang otoritas yang ada dalam bahasa Arab tidak hanya mengekspresikan kekuatan bahasa, tapi juga menjadi gambaran kekuatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Arab adalah satu-satunya bangsa di dunia ini yang menunjukkan apresiasi tertinggi terhadap ungkapan bernuansa puitis (syair), lisan ataupun tulisan. Philip K. Hitti, dalam History of The Arabs (2006) menyatakan, “Sulit menemukan bahasa yang mampu mempengaruhi pikiran para penggunanya sedemikian dalam selain bahasa Arab. Ritme, bait syair dan irama bahasa Arab telah memberikan dampak psikologis kepada bangsa Arab, layaknya hembusan ‘sihir yang halal’. Jika orang-orang Yunani mengungkapkan daya seninya terutama dalam bentuk arsitektur dan patung, orang-orang Ibrani mengungkapkannya dalam bentuk nyanyian agama, maka orang-orang Arab mengungkapkannya dalam bentuk sastra”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan orang-orang Arab terhadap seni sastra, adalah asset cultural terbaik mereka. Menggubah syair merupakan kebiasaan tradisional yang sudah melekat kuat yang dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan lisan mereka yang fasih. Posisi syair bagi bangsa Arab, ibarat posisi piramida-piramida, candi-candi, obelisk-obelisk dan tulisan-tulisan yang ada pada barang-barang tersebut bagi sejarah bangsa Mesir purbakala. Dengan kata lain, syair Arab merupakan catatan publik (diwan) bagi bangsa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASTRAWAN ARAB SEBELUM ISLAM&lt;br /&gt;Status sebagai sastrawan (penyair) adalah status yang luar biasa tingginya di kalangan bangsa Arab pra-Islam. Para penyair mewakili kelas intelek di antara mereka. Munculnya seorang penyair di kalangan suku tertentu dianggap peristiwa teramat penting. Posisi penyair begitu sakralnya sehingga seiring perkembangan kharismanya, dia memainkan berbagai peran sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peperangan, lidah seorang penyair sama efektifnya dengan keberanian para pejuang. Pada masa-masa damai, pedasnya lidah seorang penyair merupakan ancaman bagi stabilitas publik. Seorang penyair dapat membuat sebuah suku mengambil tindakan tertentu, dipengaruhi oleh syair-syairnya yang mirip dengan hasutan seorang demagog dalam sebuah kampanye politik modern. Sebagai agen pembuat berita atau jurnalis pada masanya, ia mendapat banyak hadiah dari pemberitaan-pemberitaannya. Syair-syair yang dilestarikan lewat ingatan dan ditransmisikan secara lisan, merupakan sarana publisitas yang sangat efektif dan tak ternilai. Ia adalah pembentuk opini publik. Qath’ al- lisan (memotong lidah) adalah hukuman yang biasa dilakukan dalam rangka menghindari dan menghentikan kecaman-kecaman seorang penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair di satu kabilah ibarat seorang nabi di kalangan umatnya. Bila muncul seorang penyair di antara mereka, maka berdatanganlah utusan dari kabilah-kabilah yang lain untuk menyampaikan tahniah (ucapan selamat). Untuk itu, maka diadakanlah jamuan besar-besaran dengan menyembelih binatang-binatang ternak. Wanita-wanita tercantik pun didatangkan untuk bernyanyi, menari dan menghibur para tetamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan penyair dengan syi’ir-syi’rnya digambarkan sedemikian tingginya. Seorang penyair, dengan syair-syairnya dapat meninggikan derajat seseorang yang tadinya hina, atau sebaliknya, ia dapat menghina-dinakan seseorang yang tadinya mulia. Sebagai contoh, Abdul ‘Uzza ibn ‘Amir, ia adalah seorang yang tadinya hidup terhina dan melarat. Ia mempunyai banyak anak perempuan dan tidak ada seorang pun pemuda yang tertarik dan mau memperisteri mereka. Kemudian Al A’sya, penyair ulung dan terkenal memuji Abdul ‘Uzza ibn ‘Amir dan anak-anak gadisnya. Syair-syair pujian Al A’sya lalu membahana di mana-mana. Dengan demikian masyhurlah Abdul ‘Uzza dan kehidupannya segera membaik. Tak hanya itu, para pemuda pun datang melamar putri-putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair lainnya, Al Huthaiyah pernah memuji sekelompok manusia. Mereka merasa berbangga dengan pujian Al Huthaiyah itu seakan-akan mereka beru saja mendapatkan anugerah materi termahal yang pernah ada pada masa itu. Sebaliknya, ketika sekumpulan orang dicela oleh Hasan ibn Tsabit, maka menjadi terhinalah mereka seketika itu juga. Itulah syi’r dan begitulah pengaruhnya di kalangan bangsa Arab pra-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CAHAYA BAHASA AL- QURAN&lt;br /&gt;Setting bangsa Arab dan budaya mereka dalam menggubah dan menggandrungi syair, menjadi satu di antara berbagai alasan mengapa al- Quran diturunkan di tengah-tengah mereka. Dan memang, semenjak al- Quran turun ayat demi ayat, pamor dan kharisma syair Arab menurun dan bahkan jatuh ke titik terendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kehendak Allah, Ia menurunkan al- Quran dengan menggunakan kosa kata bahasa Arab, bahasa mereka. Ini diingatkan-Nya secara tersurat dan tersirat, antara lain melalui surah-surah yang diawali dengan huruf-huruf hijaiyah (alphabet bahasa Arab). Seakan-akan al-Quran berkata kepada mereka yang ragu, “Inilah al- Quran, kalimat-kalimatnya terdiri dari huruf-huruf yang kalian kenal seperti alif, lam, mim, shad, kaf, ha, ya, ‘ain, shad, ya, sin dan-lain-lain. Tetapi, keharmonisan irama yang timbul dari rangkaian huruf demi hurufnya benar-benar di luar kemampuan siapapun juga. Gema irama yang harmonis dalam al- Quran ibarat lukisan yang lengkap, dengan warna-warni yang elegan, ditambah berbagai hiasan indah, seimbang dan memancarkan aneka ragam pesona.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Hadirnya al- Quran mengundang wacana publik bagi bangsa Arab tentang sesuatu yang benar-benar baru berhubungan dengan kegemaran mereka ‘merangkai kata’. Tentang bagaimana reaksi orang-orang Arab ketika turunnya al- Quran, M. Quraish Shihab dalam Mukjizat al-Quran (2006) menulis: “sesungguhnya orang-orang yang hidup pada masa turunnya al- Quran adalah masyarakat yang paling mengetahui tentang keunikan dan keistimewaan al- Quran serta ketidakmampuan manusia untuk menyusun semacamnya. Tetapi, sebagian mereka tidak dapat menerima al- Quran karena pesan-pesan yang dikandungnya merupakan sesuatu yang baru. Hal itu masih ditambah lagi dengan ketidaksejalanan al- Quran dengan adat dan kebiasaan serta bertentangan dengan kepercayaan mereka. Inilah yang tidak dapat mereka terima. Tetapi Bukankah mereka pun menyadari akan keunikan dan keindahan kata-katanya? Benar. Tetapi bagaimana dengan kepercayaan dan adat leluhur? Kepercayaan harus dipertahankan, al- Quran harus ditolak. Begitulah kesimpulan tokoh-tokoh masyarakat waktu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana yang sedemikian complicable ini ditambah pula dengan tantangan Allah swt. supaya mereka menggubah bahasa sastera terbaik yang mereka miliki untuk menandingi al- Quran. Pertama, Allah menentang siapapun yang meragukan al- Quran untuk menyusun semacam al- Quran secara keseluruhan (baca QS 52:34). Kedua, menantang mereka untuk meyusun sepuluh surat semacam al- Quran (baca QS 11:13). Ketiga, menentang mereka untuk menyusun satu surat saja semacam al- Quran (baca QS. 10:38). Keempat, menentang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surat dari al- Quran (baca QS. 2:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, mereka begitu terpepet, terpojok dan kehabisan alasan untuk menolak al-Quran. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengenyahkan kekikukan. Ketidakberkutikan kafir Mekah, terutama para penyairnya, membuktikan kemukjizatan dan kebenaran al-Quran, sebuah babak baru dalam sejarah kebahasaan bangsa Arab. Dalam sejarah mereka, bahasa Arab telah melewati masa-masa pasang dan surut, meluas dan menyempit, bergerak dan statis, modern dan kolot, sesuatu yang berbeda dari bahasa al- Quran yang dalam berbagai fasenya berada dalam kedudukan paling tinggi dan menguasai semuanya.&lt;br /&gt;Demi menutupi malu, mereka menyematkan gelar demi gelar yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad. Sesekali mereka menyebutnya ‘penyair’ (sya’ir), di lain kesempatan mereka menggelari Nabi sebagai ‘dukun’ (kahin), dan di lain waktu mereka menganggapnya sebagai ‘orang gila’ (majnun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dalam konteks ini, adalah gelar penyair yang mereka alamatkan kepada Nabi saw.. Al-Quran mengabadikan ungkapan mereka dalam firman-firman-Nya, (QS. Al- Anbiya [21]:5), (QS. Ath-Thur [52]:30-31), dan (QS. Ash- Shaffat [37]:36-37). Untuk itu, Allah swt tegas menyatakan bahwa al- Quran bukanlah syair, dan Muhammad bukanlah penyair. Ia berfirman, “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. (QS. 36:69). Dalam ayat-Nya yang lain Ia pun menegaskan, “Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan  Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. (QS. 69: 40-41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya, track sastra Arab menjadi lurus. Masa depan bahasa Arab pun lebih cerah dan lebih menjanjikan. Di kemudian hari, keindahan bahasa al- Quran menjadi inspirasi lahirnya ilmu Balaghah, ilmu yang telah mapan menjadi acuan para penikmat sastra Arab sampai hari ini. Misi al-Quran ternyata begitu lengkap, bukan hanya sebagai pemuas dahaga mereka yang mencari hidayah, tapi juga bisa dinikmati dari berbagai sisi, salah satunya adalah sisi kebahasaan dan kesusastraan.&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung dan Dosen Bahasa Arab STAI Tasikmalaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8043800807524025602?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8043800807524025602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/02/menikmati-keindahan-bahasa-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8043800807524025602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8043800807524025602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/02/menikmati-keindahan-bahasa-al-quran.html' title='Menikmati Keindahan Bahasa al- Quran'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8527334380112214297</id><published>2009-01-26T20:20:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T20:22:31.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>mendesak, pencerahan politik grashroot</title><content type='html'>Oleh: Asep M. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran demokrasi yang dimulai sejak ditenggelamkannya rezim orde baru, tampaknya perlu direfleksi ulang bila kita intens ‘mengaji’ pandangan masyarakat paling bawah tentang kabar politik paling mutakhir. Sungguh, kita akan mendapatkan berita yang cukup menyedihkan bila dikaitkan dengan realitas dan perkembangan dunia politik yang sedang berlangsung. Coba tengok ke kampung-kampung, pencerahan politik yang diidealisasi di berbagai media massa, cetak maupun elektronik tampaknya masih kalah oleh realitas pragmatisme masyarakat awam yang sengaja dibodohkan oleh sistem yang dikembangkan politikus-politikus busuk. Kekuasaan uang dan para ‘pejuang’nya, juga dominasi kekuatan Black Compagne nampaknya masih terlalu kokoh untuk bisa didobrak oleh kemapanan teori apapun untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thesis penulis di atas, pastinya tidak dimaksud untuk menggeneralisir kondisi masyarakat bawah di tanah air. Masih banyak, atau bahkan masih lebih banyak masyarakat lain yang budaya politiknya telah benar-benar tercerahkan oleh beruntunnya ajang demi ajang politik yang digelar. Tapi sekali lagi tengok ke bawah, sistem yang sedang berlangsung dan dikembangkan —apalagi setelah MK merubah definisi pemenang kursi legislatif dari nomor urut menjadi suara terbanyak—  menggambarkan kedewasaan (maturity) para caleg dengan tim sukses harus terus dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI SUKSES POLITIK   &lt;br /&gt;Pemikiran pokok para politikus kita, saat ini hanya terfokus pada kata ‘menang’, dan memang itulah rumus politik. Kesuksesan dalam dunia politik asumsinya disamakan dengan kompetisi. Kompetisi sepak bola saja —yang diawasi wasit, pengawas pertandingan dan ditonton para penonton— masih juga ternodai oleh sikap unfair oknum yang ingin menyudahi pertandingan dengan kemenangan. Pemandangan ini serupa dengan apa yang terjadi dalam dunia politik. Dalam dunia politik, kemenangan yang dikompetisikan terkadang harus diraih walau dengan menghalalkan segala cara. Maka bisa kita saksikan di beberapa daerah, persaingan memperebutkan kursi legislatif di tingkat kabupaten/kota dilakukan dengan menjatuhkan partai lain, caleg partai lain atau bahkan dengan menjegal caleg dari partai yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses, dalam wacana apapun terlebih dalam politik haruslah mengacu pada tiga variable; di awal (proses meraih kemenangan), di tengah (proses menjalankan amanah setelah memenangkan kompetisi) dan di akhir (setelah masa waktu emban amanah itu habis). Apa yang dilakukan para caleg saat ini, titik fokusnya masih berkutat pada variable pertama, yatu proses di awal. Indikasinya jelas, hampir kebanyakan caleg terkesan terlalu memaksakan diri dalam menggalang kekuatan dan dukungan dengan mengeluarkan modal tinggi. Caleg (lama atau baru) saat ini begitu intens membeli hati masyarakat bawah dan menampakkan diri di tengah warga dengan sangat mencolok. Ratusan bahkan ribuan spanduk-baligo-poster terkesan ditusukkan langsung ke mata warga masyarakat. padahal, di antara banyaknya anggota legislatif yang masih bekerja saat ini, hanya sedikit saja yang manfaat dari prestasi kinerjanya benar-benar dirasakan masyarakat, bahkan sebagian di antaranya mengakhiri masa kerjanya di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYIMAK LATAH POLITIK&lt;br /&gt;Melelahkan bila kita merenungi kerja keras para politikus kita saat ini. Perubahan definisi pemenang dari nomor urut menjadi suara terbanyak membuat semua calon yang begitu banyaknya itu berpacu meraih kemenangan dengan asumsi bahwa hak meraih kemenangan menjadi seimbang. Semua calon terpacu untuk mengeluarkan segenap kemampuan mental, strategi dan terutama materil demi memenangkan kompetisi. Akibatnya, semua calon masuk ke wilayah ‘latah politik’. Setiap jengkal tanah, semua area kosong menjadi demikian semarak dipenuhi aneka warna spanduk-baligo-poster. Tak usahlah kita berfikir terlalu jauh, dari mana para caleg kere mencari modal untuk memaksakan diri mengikuti kompetisi dengan ikut-ikutan memasang spanduk-baligo-poster, karena beberapa di antara caleg kaya, ada juga yang tak memaksakan diri dan pemikiran politiknya tak sampai di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemudian menarik disimak adalah bagaimana persaingan menjadi memanas di tingkat internal parpol. Di beberapa daerah, persaingan itu mengemuka setelah masing-masing caleg dari partai yang sama memilih tim sukses yang berbeda di dapil yang sama. Gengsi menjadi tim sukses pun dipertaruhkan. Semakin banyak caleg akan cohesif dengan semakin banyaknya tim sukses, dan semakin banyak tim sukses akan membuat kompetisi menjadi rentan konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENCERAHAN YANG MENDESAK&lt;br /&gt;Mau tidak mau, caleg kita hari ini harus mengeluarkan berbagai jurus andalan menuju kemenangan. Resikonya, pengeluaran pun membengkak dan hal ini menggejala dari hulu sampai hilir republik tercinta ini. Akibat dari semua ini, warga masyarakat pemilih, terutama di tataran masyarakat terbawah menjadi objek pembodohan politik. Warga yang tak cukup ilmu politiknya dimungkinkan mempunyai pilihan caleg lebih dari satu, isa dua, tiga atau lebih sebanyak orang yang datang kepada mereka dengan membawa kalender, stiker dan lainnya. Celakanya, para pemimpin di kampung; ketua RT, RW bahkan para ‘ajengan’ pun, karena bukan PNS, mereka pun terbidik untuk melibatkan diri menjadi tim sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tak ada pencerahan dari berbagai pihak, dan bila tak ada orang yang imparsial (netral) dalam berpolitik, maka suasana politik di negeri ini akan terus terdegradasi menuju lembah yang lebih bawah. Pencerahan yang dilakukan media massa; televisi, Radio, Koran, pamphlet, brosur, dan lainnya sebetulnya sudah maksimal meskipun —menurut penulis— bagi masyarakat awam, arah pencerahan itu seakan ditujukan bagi orang lain, jauh di tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam suasana seburuk apapun, kita harus optimis dan berasumsi bahwa apapun yang telah terjadi dan sedang berlangsung, harus menjadi ‘materi’ pencerdasan politik bagi warga masyarakat, terutama masyarakat grash root. Proses politik di masa kampanye saat ini, adalah proses penyaringan mana politikus kita yang baik (segar) dan mana yang busuk. Ke depan, setiap warga masyarakat akan tahu dan bisa mendesikasikan diri dalam rangka perbaikan kondisi politik, demi menggapai taraf kehidupan yang juga semakin membaik.&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah peminat masalah-masalah sosial-politik-keagamaan. Tinggal di Tasikmalaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8527334380112214297?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8527334380112214297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/mendesak-pencerahan-politik-grashroot_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8527334380112214297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8527334380112214297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/mendesak-pencerahan-politik-grashroot_26.html' title='mendesak, pencerahan politik grashroot'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-477470386535716848</id><published>2009-01-26T20:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T20:20:45.216-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>Obama, Israel dan Dunia Islam</title><content type='html'>Oleh: Asep m. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk saat ini, lupakan dulu Dewi Persik dengan Aldiansyah Tahernya, atau hilangkan dulu ingatan kita tentang kisah cerai pasangan suami isteri Pasha Ungu dengan Okky iterinya, atau issu murahan tentang pernikahan sirri Yuni Shara dengan Habil Marati, anggota DPR RI  karena untuk saat ini, semua perhatian dunia tertuju ke pesohor yang muncul dari dunia politik. Pria kurus berkulit hitam itu baru saja mencatatkan diri sebagai presiden Amerika ke 44 dan presiden pertama dari kulit hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah pidato berdurasi 20 menit itu, berbagai komentar dari negara A sampai Z bereaksi. Satu demi satu kalimat yang terucap lalu ditafsirkan beragam oleh berbagai komunitas, sesuai dengan minat dan kecenderungannya. Tajuk Republika Kamis, 22/1/2009 misalnya, mencatat kata-kata yang mengandung ‘ruh’ negatif semisal conflict, blame, destroy, fist, corruption, deceit, wrong, atau dissent. Beberapa kalimat yang ditujukan khusus bagi umat Islam seperti “Ketahuilah bahwa kamu berada di sisi yang salah” atau “Kami akan mengulurkan tangan jika kamu bersedia membuka kepalan tinjumu” atau “We will not apologize” juga menggambarkan posisi Amerika yang selalu bersikap jumawa. Sejalan dengan itu, berbagai kalangan di dunia Islam pun menyesalkan isi pidato itu karena tidak menyinggung aggresi Israel terhadap Palestina. Bungkamnya Obama atas aggressi yang tak berujung itu mengundang Amin Rais, vokalis lantang kita, menilai pidato Obama tidak adil. Mestinya, kata Amin, “kalimat yang mengarah pada Israel pun harus ada”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, sikap berbeda muncul juga dari berbagai kalangan lainnya. Dalam pidatonya yang disiarkan langsung ke seluruh dunia —minus korsel— itu, Obama juga menyiratkan janjinya untuk menciptakan masa depan yang lebih baik untuk dunia Islam. Kaum muda muslim di negeri Paman Sam, seketika itu juga menyatakan termotivasi untuk melakukan perubahan di negaranya. Salah satu organisasi Muslim terbesar di Amerika, Council on American-Islamic Relations (CAIR) juga menyambut positif keinginan Obama untuk meratas jalan baru dengan negara-negara muslim. Tak hanya di Amerika, ratusan pemimpin muda muslim dari seluruh dunia yang tengah berkonfrensi di Doha, Qatar, telah mengirimkan surat terbuka kepada Obama tentang optimisme pemuda muslim dunia di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POSISI ISRAEL&lt;br /&gt;Selasa, 20/1, Capitol Hill menjadi saksi pelantikan terbesar bagi seorang presiden di Amerika. Acara megah dan penuh suka cita itu dihadiri sekitar 2 juta orang dan disaksikan langsung oleh ratusan juta orang di seantero jagad. Sungguh, ini adalah perkumpulan manusia terbesar sepanjang sejarah di Washington dan tontonan politik paling membius bagi warga planet bumi. Gambaran keangkeran hari itu betul-betul menandakan betapa besar harapan Bangsa Amerika dan warga dunia terhadap perubahan signifikan yang akan dibawa Obama empat tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain di Amerika, lain pula di Palestina. Dua pemandangan berbeda yang tepajang di berbagai stasiun TV saat itu begitu kontras. Rintihan warga Gaza yang berjumlah 1,5 juta jiwa itu menyayat hati kita saat mereka menangisi 1.400 keluarga atau saudaranya yang wafat, 400 orang lebih di antaranya adalah anak-anak, 100 orang perempuan dan 5.300 orang cidera. Tak hanya itu, mereka pun tengah menangisi 4000 bangunan yang hancur dan 20.000 bangunan yang tengah menunggu rubuh. Keadaan ini diperparah dengan sekitar 50.000 orang penduduk yang hidup tanpa tempat tinggal dan 400.000 orang hidup tanpa air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiadaban tiga pekan yang menimbulkan kerugian 2 milyar US$ itu, kelihatannya menjadi bukti kemenangan Israel atas Palestina, padahal secara moril mereka jatuh, demikian juga promotor-promotornya, terlebih Inggris. Namun perang belumlah berakhir. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dalam Opini di Kompas, Kamis 22/1, membocorkan sebuah petisi rahasia dari 322 kaum akademisi Inggris, dengan berbagai latar profesi bagi penyelesaian menyeluruh konflik Israel-Palestina. Terjemahan petisi itu, “Pembantaian besar-besaran di Gaza adalah Fase perang paling akhir yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina yang sudah berlangsung lebih dari 60 tahun. Tujuan perang ini tidaklah berubah: menggunakan pasukan militer secara melimpah untuk menghabisi rakyat Palestina sebagai sebuah kekuatan politik, kekuatan yang mampu melawan pencaplokan Israel atas tanahdan sumber-sumber mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Israel yang diklaim HAMAS sebagai pecundang karena hanya mampu membunuh 48 orang saja dari pasukan HAMAS, akan tetap melanjutkan misi Dawud AS 30 abad lalu itu untuk menjadikan tanah Kanaan dan Palestina sebagai tempat berkumpulnya 14 juta warga Yahudi yang hari ini tercecer di bebagai negara di dunia. Azyumardi Azra, cendekiawan muslim asal Ciputat, menyiratkan pesimismenya atas apa yang hari ini terjadi pasca pelantikan Obama. Dalam Resonansi Republika kamis, 22/1, ia menyatakan bahwa meski Israel secara sepihak menyatakan menghentikan agressinya, jelas konflik dan perang terus menggantung di langit Timur Tengah, khususnya di antara Palestina dan Israel. Penghentian agressi dan gencatan senjata selama ini hanyalah menjadi kesempatan jeda untuk kembali memperkuat posisi ke dua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Israel yang telah terpuruk di mata dunia itu, diperkuat oleh posisi PBB yang beberapa hari ke belakang mulai memperlihatkan sikap. Walaupun personal, Sekjen PBB Ban Ki-Moon, setelah menyaksikan langsung sisa-sisa gempuran Israel di Gaza, menyatakan kegeramannya atas pemandangan yang ia saksikan langsung di Gaza. Ban Ki-Moon menyerukan agar digelar penyelidikan terhadap aksi serangan biadab yang dilakukan Israel itu dan mendesak agar siapaun yang terlibat dan bertanggung jawab atas serangan itu harus diberi hukuman yang setimpal (Media Indonesia, Kamis 22/1).              &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAJAH DUNIA ISLAM&lt;br /&gt;Kehadiran Obama, si anak Menteng yang hilang itu, mau tidak mau menjadi pertimbangan sendiri bagi Israel untuk memilih maju terus ataukah terhenti di persimpangan jalan dalam rangka melancarkan aggresinya di Gaza. November 2008 lalu, ketika ia diumumkan sebagai pemenang dalam pemilu Amerika, pengamat politik luar negeri kita, Bakhtiar Ali mengingatkan kita umat Islam di Indonesia agar tidak terlalu bahagia dengan kemenangan Obama. Kita, katanya, hanya tahu Moslem connection Obama tanpa tahu Judaism connectionnya. Kekuatan lobi Yahudi takan mungkin dikalahkan lobi Islam secanggih apapun caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jargon perubahan yang dikumandangkan ayah dari Malia (10) dan Shasha (7) dan suami dari Michelle ini (uniknya, Obama sendiri telah menjadi personifikasi perubahan itu sendiri) ditunggu realisasinya, terutama dalam 100 hari pertama pemerintahannya. Perubahan yang paling ditunggu oleh dunia Islam saat ini, minimal ia harus berbeda dengan Bush yang wajahnya saja telah memperlihatkan tampang drakula. Berahi perang dan nafsu berkuasa Bush yang dipraktekkannya selama dua periode menjadi presiden Amerika betul-betul telah mengorbankan umat Islam dunia secara keseluruhan. Kebencian masyarakat muslim dunia membuncah, sehingga pantaslah baginya menerima “ciuman perpisahan” dari Muntazer al- Zaidi, wartawan  Al- Baghdadia yang mewakili dunia Islam dan lalu mendapatkan apresiasi positif bukan hanya umat Islam, tapi bahkan dari penganut komunis di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama Obama untuk perbaikan hubungan di Timur Tengah patut mendapat perhatian serius. Ia telah memilih George Mitchell sebagai utusan khusus AS di Timur Tengah. Pengalaman Mitchell dalam menangani konflik di dunia cukup diperhitungkan. Ia pernah menjadi mediator dalam perundingan damai Irlandia Utara dan mengakhiri konflik berdarah itu pada tahun 1998. Di tahun 2000, dia juga memimpin panitia penyelidikan kekerasan di Timur Tengah dan merekomendasikan Palestina menyetop serangan ke Israel dan Israel berhenti mendirikan bangunan di tanah pendudukan. Untuk itu, kita akan menunggu gebrakan awal Mitchell dan  berharap, umat Islam di dunia bisa sedikit bernafas lega dan merasakan keadilan global yang di masa Bush hanya utopi belaka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Islam, walaupun berbeda sikap atas konflik di Gaza —terutama para pemimpin Arab Saudi, Mesir, Yordania dan Tunisia— tapi secara umum rakyatnya satu kata. Penulis sendiri, ketika beberapa hari berturut-turut menyimak siaran langsung Al-Jazeera di ruang multi media IAIC Cipasung bersama seorang dosen asli asal Mesir, ustadz Muhammad bin Ismail, merasa geram dengan sikap para pemimpin Arab, terutama keempat negara di atas dan lantas mencari jawaban kenapa sikap mereka seperti demikian. Jawabannya penulis dapatkan dari tulisan Azyumardi Azra dalam resonansi Republika, 22/1. Alasan pertama adalah kepentingan politik dalam negeri dan kedua, karena ketergantungan mereka pada Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersamaan kata warga muslim dunia, juga tercermin dari konferensi ulama internasional empat hari yang dilangsungkan di Mekkah dan berakhir Kamis, 22/1 lalu. Konferensi yang dihadiri 170 ulama dan intelektual muslim dari seluruh dunia itu berhasil merumuskan Fatwa Charter (piagam fatwa) yang salah satu isinya mewajibkan setiap muslim di dunia membantu umat Islam di Gaza yang ditindas dan dibantai Zionis Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAPAN DUNIA ISLAM MANDIRI? &lt;br /&gt;Bila menyimak kisah ketokohan yang diidolakan Obama, kita bisa berharap ia akan berbeda dari Bush. Tokoh idola Obama adalah Abraham Lincoln dan Dr. Martin Luther King. Abraham Lincoln adalah pencetus penghapusan perbudakan melalui proklamasi emansipasi pada 1 januari 1863 dan Martin Luther King adalah figur kunci perjuangan hak-hak sipil Amerika serta peraih nobel perdamaian 1964. dua tokoh itu telah memberikan inspirasi kemerdekaan dan kesamaan hak; hal yang sedang diharapkan warga muslim dunia dari Obama, yaitu agar segera terwujud di percaturan politik internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra buruk Amerika mengental selama dua periode pemerintahan Bush. Pada saat yang sama, AS digambarkan sedang mempereteli kekuatannya sendiri dan lalu menjdi sebuah negara yang sempat terpuruk pada titik terendah karena kebijakannya untuk memerangi terorisme dunia salah arah. Dunia berharap, Amerika di bawah komando Obama tidak lagi memainkan peran sebagai jagoan dunia yang bisa semaunya mengintervensi urusan dapur negara lain. Krisis financial di Amerika membuktikan bahw sang jagoan pun rapuh dan tak berdayatanpa dukungan dan kerja sama dengan negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi ymat Islam di dunia, Obama tetaplah Amerika. Change itu tetaplah hanya bagi Amerika (Radar Tasik, Kamis, 22/1). Dunia lain tetaplah berjalan sebagaimana biasanya. Ada yang menunggu, ada yang tak peduli, ada juga yang bersiap-siap dengan jalannya masing-masing. Umat Islam di dunia haruslah belajar dan terus belajar bahwa semua harapan kemajuan dan kemenangan di berbagai bidang harus diraih dengan bertumpu kepada kemampuan dan potensi besar yang dimilikinya. Sampai hari ini, harapan itu masih terpendam, terkubur oleh masalah-masalah pribadi para pemimpinnya yang belum juga mau bersatu dan masih saja mau berlindung di ketiak Amerika, demi menyelamatkan ‘dunia kebendaan’, hal yang sangat murah harganya di mata Allah SWT.&lt;br /&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) Tasikmalaya, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tasikmalaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-477470386535716848?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/477470386535716848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/obama-israel-dan-dunia-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/477470386535716848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/477470386535716848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/obama-israel-dan-dunia-islam.html' title='Obama, Israel dan Dunia Islam'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-5379144417328457120</id><published>2009-01-26T20:14:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T20:18:44.503-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>siklus sejarah yahudi dan politikus busuk</title><content type='html'>Oleh: Asep M. Tamam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum pendaftaran caleg kita dimulai setahun yang lalu, beberapa LSM dan para pengamat politik di tanah air melempar wacana ‘politikus busuk’. Berbagai kampanye pun mengumandang untuk tak memilih politikus busuk. Hari ini, setelah Daftar Calon Tetap (DCT) sudah dirilis, wacana politikus busuk seolah menghilang tertelan waktu. Para caleg yang busuk dan yang masih segar lalu berbaur dan sulitlah bagi rakyat untuk memilah. Laksana kentut, politikus busuk ada dan terendus tapi tersembunyi dan tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramainya suasana kampanye dengan spanduk dan baligo yang mengumuhi jalan-jalan raya, hari-hari ini seakan tersunyikan oleh berita penyerangan aggressor abadi yang bernama Israel tehadap Palestina. Negara Islam Palestina yang sejak 15 abad lalu berada di bawah naungan umat Islam, disinyalir akan lenyap dan berubah menjadi negara Israel, lalu segera menjadi pusat berkumpulnya 14 juta warga Yahudi yang hari ini tercecer di berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi berita penyerangan tentara Israel ke Gaza, tak lantas menyantaikan langkah para caleg karena bulan April tinggal terhitung hari. Setelah semua kepala daerah menegaskan agar penempatan baligo dan spanduk di tempat-tempat yang legal, nyatanya spanduk dan baligo semakin mengganggu pemandangan. Berlebihannya kampanye yang dilakukan para caleg semakin mantap menggambarkan hawa nafsu mereka untuk menjadi anggota dewan semakin tak terkendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus sejarah Yahudi&lt;br /&gt;Sejak kehadiran bangsa Israel 4000 tahun lalu (Michael Keene, 2004), bangsa Israel telah begitu kenyang melewati babak demi babak yang terus berlangsung dan lantas menjadi siklus. Kehidupan pertama yang dilewati di Mesir —setelah Yaqub bersama anak-anaknya pindah dari Kanaan (sekarang Hebron, tempat Ibrahim dan Ishaq bermukim dan wafat) ke Mesir di masa Yusuf— dilalui dalam babak di mana mereka menjadi budak tujuh abad lamanya, sampai kedatangan Musa. Ketika semua bangsa Israel melewati hari kebebasan (passover) di tangan Musa, babak baru sebagai bangsa merdeka  mereka lewati di Kanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Musa as. meninggal, kaum Yahudi mengembara empat abad lamanya, hingga datanglah masa Dawud as., masa keemasan kaum Yahudi. Dawud dengan pasukan Bani Israil menguasai Kanaan bahkan Palestina secara keseluruhan. Di bukit Zion (gerakan mengembalikan tanah Palestina lalu disebut Zionis) ia mendirikan istana. Zaman keemasan itu pun dilanjutkan oleh putranya, Sulaiman yang kemudian membangun istana mewah (Solomon Temple) di bukit Moriah. Di bukit inilah Ibrahim, seperti diyakini umat Yahudi menyembelih Ishaq. Sementara. Umat Islam meyakini bahwa di batu besar (qubbat al- Sakhrah) yang terdapat  di atas bukit ini, Nabi Muhammad menginjakkan kakinya ketika mi’raj dari Masjid al- Aqsha ke Sidrat al- Muntaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus itu terjadi sepeninggal Sulaiman. Ketika kedurhakaan mereka tak terkendali, Kuil Sulaiman (The First Temple) yang megah itu dihancurkan kerajaan Babilonia atas titah raja Nebukadnezar, 587 SM.  Sama seperti ketika mereka menjadi budak di tangan orang Mesir beberapa abad lamanya, di tangan kerajaan Babilonia pun mereka melewati siklus menapaki Era of Captipity, masa perbudakan. Ketika di awal tahun Masehi kerajaan dunia di bawah kerajaan Romawi, lagi-lagi siklus itu terulang. Istana megah yang dibangun raja mereka Herodus  dihancurkan tentara Romawi atas perintah raja Titus pada tahun 70 M. Menurut Prof. DR. Nurcholis Madjid (1996), dua penghancuran inilah yang dijelaskan dalam al- Quran QS. Al- Isra [17]: 4-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua kali penghancuran ini, kebesaran Yahudi pun lalu terpadamkan untuk kemudian mereka harus memulai lagi babak yang baru. Begitulah seterusnya hingga sejarah mencatat, mereka selalu mendapat kesempatan untuk memulai dari awal, beradaptasi, lalu menguasai atau minimal berlindung di bawah ketiak bangsa penguasa dunia, kemudian mereka memanfaatkan saat-saat itu untuk melampiaskan watak biadab mereka dan pada saatnya berujung pada akhir episode, mereka dihancurkan sesuai dengan firman ilahi QS. Al- Isra [17]: 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politikus busuk&lt;br /&gt;Bulan April akan tiba sesaat lagi. Hari-hari ke depan, berarti menjadi hari-hari yang paling mendebarkan bagi para caleg. Masyarakat, sekarang ini sudah tak lagi bisa membedakan mana caleg yang busuk dan tidak busuk, semua sudah berbaur dan anehnya, pesona yang ditebarkan caleg busuk lebih mewangi dibandingkan para pendatang baru. Pendekatan berbasis uang yang dilakukan caleg busuk bahkan lebih diterima masyarakat ketimbang penampilan kaku caleg pendatang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kaum Yahudi hari ini menjadi penguasa opini dunia, itu karena lebih dari 80 % kantor berita dan media cetak dunia telah mereka kuasai. Jalan apapun pasti mereka terobos yang penting dunia ada di pihaknya. Demikian juga politik di Indonesia, opini masyarakat di bawah sangat kental dikuasai para politikus lihai yang memperagakan aksi politiknya dengan mendobrak kebeningan hati nurani. Selain dengan nyawer uang, spanduk mencolok di beribu tempat, juga dengan memasang tim sukses yang siap melanggar syubhat bahkan haram sekalipun.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kaum Yahudi sudah tak lagi menyisakan rasa malu untuk menjajah dunia dengan sangat porno (terlihat umum), maka para politikus busuk kita pun sudah tak lagi malu-malu untuk melakukan trik-trik kampanye yang dikejar dari hukum manapun salah, tapi pada saat bersamaan hukum masyarakat miskin menghendakinya. Kegemaran masyarakat miskin kita untuk memungut uang haram dari para politikus kaya yang mau membeli suara dibiarkan dan bahkan dilestariakan menjadi sebuah tren yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pemikiran kaum Yahudi selalu terpusat pada bagaimana caranya menjadi penguasa dunia, maka demikian juga dengan politikus kita. Pemikiran mereka selalu terfokus pada bagaimana caranya meraih suara terbanyak dalam ajang pemilu april mendatang, walaupun cara yang ditempuh mengorbankan pihak lain atau bahkan teman sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kemudian Allah swt. membiarkan umat Yahudi berbuat semaunya untuk kemudian Allah mengazab mereka dari waktu ke waktu, maka kita hawatir, kelakuan para politikus kita yang menghendaki kursi jabatan dengan cara yang illegal, menjadi salah satu hal yang mengundang murka- Nya, lalu keberlangsungan kehidupan negeri yang makmur ini terhambat, mundur dan hancur.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dosen UIN Bandung, Dpk pada Institut Agama Islam Cipasung ( IAIC). Ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAIC.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-5379144417328457120?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/5379144417328457120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/siklus-sejarah-yahudi-dan-politikus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/5379144417328457120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/5379144417328457120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/siklus-sejarah-yahudi-dan-politikus.html' title='siklus sejarah yahudi dan politikus busuk'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-6402025236591760086</id><published>2009-01-21T20:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T20:23:49.958-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>Sejarah Jatuh Bangun Bangsa Israel</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh: Asep M tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Warna dua tahun baru (Masehi dan Hijriyah) tahun ini benar-benar tercoreng oleh agresi militer &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ke Jalur Gaza, Palestina. Hari ini, sudah sepekan lebih kita tak pernah melewatkan berita kebiadaban Israel yang disinyalir merupakan agresi terbesar dalam 40 tahun ke belakang, Sampai tulisan ini dirilis, lebih dari empat ratus enam puluh warga Palestina tewas (seratus orang lebih di antaranya warga sipil dan tiga puluh orang lebih adalah anak kecil) dan ribuan warga lainnya terluka. Warga dunia Islam meradang, laknat dan kutukan dari berbagai belahan planet bumi terus mengalir. Berbagai elemen umat Islam dan organisasi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tak ketinggalan mengungkapkan kebencian mereka terhadap bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dengan berbagai cara. Sementara itu, PBB —seperti biasanya— selalu saja gamang, George Bush ‘berjingkrak-jingkrak’, dan Barrack Hossein Obama bersembunyi entah di mana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Membuka dan membaca lembaran negeri &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, sama seperti membuka sebuah buku sejarah tebal dengan seribu persaingan dan pertentangan serta sejuta konflik juga dendam, tanpa ada kata penutup atau epilognya. Bagaimana tidak, sejak meninggalnya nabi Sulaiman, 932 SM, sejarah Israel terus bergulir, lembaran demi lembarannya menyiratkan warna kelam akan sebuah suku bangsa yang di dalam urat-urat tubuhnya mengandung darah permusuhan, kebrutalan dan pembunuhan massal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memang cerdas &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Suka atau tidak suka, kita harus mengakui bahwa Orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; telah diberi keutamaan oleh Allah dalam hal kognisi keilmuan &lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; (QS. Al- Dukhan [44]: 32). Bagi mereka bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sendiri, pengakuan Alquran tentang kelebihan mereka (selain ayat di atas, juga al- Baqarah [2]: 47 atau al- A’raf [7]: 140) tak dirasa aneh karena dalam kitab suci Taurat ditegaskan bahwa mereka adalah bangsa terpilih (&lt;i&gt;The &lt;st1:place st="on"&gt;Chosen&lt;/st1:place&gt; people). &lt;/i&gt;Dalam pasal ulangan [7] ayat 6 disebutkan, “&lt;i&gt;hanya kamu yang dipilih oleh Tuhan supaya menjadi bangsa yang paling istimewa dan mengatasi semua bangsa”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;hegemoni Israel dalam berbagai aspek kehidupan global, demikian Rakhmat Zaenal dalam bukunya &lt;i&gt;Makelar Dongeng Holocoust, Catatan Perjalanan dari dalam Israel&lt;/i&gt; (2006) dikarenakan otak mereka yang memang di atas rata-rata warga dunia. Oleh karenanya, A. Maheswara terusik untuk menulis buku &lt;i&gt;Rahasia kecerdasan Yahudi &lt;/i&gt;(2007).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari pencariannya tentang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kecerdasan orang-orang Yahudi, ternyata didapatkan data-data yang mencengangkan. Maka dari itu pulalah kita tak merasa aneh ketika menangkap informasi bahwa mereka adalah hegemoni dari berbagai bidang perhelatan dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah pelajar sekaligus pengajar dalam sejarah panjang mereka. Mereka belajar dari orang-orang Mesir, Kanaan, Babilonia, Yunani, Phartian, Romawi dan Arab serta kepada setiap umat dalam keadaan apapun. Maka hari ini, kita mendapatkan mereka merajai arena politik, ekonomi, sains, sastera, musik, ilmu fisika, kimia, kedokteran dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sejak lebih dari seratus tahun yang lalu, ilmuan-ilmuan Yahudi (dari sekitar 14 juta orang penduduknya) telah meraih 25 hadiah nobel. Sementara itu, baru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3 hadiah nobel yang diraih oleh lebih dari 1,4 miliar warga muslim dunia. Totalnya, sekitar 32 persen hadiah nobel yang telah terbit diraup warga &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Gambaran tentang kecerdasan Yahudi ini, di Amerika saja, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;tepatnya di New York, pada tahun 1954 terungkap, di lingkungan sekolah yang ada di sana, dari 28 siswa yang memiliki IQ di atas point 170, 24 orang diisi orang Yahudi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Orang-orang Yahudi percaya bahwa daya tahan hidup mereka tergantung pada kecerdasan mereka. Di Eropa, selama berabad-abad lamanya orang-orang Yahudi menyeleksi pasangan hidup dan menggabungkan berbagai gen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk menghasilkan anak yang cerdas. Selain itu, DR. Marian Diamond dari University Of &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;California&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;, di tahun 80-an meneliti faktor pembangun kecerdasan mereka dan menemukan sebuah kesimpulan bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam menstimulasi kecerdasan orang-orang Yahudi. Lingkungan hidup orang Yahudi biasanya dipastikan merupakan lingkungan yang mengharuskan anak-anak mereka menjadi yang terbaik dan terpintar. Satu hal lagi, bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah bangsa yang tidak suka dan tidak akan mau melakukan pekerjaan yang sia-sia. Tidak ada bangsa lain di dunia ini yang mengembangkan budaya seperti ini selain bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bukti kecerdasan Israel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Selain dipilih sebagai ‘pemborong’ hadiah nobel, orang-orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tersebar dan menjadi &lt;i&gt;leader &lt;/i&gt;di berbagai sektor dan menguasai arah kebijakan publik di berbagai negara Eropa dan terutama di Amerika. Hanya ada 14 juta orang Yahudi di dunia ini. Sekitar 7 juta orang hidup di Amerika, 5 juta orang di &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;, 2 juta orang di Eropa dan 100.000 orang di Afrika. Selalu ada satu orang Yahudi di antara 100 orang muslim, tetapi orang-orang Yahudi selalu lebih berkuasa dibanding orang-orang muslim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Lebih dari dua puluh penemu di abad 20 lahir dari lingkungan Yahudi seperti Albert Einstein, Sigmund Freud, Leonard Bernstein, Saul Bellow dan lain-lain. Pebisnis tingkat dunia yang produksinya sangat akrab dengan badan, lidah dan tangan kita pun; &lt;i&gt;Polo, Levi’s Jeans, Starbuck’s, Google, Dell Computers, Dunkin Donuts &lt;/i&gt;dan lainnya adalah produk mereka. Selain itu, beberapa rektor di berbagai perguruan tinggi di Amerika dan Eropa, para pejabat penting di berbagai negara adalah juga penganut Yahudi. Bahkan, beberapa presiden dan perdana menteri di berbagai belahan dunia adalah orang Yahudi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kecerdasan dan kepandaian mereka pun terbukti dengan wara-wirinya pesohor dunia yang menguasai suara dan opini publik. Di Amerika, hampir 90 persen pekerja film; sutradara, produser, editor, aktor, aktris dan para krunya adalah orang-orang Yahudi. Tidak hanya itu, orang-orang Yahudi pun memperkuat pengaruhnya lewat dominasi kantor berita. &lt;i&gt;The New York Time, The Wahington Post &lt;/i&gt;(Amerika)&lt;i&gt;, The Times, The Daily Exspress, The Daily Mail, The Mirror &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Inggris), &lt;i&gt;Reuters &lt;/i&gt;dan lebih dari 40 kantor berita lainnya di dunia adalah milik Yahudi. Di samping itu, mereka pun telah berhasil menguasai media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; cetak. Di tahun 1956, orang-orang Yahudi telah memproduksi lebih dari 800 &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar yang terbit di seluruh dunia. Target mereka tak lebih agar opini-opini dunia dikuasai. Dari kekuasaan Yahudi yang menggurita di berbagai sektor ini, tak ayal membuat meraka kaya raya. Seorang Filantropis dunia, George Soros adalah penguasa bisnis dunia yang berafiliasi Yahudi. Bagi orang Yahudi, kekayaan itu baik dan kemiskinan itu tragis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Melalui jaringan informasi dan media komunikasi inilah Yahudi berhasil menciptakan citra negative terhadap Islam. Maka hari ini, telinga kita, mata dan lidah kita begitu akrab dengan term ‘Islam Fundamentalis’, ‘Islam teroris’ dan lain-lain. Propaganda yang dilancarkan begitu gencar sehingga orang Islam yang bodoh bisa jadi pobia terhadap agamanya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dari kekuasaan Yahudi yang menggurita di berbagai sektor ini, tak ayal membuat meraka kaya raya. Seorang Filantropis dunia, George Soros adalah penguasa bisnis dunia yang berafiliasi Yahudi. Demikian juga para penguasa bisnis dunia yang lainnya, mereka bahkan begitu bangga dan merasa menjadi pemenang ketika produk-produk mereka menjadi pakaian, asesoris, kosmetik, bahkan makanan favorit yang dikonsumsi warga muslim di berbagai negara di dunia. Bagi orang Yahudi, kekayaan itu baik dan kemiskinan itu tragis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tentang target akhir mereka dari ambisi dan berbagai obsesi yang dijalaninya di abad modern sekarang ini, Prof. DR. Ahmad Syalabi dalam bukunya &lt;i&gt;Al- Yahud &lt;/i&gt;mendapatkan naskah rahasia yang sampai juga di tangannya tentang titik akhir &lt;i&gt;gawe&lt;/i&gt; mereka dalam teks berikut, “&lt;i&gt;Kita akan menemukan produk-produk Yahudi pada setiap perubahan pemikiran dan bisnis apapun. Baik secara terang-terangan ataupun tersembunyi. Maka dari itu, sejarah Yahudi harus terus berjalan, sejalan dengan sejarah dunia dalam segala bidang.“&lt;/i&gt; Untuk misinya ini, dari dahulu sampai sekarang strategi yang digunakan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah ‘spionase’. Ketika kaum Yahudi bermaksud membunuh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Isa&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;AS&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;, mereka mempercayakan dan membayar Yahuda al-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Iskharyuthi untuk terus memata-matai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Isa&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;AS.&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; Yahuda lalu bersekongkol dengan beberapa kelompoknya dan menyuruh mereka menangkap siapapun yang dipeluknya di sebuah tempat yang direncanakan dengan cirri-ciri Isa yang ia jelaskan sendiri di hadapan kelompoknya. Ia pun lalu pergi ke tempat persembunyian Isa dan terjadilah apa yang terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Di zaman nabi SAW, orang-orang Yahudi pun mengutus beberapa orang untuk masuk Islam dan menjadi mata-mata untuk kepentingan licik mereka. I antara mereka yang masuk Islam adalah Dais, Sa’ad bin Hanif, Zaid al- Lashit, Rafi’ bin Harimillah, dan lainnya. Khusus tentang Rafi’ ini, nabi SAW pernah bersabda pada hari meninggalnya, “&lt;i&gt;Hari ini seorang munafik besar telah meninggal”. &lt;/i&gt;Mereka menggunakan Mesjid dan tempat-tempat belajar sebagai majelis mereka agar bisa mengetahui berita-berita dan strategi-strategi kaum muslimin, lalu memberitahukannya kepada kelompok Yahudi, atau bahkan kepada usuh-musuh Islam yang lain seperti kaum musyrikin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Di kehidupan modern sekarang ini pun, orang Yahudi selalu menyebarkan mata-matanya di setiap negara. Tak ada satu Negara pun luput dari intaian mereka. Seringnya umat Islam lupa dan lalai akan karya mereka yang menyesatkan, hasil mata-mata mereka yang terorganisir rapi. Di beberapa Negara Arab, kelompok mata-mata Yahudisemakin berkembang dan intens berkumpul. Laki-laki atau perempuan dilatih khusus dengan perangkat teknologi tercanggih, dan diajarkan juga sandi-sandi rahasia yang hanya mereka saja yang tahu. Mereka mempunyai interkoneksi yang kuat dengan pusat-pusat Yahudi di Itali, Jerman, Inggris, Amerika dan kekuatan Yahudi lainnya di berbagai belahan bumi.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kecerdasan yang membiadabkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Orang Yahudi, walaupun diberikan kelebihan otak yang membuat mereka berkuasa — apakah tampil langsung ataupun di belakang layar— tapi mereka tidak menerapkan etika dan moral dalam misinya. Walaupun hampir mayoritas penulis, dalam berbagai tulisannya sepakat menggambarkan dan memuji kecerdasan dan keterlibatan mereka di berbagai sektor, (orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sendiri, ketika mengungkapkan kekaguman dari apa yang mereka lihat, dengar dan cicipi selalu menyebut kata YAHUD!) tapi mereka selalu saja menjadikannya sebagai pengantar dari tujuan utama penulisan itu, yaitu mengungkap kebiadaban, kebrutalan dan kemiskinan mereka akan nilai-nilai moral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ketika orang-orang Yahudi menyebutkan bukti keutamaan ras mereka dengan kehadiran hampir semua nabi dari golongan mereka, &lt;i&gt;alegasi&lt;/i&gt; itu dibantah dengan pendapat para pemikir Islam, bahwa diutusnya banyak nabi dalam sejarah mereka dikarenakan kejahatan, kebiadaban dan &lt;i&gt;amoralitas &lt;/i&gt;hidup mereka yang sudah melewati batas kewajaran. Hal demikian menyebabkan dibutuhkannya kehadiran banyak nabi yang mengarahkan mereka kepada keluhuran moral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Karena mereka menganggap diri sebagai bangsa yang paling mulia, maka mereka tak pernah akan tunduk dengan undang-undang dan hukum bangsa lain. Buktinya, seminggu ini saja, ketika masyarakat dunia, termasuk PBB yang terkesan “banci”, mengungkapkan kutukan dan mendesak agar menghentikan serangan ke Gaza, orang-orang Yahudi menganggap suara itu sebagai “lagu merdu” dan angin lalu, bagai pribahasa &lt;i&gt;anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam sejarah panjangnya, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah bangsa yang lekat dengan berbagai sifat buruk yang selalu saja menghapus nilai-nilai kemanusiaan mereka. Ide-ide yang mereka usung adalah menaklukkan dunia dan lalu menjadi tuannya, dan itu dilakukan tanpa mengindahkan atruran moral yang disepakati umum. Mereka tamak, licik, sombong, pendendam dan pengecut. Dalam setiap zamannya, meraka selalu jadi benalu dalam peradaban karena mereka licik ketika lemah dan bengis ketika berkuasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kecerdasan mereka yang dibalut sifat licik, ambisius dan angkuh ini, selalu membuat mereka tak akan berhenti menghancurkan musuh-musuhnya. Dan, musuh mereka hari ini adalah Islam dan semua umatnya di seantero dunia. Ketika dalam beberapa dekade —sampai hari ini— Yahudi menyerang umat Islam dengan serangan pemikiran dan budaya, dan serangan ini cukup berhasil, maka dengan dukungan ‘setan-setan’ Amerika dan sekutunya yang punya kepentingan ideologi, budaya dan sejarah mereka menyangkut kebencian terhadap Islam, mereka hari ini menyerang umat Islam secara fisik. Dan, umat Islam (termasuk di dalammya Liga Arab) ternyata tak punya cukup tenaga untuk menghadang dan menghalaunya, setidaknya sampai hari ini. Namun, &lt;i&gt;The Show must go on,&lt;/i&gt; bumi terus berputar dan segala sesuatu masih mungkin terjadi.&lt;i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Masa lalu dan masa depan Israel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tahun 1939-1945, atau semasa perang dunia II, bangsa Yahudi dibantai tentara Nazi, Jerman. Enam juta warga Yahudi tewas dan dunia menyaksikan, negeri &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menjadi &lt;i&gt;crematorium &lt;/i&gt;perang dunia II. Kini, kesedihan mana lagi yang lebih kita rasakan ketika Palestina, dengan berjuta umat Islam di dalamnya, menjadi &lt;i&gt;crematorium &lt;/i&gt;dari kebiadaban tentara &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ketidakadilan global yang tersaji dari berbagai liputan berita media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dalam sepekan ini, memunculkan pertanyaan, kenapa dendam orang Yahudi yang dibunuh tentara Jerman harus ditumpahkan kepada orang-orang Islam? Setidaknya, ada seorang pemimpin Islam dunia yang lantang menyuarakan pertanyaan serupa, Mahmud Ahmadinejad (lihat &lt;i&gt;Ahmadinejad, &lt;/i&gt;Muhsin Labib dkk, 2006 h. 166-190).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bila dirunut sesuai perjalanan sejarah, kejadian yang menimpa orang-orang Yahudi ini seperti cerita dalam sinetron. Pemeran antagonis selalu muncul sebagai pemenang di awal-awal cerita, namun kalah dan hancur lebur di akhir cerita. Ibaratnya, orang-orang Yahudi saat ini sedang memerankan peran cerita di tengah perjalanannya. Cerita itu sendiri diawali tanggal 29 November tahun 1947,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika itu &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; resmi diakui PBB sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebuah negara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;14 Mei 1948, Chaim Weizmann dilantik sebagai presiden. Akhir dari cerita itu masih kita tunggu, di mana &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; lagi-lagi harus menanggung malu mengakhiri cerita sebagai pecundang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Di zaman nabi SAW, orang-orang Yahudi Medinah betul-betul bertekuk lutut di hadapan beliau. Mereka yang tergabung dalam klan Bani Nadzir, Bani Qainuqa, Bani Quraizhah, Bani Mushthaliq, dan Khaibar dibuat kocar-kacir. Sebagian diusir karena menjadi duri dalam daging bagi keberlangsungan dakwah suci nabi, sebagian lagi dibunuh karena penghianatan yang di luar batas kewajaran, dan sebagian lainnya diperangi sampai menyerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jauh sebelum itu, setelah kematian nabi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Sulaiman&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;AS.&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; 932 SM, bangsa Yahudi pernah dihancurkan Raja Babilonia, Nabukadnezar pada tahun 587 SM. Selain menghancurkan Yerussalem dan sekitarnya, penakluk dari Babilonia itu juga membunuh warga Israel dan memboyong sebagiannya ke Babilonia untuk dijadikan budak. Dijadikannya warga Israel sebagai udak ini, tak berbeda dengan kisah mereka di zaman Musa, beberapa abad sebelum kelahiran Sulaiman, di mana bangsa Israel menjadi budak raja-raja Mesir sekitar lima abad lamanya. Tahun 70 Masehi, bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; juga dibinasakan oleh pasukan Romawi atas perintah raja mereka, Titus. Karena kebencian yang mendalam dari orang-orang Romawi terhadap Yahudi yang melampaui batas dalam mengungkapkan kebenciannya terhadap yesus (konon, setelah mereka menyalib Yesus, kayu salibnya mereka lemparkan ke sampah), penguasa Romawi memerintahkan untuk melenyapkan samasekali sisa-sisa keyahudian yang masih terdapat pada bait al- Maqdis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Karang Suci atau &lt;i&gt;Sakhrah&lt;/i&gt; yang merupakan kiblat orang-orang Yahudi lalu ditimbun dengan sampah dan kotoran. Semua sisa-sisa kaum Yahudi yang terdapat di masjid al- Aqsha dihancurkan. Satu-satunya hal yang tersisa hanyalah sebuah tembok yang oleh bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; disebut ‘Tembok Ratapan’ (&lt;i&gt;Wailing Wall).&lt;/i&gt; Tempat itulah yang sekarang merupakan tempat paling suci di kalangan kaum Yahudi dan merupakan tujuan kunjungan terpenting bagi mereka .&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pada tahun 1506 M, ketika pemerintahan Spanyol di bawah kekuasaan Ratu Isabella, bangsa Yahudi pun diusir dari Spanyol dan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Portugal&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Acara pengusiran itu dibarengi dengan penyembelihan bangsa Yahudi yang dalam literature Barat dikenal sebagai penyembelihan paling berdarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penghancuran demi penghancuran &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang dilakukan terhadap bangsa Yahudi ini, telah dijelaskan dalam Alquran &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; al- Isra [17]: 4-8.&lt;span class="gen"&gt; &lt;i&gt;Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;namun janji dan ancaman Allah SWT untuk mereka yang tertuang dalam beberapa ayat tersebut, nyatanya tidak sedikitpun membuat bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; hari ini menjadi jera. Kebiadaban-kebiadaban serupa masih saja terjadi dan apa yang terjadi di jaman dulu, levelnya bahkan lebih tidak manusiawi yaitu mereka membunuh para nabi (QS. Al- Baqarah [2]: 61, Ali Imran [3]: 21 dan 112)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Satu hal yang kita yakini, bahwa kebenaran dari janji Allah ”&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman” &lt;/i&gt;(QS. Al- Isra [17]: 8) pasti akan terjadi. Bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, hari ini tengah &lt;i&gt;show of force. &lt;/i&gt;Hal ini akan berlaku sementara karena di belakang mereka ada setidaknya dua kekuatan besar dunia, Amerika dan Inggris yang dalam sejarah modern bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; turut andil dalam melahirkan dan membesarkan mereka.&lt;/span&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Ketika dukungan dari luar hilang, mereka adalah bangsa yang tidak berani menyongsong maut, mereka hanya berani melawan bangsa-bangsa kecil yang tak berdaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Cerita bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memang cerita unik yang untuk umat Islam sangat memuakkan. Semua pemikir Islam sepakat bahwa mereka adalah &lt;i&gt;Trouble Maker&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang meramaikan dunia dengan berbagai kekacauan ibarat &lt;i&gt;Syetan, &lt;/i&gt;mereka&lt;i&gt; &lt;/i&gt;terus merongrong kehidupan berbagai bangsa, membuat masalah, lalu menang, setelah menang mereka sombong dan melampaui batas, Tuhan lalu menghukum mereka dan mereka pun hancur lebur, berbalut malu dan semua cerita berputar lagi dari awal, terus berputar dan begitulah seterusnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Wallaahu min waraa al- Qashd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Daftar Bacaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;A. Maheswara, &lt;i&gt;Rahasia Kecerdasan Yahudi&lt;/i&gt; (&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jogjakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Pinus, 2008)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Abdullah ath- Thail, DR., &lt;i&gt;Judzur al- Bala&lt;/i&gt; terj. (&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Mihrab, 2008)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ahmad al- Syirbashi, &lt;i style=""&gt;Yasaluunaka fi al- Diin wa al- Hayat, &lt;/i&gt;(Beirut: Dar al- Jail, tt, Vol. I)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ahmad Syalabi, Prof. DR., &lt;i&gt;Al- Yahud &lt;/i&gt;terj. (&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jogjakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Arti Bumi Intaran, 2006) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Abu Ridha, &lt;i&gt;Rencana Zionis Melumpuhkan Shahwah Islamiyah &lt;/i&gt;(Jakarta:&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Midfa’Graph,1995)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Fuad bin Sayyid al- Rifa’i, DR., &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Al- Nufuudz al- Yahuudy fi al- Ajhizah al- I’laamiyah wa al- Muassassaat al- Dauliyah &lt;/i&gt;terj. (Jakarta: Gema Insani Press, 1987)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;M. Quraisy Syihab, &lt;i style=""&gt;Tafsir al- Misbah (&lt;/i&gt;Jakarta: Lentera Hati, 2002)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Michael Keene, &lt;i&gt;World Religions &lt;/i&gt;terj. (&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Kanisius, 2006)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mujahid Abdul Manaf, Drs., &lt;i&gt;Sejarah Agama-Agama, &lt;/i&gt;(Jakarta: Rja Grafindo Perkasa, 1995)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Muhsin Labib dkk, &lt;i&gt;Ahmadinejad &lt;/i&gt;(&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Hikamah Poopuler, 2006)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Nurcholis Madjid dkk, &lt;i&gt;Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam&lt;/i&gt; (&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Temprint, 1996&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Rakhmat Zaenal, &lt;i&gt;Makelar Dongeng Holocoust&lt;/i&gt; (Solo: Inter media, 2006)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;*Makalah dipresentasikan pada diskusi mahasiswa yang diselenggarakan FORMASI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Forum Mahasiswa Islam) IAIC Cipasung, Rabu 07 Januari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-6402025236591760086?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/6402025236591760086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/sejarah-jatuh-bangun-bangsa-israel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/6402025236591760086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/6402025236591760086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/sejarah-jatuh-bangun-bangsa-israel.html' title='Sejarah Jatuh Bangun Bangsa Israel'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8283339685928963880</id><published>2009-01-21T20:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T20:18:58.386-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>Yahudi dalam al-Quran</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Bagi mereka yang memilki pandangan objektif, surat al- Maidah [5] ayat 82 ini memberikan klarifikasi tentang siapa bangsa Israel dan apa hakikat agama Yahudi; dua variable yang sejak akhir Desember 2008 hingga sekarang ini, menguras perhatian bukan hanya para penganut agama-agama, tapi juga warga negara berbagai bangsa. Bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang beragama Yahudi (&lt;i&gt;Judaisme)&lt;/i&gt; menggempur tempat-tempat yang diklaim sebagai markas HAMAS tanpa mengindahkan teriakan-teriakan pedas dari penghuni berbagai belahan dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Setidaknya, ada tiga term dalam al- Quran yang ketiganya menunjukkan satu objek; Bani Israil, Yahud dan &lt;i&gt;Alladziina Haaduu.&lt;/i&gt; Bani Israel menunjukkan bangsa Israel sebagai sebuah bangsa secara keseluruhan, lalu Yahud menunjukkan penganut agama Yahudi yang selalu dikonotasikan negatif karena desposif dan destruktif (selain ayat ini, lihat juga surat al- Maidah [5] ayat 18, 58 dan 64), sementara &lt;i&gt;Alladziina Haaduu &lt;/i&gt;menunjukkan beberapa di antara penganut Yahudi yang berakhlak baik dan memegang teguh nilai-nilai keluhuran misi agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Dalam tafsir al- Misbah (volume 3 hal. 178-181), M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ayat ini tidak dapat dijadikan ukuran untuk menggeneralisir orang Yahudi sebagai golongan yang begitu kuat membenci Islam dan umatnya. Dari berbagai tafsir yang beliau baca, hanya tafsir &lt;i&gt;al- Alusi &lt;/i&gt;saja yang menyebutkan secara tegas bahwa &lt;i&gt;khitab &lt;/i&gt;(arah penunjukkan) dari ayat ini adalah untuk semua orang Yahudi. Selain &lt;i&gt;al- Alusi&lt;/i&gt;, para pakar tafsir lainnya sama mengecualikan beberapa orang di antara mereka yang selalu menjaga hubungan baik dengan umat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;Kebencian yang menyejarah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Kebencian dan permusuhan umat Yahudi terhadap umat Islam adalah wujud dari sikap dengki mereka pada Nabi Muhammad saw. dan umatnya. Mereka tak rela nabi terakhir dan terbesar untuk seluruh umat manusia itu lahir dari bangsa Arab, bangsa yang mereka pandang hina dan rendah (QS. Al- Baqarah [2]:105). Orang-orang Yahudi tahu bahwa nabi Muhammad adalah rasul terakhir yang dijanjikan seperti yang terdapat dalam Taurat dan Injil, (QS. Al- Baqarah [2]: 146 dan Al- An’am [6]: 20), tapi mereka mendustakannya dengan berbagai macam cara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Selain karena kedengkian, permusuhan mereka terhadap umat Islam disebabkan pula oleh keyakinan bahwa mereka tercipta sebagai &lt;i&gt;the Choosen People &lt;/i&gt;atau bengsa terpilih&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Taurat telah tegas menyatakan bahwa mereka adalah bangsa termulia dari semua bangsa yang ada. Dalam al-Quran, pengakuan mereka direkam dalam QS. Al- Maidah [5]: 18. Karena perasaan berlebihan tentang keunggulan mereka atas semua bangsa lain itulah maka dalam beberapa minggu ini kita menjadi saksi, bahwa mereka tidak akan mau untuk tunduk pada hukum bangsa lain, PBB sekalipun. Ketika semua mata menyaksikan kebiadaban Israel atas rakyat Palestina tak lagi bisa dihentikan, lalu beberapa pemimpin negara Arab pun seolah tak tahu apa yang tengah terjadi (Saudi Arabia, Mesir dan Tunisia), maka sempurnalah keangkuhan dan kecongkakan mereka. Mereka meyakini, bila pun harus masuk neraka atas kejahatan yang dilakukan ini, mereka akan masuk neraka hanya untuk beberapa hari saja, (QS. Al- Baqarah [2]: 80 dan Ali ‘Imran [3]: 24).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Kedengkian lainnya, juga ditunjukkan orang Yahudi terhadap umat Islam secara nyata dikarenakan ambisi duniawi yang melebihi batas. Bila umat Islam melakukan sesuatu, pertimbangan yang mereka tempuh selalu mengacu pada azas kebaikan dan kebenaran. Nilai-nilai agama kemudian selalu menjadi acuan kehati-hatian sebelum perbuatan itu dilakukan. Bagi orang Yahudi, kelebihan yang mereka miliki; kecerdasan, keseriusan dalam melakukan tugas dan misi, ambisi untuk menjadi yang terbaik, terkaya, terhebat, tersukses dan paling berkuasa selalu dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Mereka begitu rakus dan serakah. Bagi mereka, kehidupan dunia adalah segalanya, (QS. Al- Baqarah [2]:96).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Karena kebencian terhadap umat Islam yang demikian menyejarah ini, tak segan-segan orang Yahudi menghapus berbagai keterangan-keterangan Taurat yang menjelaskan keagungan Muhammad dan ayat-ayat lain yang bertentangan dengan misi mereka untuk menjadi ‘tuan’ bagi seluruh penghuni dunia, (QS. An- Nisa [4]: 46 dan Al- Maidah [5]: 13). Tak hanya itu, kepongahan mereka ketika berhadapan dengan kebenaran yang bertentangan dengan ambisi besar dan obsesi duniawi, mereka akan membohongkan kebenaran itu, walaupun yang membawa ajaran kebenaran itu adalah para nabi dari golongan mereka sendiri. Untuk itu, mereka tak akan segan-segan membunuh para nabi itu,&lt;i&gt;?&lt;/i&gt; (QS. Al- Baqarah [2]: 87).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;Pelajaran paling berharga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Bila dalam bulan ini kita menyaksikan kebandelan orang Yahudi yang sudah tidak lagi menghargai PBB sebagai institusi representatif dari suara penghuni alam raya, maka apa yang terjadi dahulu, di zaman nabi saw., kebandelan itu lebih-lebih lagi. Karena telah merasa terhalangi oleh Allah swt. dalam mengejar ambisi duniawi, mereka telah berani melawan Allah swt. dan mengatakan bahwa Allah itu faqir, sementara mereka kaya (QS. Ali ‘Imran [3]:181), tak hanya itu, mereka pun bahkan telah berani untuk mengatakan bahwa tangan Allah swt. terbelenggu (QS.al- Maidah [5]: 67).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Penjelasan dan informasi Al- Quran tentang hakikat orang yahudi, diyakini sebagai kekuatan utama umat Islam sehingga mampu menangani dan mengalahkan umat Yahudi di masa Rasulullah saw. Kekuatan umat Islam mempertahankan kekuasaan atas kaum yahudi kemudian berlanjut hingga 14 abad lebih, yaitu hingga pertengahan abad 20. Bila saat ini, umat Islam begitu saja menjadi bulan-bulanan umat yahudi, menjadi mangsa empuk dari rudal, bom dan peluru orang Yahudi, maka berarti ada penyakit yang melanda umat ini. Penyakit ini tak lain karena kondisi umat Islam sekarang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berbeda dengan kondisi 14 abad sebelumnya. Al- Quran, nampaknya tidak lagi dipedomani, sementara ambisi duniawi dan kepentingan sesaat yang dulu diperagakan umat Yahudi, kini justeru dipegang teguh umat Islam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Cobaan yang Allah swt. timpakan pada umat Islam saat ini, adalah pembelajaran paling berharga agar para pemimpin Islam di seluruh dunia kembali berfikir untuk menghadirkan semangat persatuan, kebersamaan, dan kembali berpegang teguh pada nilai-nilai al- Quran, nilai-nilai yang bisa mengembaliakan kejayaan umat Islam, umat yang menjadi pembawa rahmat bagi alam semesta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Wallaahu min waraa al- Qashd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) dan dosen STAI Tasikmalaya. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8283339685928963880?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8283339685928963880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/yahudi-dalam-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8283339685928963880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8283339685928963880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/yahudi-dalam-al-quran.html' title='Yahudi dalam al-Quran'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8193980888752780684</id><published>2009-01-21T20:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T20:15:52.495-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POLITIK'/><title type='text'>mendesak, pencerahan politik grashroot</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh: Asep M. Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pembelajaran demokrasi yang dimulai sejak ditenggelamkannya rezim orde baru, tampaknya perlu direfleksi ulang bila kita intens ‘mengaji’ pandangan masyarakat paling bawah tentang kabar politik paling mutakhir. Sungguh, kita akan mendapatkan berita yang cukup menyedihkan bila dikaitkan dengan realitas dan perkembangan dunia politik yang sedang berlangsung. Coba tengok ke kampung-kampung, pencerahan politik yang diidealisasi di berbagai media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, cetak maupun elektronik tampaknya masih kalah oleh realitas pragmatisme masyarakat awam yang sengaja dibodohkan oleh sistem yang dikembangkan politikus-politikus busuk. Kekuasaan uang dan para ‘pejuang’nya, juga dominasi kekuatan &lt;i&gt;Black Compagne &lt;/i&gt;nampaknya masih terlalu kokoh untuk bisa didobrak oleh kemapanan teori apapun untuk saat ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Thesis penulis di atas, pastinya tidak dimaksud untuk menggeneralisir kondisi masyarakat bawah di tanah air. Masih banyak, atau bahkan masih lebih banyak masyarakat lain yang budaya politiknya telah benar-benar tercerahkan oleh beruntunnya ajang demi ajang politik yang digelar. Tapi sekali lagi tengok ke bawah, sistem yang sedang berlangsung dan dikembangkan —apalagi setelah MK merubah definisi pemenang kursi legislatif dari nomor urut menjadi suara terbanyak—&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menggambarkan kedewasaan (&lt;i&gt;maturity&lt;/i&gt;) para caleg dengan tim sukses harus terus dipertanyakan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;DEFINISI SUKSES POLITIK&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemikiran pokok para politikus kita, saat ini hanya terfokus pada kata ‘menang’, dan memang itulah rumus politik. Kesuksesan dalam dunia politik asumsinya disamakan dengan kompetisi. Kompetisi sepak bola saja —yang diawasi wasit, pengawas pertandingan dan ditonton para penonton— masih juga ternodai oleh sikap &lt;i&gt;unfair &lt;/i&gt;oknum yang ingin menyudahi pertandingan dengan kemenangan. Pemandangan ini serupa dengan apa yang terjadi dalam dunia politik. Dalam dunia politik, kemenangan yang dikompetisikan terkadang harus diraih walau dengan menghalalkan segala cara. Maka bisa kita saksikan di beberapa daerah, persaingan memperebutkan kursi legislatif di tingkat kabupaten/kota dilakukan dengan menjatuhkan partai lain, caleg partai lain atau bahkan dengan menjegal caleg dari partai yang sama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sukses, dalam wacana apapun terlebih dalam politik haruslah mengacu pada tiga variable; di awal (proses meraih kemenangan), di tengah (proses menjalankan amanah setelah memenangkan kompetisi) dan di akhir (setelah masa waktu emban amanah itu habis). Apa yang dilakukan para caleg saat ini, titik fokusnya masih berkutat pada variable pertama, yatu proses di awal. Indikasinya jelas, hampir kebanyakan caleg terkesan terlalu memaksakan diri dalam menggalang kekuatan dan dukungan dengan mengeluarkan modal tinggi. Caleg (lama atau baru) saat ini begitu intens membeli hati masyarakat bawah dan menampakkan diri di tengah warga dengan sangat mencolok. Ratusan bahkan ribuan spanduk-baligo-poster terkesan ditusukkan langsung ke mata warga masyarakat. padahal, di antara banyaknya anggota legislatif yang masih bekerja saat ini, hanya sedikit saja yang manfaat dari prestasi kinerjanya benar-benar dirasakan masyarakat, bahkan sebagian di antaranya mengakhiri masa kerjanya di penjara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;MENYIMAK LATAH POLITIK&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Melelahkan bila kita merenungi kerja keras para politikus kita saat ini. Perubahan definisi pemenang dari nomor urut menjadi suara terbanyak membuat semua calon yang begitu banyaknya itu berpacu meraih kemenangan dengan asumsi bahwa hak meraih kemenangan menjadi seimbang. Semua calon terpacu untuk mengeluarkan segenap kemampuan mental, strategi dan terutama materil demi memenangkan kompetisi. Akibatnya, semua calon masuk ke wilayah ‘latah politik’. Setiap jengkal tanah, semua area kosong menjadi demikian semarak dipenuhi aneka warna spanduk-baligo-poster. Tak usahlah kita berfikir terlalu jauh, dari mana para caleg &lt;i&gt;kere&lt;/i&gt; mencari modal untuk memaksakan diri mengikuti kompetisi dengan ikut-ikutan memasang spanduk-baligo-poster, karena beberapa di antara caleg kaya, ada juga yang tak memaksakan diri dan pemikiran politiknya tak sampai di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang kemudian menarik disimak adalah bagaimana persaingan menjadi memanas di tingkat internal parpol. Di beberapa daerah, persaingan itu mengemuka setelah masing-masing caleg dari partai yang sama memilih tim sukses yang berbeda di dapil yang sama. Gengsi menjadi tim sukses pun dipertaruhkan. Semakin banyak caleg akan &lt;i&gt;cohesif &lt;/i&gt;dengan semakin banyaknya tim sukses, dan semakin banyak tim sukses akan membuat kompetisi menjadi rentan konflik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;PENCERAHAN YANG MENDESAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mau tidak mau, caleg kita hari ini harus mengeluarkan berbagai jurus andalan menuju kemenangan. Resikonya, pengeluaran pun membengkak dan hal ini menggejala dari hulu sampai hilir republik tercinta ini. Akibat dari semua ini, warga masyarakat pemilih, terutama di tataran masyarakat terbawah menjadi objek pembodohan politik. Warga yang tak cukup ilmu politiknya dimungkinkan mempunyai pilihan caleg lebih dari satu, isa dua, tiga atau lebih sebanyak orang yang datang kepada mereka dengan membawa kalender, stiker dan lainnya. Celakanya, para pemimpin di kampung; ketua RT, RW bahkan para ‘ajengan’ pun, karena bukan PNS, mereka pun terbidik untuk melibatkan diri menjadi tim sukses. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila tak ada pencerahan dari berbagai pihak, dan bila tak ada orang yang &lt;i&gt;imparsial &lt;/i&gt;(netral) dalam berpolitik, maka suasana politik di negeri ini akan terus terdegradasi menuju lembah yang lebih bawah. Pencerahan yang dilakukan media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;; televisi, Radio, Koran, pamphlet, brosur, dan lainnya sebetulnya sudah maksimal meskipun —menurut penulis— bagi masyarakat awam, arah pencerahan itu seakan ditujukan bagi orang lain, jauh di tempat yang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun dalam suasana seburuk apapun, kita harus optimis dan berasumsi bahwa apapun yang telah terjadi dan sedang berlangsung, harus menjadi ‘materi’ pencerdasan politik bagi warga masyarakat, terutama masyarakat &lt;i&gt;grash root. &lt;/i&gt;Proses politik di masa kampanye saat ini, adalah proses penyaringan mana politikus kita yang baik (segar) dan mana yang busuk. Ke depan, setiap warga masyarakat akan tahu dan bisa mendesikasikan diri dalam rangka perbaikan kondisi politik, demi menggapai taraf kehidupan yang juga semakin membaik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Wallaahu min waraa al- qashd &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*Penulis adalah peminat masalah-masalah sosial-politik-keagamaan. Tinggal di Tasikmalaya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8193980888752780684?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8193980888752780684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/mendesak-pencerahan-politik-grashroot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8193980888752780684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8193980888752780684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/mendesak-pencerahan-politik-grashroot.html' title='mendesak, pencerahan politik grashroot'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8385069914254350469</id><published>2009-01-11T20:00:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T20:01:25.762-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Tahun 2009 M dan 1430 H Sebagai Tahun Terbaik</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh : Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tak terasa, beberapa saat akan menjelang dan usia kita akan bertambah. Kita akan segera menghirup udara baru di tahun yang baru, tahun yang akan penuh harapan, tantangan, dan perubahan. Semua pasti berharap, perubahan yang terjadi —di tengah kondisi ekonomi dan suasana politik yang belum stabil ini— adalah perubahan menuju keadaan yang lebih baik dan menjanjikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Secara kebetulan, dua penanggalan yang kita kenal, Masehi (&lt;i&gt;syamsiyah&lt;/i&gt;) dan Hijriyah (&lt;i&gt;Qomariyah&lt;/i&gt;) datang dalam waktu yang hampir bersamaan. Bagi sementara orang, perubahan waktu; detik, menit, jam, hari, minggu, bulan ataupun tahun tak berarti apa-apa dan tak ada pengaruhnya sama sekali. Tapi bagi kalangan lainnya, waktu amatlah berharga. Orang-orang Barat berkata, “&lt;i&gt;Time is money”,&lt;/i&gt; itu karena bagi mereka, setiap watu haruslah bermakna dan didayaguna sehingga menghasilkan uang. Tapi bagi orang Arab, “&lt;i&gt;Al-waqtu ka-assaif, in lam taqtha’hu qatha’aka”, &lt;/i&gt;waktu amatlah berharga sehingga kelalaian dalam memanfaatkan waktu amat berbahaya dan mengakibatkan pelakunya dalam kerugian. Untuk itu, Tuhan-pun bersumpah demi waktu, “&lt;i&gt;Demi masa (waktu), sungguh, manusia pastilah merugi” &lt;/i&gt;(QS. al-’Ashr [103]: 1-2).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;POTRET JIWA MUDA KITA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila ditanya, siapa orang yang paling menunggu-nunggu datangnya tahun baru? jawabannya tentulah semua orang. Tetapi yang terutama adalah anak-anak muda atau orang tua yang berjiwa muda. Di berbagai &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dari tahun ke tahun, kita selalu mendengar perayaan tahun baru dirayakan dari perayaan yang biasa saja sampai yang luar biasa. Banyak di antara mereka yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan diri menghadapi pergantian tahun ini untuk menggelar ritual dari yang ‘manusiawi’ sampai ritual yang ‘hewani’. Lihatlah di sana-sini, pesta miras dan narkoba merajalela dan pesta seks bebas meruyak. Bagi mereka, momentum ‘mahal’ itu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Itu karena perayaan menyambut tahun baru umum terjadi di setiap belahan bumi dan sangat identik dengan pesta hura-hura dan penciptaan suasana surgawi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagi para pekerja seni, malam tahun baru adalah puncak dari malam ekspresi. Sekali dalam setahun, mereka mendapat bayaran berkali lipat dari harga regular. Penyanyi, grup band, pelawak, penari, MC, dan semua pihak yang berhubungan dengan dunia seni hiburan memang selalu mematok harga &lt;i&gt;ekstra ordinary. &lt;/i&gt;Bila demikian halnya,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;maka melewatkan malam itu tanpa hiburan sepertinya merupakan kerugian besar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;CARA LAIN MENGISI MALAM TAHUN BARU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengisi malam pergantian tahun seakan sudah menjadi kewajiban, utamanya di kota-kota besar, atau bahkan di berbagai pusat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabupaten/kota lainnya. Bila di Jakarta, warga ibukota itu beramai-ramai menyerbu Ancol, Taman Monas, Taman Mini, dan berbagai pusat keramaian umum yang biasanya acara yang menghadirkan para artis top ibukota itu disiarkan langsung oleh berbagai stasiun televisi. Tak peduli hujan, panas, macet, dan berbagai aksi kejahatan, mereka sedari sore telah menjubeli pusat-pusat keramaian itu dengan membawa sanak keluarga, bahkan anak-anak kecil sekalipun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun tengoklah di beberapa tempat yang lain, mesjid-mesjid besar misalnya. Di Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya bahkan sampai di beberapa daerah perkotaan, anak-anak muda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;—entah datang dari belahan bumi mana— meramaikan pergantian tahun dengan ritual berkumpul, berdiskusi, membaca Alquran, tahajud berasama, muahasabah dan menghabiskan malam dengan meramaikan mesjid-mesjid. Pemandangan yang sungguh kontras dan mencolok ditinjau dari konteks anak muda kekinian. Siapa pun orang tua yang menyaksikan anaknya hadir dalam kumpulan anak-anak tadi pastinya akan terharu dan bangga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Selain di mesjid, ada juga anak-anak muda kita yang mengisi tahun baru ini dengan diorganisir, bersama-sama mendatangi tempat-tempat seperti panti asuhan dan panti jompo. Mereka merayakan acara pergantian tahun dengan membagi kebahagiaan bersama orang-orang yang ‘terbuang’ dari masyarakat lain pada umumnya. Tak hanya di panti asuhan dan panti jompo, di antara mereka ada juga yang membawa dan menyalakan lilin, berkumpul di tempat-tempat terbuka dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengadakan malam renungan. Isian acaranya adalah baca puisi, orasi sampai menyanyi, tapi yang dinyanyikan tentunya adalah lagu religi atau lagu-lagu penggugah jiwa, bukan lagu sembarang lagu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mereka semua, adalah anak-anak muda yang telah terjaga hati dan seluruh pancainderanya, dan itu adalah buah dari pergaulan elite yang melatih dan menguji masa paling berkesan dari semua masa; masa remaja. Disebut elite karena mereka hadir sebagai pengecualian dari umumnya anak muda modern yang ada. Inilah sisi lain dari dunia anak muda kita, hadir sebagai respon dari fenomena mereka-mereka yang salah kaprah dan kebablasan mengikuti arus asumsi publik yang dibangun oleh media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, elektronik ataupun cetak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;TAHUN BARU DAN HARAPAN KITA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tahun 2009 M. dan tahun 1430 H. akan segera menjelang secara bersamaan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; fenomena menarik sekaligus miris terjadi, di mana kalender Hijriyah lagi-lagi terabaikan dan dianaktirikan. Sepertinya, umat Islam sudah lupa dan tak peduli lagi betapa pentingnya momentum hijrah nabi SAW dalam sejarah Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kehadiran tahun yang baru biasanya diidentikkan dengan perubahan nasib dan peruntungan. Namun tahun 2009 ini, dalam konteks ekonomi kita warga dunia sedang mengalami masa-masa terberat yaitu krisis ekonomi yang melanda. Walaupun pemerintah kita cukup berhasil menghalau dampak terberat, namun badai krisis justru diprediksi muncul di tahun 2009 ini. Hari ini saja, kita sudah mendengar berita tentang badai PHK melanda di mana-mana. Beberapa perusahaan telah dan akan segera gulung tikar, dan jantung dari ribuan bahkan jutaan karyawan dan pekerja sedang berdegup dan berharap-harap cemas.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain, 2009 adalah tahun pesta demokrasi anak negeri. Mimpi para caleg dari tingkat kabupatean /&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sampai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;DPR&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; ditentukan di tahun ini. Nuansa kehidupan kita dalam tahun itu, tentunya akan kental didominasi warna politik. Virus politik tidak hanya melanda mereka yang kecanduan ‘nikotin’nya saja, tapi juga akan menjangkiti seluruh penghuni bumi persada &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walau demikian, kita adalah bangsa yang kenyang mengalami nasib serupa di tahun-tahun yang lalu. Berbagai cobaan ekonomi dan politik sebarat apapun telah mampu kita atasi. Kita telah berpengalaman menjadi bangsa yang tak mudah menyerah, dan ini pertanda bahwa kita adalah bangsa yang selalu bekerja keras. Kerja keras jugalah yang bakal kita jadikan bekal dan modal dalam menyongsong tahun depan hingga tahun itu menjadi tahun terbaik bagi kita. Untuk itu, kita telah diberi berbagai pilihan untuk bisa menentukan nasib sekaligus biberi seperangkat modal untuk didayaguna dan dioptimalisasi. Pengalaman demi pengalaman menangani dan menanggulangi kesulitan, mestinya menjadi potensi untuk meraih berbagai harapan, tentunya dibarengi doa dan kerja lebih keras.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung. Mengajar Bahasa Arab di STAI Tasikmalaya.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8385069914254350469?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8385069914254350469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/tahun-2009-m-dan-1430-h-sebagai-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8385069914254350469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8385069914254350469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/tahun-2009-m-dan-1430-h-sebagai-tahun.html' title='Tahun 2009 M dan 1430 H Sebagai Tahun Terbaik'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-7252644797149256462</id><published>2009-01-11T19:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:56:30.164-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Berharap Suci di Hari Fitri</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ahirnya, Ramadhan benar-benar pamit. Ia berkunjung dan setelah menunaikan janjinya, ia kini berangsut pergi. Ia pergi dengan senyuman karena umat Islam sukses mengisi dari A hingga Z-nya dengan penuh khusyuk. Bila ia manusia, betapa ramahnya Ramadhan, betapa bersahabatnya ia karena telah menyertai perjalanan spiritualitas umat yang awalnya bermodal pas-pasan, kini terisi penuh dan siap menyambut esok, sebelas bulan ke depan dengan cukup amunisi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ramadhan pamit dengan meninggalkan inspirasi, bahwa dalam segala hal, umat harus melewatinya dengan bersama-sama. Dimulai dengan lapar yang dirasa bersama-sama diakhiri dengan zakat yang menuntut umat untuk merealisasikan keadilan bersama. Allah swt. menghendaki agar kita tidak membeda-bedakan diri, tidak selalu menghendaki perbedaan dan tidak mencari-cari perbedaan. Pelajaran demi pelajaran dari awal sampai akhir Ramadan ternyata menjadi inspirasi bahwa bila ingin maju, umat harus selalu bersatu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagai ungkapan syukur kepada Allah dan terima kasih kepada Ramadhan, kita telah mengagungkan- Nya (&lt;i&gt;takbir)&lt;/i&gt;, mengesakan- Nya (&lt;i&gt;tahlil) &lt;/i&gt;dan menyampaikan pujian atas nikmat dan anugerah- Nya (&lt;i&gt;tahmid) &lt;/i&gt;di malam satu syawal kemarin dan paginya, kita shalat ‘ied dalam suasana penuh keakraban. Keakraban umat yang ditandai sirnanya dendam dan kebencian di hari itu sering mengundang harap, seandainya tiap bulan adalah Ramadhan dan tiap hari adalah idul fitri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Arti idul fitri, salah tapi benar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;selama ini dan sampai hari ini, ada yang salah tapi benar berkenaan dengan penerjemahan kalimat ‘idul fitri’. Hampir kebanyakan kita mengartikan harfiah ‘idul fitri’ dengan ‘kembali kepada kesucian’. Berarti, ‘ied’ diterjemahkan kembali dan ‘fitri’ (fithr) diterjemahkan kesucian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mari kita cari atau buka di kamus manapun, entah Arab-Arab, Arab-Indonesia ataupun Arab- inggris. Kata ‘ied’ dan ‘fitri’ pasti diketemukan lain dari terjemahan ‘kembali kepada kesucian’. Terjemahan yang benar adalah ‘ied’ artinya hari raya dan fitri (fithr) artinya berbuka. Maka bila diartikan secara harfiah, idul fitri artinya ‘hari raya berbuka’ di mana hari itu umat Islam di seluruh dunia berhari raya dengan mewajibkan mereka makan-makan dan diharamkan melanjutkan puasa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ceritanya begini, penulis masih ingat ketika kuliah di semester &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; jurusan Bahasa dan Sastera Arab UIN Jakarta, ada seorang dosen yang menggugat arti harfiah idul fitri di kelas. Ketika itu penulis tak mempedulikan pendapat pak dosen. Barulah ketika penulis kuliah di PPs (Program Pasca sarjana) di UIN yang sama (jurusan yang sama, Bahasa dan Sastera Arab) empat tahun berikutnya, seorang profesor bidang Bahasa Arab, tepatnya Prof. Dr. Bustami A. Ghani menjelaskan sejelas-jelasnya sambil menyebutkan sejumlah kamus yang bisa diakses di perpustakaan kampus. Ketika penulis sampaikan bahwa Prof. Dr. Quraish Shihab selalu mengartikan ‘kembali kepada kesucian’ dalam tulisan-tulisannya, pak Bustami, mantan rektor UIN Jakarta (dulu IAIN) di era 60-an itu menyuruh penulis menyampaikan salam hormatnya buat penulis tafsir &lt;i&gt;al- Misbah&lt;/i&gt; itu. Penulis juga disuruh menyampaikan bahwa penerjemahan pak Quraish itu tidak tepat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lantas, di mana kebenarannya? Jawabnya, esensi (baca. substansi) idul fitri tak lain adalah kembalinya umat Islam pada jati dirinya, mengenali kembali dirinya sendiri setelah beberapa bulan ditelantarkan dan dibiarkan mengikuti sekehendak nafsunya. Maka bila diartikan ‘kembali kepada kesucian’, idul fitri tidaklah salah meskipun tidak juga tepat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terkadang ‘kembali kepada kesucian’ digeneralisasikan bagi segenap umat Islam. Hari itu biasa digelari ‘hari kemenangan’ padahal tidak semua umat Islam tersinari cahaya Ramadhan lalu suci dan kemudian beroleh kemenangan. Bisa kita saksikan sendiri, terutama di jantung-jantung &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, sebagian orang yang mengaku umat Islam justeru mengotori Ramadhan dan mengajak orang rame-rame mengotorinya. Maka kembali kepada kesucian harus dialamatkan kepada mereka-mereka —saja— yang menghidupkan siang dan malam Ramadhan dengan berjihad melawan hawa nafsu, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan- Nya (takwa).&lt;b&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Berharap kembali suci &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suci di hari raya adalah dambaan semua muslim yang berpuasa. Berbagai doa terucap sebagai penguat harapan agar dosa dengan Allah dan dosa dengan sesama tak lagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersisa. Dalam rangkaian beberapa hari sebelum dan sesudah idul fitri, hp kita berdering lebih dari biasanya. Bagi penulis, mengirim sms menyampaikan &lt;i&gt;tahniah&lt;/i&gt; (ucapan selamat) disertai permohonan maaf dan doa-doa kebaikan adalah wisata lebaran dengan paket murah, seratus rupiah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hadits shahih seputar Ramadhan; puasa, shalat malam, dan amaliah lainnya selalu bermuara pada janji-janji pengampunan dosa. Siapa orangnya yang tidak tergiur dengan janji pengampunan dosa? Siapa yang tidak pernah alpa untuk memenuhi janjinya selain Allah &lt;i&gt;‘azza wa jalla&lt;/i&gt;? Untuk itulah Rasulullah saw., para sahabat dan berbagai generasi saleh setelahnya selalu menyibukkan diri, siangnya, malamnya dan seluruh waktunya untuk meraih ampunan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sang Maha &lt;i&gt;Ghafur..&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kita pastinya yakin akan kebenaran janji Allah dan rasul- Nya, “barangsiapa puasa Ramadhan dengan keimanan dan berharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang terdahulu diampuni Allah (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits yang lain Rasul bersabda, “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan berharap ridha Allah, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah.” (HR. Muslim). “Barangsiapa yang shalat pada malam lailat &lt;i&gt;al- qadr &lt;/i&gt;dengan keimanan dan berharap ridha Allah&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; Allah akan mengampuni dosa-dosanya. (HR. Bukhari Muslim). Hadits-hadits di atas baru sebatas ibadah ritual antara hamba dengan Tuhannya. Dari dimensi sosial, Ramadhan dan idul fitrinya juga kental dengan rangkaian pembersihan dosa adami. Saling bersalaman &lt;i&gt;(mushafahah&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;ta’aafii&lt;/i&gt;), walau sederhana tapi efek positifnya disampaikan Rasulullah, “Tidaklah dua orang muslim bertemu dan bersalaman, kecuali Allah ampuni dosa keduanya sebelum keduanya berpisah.” (HR. Abu dawud). Demikian juga &lt;i&gt;silaturahim &lt;/i&gt;(silaturahmi dalam istilah bahasa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;) dan saling berkunjung, pahala besar dan pembebasan dari dosa menanti mereka yang selalu membiasakannya. &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka lengkaplah sudah, seluruh rangkaian ibadah, &lt;i&gt;mahdhah&lt;/i&gt; (langsung dengan Allah) atau &lt;i&gt;ghair mahdhah&lt;/i&gt; (dengan sesama) yang melibatkan hati, mata, tangan, kaki, lidah dan semua anggota tubuh di bulan Ramadhan dan diakhiri idul fitri pada hakikatnya adalah rangkaian pembersihan seluruh aspek kemanusiaan manusia, baik di hadapan Allah ataupun di hadapan manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka, dengan idul fitri, umat Islam —kita khususnya— telah diberi kesempatan yang sempurna untuk kembali kepada jati dirinya, kembali pada kesucian. Pertanyaan “apakah hari ini saya telah suci?” harus kita arahkan pada diri sendiri karena kita cemas, jangan-jangan kesucian itu menjadi milik orang lain, jangan-jangan kita hanya kebagian lapar dan hausnya saja. Akhirnya, penulis menyampaikan, selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin. &lt;i&gt;Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, akhlash al-tahaanii wa athyab al- tamanniyaat bi’iid al- fithr al- mubaarak&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-7252644797149256462?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/7252644797149256462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/berharap-suci-di-hari-fitri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/7252644797149256462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/7252644797149256462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/berharap-suci-di-hari-fitri.html' title='Berharap Suci di Hari Fitri'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-3371607125943760884</id><published>2009-01-11T19:53:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:55:05.561-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Idul Fitri, Setan pun Berdinas Kembali</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Idul fitri telah tiba, kesucian pun telah diraih. Beribu do’a terpanjat dan kata maaf membanjiri. Hari ini betul-betul menjadi hari milik umat Islam. Pengampunan dari Allah dari keikhlasan berpuasa ditambah pula pemaafan dari sesama. Lengkaplah kebahagiaan ini manakala sanak saudara dan handai taulan berkumpul dalam suasana lebaran yang penuh nuansa kebersamaan dan kepedulian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Namun ada euphoria berlebih di sana-sini, utamanya bagi mereka yang tidak tulus berpuasa. Kebahagiaan idul fitri dimaknai kebebasan dan kemerdekaan. Lihatlah di pojokan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, tengok pula di sudut sebelah sini, baru saja Ramadan pergi, ia langsung dilupai. Benar juga kata nabi, Ramadan adalah belenggu setan, dan ketika Ramadan pergi, setan pun kembali beraksi. Di balik nuansa idul fitri yang membahagiakan, ada panorama yang menyedihkan, yaitu merajalelanya kembali kemaksiatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Tulisan ini adalah &lt;i&gt;in’ikas&lt;/i&gt; (refleksi) dari penulis setelah sekian lama mengintip sebagian umat Islam yang tenggelam dalam ‘memperlakukan’ idul fitri sehingga melenceng keluar dari &lt;i&gt;track&lt;/i&gt;nya. Ketika di bulan Ramadan dibelenggu, setan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya saja, ‘penataran’ yang dilakukannya terhadap manusia —umat Islam khususnya— dalam sebelas bulan sebelumnya telah menjadikan mereka begitu lancar dan akrab dengan kesalahan dan dosa walaupun di bulan Ramadan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Hakikat setan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Secara terminologi, &lt;i&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt; mendefinisikan setan sebagai roh jahat yang selalu menggoda manusia agar berlaku jahat. Dalam &lt;i&gt;asy- Syaithan wal- Insan&lt;/i&gt;, Mutawalli al- Sya’rawi menjelaskan bahwa setan terdiri dari golongan jin dan manusia yang keduanya dihimpun oleh sifat dan tugas yang sama, yaitu menyebarluaskan kedurhakaan dan kerusakan di bumi (QS. Al- An’am [6] : 112).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Sejak memproklamirkan diri sebagai musuh bagi manusia, setan bertekad untuk bekerja maksimal demi meraih target optimal yaitu agar semua anak Adam masuk neraka. Ia akan terus dan terus memanfaatkan kelengahan manusia dan mencari berbagai celah agar manusia terjerat masuk ke dalam berbagai perangkap yang ia tebar. Sebaliknya, para ulama pun telah bekerja maksimal untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang setan ini dari al- Quran dan hadits-hadits nabi. Keingintahuan mereka dalam mencari informasi tentang setan ini adalah untuk mencari tahu titik kekuatan sekaligus kelemahan setan, sehingga umat bisa selamat dari makar dan tipu dayanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kekuatan setan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kekuatan pertama setan adalah&lt;i&gt; ketersembunyian. &lt;/i&gt;Ketika bertemu musuh yang terlihat, kita kadang sulit untuk menghadapinya, bahkan mungkin kita yang dikalahkannya, maka apalagi bila yang dihadapi adalah musuh yang tersembunyi. Tentang ketersembunyian ini Allah firmankan dalam al- Quran, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; al- A’raf ayat 27 “&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kekuatan yang kedua adalah setan &lt;i&gt;masuk ke dalam diri manusia.&lt;/i&gt; Al- Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah. Bahkan setiap manusia didampingi setan yang dalam al-Quran disebut &lt;i&gt;qarin,&lt;/i&gt; “&lt;i&gt;Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman (qarin) yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka &lt;/i&gt;(QS. Fushshilat [41] : 25). Keberadaan setan yang mendampingi manusia bermacam-macam. Pakar hadits, Ibnu Abi Dunya meriwayatkan sabda nabi, “setannya orang mumin letih dan kurus, seperti letihnya unta dalam perjalanan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Ketiga, setan punya &lt;i&gt;kemampuan membentuk diri dalam berbagai bentuk.&lt;/i&gt; M. Quraish Shihab, dalam buku &lt;i&gt;yang tersembunyi&lt;/i&gt; menukil buku &lt;i&gt;gharaib al&lt;/i&gt;- &lt;i&gt;jinn wa&lt;/i&gt; &lt;i&gt;‘ajaibuhu&lt;/i&gt; karya asy- Sibli yang menyebutkan bahwa banyak sekali literatur yang mengungkapkan kisah-kisah yang menggambarkan poin ini. Yang menarik adalah tuturan M. Quraish Shihab bahwa dari kemampuan mengambil aneka bentuk itu, setan dapat mengambil bentuk manusia yang biasa digemari atau diidolai sehingga pada akhirnya manusia diantar untuk lengah dan terjerumus. Kekuatannya ini sering menjadikan euphimisme (penghalusan bahasa) dari kemaksiatan yang dilakukan manusia. Minuman keras dan zat adiktif sering diganti nama dengan sumber tenaga, kekuatan dan kepercayaan diri. Pornografi, sensualitas dan pornoaksi diibahasakan sebagai hak ekspresi, budaya dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kekuatan yang keempat, setan sangat &lt;i&gt;lihai, gigih dan sabar.&lt;/i&gt; Memanfaatkan keadaannya yang tersembunyi, setan menggoda dan menghiasi dosa-dosa dengan berbagai keindahan (rujuk QS. [&lt;st1:time minute="43" hour="18" st="on"&gt;6:43&lt;/st1:time&gt;], [&lt;st1:time minute="48" hour="8" st="on"&gt;8: 48&lt;/st1:time&gt;], [27: 24], [29: 38]). Usaha setan selalu berhasil dan andaipun gagal, ia akan datang dan datang lagi sehingga ia menang dan puas. Ia berkata, “&lt;i&gt;saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat&lt;/i&gt;).” (QS. Al- A’raf [7] : 16-17). Tentang keuletan, kegigihan, kesabaran dan kelihaian setan nabi pernah berkata pada Umar bin Khattab, “ Hai Umar, jika setan gagal menggodamu dari satu jalan, ia akan datang lagi menggodamu dari jalan yang lain.” (HR.Bukhari Muslim).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kelemahan setan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Jika manusia sering ingin &lt;i&gt;show of force, &lt;/i&gt;setan pun demikian. &lt;i&gt;Show of force&lt;/i&gt; adalah langkah siapapun untuk menyembunyikan kelemahan. Ternyata, setan pun punya kelemahan-kelemahan yang harus kita tahu untuk bisa mengalahkannya. Namun harus juga diungkapkan, jika setan mempunyai kekuatan, maka manusiapun punya kekuatan. Kalaulah ada setan dalam tubuh manusia dan maenjadi &lt;i&gt;qarin&lt;/i&gt;, maka dalam diri manusia pun ada malaikat yang selalu mendampingi. &lt;i&gt;“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah&lt;/i&gt; (QS. Ar- Ra’d [13]: 11)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kelemahan setan yang pertama adalah &lt;i&gt;keterbatasan&lt;/i&gt;. Jangan menduga bahwa setan memiliki kemampuan yang luar biasa. Jangan juga menduga bahwa kita tidak bisa mengalahkannya. &lt;i&gt;“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(QS. An- Nisa [4]: 76). Ia tidak punya kekuasaan —walaupun ia mampu menembus angkasa— bila kita memperkokoh keimanan dan ketawakalan. “&lt;i&gt;Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.” &lt;/i&gt;(QS. An- Nahl [16]: 99)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kedua, kelemahan setan adalah&lt;i&gt; takut. &lt;/i&gt;Aisyah ra. meriwayatkan sabda nabi, &lt;i&gt;“aku melihat setan jin dan manusia lari menjauhi umar.”&lt;/i&gt; Seorang tokoh tabiin, Mujahid berkata, “setan lebih takut kepada kalian daripada ketakutan kalian kepadanya. Bila ia datang dan menggoda, bertahanlah! Pasti ia akan pergi.” &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ulama berkata, “jika anda takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepada anda”. Lantas, mengapa setan takut? Setan takut karena ia tahu bahwa Allah akan membela hamba-hamba- Nya yang berlindung kepada- Nya. Allah berfirman&lt;i&gt;, “karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu&lt;/i&gt; (QS. Ali ‘Imran [3]: 175).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kelemahan ketiga, setan itu &lt;i&gt;khannas (tersembunyi, mundur, kembali&lt;/i&gt;). Setan, apabila dihadapi dan dilawan ia akan pergi dan mundur lalu menghilang. Hal ini sesuai dengan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sabda nabi, “Setan bersembunyi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan bercokol di hati manusia apabila ia lengah. Apabila ia berzikir, setan pun mundur dan menjauh.” (HR. Bukhari). Maka amat wajar dalam al- Quran banyak sekali ayat yang mengingatkan perlunya berzikir baik sebelum atau saat digoda setan. &lt;i&gt;“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah&lt;/i&gt;” (QS. Al- A’raf [7]: 200)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kelemahan kelima bagi setan adalah &lt;i&gt;lokasi godaan&lt;/i&gt;. Setan mempunyai kemampuan memperkuat jeratannya bila seseorang menetap pada lokasi godaan. Lokasi godaan setan adalah tempat-tempat hiburan, kehidupan malam, pasar, tempat-tempat kotor dll. Maka ketika seseorang meninggalkan lokasi jeratan setan, jerat-jerat itu satu persatu lepas sehingga setan menggoda mulai lagi dari awal. (rujuk al-Quran &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; al- An’am [6] ayat 68).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Keenam, kelemahan setan ada dalam &lt;i&gt;asal kejadiannya&lt;/i&gt;. Setan tercipta dari api, dan kehidupan mengajarkan bahwa api akan padam dengan air. Maka nabi bersabda, “&lt;i&gt;sesungguhnya amarah bersumber dari setan, dan setan tercipta dari api. Maka jika salah seorang dari kalian marah, berwudhulah!&lt;/i&gt; (HR. Ahmad dan Abu Dawud).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Selanjutnya yang terakhir, kelemahan setan terletak pada &lt;i&gt;kesudahan.&lt;/i&gt; Iblis dan semua setan pasti akan mati. Setelah kematian menjemput, ia seperti manusia akan dihisab dan diminta pertanggungjawaban. Kematian setan terjadi, apakah sebelum kiamat atau sesaat sebelum kiamat. “&lt;i&gt;dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia,”&lt;/i&gt;. Ayat ke 25 dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Fushshilat ini menurut M. Quraish Shihab dalam &lt;i&gt;al- Misbah&lt;/i&gt;nya adalah dalil bahwa seperti manusia, setan dan jin sudah banyak yang mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Tetap berjaga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Hari ini Ramadan telah pergi, ia akan semakin menjauh dan sedikit demi sedikit nuansanya akan sirna, tenggelam di makan waktu. Bagi kita, cahaya Ramadan masih belum meredup, ia akan tetap terang dalam memandu langkah ke depan. Pengetahuan akan hakikat setan akan membantu kita dalam menentukan arah hidup di dunia yang masih menyisakan sisa umurnya. Bila pengetahuan tentang setan itu ada, maka yakinlah, tanpa Ramadan pun kita akan tetap bisa berjaga. &lt;i&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-3371607125943760884?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/3371607125943760884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/idul-fitri-setan-pun-berdinas-kembali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3371607125943760884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3371607125943760884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/idul-fitri-setan-pun-berdinas-kembali.html' title='Idul Fitri, Setan pun Berdinas Kembali'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-1759595629477412969</id><published>2009-01-11T19:47:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:48:48.473-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Di Penghujung Kesempatan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Memoar seorang yang ‘gagal panen’ Ramadhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ibarat lomba marathon, aku bersyukur, di belakangku masih banyak peserta yang tertinggal. Aku terus berlari, walau tenaga nyaris habis dan keringat kering terkuras. Tapi tetap saja aku tak jua masuk di hitungan para pemenang. Di depanku, jumlah peserta malah jauh lebih banyak dan aku tak mungkin, bahkan mustahil menyusul satu persatu di sisa tenaga yang masih bisa kuandalkan. Semua peserta di depanku melaju lebih cepat karena garis finish tersisa beberapa puluh meter di depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ya, itulah petualanganku melewati emasnya kesempatan yang Tuhan tawarkan dalam sebulan ini. Medali emas yang berturut-turut kuraih di belasan tahun ke belakang harus lepas dari genggaman dan kini, yaa Tuhan… perunggu pun malah direbut orang. Apa sebenarnya yang terjadi? padahal sebelum lomba digelar, aku mempersiapkan suplemen batin dengan daftar vitamin yang lebih lengkap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tahulah aku, Tuhan adalah sumber segala dan tujuan semua. Aku tahu itu meski pesona ambisi seringkali menutupi. Ramadhan adalah misil semua misil. Kasih sayang Tuhan tumpah dan meruahi ruang dan waktunya. Sayang, aku menangkapnya hanya di hari kesatu dan kedua saja. Selebihnya, aku sibuk dengan berbagai sibuk. Salahnya, tanggung jawabku terhadap Yang Maha Agung kalah dipecundangi tanggung jawabku terhadap makhluk- Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Mestinya, tensi kegiatanku di bulan dan tahun ini berangkat dari hangat, lalu bertambah hangat dan kemudian panas. Tiga tahapan dari tigapuluh hari yang dihidangkan malah kuputarbaliki. Sepuluh hari pertamanya panas, keduanya hangat dan ketiganya —&lt;i&gt;astaghfirullah&lt;/i&gt;— dingin. Tak sulit sebenarnya mencari ‘dalang’ kegagalan dari hal yang sebenarnya aku tahu dari awal, “malas”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tahu, bulan beribu gelar ini berkunjung —menurutku— hanya padaku saja. Tak kupungkiri bahwa janji-janji Sang Penghadir ‘bulan super’ ini benar-benar benar dan betul-betul betul. Tapi nyatanya, aku malah membelakanginya, lalu menjauhi tamu yang datang dengan membawa segala-galanya ini. Pikirku, esok pun masih punya sempat untuk bisa merajut hari dengan penuh arti. Hari-hari yang merayap, tak tahunya telah hampir tiba di garis finish, dan sungguh, aku belum mengerjakan apa-apa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Aku malu, Tuhan datang padaku dengan membawa hadiah indah yang berbentuk Ramadhan. Aku bertanya pada diri, hadiah apa yang lebih mahal dari Ramadhan? Dan kujawab sendiri, “ada!”. Ia adalah hidayah dan taufik- Nya hingga setiap orang —dan aku termasuk salah satunya— mampu menyadarkan diri dan bisa mencicipi hidangan demi hidangannya, seperti dulu dinikmati oleh para pemburu ‘kuliner batin’ Ramadhan; para ulama dan orang-orang shalih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Untungnya, kesadaran diri itu akhirnya hadir di penghujung kesempatan. Walau tersisa sehari, harga Ramadhan tetaplah mahal dan tak bisa dibeli. Harapan untuk mengejar ketertinggalan menyeruak setelah ketakberdayaan diri dihantam goda ambisi dua puluh hari lebih lamanya. “Ini hari terakhir bung! Bangunlah dan bangunkan jiwamu”, demikian batin berbisik. Maka aku segera melangkah sempoyongan. Pecahan-pecahan pertanyaan memenuhi batok kepala, “bisakah sehari menutupi dua puluh sembilan hari? bisakah satu jam membayar hutang sehari? Bisakah aku mengejar para peserta lain yang beberapa langkah lagi mengakhiri kompetisi?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Aku tak berdaya dan kurang selera. Di balik bongkahan daging, tulang dan darah yang dibalut kulit tipis ini jiwaku memanggil-manggil Sang &lt;i&gt;Maula ‘Azza wa Jalla. &lt;/i&gt;Daripada kepalang malu, aku mencoba melawan sungkan dan berjuang meraih alasan. Aku yakin dan keyakinan ini menjadi modal di sisa hidupku, bahwa bagi Tuhan, tidak ada kata terlambat. &lt;i&gt;Maa lam yugharghir&lt;/i&gt; kata Nabi, kesempatan itu terbuka jauh dari lebarnya asa semua penghuni makhluk di kolong jagat. Dan ternyata, Tuhan maha &lt;i&gt;rahman,&lt;/i&gt; ia yang paling &lt;i&gt;rahim.&lt;/i&gt; Aku tersungkur, hatiku kulekatkan pada- Nya. Aku berbisik sejadi-jadinya, :&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tuhan, terima kasih masih Kau gerakkan hati ini untuk mengingat- Mu, masih Kau basahi bibir ini untuk menyebut- Mu, masih Kau sinari batin ini untuk meraup laba dari secuil zikir yang tersisa, secarik wirid yang masih sempat terlafalkan, dan seuntai puji atas berjuta karunia, walau itu hanya tersembahkan sehari dari tiga puluh yang ada.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tuhan, syukurku terpanjat hanya untuk- Mu, detik-detik terakhir bulan- Mu masih menyisakan semilir harum yang masih bisa kuhirup. Aku tahu Engkaulah yang mencipta detik dan menit. Bukankah Engkau yang memfirmankan &lt;i&gt;ana al- dahru &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Akulah pencipta, pemilik dan pengendali masa)? Sisa waktu yang tersedia adalah nikmat terlezat yang Kau khususkan untukku, sekali lagi, khusus untukku. Maka izinkan aku mengenyangkan sisi kesadaran ini untuk hanya membutuhkan- Mu, berlindung hanya pada- Mu, berbisik hanya dengan- Mu, untuk lalu meraup ridha- Mu, mendulang maghfirah- Mu dan memanen cinta- Mu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tuhan, aku mengaku, di saat semua orang berburu janji-janji maghfirah- Mu, aku malah ma’syuk dalam ketakmengertian. Bodohlah aku yang menyia-nyiakan raihan ampunan di bulan pengampunan. Tapi Engkau maha penguji, dan di hari perpisahan ini, kesempatan datang lagi dan untuk kali ini aku sambut sehangatnya. Walau hanya sehari yang ada, engkau maha kuasa menjadikannya hari terkhusus. Aku mengaku dan Engkaulah yang mengampuni Adam setelah ia mengaku alpa (QS. Al- Baqarah [2]: 37) ), Engkau juga telah mengampui Musa yang mengaku berlaku salah (QS. Al- Qashash [28]: 16), Engkau pulalah yang memaafkan Yunus yang mengaku bahwa ia zhalim (QS. Al- Anbiya [21]: 27 ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tuhan, Ramadhan sesaat lagi pamit dan aku tak tahu apa kami akan saling menyapa lagi di tahun depan. Maka ijinkan aku menghabiskan sisa waktu ini untuk memadu rindu. Sibukanlah bibir, hati, tangan, mata, lidah, telinga dan segalanya untuk menapaki tangga-tangga menuju- Mu. Maka pagutkan aku dengan mesjid- Mu, al- Quran- Mu dan segala ibadah- Mu. Biarkan aku melepas tamuku dengan saling melebar senyum, berpisah dengan air mata bahagia di atas bahagia- Mu menerima taubatku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tuhan, sebagaimana nabi- Mu, harapanku hanya tertambat pada- Mu, pertemukan kami lagi, yakinkan aku bahwa kami hanya berpisah setahun, tahun depan kami akan memagut hari dalam kesyahduan yang lebih lagi, hari-hari yang akan mengantarku menggenggam taqwa yang hakiki, taqwanya ramadhan- Mu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tuhan, puaskan aku hari ini, taubatkan aku… amiin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-1759595629477412969?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/1759595629477412969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/di-penghujung-kesempatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1759595629477412969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1759595629477412969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/di-penghujung-kesempatan.html' title='Di Penghujung Kesempatan'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-3967505869451661355</id><published>2009-01-11T19:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:47:15.212-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Muhasabah Ramadhan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(QS. Al- baqarah [2]: 284)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Muhasabah, ya, kata muhasabah sudah tak asing lagi di telinga warga muslim &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, utamanya ketika KH. Abdullah Gymnastiar ‘bertengger’ di puncak popularitasnya. Kata muhasabah berasal dari bahasa Arab, &lt;i&gt;haasaba yuhaasibu muhaasabatan wa hisaaban&lt;/i&gt; yang berarti menghitung atau mengalkulasi. Muhasabah dianjurkan agar kita rajin menghitung diri, membandingkan kebaikan dan kesalahan yang dilakukan anggota tubuh, terutama titik-titik sumber datangnya dosa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Muhasabah, dianjurkan terutama di saat-saat penting dan dalam suasana taubat. Ayat ke 284 dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; al- Baqarah ini, ketika turun mengundang ‘protes’ dari kalangan sahabat. Bagaimana mungkin mereka mampu untuk selalu ada dalam suasana spiritual yang tak terputus? Padahal —sebagaimana kita— mereka pun sering lalai dan butuh suasana &lt;i&gt;relaks&lt;/i&gt;. Mereka tak berdaya bila apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka harus diperhitungkan oleh Allah di hari perhitungan nanti. Protes mereka didengar, dan ayat lain hadir menjawab keresahan, “&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; (QS. Al- baqarah [2]: 286).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kisah yang pastinya membuat kita ciut dan terundang untuk merenung. Konon, Abdullah bin Umar setiap kali membaca ayat ini selalu saja menangis. Ketika ditanya kenapa, ia selalu menjawab, “perhitungan yang akan terjadi di hari itu (kiamat) lebih dahsyat dari yang mampu kita bayangkan!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bahana &lt;i&gt;muhasabah &lt;/i&gt;memasyarakat di kalangan sahabat di masa pemerintahan Umar bin Khattab. Para ulama kita sering mendendangkan kata-kata yang dilantunkan khalifah yang terkenal adil ini, “hitunglah (muhasabah) diri sebelum kau dihisab nanti, timbanglah amalmu sebelum kau ditimbang di ‘gelanggang’ mizan, dan berhiaslah dengan amal saleh demi kesenanganmu di hari ‘pameran terbesar’ (kiamat) nanti.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Umar bin Khattab, dari dialah kita tahu bagaimana gambaran sebenarnya dari muhasabah. Kata-katanya diresapi dan dipraktekannya sendiri. Anas bin Malik pernah menyertai Umar dalam sebuah perjalanan dinasnya sebagai khalifah. Ketika lewat di rumah tak bertuan, Umar masuk sendirian sementara Anas di luar. Apa yang dikatakan Umar dari dalam rumah didengar jelas oleh Anas. Umar berkata pada dirinya sendiri, “&lt;i&gt;Hai Umar, apa yang akan kau pilih, taqwa kepada Allah dan berlaku adil sebagai pemimpin atau kau akan memilih azab Allah karena ketidakadilanmu?”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata Umar lainnya pun cukup melegenda dan sering didengungkan para ulama ketika berada dalam ritual &lt;i&gt;muhasabah&lt;/i&gt;, atau ketika berhadapan dengan dosa dan kemaksiatan yang akan dilakukannya, “&lt;i&gt;jawaban apa yang akan kau sampaikan nanti ketika Tuhan meminta pertanggungjawaban dari perbuatan yang kamu lakukan?”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ramadan, bulan muhasabah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hari ini adalah hari terakhir dari Ramadan tahun ini. Berarti kita akan ditinggalkan bulan mulia ini dalam hitungan jam, atau bahkan hitungan menit. Kita tak tahu dan pastinya takan pernah tahu dalam posisi apa dan kondisi bagaimana kita melewatkan detik-detik terakhirnya. Yang kita tahu, suasana sakral Ramadhan akan berlalu, lalu menghilang dan kita jelang lagi dua belas bulan ke depan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mestinya, muhasabah adalah ibadah rutin dan tak perlu bertanya kapan dan dimana dilakukannya. Tapi Ramadan, dari dahulunya memang kental dengan nuansa muhasabah. Bagaimana tidak, nabi Muhamad sendiri yang menjanjikan keterampunan dosa bagi hambanya yang bermuhasabah di bulan ini. &lt;i&gt;Ihtisab&lt;/i&gt;, satu kata yang sering diartikan ‘mengharap ridha Allah’, justru ditafsirkan muhasabah oleh Prof. Quraish Shihab. Maka waktu yang paling tepat untuk melakukannya adalah hari ini, hari terakhir Ramadan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mari bermuhasabah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seringnya kita lalai dan karenanya kita lupa apa yang telah terjadi setahun ke belakang. Terlalu jauh untuk menjangkaukan ingatan akan kelakuan kita sebelas bulan sebelum kedatangan Ramadan, karena yang kita lakukan selama sebulan ini pun mungkin sudah tak kita ingat lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan muhasabah, kita akan mengenali mana anggota tubuh kita yang paling sering diumbar masuk dalam dunia dosa dan pelanggaran. Di antara kita mungkin ada yang langsung menemukan, lidahlah anggota badan yang paling dibiarkan bebas mengumpat, mengejek, mencibir, menghasut, menyumpahi, membicarakan aib teman dan saudara, berkata jorok dan kasar, memfitnah, membuka rahasia, mengumbar janji sana-sini, memarahi teman, adik-kakak, anak bahkan isteri sendiri. Lidah jugalah anggota badan yang sering kita jauhkan dari memuji dan menghargai, baca alquran, dzikir dan wirid, berdakwah mengajak orang beramal baik, mendamaikan teman dan saudara dan lain-lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga di antara kita yang langsung menunjuk hati sebagai anggota badannya yang paling dibiarkan liar. Kita sering membiarkan hati terjepit pengap dalam siksaan rasa iri, dengki, ambisi dan angan kosong. Darinya pula lahir benci, kesumat, niat jelek, dendam, selalu ingin dipuji tinggi hati dan sombong. Pertemanan yang akrab dengan itu semua membuat hati kita terlantar dan terbiar, jauh dari sifat rendah hati, cinta sesama dan selalu terpanggil dalam segala kebaikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Atau mungkin mata dan telinga yang paling dominan kita korbankan untuk bebas sebebas-bebasnya. Mata kita betah untuk mengintip, mengintai, membaca dan memandang aurat, aib orang, tontonan-tontonan kotor, buku-buku dan bacaan-bacaan porno. Telinga kita pun terlanjur diakrabkan dengan omongan-omongan dosa, musik-musik nista, ocehan-ocehan kotor dan bukan alquran, lagu-lagu Islami juga nasehat-nasehat para dai, mubaligh dan para ulama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di antara kita, ada juga mungkin yang dominasi dosa dan kesalahannya terpusat di tangan dan kakinya. Tangannya terbiasa dilajurkan untuk mencuri dan mengutil, memukul dan menampar, mencubit dan mencakar, menengadah dan meminta, bukan memberi dan menyantuni, mengelus dan membelai anak, istri, dan orang yang sewajibnya dikasihi. Sementara kaki, seringnya kita biarkan untuk mengantar hasrat negatif ke tempat-tempat terlarang, menendang dan menghardik orang dan lain-lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Diawali pamitnya ramadan&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhir Ramadan tahun ini adalah momentum untuk bertanya pada diri masing-masing, “kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi? Kehadiran Ramadan yang dinanti, pamitnya pasti ditangisi. Tangis di akhir Ramadan akan sia-sia bila tak disertai tekad untuk berubah, tekad untuk melewati hari-hari ke depan jauh lebih baik, berkualitas dan bertakwa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengenali lidah, hati, mata, telinga, tangan, kaki dan segenap panca indera yang dihasilkan dari ritual muhasabah akan megantarkan kita pada pemahaman sebenar-benarnya akan makna hidup dan kehidupan. Dengan memahami makna kehidupan, kita akan beranjak untuk menghargai diri, keluarga, sesama dan juga lingkungan sekitar. Bila hal ini berhasil kita coba dan ulangi, maka berarti kita akan lebih siap menjelang hari-hari ke depan dengan senyum optimis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Wallaahu mi waraa al- qashd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*Dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-3967505869451661355?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/3967505869451661355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/muhasabah-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3967505869451661355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3967505869451661355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/muhasabah-ramadhan.html' title='Muhasabah Ramadhan'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-3653526137236677756</id><published>2009-01-11T19:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:45:16.224-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>I'tikaf, Sunnah yang Hampir Punah</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;oleh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika ditanya tentang i’tikaf, syaikh al- Syirbashi, penulis buku &lt;i&gt;yasaluunaka fi al- din wal-hayat&lt;/i&gt;, menegaskan bahwa i’tikaf adalah &lt;i&gt;sunnah takaadu takuunu mahjurah &lt;/i&gt;(kebiasaan nabi yang sudah hampir ditinggalkan)&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Jawaban mantan rektor Universitas al- Azhar Mesir ini, beberapa lamanya mengendap dalam dada dan pikiran penulis yang berharap, pada saatnya nanti satu judul tentang i’tikaf ditulis secara eksklusif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Alhamdu lillah&lt;/i&gt;, momentum itu akhirnya datang juga. Selasa sore, &lt;st1:date month="9" day="23" year="2008" st="on"&gt;23 september 2008&lt;/st1:date&gt; yang bertepatan dengan 23 Ramadan 1428 H, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) menggelar kajian Ramadan dengan tema “sepuluh hari terakhir bersama keluarga Rasulullah”. Kajian yang berlangsung 90 menit itu memunculkan aneka pertanyaan yang tak penulis duga. Pertanyaan itu, selain berkisar tentang &lt;i&gt;lailat al- Qadr&lt;/i&gt; juga tentang &lt;i&gt;sunnah i’tikaf.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Lebih mengenal I’tikaf&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila kita rajin meluangkan waktu menengok mesjid-mesjid di malam-malam akhir Ramadan, kita bisa membuktikan statemen al- Syirbashi ini benar. Walaupun ada generasi muda ataupun tua yang menyengaja meramaikan mesjid di pertengahan malam, itu hanya dilakukan oleh segelintir saja, ibarat satu tetes dari samudera umat yang begitu luasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;I’tikaf adalah berdiam diri (&lt;i&gt;al- mukts&lt;/i&gt;) di mesjid beberapa saat, bisa lama atau sebentar, dilakukan seorang muslim yang balig dan suci, dengan niat&lt;i&gt; taqarrub&lt;/i&gt; kepada Allah. Ulama telah sepakat tentang disyariatkannya i’tikaf ini. Imam al- Nawawi, al- Syaukani dan Ibnu Arabi berpendapat bahwa hukum i’tikaf adalah sunat muakkad. Imam Abu Dawud dan Ahmad menyatakan, tidak ada ikhtilaf di kalangan ulama tentang sunatnya I’tikaf. Tapi al- Syaukani menegaskan bahwa para ulama juga sepakat bahwa i’tikaf tidaklah wajib. Wajib i’tikaf, menurut mereka hanyalah bagi mereka yang bernadzar melakukannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam buku &lt;i&gt;zaad al- ma’aad&lt;/i&gt;, Ibnu Qayyim al- Jauziyyah menyebutkan hikmah i’tikaf dengan menulis “&lt;i&gt;kelebihan makan dan minum, kelebihan bergaul dengan sesama dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kelebihan tidur telah membuat hidup manusia timpang, lalu itu semua menghalangi, melemahkan, menghentikan atau bahkan memutus rantai hubungannya dengan Sang Pencipta. Kelebihan-kelebihan ini (makan, pergaulan dan tidur) diperbaiki oleh shaum Ramadan, terutama dengan disyariatkannya I’tikaf. Dengannya, seorang hamba bisa merapatkan diri hanya kepada Allah, segenap jiwa raganya, lidah dan hatinya hanya terfokus untuk memuaskan-Nya. Maka keakraban pun hanya terpusat pada- Nya.”&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hadits al- Bukhari dan Muslim tentang rutinitas sepuluh hari terakhir yang diisi penuh oleh Rasulullah untuk i’tikaf menjadi dalil bahwa kegiatan ini dijadikan kesenangan, bahkan hiburan yang menyenangkan dimensi rohani bagi nabi. Beliau melakukan iI’tikaf di sepuluh hari terakhir sampai akhir hayatnya, lalu istri-istrinya melanjutkan tradisi itu sepeninggal nabi. Dalam hadits juga dikisahkan, nabi pernah tertinggal i’tikaf di satu hari, kemudian beliau meng&lt;i&gt;qada &lt;/i&gt;(mengganti) i’tikafnya yang batal itu di bulan Syawal. Nabi, di tahun kewafatannya bahkan melakukan i’tikaf pada dua puluh hari terakhir bulan Ramadan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits bahwa Nafi’, seorang tabi’in pernah diperlihatkan satu titik di mesjid Nabawi, yaitu tempat i’tikafnya nabi oleh Abdullah bin Umar. Ini, demikian para ulama, menjadi dalil bolehnya seseorang membuat tempat khusus untuk I’tikaf di mesjid bila itu bisa menambah nilai kekhusyuan dan tidak mengganggu hak-hak orang lain dan tidak &lt;i&gt;riya&lt;/i&gt; (ingin pamer ibadah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tentang ketentuan tempat beri’tikaf, para ulama berbeda pendapat apakah harus di mesjid jami’ atau boleh di setiap mesjid. Sebagian ulama mensyaratkan di mesjid jami, sebagian lainnya membolehkan di mesjid manapun asal mesjid itu dipakai shalat berjamaah. Sementara itu, sebagian ulama membolehkan i’tikaf bagi perempuan dengan mengambil tempat di mushalla rumahnya. Adapun waktu dan lamanya i’tikaf, para ulama tidak menentukan batas waktu, apakah seharian, sejam atau bahkan hanya beberapa saat selama dia berada di mesjid, berniat i’tikaf dan di dalamnya hanya melakukan kebaikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kita selalu berlebihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ibadah i’tikaf, bila dibiasakan akan betul-betul mendidik kita akan pentingnya penguasaan diri. Tengoklah diri kita, mata kita sering berlebihan memandang hal yang dilarang, telinga kita sering berlebihan mendengar hal yang tak benar, lidah kita sering berlebihan menyebut hal yang tak patut, hati kita sering berlebihan melajurkan iri, dengki, dan ambisi, perut kita sering berlebihan menyarap yang tak sehat, kaki kita sering berlebihan melangkah ke tempat yang salah dan seluruh anggota badan sering berlebihan mengikuti syahwat (keinginan) yang belum tentu bermanfaat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka i’tikaf hakikatnya adalah nikmat yang dikhususkan Allah bagi siapapun dari umat ini, tanpa kecuali, yang ingin membersihkan diri, mengurangi ‘kadar’ berlebih yang bersemayam dalam jasadnya, sehingga hari-hari ke depan yang akan dijelang lebih seimbang. Dan, bukankah ajaran keseimbangan merupakan karakter dari ajaran suci yang dibawa nabi?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kembali ke al- Syirbashi (inspirator judul di atas), beliau pernah ditanya oleh murid-muridnya, “Apakah pantas i’tikaf ini dilakukan oleh manusia modern jaman ini, padahal dua puluh empat jam bagi mereka tidak cukup untuk mencari uang? Ia menjawab: ”ya, i’tikaf adalah salah satu atau bahkan satu-satunya ibadah yang paling cocok untuk manusia abad modern. Ia bahkan bisa sampai kepada hukum wajib. Materialisme abad modern meniscayakan adanya ‘semilir-semilir’ rohani untuk menjaga keutuhan keseimbangan mental manusia modern yang kian hari kian rapuh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pendapat al-Syirbashi ini mengingatkan penulis akan artikel Prof, DR. Azyumardi Azra dalam buku&lt;i&gt; rekonstruksi dan renungan religius islam. &lt;/i&gt;Lewat artikelnya ia menginformasikan bahwa di kota-kota besar Amerika yaitu Manhattan, New York, Los Angeles dan lainnya, para pengusaha dan millioner muslim justru menghabiskan waktunya di mesjid-mesjid. ‘Belantara’ Amerika yang ketimpangan materi-rohaninya tak lagi diragukan justru menyuguhkan pemandangan lain yang —sepertinya— “lucu” dimana mesjid-mesjid menjadi mercusuar syiar Islam yang menyejukkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;I’tikaf, dalam arti yang sesungguhnya, menunggu sosialisasi yang efektif dan akurat dari ‘pinisepuh-pinisepuh’ umat ini, sehingga umat tak ‘kehilangan’ mesjid, rumah yang diyakini menjanjikan kenyamanan hidup di balik derita kaum papa dan gemerlap harta orang-orang kaya, di zaman yang hanya tinggal menyisakan sisa-sisa umurnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-3653526137236677756?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/3653526137236677756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/itikaf-sunnah-yang-hampir-punah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3653526137236677756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3653526137236677756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/itikaf-sunnah-yang-hampir-punah.html' title='I&apos;tikaf, Sunnah yang Hampir Punah'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-3605447878389792113</id><published>2009-01-11T19:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:43:35.216-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Lailatul Qadr di Malam ke 27, Benarkah?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagi siapapun, keindahan Ramadhan lebih dari yang bisa diucap, ditulis dan dibayangkan. Berbagai kesibukan di bulan ini tak henti dan beragam. Semua orang; ulama, guru, karyawan, pedagang, siapapun menyibuki diri, bergerak menuju karunia&lt;i&gt; ilahi, &lt;/i&gt;baik lahir (harta) maupun batin (pahala). Kesibukan ini mencapai puncaknya manakala sepuluh hari terakhir datang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan menjelang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila ditelisik lebih ke dalam, ada panorama yang kontras antara kegiatan material di pusat keramaian di satu sisi dengan kegiatan spiritual di mesjid di sisi yang lain. Seharusnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan ‘pemadatan’ intensitas rohani yang berpusat di mesjid. Mesjid pun semestinya lebih padat dan semarak. Sayangnya, pencerahan kepada umat sampai hari ini ‘gagal’ tersosialisasikan secara maksimal. Maka bisa disaksikan, kesibukan ‘berburu’ &lt;i&gt;lailatul qadr &lt;/i&gt;pun pada akhirnya harus kalah oleh perburuan yang lain, di pusat keramaian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Menengok ke belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lupakan dulu kesibukan di atas, lalu mari kita menengok ke tempat yang lain. Nun di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, ada aktivis-aktivis ROHIS (rohani Islam) sekolah dan aktivis-aktivis mesjid kampus yang mengisi siang dan malam Ramadhan dengan berbagai aktivitas. ‘Segar’ mata ini bila dipicingkan untuk melihat begitu semangatnya mereka dalam memesrakan diri dengan mesjid, al- Quran dan buku-buku agama. Walaupun entitas mereka minoritas, atau ilmu mereka terbatas, tapi kebersamaan yang mereka untai —dengan wajah basah bekas air wudhu— memantulkan pemandangan yang menyejukkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; sahabat Rasulullah, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; belas abad yang lalu pun kebanyakannya adalah para pemuda. Jiwa muda yang disalurkan pada jalur yang benar telah mengantarkan mereka menjadi generasi terbaik &lt;i&gt;(khair al-ajyal)&lt;/i&gt; di era terbaik &lt;i&gt;(khair al-qurun)&lt;/i&gt; yang terlahir dari rahim bumi. Mereka adalah generasi &lt;i&gt;rabbani &lt;/i&gt;yang menghabiskan waktu muda mereka sebagai generasi &lt;i&gt;qurani&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika Ramadhan tiba, lalu melaju dan menembus tanggal ke dua puluh, mereka berlomba memasang kavling —tentunya non-permanen— di mesjid untuk merayakan hari-hari terakhir Ramadhan dengan mengerahkan puncak ‘daya’ ibadah yang mereka miliki. Shalatnya, ritualnya, hidup dan matinya digadaikan kepada Allah hanya demi menggapai puncak kenikmatan dari satu malam yang dirahasiakan, &lt;i&gt;lailatul qadr.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Lailatul qadr&lt;/i&gt;, malam termahal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sesaat lagi, kita pasti ditinggalkan Ramadhan, pasti!, dan ketika itu terjadi, penyesalan tak lagi berarti. Hari ini Ramadhan memang masih tersisa dalam hitungan hari, dan harga termahal Ramadhan justru ada di hari-hari terakhirnya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah, di sepuluh hari terakhir Ramadhan beliau &lt;i&gt;yajtahid &lt;/i&gt;(mengerahkan segenap kemampuan untuk beribadah). Dia tak pernah sehebat itu di luar bulan Ramadhan. Demikian kata-kata ‘Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim. Malam-malam terakhir Ramadhan tak pernah dilewatkan Rasulullah karena di antara malam-malam itu ada satu malam yang kebaikan, keberkahan dan keutamaannya lebih dari seribu bulan, yaitu&lt;i&gt; lailat al- qadr&lt;/i&gt;. Malam itu malam diturunkannya al- Quran (QS. Al- Qadr [97]: 1-5) atau (QS. Ad- Dukhan [44]: 3-8). &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada malam itu, Bagi orang yang terjaga, lalu shalat malam dengan menggenggam keimanan kepada Allah, yakin dengan karunia- Nya, hanya mengharap pahala dan balasan dari- Nya, maka dosa-dosanya pasti diampuni, kesalahan-kesalahannya dihapus, kekeliruan-kekeliruannya dimaafkan dan doa-doanya dikabul. Demikian Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan imam al- Bukhari dan Muslim.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mengintai &lt;i&gt;lailat al- qadr&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari masa ke masa, selalu ada pertanyaan yang terlontar dari mulut umat. Tak lain, Tanya itu ada karena ada semangat membara dari mereka untuk mengejarnya, “malam ke berapa &lt;i&gt;lailat al-Qadr&lt;/i&gt; turun?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan rektor al- Azhar, Kairo, Mesir bertutur: “al- Quran tidak memerinci jawaban dari pertanyaan itu, demikian juga hadits Nabi. Beliau memerinci turunnya lailat &lt;i&gt;al- qadr&lt;/i&gt; hanya dengan perkiraan. Rasul bersabda, “Carilah lailat al- qadr pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan!” (HR. al- Bukhari Muslim). Lalu beliau mendekatkan perkiraan itu dengan bersabda, “Carilah lailat &lt;i&gt;al- qadr&lt;/i&gt; pada malam ganjil dari bulan Ramadhan!” (HR. al- Bukhari). Kemudian beliau lebih mendekatkannya lagi dengan sabdanya, “barangsiapa yang ingin mencarinya, maka carilah &lt;i&gt;lailat al- qadr&lt;/i&gt; pada tujuh malam terakhir dari Ramadhan!”&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Malam ke dua puluh tujuh, mungkinkah? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ulama, juga orang-orang saleh dari berbagai generasi —karena gandrungnya ‘berburu’ &lt;i&gt;lailat al- qadr &lt;/i&gt;di setiap tahunnya— selalu mencari berbagai trik, juga meramu berbagai rumus tentang kemungkinan tanggal berapa &lt;i&gt;lailat al- qadr&lt;/i&gt; turun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian, Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Nabi bersabda’ “barang siapa yang ingin mencari &lt;i&gt;lailat al- qadr&lt;/i&gt;, hendaklah ia mencarinya pada malam keduapuluh tujuh di bulan Ramadhan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Banyak sahabat Nabi, lagi-lagi, karena kerinduan mendalam untuk bertemu lailat al- qadr, sering menyengaja mencari, menyelidiki dan mengintai malam terindah ini di malam-malam, terutama malam keduapuluh tujuh bulan Ramadhan. Seorang sahabat, Ubay bin Ka’ab mengatakan, “Demi Allah, tiada tuhan selain Dia, aku mengetahui malam &lt;i&gt;lailat al- qadr &lt;/i&gt;itu, yaitu malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk melaksanakan &lt;i&gt;qiyamullail&lt;/i&gt;, yaitu malam keduapuluh tujuh, dan tanda-tandanya adalah terbitnya matahari berwarna putih tanpa memiliki sinar.” (HR. Muslim)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Lailat al- qadr&lt;/i&gt; di malam keduapuluh tujuh? Ada-ada saja para ulama yang mencari-cari rahasia di balik ucapan Ubay bin Ka’ab ini. Samih Kariyam, dalam buku &lt;i&gt;ma’annabiy fii Ramadhaan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;menulis, “Sebagian orang mengatakan bahwa kata-kata dalam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; &lt;i&gt;al- qadr&lt;/i&gt; bejumlah tiga puluh kata, seperti jumlah hari dalam Ramadhan. Dan kata ‘&lt;i&gt;hiya&lt;/i&gt;’ yang menyatakan lailat &lt;i&gt;al- qadr&lt;/i&gt; dalam firman- Nya “&lt;i&gt;salaamun hiya”&lt;/i&gt; berada atau tertera pada kata yang keduapuluh tujuh dari surat tersebut. Ada lagi upaya yang dilakukan, dan ini lebih aneh lagi, yaitu bahwa jumlah huruf dalam kata lailat al- qadr berjumlah sembilan, sedangkan lailat &lt;i&gt;al- qadr&lt;/i&gt; disebutkan tiga kali dalam surat tersebut. Bila dikalikan, sembilan kali tiga sama dengan duapuluh tujuh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tetaplah menjadi rahasia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebetulnya masih banyak lagi upaya para ulama yang dilakukan untuk mencari titik kerahasiaan &lt;i&gt;lailat al- qadr&lt;/i&gt; ini. Namun yang pasti, mereka tidak ada yang secara pasti menentukan yang sebenarnya dari malam-malam Ramadhan yang hadir tiap tahunnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dr. Falih al- Shughair dalam buku &lt;i&gt;waqafaat ma’ash-shaaimiin&lt;/i&gt; menegaskan, tidak ada ketentuan khusus bahwa&lt;i&gt; lailat&lt;/i&gt; &lt;i&gt;al- qadr&lt;/i&gt; akan muncul pada malam tertentu di setiap tahunnya, tapi dari tahun ke tahun selalu berubah-ubah. Allah sengaja merahasiakannya sebagai wujud kasih sayang kepada hamba-hamba- Nya, agar mereka terus memperbanyak ibadah dan ketaatan, tanpa harus menentukan kapan ibadah itu dilakukan. Dirahasiakan juga agar di setiap malamnya, hamba-hamba- Nya itu terus mengerahkan segala kemampuan ibadah terbaiknya dengan taqarrub, istighfar, taubat, muhasabah, baca al- Quran, dzikir, shalat malam, doa, dan segala betuk penghambaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Optimalisasi ibadah&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila direnungkan lebih mendalam, rangkaian ajaran Islam dan kesempurnaanya tentang ibadah shaum dari mulai hari pertama sampai terakhir, tensinya justru semakin meningkat. Sementara yang tampak dan terjadi, umat sering terkesan kelelahan di awal sampai di pertengahan bulan. Inilah makanya Allah menentukan target orang yang berpuasa agar umat bertaqwa, &lt;i&gt;la’allakum tattaquun. &lt;/i&gt;Maka dapat dipastikan, Ramadhan akan menjadi alat penyaring (&lt;i&gt;sellector&lt;/i&gt;) yang terus mengayak umat sehingga nantinya terpilih mana hamba-hamba- Nya yang bisa&lt;i&gt; istiqamah&lt;/i&gt;, atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahkan penghambaannya dari hari ke hari terus meningkat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika di antara umat Islam ada yang semakin hari ibadahnya semakin meredup, ketika sampai di tengah perjalanan Ramadhan ia kehabisan bekal dan amunisi, lalu ketika yang lainnya sudah membelokan orientasi Ramadhannya ke acara lebaran, ketika persinggahannya pindah ke tempat-tempat perbelanjaan, maka, mampukah kita berbalik arah? Bisakah kita men&lt;i&gt;charge &lt;/i&gt;diri dan berjanji untuk mengoptimalkan kesempatan terindah ini untuk mengisi siang dan malam hari agar bisa membahagiakan ilahi???&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Wallaahu min waraa al- qashd &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*Dosen UIN &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;hitut &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-3605447878389792113?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/3605447878389792113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/lailatul-qadr-di-malam-ke-27-benarkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3605447878389792113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/3605447878389792113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/lailatul-qadr-di-malam-ke-27-benarkah.html' title='Lailatul Qadr di Malam ke 27, Benarkah?'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8357281005011455945</id><published>2009-01-11T19:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:41:18.474-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Sepuluh Hari Terakhir Bersama Keluarga Nabi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Menyedihkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;! kalaulah tanpa kehadiran kakek nenek kita, mungkin tak tersisa lagi di antara umat Islam yang peduli dengan penanggalan Arab (Islam). Selain Ramadan, kebanyakan umat tak tahu lagi hari ini tanggal berapa, bulan apa dan tahun berapa. Atensi terhadap kalender Hijriyah, bahkan terhadap beberapa simbol keislaman sejatinya merupakan menu wajib yang disuapkan setiap orang tua muslim terhadap anaknya. Namun sayangnya, budaya asing yang hadir telah menggerus satu demi satu budaya ketimuran yang semakin dikesankan kuno dan &lt;i&gt;out of date.&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Untungnya, Allah menitipkan satu di antara dua belas bulan itu yang &lt;i&gt;in sya a&lt;/i&gt; (kalau Dia berkehendak) umat tak akan menyepelekannya sampai kapanpun, yaitu Ramadan. Hari ini, semua orang, bahkan anak kecil pun tahu, Ramadan telah memasuki sepuluh hari terakhirnya. Bagi beberapa kalangan, dua puluh hari ke belakang terasa melelahkan. Kehadiran Ramadan tak lain hanyalah siksaan yang membelenggu kebebasan. Miskinnya iman dan lemahnya keyakinan pasti membuat siapapun terganggu dengan kedatangan Ramadan karena memang, Ramadan berkunjung hanya kepada mereka yang beriman saja,&lt;i&gt; yaa&lt;/i&gt; &lt;i&gt;ayyuhalladziina aamanuu&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sempurnanya nikmat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan mampu menghitungnya.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(QS. Ibrahim [14]: 34). Ramadan adalah satu dari berbagai nikmat terbesar yang dipaketkan Allah untuk umat Islam. Kesempurnaan nikmatnya bahkan bukan lagi terasa oleh satu-dua kalangan, tapi semua orang larut merasakannya. Namun demikian, ada satu nikmat di bulan agung ini yang hanya terbatas di kalangan tertentu saja, ia adalah nikmat&lt;i&gt; bathin&lt;/i&gt;. Sedihnya, tidak semua orang Islam tahu bahwa kesempurnaan nikmat Ramadan justru ada di ujung hari-harinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Di Indonesia, bahkan di kebanyakan negara-negara muslim di dunia, sepuluh hari terakhir dianggap &lt;i&gt;subordinate&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;atau hanya pelengkap saja. Mata batin kita sering tersiksa menyaksikan kesalahan patal yang dilakukan umat ini dalam memperlakukan detik-detik terakhir Ramadan, terutama sepuluh hari ketiganya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Coba saja kita intip di mesjid-mesjid kampung, kegiatan dari mulai kanak-kanak sampai orang dewasa sudah terhenti dari mulai tanggal &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; atau tujuh belas Ramadan. Kuliah subuh bagi anak-anak secara umum terhenti di tanggal tujuh belas atau dua puluh. Tadarusan alquran ibu-ibu juga terhenti di tanggal &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; belas. Tarawih dan berjamaah shalat lima waktu pun lalu ikut-ikutan mengendur Start yang segera dipacu adalah acara bikin kue, ngecet tembok, belanja pakaian dan kelengkapan lebaran keluarga, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang membuat sepuluh hari terakhir Ramadan seperti ‘makanan sisa’, terlantar dan tercampakkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Bersama nabi dan keluarganya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;“Pada dua puluh malam pertama di bulan Ramadan, nabi masih melakukan shalat dan sempat tidur. Tapi bila datang sepuluh hari yang terakhir, beliau mengencangkan tali pinggangnya.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;(HR. Ahmad dalam bukunya &lt;i&gt;al-&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Musnad). &lt;/i&gt;Hadits ini menggambarkan konsentrasi nabi ketika Ramadan menyisakan sepuluh hari terakhirnya. Tak hanya untuk dirinya sendiri, nabi lalu mengajak serta keluarganya untuk mencurahkan perhatian hanya untuk Ramadan. ”&lt;i&gt;apabila masuk sepuluh hari terakhir, nabi mengikat kainnya, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya.”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dengan dua hadits ini saja, kita harusnya malu untuk —terpaksa— membandingkan betapa berbeda idealisme kehidupan nabi sang panutan dengan realita kehidupan kita. ‘Mengikat kain’ diartikan para ulama sebagai kiasan yang berarti menjaga jarak dengan istri-istrinya. Artinya, bagi nabi, menahan diri untuk tidak menyalurkan hasrat seksual tidak cukup di siang hari, tapi juga di malam hari bila beliau berada pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Hal itu dilakukannya agar beliau dapat puas menyalurkan hasrat ibadahnya secara total kepada Allah swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sementara ‘menghidupkan malam’ adalah menjadikan malam sebagai kehidupan. Berbagai penghambaan seperti baca alquran, zikir dan shalat akan terasa besar pengaruhnya di jiwa manakala hal itu dilakukan di waktu malam. Suasana malam yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan duniawi dan lepas dari segala aktifitas sangat kondusif untuk menjadi momentum &lt;i&gt;munajat &lt;/i&gt;(berbisik kepada Allah), menyampaikan berbagai permohonan, memohon diampuni salah dan dosa. Malam hari pun rupanya telah menjadi ‘inspirasi’ bagi orang-orang saleh , dulu dan kini, untuk bukan hanya beribadah, tapi juga berkarya. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ulama banyak yang telah berhasil menaklukkan malam untuk mencipta karya ‘&lt;i&gt;masterpiece&lt;/i&gt;’ yang dipuji dunia dan dijadikan rujukan akademis bagi berbagai generasi sesudahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;‘Membangunkan keluarga’ juga tak luput dari kisah penting dalam episode sepuluh hari terakhir Ramadan dalam kehidupan nabi. Bagi orang yang soleh, memanfatkan sesempit apapun peluang kebaikan yang diperolehnya, adalah juga merupakan kesempatan bagi keluarganya. Dalam hal ini nabi bersabda,&lt;i&gt; “Allah merahmati seorang lelaki yang bangun dan shalat malam, lalu membangunkan isterinya. Bila isterinya tak bangun, ia mencipratkan air ke muka istrinya. Allah pun merahmati seorang isteri yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya. Bila suami tak jua bangun, ia mencipratkan air ke wajah suaminya.”&lt;/i&gt; (HR. Abu Daud).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Lebih dari itu, ‘Aisyah berkata, “pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan) nabi &lt;i&gt;yajtahid, &lt;/i&gt;lebih giat lagi dalam beribadah. &lt;i&gt;Yajtahid &lt;/i&gt;dalam hadits riwayat muslim ini difahami oleh para ulama seperti makna &lt;i&gt;ijtihad&lt;/i&gt;, yaitu memusatkan fikiran dan mengerahkan segenap kemampuan untuk mengisi sepuluh hari terakhir dalam melampiaskan kebutuhan ukhrawi. Maka bisa dibayangkan keuletan beliau —yang pastinya juga diikuti keluarga dan para sahabatnya— dalam menghargai mahalnya kesempatan sepuluh hari dalam setahun ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;I’tikaf&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; ulama berbeda pandangan tentang makna dan batasan &lt;i&gt;I’tikaf. &lt;/i&gt;Sebagian ulama fiqh memperketat dan sebagian lainnya menjadikannya lebih fleksibel. Bahkan di kalangan umat Islam di Indonesia, i’tikaf cukup dilaksanakan dengan menyengaja masuk mesjid dengan niat &lt;i&gt;taqarrub&lt;/i&gt;, mendekatkan diri kepada Allah tanpa batasan berapa lama ia berada di mesjid. Secara umum, kitab-kitab&lt;i&gt; fiqh&lt;/i&gt; mendefinisikan i’tikaf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan: berdiam di mesjid untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah secara total, dan tidak keluar dari mesjid kecuali karena kebutuhan yang mendesak seperti untuk berwudu dan semisalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Pastinya, i’tikaf adalah kebiasaan nabi dan para sahabat yang biasa dilakukan terutama di penghujung Ramadan. Al- Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “nabi selalu beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai beliau wafat. Setelah wafat, isteri-isterinya juga melakukan i’tikaf.” Berdasarkan &lt;i&gt;sunnah&lt;/i&gt; ini, para ulama ber&lt;i&gt;ijma&lt;/i&gt;’ bahwa i’tikaf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada bulan Ramadan merupakan ibadah yang diperintahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Beberapa amaliah seperti baca dan tadabbur alquran, munajat dan doa, istighfar dan taubat, menghitung keadaan diri atau muhasabah, zikir, wirid, shalat sunat dan i’tiraf (mengakui dosa) adalah rangkaian acara yang biasa mengisi kegiatan i’tikaf ini. Mengisi akhir Ramadan dengan i’tikaf akan lebih cepat mengantarkan kita pada kesucian lahir batin, seperti yang sering didengung-dengungkan orang menjelang ‘idul fitri tiba. I’tikaf di zaman ini, di negeri yang kental dengan dunia belanja untuk ‘idul fitri ini, pastinya hanya dilakukan oleh orang yang —karena jarangnya— dianggap aneh. Namun dalam urusan kebaikan, orang yang dianggap aneh menempati tempat terhormat di mata Allah. Nabi bersabda, “&lt;i&gt;thuubaa lil ghurabaa&lt;/i&gt;” berbahagialah orang yang dianggap aneh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Penutup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sekali lagi, kesempurnaan nikmat Ramadan ada pada hari-hari terakhirnya, dan hanya sementara orang yang lulus mendaki jalannya. Bagaimana tidak, hari ini saja orang-orang sudah begitu sibuk mempersiapkan diri menyambut idul fitri yang waktunya masih lama. Bila kita &lt;i&gt;concern&lt;/i&gt; dalam mengisi hari-hari terakhir ini dengan ritual ibadah, maka ‘nilai duniawi’ dari sepuluh hari tersisa tak semahal harga yang dibeli oleh mereka yang sibuk mempersiapkan ‘pesta’ idul fitri. Kalau demikian halnya, maka ada tiga kebiasaan umat dalam mengisi sepuluh hari Ramadan yang tersisa;&lt;i&gt; pertama&lt;/i&gt;, mereka yang memilih khusyu’ beribadah dan tidak tergoda untuk berpesta. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, mereka yang sibuk mempersiapkan pesta idul fitri dan tak lagi menghiraukan kesempatan ibadah terindah sepuluh hari dalam setahun. Dan &lt;i&gt;ketiga &lt;/i&gt;adalah mereka yang memperlakukan sisa sepuluh hari dengan adil, ibadah bertambah khusyu, tapi tidak lupa mempersiapkan diri menghadapi idul fitri seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Maka tulisan ini harus diakhiri dengan pertanyaan, “jalan yang mana yang kita pilih?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Wallaahu a’lam &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;*Dosen UIN &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8357281005011455945?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8357281005011455945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/sepuluh-hari-terakhir-bersama-keluarga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8357281005011455945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8357281005011455945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/sepuluh-hari-terakhir-bersama-keluarga.html' title='Sepuluh Hari Terakhir Bersama Keluarga Nabi'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8171515627267178104</id><published>2009-01-11T19:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:39:59.486-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Membangun Umat Menjadi Komunitas Pembaca</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Refleksi memperingati &lt;i&gt;nuzul al- Quran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘alaq [96]: 1-5)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Hari ini, 1398 tahun yang lalu, tepatnya tahun 610 M ayat pertama alquran turun ke lubuk hati Muhammad (QS. 26: 94). Kitab sempurna yang juga penyempurna itu turun pada malam mulia dan penuh berkah (QS. 44: 3). Malam itu malam tanggal 17 Ramadan, malam &lt;i&gt;lailatul Qadr &lt;/i&gt;(QS. 97: 1-5)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Allah Maha Suci dan Maha Berkehendak untuk memilih kata pertama dari rangkaian wahyu alquran dengan perintah ‘Iqra’ (bacalah!). Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang sampai dua kali. Anehnya, kata ini diturunkan pertama kali kepada orang yang tidak pernah membaca satu kitab pun sebelum turunnya alquran (QS 29:48), bahkan ia juga seorang yang tidak pandai membaca suatu tulisan pun sampai akhir hayatnya (QS. 7: 156 dan 157) . Namun keanehan ini akan segera sirna bila disadari, bahwa perintah ini turun bukan hanya untuk Muhammad saw., tapi bahkan untuk semua penduduk jagat raya, generasi demi generasi pecinta ilmu sampai di ujung usia bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Hebatnya, perintah ‘bacalah’ diawalkan oleh Allah daripada perintah shalat, zakat, jihad, dakwah dan lain-lain. Hebatnya lagi, perintah ‘bacalah!’ dalam ayat 1 dan 3 tidak mencantumkan objek apa yang harus dibaca. Para mufassir menjelaskan bahwa objek ‘bacalah!’ bersifat umum, baik menyangkut ayat ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis, sehingga menyangkut telaah terhadap alam raya, masyarakat, diri sendiri, membaca alquran, majalah, Koran dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Iqra! &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dalam bahasa Arab terambil dari &lt;i&gt;qara’a &lt;/i&gt;yang atrinya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya. Perintah membaca dalam ayat ini dikaitkan dengan &lt;i&gt;‘bismi rabbika &lt;/i&gt;(dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini meupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Rangkaian &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ayat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; al- ‘Alaq ini disimpulkan M. Quraish Shihab dalam &lt;i&gt;al- Misbah&lt;/i&gt;nya, juga dalam bukunya &lt;i&gt;membumikan al- Quran&lt;/i&gt; dengan tuturannya, “&lt;i&gt;Bacalah, Tuhanmu akan menganugerahkan pengetahuan yang tidak engkau ketahui. Bacalah dan ulangi bacaan tersebut walau objek bacaannya sama. Bacalah dan ulangi bacaan, Tuhanmu akan memberikan manfaat yang tidak terhingga karena dia maha akram (memiliki segala sifat kesempurnaan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Rahasia besar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sejarah umat manusia, secara umum dibagi dalam dua periode utama: sebelum penemuan tulis-baca dan sesudahnya sekitar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ribu tahun yang lalu. Dengan ditemukannya tulis baca, peradaban manusia tidaklah merambah jalan dan merangkak-rangkak, tetapi mereka telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumaria sampai peradaban Amerika masa kini. Berkat kemampuan baca tulis inilah saat ini kita telah sampai pada masa di mana keterjarakan waktu dan batas daerah bahkan negara tak lagi terasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Potensi tulis baca yang dimiliki manusia membuktikan keterpilihan manusia sebagai makhluk Allah yang mengemban misi keilmuan. Segala aspek perubahan yang terjadi di bumi ini tak lain adalah karena dalam diri seorang manusia ada dua potensi yang tidak dipunyai siapapun atau apapun dari segenap makhluk Allah. Dua potensi itu adalah manusia sebagai &lt;i&gt;abd lillah&lt;/i&gt; (hamba Allah) di satu sisi, juga sebagai &lt;i&gt;khalifah fi al-ardh &lt;/i&gt;di sisi yang lain&lt;i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dengan ilmu yang diajarkan Allah kepada manusia (Adam), ia memiliki kelebihan dari malaikat yang tadinya meragukan untuk menjadi makhluk pembangunan peradaban di bumi. Maka dengan ibadah yang didasari oleh ilmu yang benar, manusia menduduki tempat terhormat, sejajar bahkan dapat melebihi kedudukan umumnya malaikat. Dan ilmu yang Allah ajarkan kepada manusia, apakah yang &lt;i&gt;kasbi (acquired knowledge)&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;ladunni (perennial)&lt;/i&gt; tidak akan tercapai tanpa terlebih dahulu melakukan &lt;i&gt;qira’at (iqra&lt;/i&gt;) dalam arti yang luas (membaca, meneliti, mengkaji dan sebagainya)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Membangun komunitas baca&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Bila menelaah data yang dirilis al- Raghib al- Sirjani dalam buku fenomenalnya &lt;i&gt;iqra laa budda an taqra, &lt;/i&gt;kita akan diam sejenak dan menunduk malu. Dalam data itu diinformasikan bahwa rata-rata orang Jepang dalam setahun menghabiskan 40 buku untuk dibaca. Orang Eropa rata-rata membaca 10 buku dalam setahun. Sementara orang Arab dalam setahun rata-rata hanya membaca 200 lembar saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Data-data itu tidak menampilkan rilis tentang berapa buku, atau berapa lembar yang dibaca oleh rata-rata orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dalam tiap tahunnya. Namun secara kasar kita bisa memperkirakan bahwa jumlah lembar yang dibaca oleh orang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pastilah jauh dari jumlah lembar buku yang dibaca oleh rata-rata orang Jepang, Eropa dan orang Arab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Membaca, memang merupakan hal yang belum membudaya di negeri ini, khususnya di lingkungan terdekat kita. Kita lebih mudah melihat kerumunan orang di tempat-tempat hiburan, mal, dan lingkungan-lingkungan yang jauh dari nuansa buku. Perpustakaan sekolah di SD, SMP atau SMU mungkin lebih ramai dikunjungi karena faktor pendorongnya kuat. Arahan dari para guru, kebutuhan untuk mengakses&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;informasi dari tugas sekolah dan lain-lainnya memaksa para murid untuk masuk ke perpustakaan. Permasalahannya adalah, berapa lama para pelajar itu mampu untuk duduk dan bertahan di kursi perpustakaan? Berapa banyak dari mereka yang datang sendiri-sendiri dan dari lubuk hati, bukan karena diajak teman atau terpaksa menemani teman? Bila perpustakaan di beberapa sekolah SD, SMP atau SMU masih ramai dikunjungi, maka perapa ramaikah pengunjung perpustakaan-perpustakaan kampus? Berapa persenkah jumlah mahasiswa pengunjung perpustakaan dari jumlah seluruh mahasiswa yang terdaftar?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Salah satu hal yang nampaknya perlu segera dihadirkan di tengah lembaga-lembaga pendidikan kita adalah apa yang disebut komunitas baca. Bila di sekolah bisa dengan mudah membangun organisasi (OSIS), bila kampus-kampus kita setiap tahunnya selalu diramaikan oleh pemilu mahasiswa yang membentuk kepengurusan ketua dan jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan bila organisasi-organisasi ekstra kampus begitu lestari dan menunjukkan ‘gejala keabadian’, maka sebetulnya tidaklah sulit bagi lembaga sekolah, lembaga kampus, OSIS dan BEM membentuk komunitas baca yang menghimpun para siswa/mahasiswa yang punya gairah baca berlebih dan tidak/belum tersalurkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Komunitas baca ini, sebetulnya bukan hanya berlaku bagi para siswa dan mahasiswa saja, tapi juga berlaku umum, apakah warga masyarakat, karyawan, dan mereka yang punya &lt;i&gt;gregorious instinc &lt;/i&gt;(hobi kumpul-kumpul) dari siapapun, dan dari kalangan manapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Momentum nuzul alquran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Mengajar dan mendidik, di jaman sekarang ini tidak akan dirasa optimal manakala perintah, anjuran dan himbauan tidak diawali dari penerapan pada diri sendiri. Hasil dari usaha yang didasari keteladanan akan terasa lebih cepat menukik kepada target yang ingin dicapai. Sebaliknya, bila perintah, himbauan dan anjuran itu hanya verbal dan monologis, maka jangan harap target bisa dicapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Maka momentum &lt;i&gt;nuzul alquran&lt;/i&gt; adalah tonggak yang teramat penting untuk mewacanakan komunitas baca, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa kita. Bangsa yang berperadaban maju ditandai dengan kegemaran warga bangsa itu dalam ‘melahap’ segala hal yang berhubungan dengan ilmu dan sains. Semakin kuat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;daya baca akan semakin mempercepat peradaban meningkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Jika harapan ini bisa diwujudkan, maka tidaklah mustahil bila suatu ketika manusia akan didefinisikan sebagai ‘makhluk pembaca’. Suatu definisi yang tidak kurang kebenarannya dari definisi-definisi yang lainnya semisal ‘makhluk sosial’ atau ‘makhluk berfikir’.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Demikianlah &lt;i&gt;iqra, &lt;/i&gt;membaca, ia merupakan syarat utama dan pertama bagi keberhasilan seorang mausia bahkan sebuah Negara. Berdasarkan hal tersebut tidaklah mengherankan jika perintah itu (&lt;i&gt;iqra, &lt;/i&gt;bacalah) menjadi tuntunan pertama yang dititahkan Allah kepada semua manusia, bukan titah yang lain. &lt;i&gt;Wallaahu a’lam &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Asep M Tamam, Dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8171515627267178104?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8171515627267178104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/membangun-umat-menjadi-komunitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8171515627267178104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8171515627267178104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/membangun-umat-menjadi-komunitas.html' title='Membangun Umat Menjadi Komunitas Pembaca'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-9113608555392906726</id><published>2009-01-11T19:34:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:38:20.115-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Rasul Berkata: Tuhan, Umatku Telah Meninggalkan al- Quran</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;RASUL BERKATA, “TUHAN, KAUMKU TELAH MENELANTARKAN AL- QURAN”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Refleksi memperingat nuzul al- Quran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Tanggal &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Ramadhan lalu, ya tanggal &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, penulis melewati bilangan jalan L. Tobing, tepatnya di kawasan Sambong Jaya. Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ada sesuatu yang menarik dan lalu memaksa tangan ini untuk segera menulis apa yang baru saja dilihat. Rugi rasanya bila melewatkan begitu saja pemandangan yang sebenarnya bisa dihitung aneh tapi juga bisa dibilang biasa-biasa saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dari dalam angkot 015 jurusan Cikurubuk-Pamipiran yang merangkak pelan, mata penulis jatuh ke sebuah becak di pinggir jalan. Di dalam becak itu tampak jelas ada pak tua pengayuh becak yang terlihat asik membaca benda kecil. Penulis yakin seratus persen, benda kecil itu adalah al-Quran. Sambil menunggu penumpang setianya, mulut keriput pak tua tampak komat kamit, sementara tangannya memegang erat benda kecil kesayangannya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Pemandangan yang mengharukan ini membuat penulis iri dan juga malu. Betapa tidak, pak tua itu sempat-sempatnya memanfaatkan waktu kerja dengan membaca benda yang jarang sekali orang lain memegangnya di tempat umum seperti itu, yaitu al- Quran berukuran 8 cm X 10 cm. Sementara penulis sendiri, jangankan waktu kerja, waktu luang pun seringnya sengaja diperlakukan sia-sia tanpa menghasilkan arti apa-apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Judul di atas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sebetulnya, judul di atas adalah terjemahan dari al- Quran, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; al- Furqan [25] ayat 30. Ayat di atas jelas-jelas menohok kita yang jangankan membaca, bersua al-Quran pun jarang-jarang. Kalau tidak karena Ramadhan, mata kita, lidah dan tangan kita bahkan nyaris tak digaulkan dengan buku mulia yang setiap hurufnya mengandung nilai &lt;i&gt;I’jaz&lt;/i&gt; (kemukjizatan) ini. Ayat di atas pastinya membuat kita malu, lalu membuat kita memarahi diri dan berkata, “&lt;i&gt;Ayat itu turun menegur kamu!.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dalam tafsir &lt;i&gt;al- Maraghi,&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;tafsir al-Quran al- ‘Azhim&lt;/i&gt; karya Ibnu Katsir dan juga &lt;i&gt;shafwat al- tafasir&lt;/i&gt; karya al-Shabuni&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diterangkan bahwa ayat ini berkenaan dengan perlakuan musyrikin Quraisy terhadap al-Quran ketika ayat-ayatnya berangsur turun. Betapa keras hati mereka sehingga kemuliaan ayat demi ayat al- Quran tak mereka hiraukan dan lantas memilih untuk mandengar bunyi-bunyian lainnya yang tak karuan, syair-syair dan nyanyian yang tak bermakna. Namun menurut al- Shabuni, penekanan ayat ini adalah terletak pada keseriusan pengaduan Rasulullah kepada Tuhannya karena kaumnya itu tak menghiraukan al- Quran.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Ramadhan di pesantren &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Bila kita menengok kegiatan Ramadhan di pesantren-pesantren, entah di manapun, kita akan menyaksikan atau mendengar banyak hal yang tidak seperti biasanya. Persaingan positif dalam menginteraksikan diri dengan al-Quran dari para santri adalah nuansa terindah penghias Ramadhan tiap tahunnya. Panorama seperti ini akan terus diabadikan para santri dari generasi ke generasi, sepanjang usia pesantren itu bertahan melawan arus jaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Penulis akan selalu ingat, dua puluh tahun yang lalu (1989-1991), di pesantren Darussalam Ciamis penulis menikmati tiga kali momen Ramadhan dengan kesan yang teramat dalam. Dari mulai terbukanya mata di waktu sahur sampai tertutupnya kegiatan di malam hari, suara al-Quran bergemuruh sambung menyambung. ‘Raeng’nya suara merdu dengan berbagai lagu sampai hari ini masih terbayang. Takan terlupa pemandanganan indah tatkala di siang Ciamis yang cukup terik, teman-teman duduk di tepian jendela dan mengarahkan bacaan al- Qurannya ke luar jendela. Pemandangan yang lebih menakjubkan hadir ketika waktu shalat tiba. Setelah berjamaah dan wirid selesai, para santri spontan terdorong untuk berkompetisi menghiasi megahnya mesjid dengan suara temerdu yang pernah ada; suara al- Quran. Pemandangan itu begitu mempesona sehingga sering penulis larut dalam keinginan mengulang kembali kejayaan masa itu, di mana al- Quran kokoh bertahta di singgasana hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Generasi al- Quran terbaik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Tak ayal lagi, generasi terbaik al- Quran adalah genersi para sahabat bersama maha guru mereka, Rasulullah. Dua puluh tahun lebih para sahabat setia mengikuti ayat demi ayat yang memang turun secara berangsur. Kebahagiaan mereka tumpah manakala satu ayat turun setelah beberapa lama dinanti. Ayat tentang surga membuat wajah mereka berseri. Diriwayatkan bahwa para sahabat begitu gandrung mengisi waktu dengan membicarakan keadaan surga dan para penghuninya. Namun manakala ayat yang turun bercerita tentang siksa neraka, mata mereka meleleh, hati mereka ciut, dan bibir mereka bergerak memohonkan perlindungan dari Sang Khalik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Kerinduan mereka akan turunnya al-Quran adalah puncak segala kerinduan. Sesaat setelah satu ayat turun, mereka segera menyambutnya, berlomba menghafalnya, bergegas memberitahukan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Pengaruh kandungan al-Quran pun langsung menukik ke pusat kesadaran mereka. Satu saja contoh, ketika turun ayat, “&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan (al-Quran) ini?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkan(nya)? (QS. An-Najm[53] :59-61). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="gen"&gt;Maka Rasul dan para sahabat menangis sejadi-jadinya. Tangisan mereka lalu terdengar dari radius yang cukup jauh. Ibu-ibu yang menyaksikan peristiwa itu berkata, “tak pernah satu hari pun lewat pada kehidupan kami, hari yang lebih dahsyat daripada hari ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Satu lagi contoh, ketika turun ayat,”&lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”&lt;/i&gt; (QS. At- Tahrim [66] ayat 6), seorang pemuda lalu jatuh tersungkur, pingsan dan setelah di&lt;i&gt;talqin &lt;/i&gt;oleh Rasulullah, ia meninggal dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Pengaruh al-Quran telah membuat hati mereka sebening air dan selembut salju, tekad mereka seteguh batu karang, mata dan bibir mereka basah seperti mata air. Sungguh, suatu generasi Qurani yang sulit kita temukan pada jaman dan generasi hari ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b&gt;Momentum nuzul al- Quran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Sedih rasanya, kita melihat diri kita yang selalu lebih tertarik pada acara hiburan di TV daripada menghadiri ‘jamuan’ al-Quran. Sedih juga menyaksikan dunia remaja kita yang semakin cenderung permissif, mereka lebih menggandrungi dunia musik dan aneka budaya negatif lainnya ketimbang berkumpul di mesjid mendiskusikan persoalan-persoalan agama. Sedih juga mengikuti berita para pemimpin, petinggi dan pejabat negeri ini yang semakin hari semakin memperlihatkan warna buramnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Lewat momentum Nuzul al –Quran tahun ini, poin terpenting yang harus kita genggam adalah bagaimana melestarikan warisan termahal dari Rasulullah ini, agar tak lekang dimakan jaman, tak pupus dihantam perubahan masa. Warisan al-Quran adalah warisan yang bisa membuat umat tetap dalam kondisi terbaik, seperti yang terjadi pada generasi sahabat Rasulullah, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; belas abad yang lalu. Warisan itulah yang harus kita tanam, kita pupuk untuk anak, keluarga dan keturunan kita ke depan, sehingga al- Quran tetap lekat di tangan, lekat di bibir, menyinari langkah hati dan pijakan kaki, di manapun dan kapan pun kita berada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Untuk pak tua pengayuh becak, penulis menghaturkan banyak terima kasih atas inspirasinya, semoga tetap menjadi inspirasi kami, untuk tetap mengakrabi al-Quran untuk dibaca, dipelajari, ditadabburi, lalu diamalkan. Dengan tulus kami berdoa, semoga al- Quran menemani pak tua sampai di akhir hirupan nafas terakhir, bahkan sampai di alam baqa.&lt;i&gt; Wallaah min waraa al- qashd. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*Dosen UIN &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dpk pada IAIC, juga mengajar di STAI Tasikmalaya&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-9113608555392906726?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/9113608555392906726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/rasul-berkata-tuhan-umatku-telah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/9113608555392906726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/9113608555392906726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/rasul-berkata-tuhan-umatku-telah.html' title='Rasul Berkata: Tuhan, Umatku Telah Meninggalkan al- Quran'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8212105626355469188</id><published>2009-01-11T19:33:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:34:44.459-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Dahsyatnya Kekuatan Lapar dan Haus</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;0leh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila ditelisik sepintas saja, nuansa Ramadan yang paling kentara secara lahir adalah lapar dan haus. Dua sejoli ini, bagi mereka yang belum tersinari cahaya Ramadan sering terasa menyiksa. Siksaan lapar dan haus akan lebih terasa menyakitkan bagi mereka yang aktif bekerja seharian, di terik matahari siang yang membakar, di tengah ‘belantara’ &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; besar semisal &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun, ceritanya akan lain bagi mereka yang bahagia bersua lapar dan haus Ramadhan. Bagi mereka, manisnya lapar dan haus bukan hanya janji semata, tapi bukti konkrit, &lt;i&gt;bathiniah &lt;/i&gt;maupun&lt;i&gt; jasmaniah. &lt;/i&gt;Di mata mereka,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;kenikmatan lapar dan haus berlaku universal, bukan hanya ditemukan di tempat sejuk dengan pohon-pohonan lebat dan buah-buahan segar, tapi bahkan ketika mereka harus berada di tempat sepanas lautan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; pasir dan segersang benua kering Afrika.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Harus disadari, walaupun kita hidup di negeri yang belum maju, tapi tak pernah kita hawatir anak-anak kita kelaparan. Dulu, untuk mendapat suapan makan, seorang anak harus menunggu nasi matang sambil menangis meronta-ronta. Sekarang, untuk menyuapi seorang anak, seorang ibu harus merayu dan memaksanya dulu. Pada saat itu si anak menangis enggan makan karena memang, ia belum merasa lapar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Asumsi kita, kenyang adalah simbol kemapanan dan kesejahteraan. Sebaliknya, lapar adalah gambaran kemiskinan dan serba-kekurangan. Ibadah shaum rupanya mematahkan asumsi itu. Islam mengajarkan keterpaduan antara fisik dan jiwa, rohani dan jasmani, spirit dan materi. Bahhkan kalau harus dikatakan, kebutuhan rohani dalam Islam menaklukkan kebutuhan jasmani. Hal demikian dalam al- Quran difirmankan, “&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."&lt;/i&gt;(QS. Yunus [10]: 58) &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Lapar sejati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Salah satu buku otoritatif tentang hadits Nabi yang dipelajari para santri di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i&gt;Riyadh&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;i&gt; al- shalihin. &lt;/i&gt;Dalam buku itu Imam an- Nawawi menggamblangkan bagaimana Nabi dan para sahabat telah adil membagi atensi dalam memenuhi hak-hak fisik dan jiwa. Tentang lapar misalnya, ada setidaknya 30 hadits yang membuat kita harus mengkaji ulang, lalu malu melihat kehidupan kita hari ini yang cenderung timpang dalam memperlakukan fisik di satu sisi, dan jiwa di sisi yang lain. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Al- Bukhari, Muslim, Turmudzi dan lainnya meriwayatkan pengalaman yang tiada duanya dalam sejarah umat manusia. Nabi dan para sahabat telah berhasil menjadi pelaku utama dalam menaklukkan&lt;i&gt; syahiyah&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(selera) makan dan minum demi menjalankan misi &lt;i&gt;da’wah Islamiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aisyah ra. menuturkan bahwa keluarga Nabi tak pernah kenyang dalam dua hari berturut-turut sepanjang hidupnya (HR. al- Bukhari dan Muslim). Bahkan pernah dalam tiga bulan dapur rumah Nabi tak terlihat ‘ngebul’, artinya dalam rentang masa tiga bulan itu keluarga Nabi tidak memasak makanan. Dalam hadits yang diriwayatkan al- Bukhari Muslim itu, Nabi dan keluarganya hanya menyantap &lt;i&gt;aswadain &lt;/i&gt;(air dan kurma). Selama tiga bulan itu, para tetangga dari golongan Anshar sering datang mengirim makanan dan susu untuk keluarga Nabi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kisah lainnya yang sangat menyentuh hati diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam ahli hadits terbesar setelah al- Bukhari ini meriwayatkan bahwa pada suatu malam, Nabi merasakan lapar yang amat sangat hingga memaksa beliau keluar rumah. Di luar, beliau bertemu Abu Bakar dan Umar yang rupanya, keduanya pun dilanda rasa lapar yang menyiksa. Perjalanan malam mereka bertiga terhenti di rumah Abu Haitsam bin at- Taihan. Betapa bahagianya Abu Haitsam kedatangan tiga orang yang bersahabat dalam naungan keikhlasan cinta karena Allah swt. itu. Jamuan malam yang dihidangkan membuat ketiga guru kita ini kenyang dan puas. Namun yang terjadi selanjutnya adalah: nabi berkata kepada dua sahabat terkasihnya itu, “&lt;i&gt;Yakinlah, kalian akan ditanya oleh Allah atas nikmat yang Dia berikan malam ini.”&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Abu Hurairah adalah seorang sahabat yang mempunyai pengalaman unik dalam hal lapar. Lapar yang menyengat melandanya pada suatu malam. Ia lalu memasukkan beberapa batu untuk mengganjal perutnya. Karena masih lapar ia pun tersungkur dan pingsan di tempat antara mimbar nabi dan kamar Aisyah. Seseorang lalu datang dan menginjakkan kakinya di leher Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata, “Orang itu mengira aku gila, padahal aku normal. Aku tersungkur dan pingsan karena rasa lapar yang tak terperikan.” (HR. al- Bukhari).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dahsyatnya lapar dan haus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masih banyak sebetulnya riwayat yang mengisahkan pahitnya rasa lapar yang menyiksa jasad (fisik) orang orang saleh selain para sahabat nabi. Namun kesimpulan yang bisa diraih adalah, tak ada masalah bagi orang saleh, entah jaman dulu atau hari ini, bila lapar hanya bersifat fisik (jasmani) saja. Yang kemudian jadi masalah adalah bila lapar itu menyergap jiwa, mental dan spiritual mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Laparnya para pejuang Islam di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; perang yang terjadi di bulan Ramadan tidak lantas membuat&lt;i&gt; ruh&lt;/i&gt; (semangat) mereka kendor akibat lemahnya badan. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Syaikh Ahmad asy- Syirbashi, dalam buku &lt;i&gt;yasaluunaka fi al- din wal- hayat,&lt;/i&gt; jilid enam, menulis judul &lt;i&gt;hadatsa fii ramadhan&lt;/i&gt; (kejadian-kejadian penting di bulan Ramadhan) dengan panjang lebar. Dalam penjelasan dari halaman 427-493 itu, asy- Syirbashi menampilkan puluhan kisah yang cukup lengkap melewati berbagai zaman, dari mulai zaman nabi sampai dengan abad modern ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang terpenting dari berpuluh kisah kegemilangan para ‘pejuang Ramadan’ itu adalah kemenangan perang Badar. Kekalahan kafir Quraisy di tangan umat Islam adalah modal yang teramat mahal dalam menghadapi serumit apapun kondisi umat Islam di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; perang. Kemenangan Badar adalah bekal bagi perang-perang selanjutnya bahwa untuk meraih kemenangan, jumlah pasukan tidak jadi masalah. Kemenangan di perang-perang selanjutnya membuktikan bahwa ratusan pasukan umat Islam nyata-nyata telah mengalahkan ribuan pasukan kafirin dan ribuan pasukan muslimin mengalahkan puluhan ribu pasukan kafirin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa kunci yang lainnya adalah penaklukan mekah (&lt;i&gt;futuh makah&lt;/i&gt;) yang terjadi tanggal 20 Ramadan tahun ke-delapan Hijriyah. Peristiwa maha penting itu membuka jalan persatuan negeri Hijaz dalam melebarkan sayap Islam ke luar wilayah. Dan nyatanya, sejak peristiwa itu Islam menjadi hegemoni setelah menjatuhkan dua kekaisaran adidaya; &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Persia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan Romawi. Philip K. Hitti dalam &lt;i&gt;islam and politics&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menuturkan bahwa pada masa itu hanya satu hal yang bisa mengalahkan dua kerajaan penguasa dunia itu. Hal itu adalah “mimpi”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa lain yang mewarnai perjalanan Ramadan dan tercatat dengan tinta emas, secara singkat adalah: peristiwa penghancura berhalan ‘uzza di tangan Khalid bin Walid pada Ramadan tahun ke- delapan H. Di Ramadan tahun ke- sembilan, kemenangan juga diraih nabi dan para sahabat dalam perang Tabuk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penaklukan Spanyol (&lt;i&gt;Fath Andalusia&lt;/i&gt;) terjadi pada Ramadan tahun 91 H. Penaklukan itu membuat Islam berkuasa di Spanyol selama delapan abad. Di spanyol juga, Perang Zallaqah di dekat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Cordoba&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; terjadi antara &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tentara Islam dengan kafirin Spanyol pada Ramadan tahun 479 H. Perang dahsyat yang dikomandani Yusuf bin Tasyfin itu dimenangkan pasukan muslimin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada Ramadan tahun 658 H, kegemilangan perang ‘Ain Jalut’ dimenangkan umat Islam di Palestina. Pada pertempuran besar-besaran itu umat Islam, di bawah pimpinan sultan Muzhafar Saifuddin al- Ma’zi mengalahkan pasukan Tatar dari Mongolia yang sebelumnya telah mengalahkan pasukan umat Islam di berbagai Negara yang ditaklukkan pasukan Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bulan lapar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kemenangan-kemenangan yang diraih umat Islam dalam pertempuran- pertempuran di bulan Ramadan ini menjadi dalil yang kuat bahwa Ramadan adalah bulan yang ditandai keunggulan dimensi rohani atas jasmani. Memang, hari ini pertempuran jasmani atau kontak fisik tak lagi terjadi. Namun itu bukan berarti kita harus lengah dalam membangun kekuatan rohani. Musuh dalam pertempuran kali ini, di jaman ini adalah perang melawan hasrat menggebu dan dorongan-dorongan duniawi yang arusnya sering menggenangi dan membanjiri wilayah rohani kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila direnungkan lebih seksama, musuh rohani kita di jaman ini ternyata lebih kuat dan lebih berbahaya dibanding serdadu bersenjata seperti yang terjadi pada peristiwa-peristiwa di atas. Ambisi merebut dan mempertahankan kekuasaan, hasrat membangun kekayaan materi dengan korupsi, perebutan kursi nomor urut caleg, hobi mengutak atik anggaran demi menyisihkan sebagiannya untuk kantong pribadi, kebiasaan mencari-cari alasan dari kesalahan yang diperbuat, kegemaran menipu dan mengobral janji palsu demi meraih dukungan massa dan lain-lainnya adalah musuh yang lebih kuat efek bahayanya dibanding musuh di medan laga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka, apalagikah yang harganya semahal ‘lapar’ ibadah shaum? Adakah satu kekuatan yang mengalahkan kekuatan nilai-nilai rohani? Kalau jawabannya tidak ada, apalagi yang kita tunggu? Ayo, mari kita nikmati lapar Ramadan yang masih tersisa ini, untuk mengenyangkan dimensi rohani kita, sekenyang-kenyangnya&lt;i&gt;. Wallaahu min waraa al- qashd.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*Dosen UIN &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8212105626355469188?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8212105626355469188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/dahsyatnya-kekuatan-lapar-dan-haus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8212105626355469188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/8212105626355469188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/dahsyatnya-kekuatan-lapar-dan-haus.html' title='Dahsyatnya Kekuatan Lapar dan Haus'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-1871753691465995968</id><published>2009-01-11T19:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:33:32.142-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Menyibak Pesona di Tiap Sisi Ramadhan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh: Asep M Tamam*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Subhaanallah! &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kalimat itulah yang meluncur dari mulut kita —penulis khususnya— spontan bila melihat, mendengar atau membaca apapun yang menakjubkan. Kalimat itu juga yang terlontar setiap dibacakan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; al- Baqarah ayat 183. Ayat ini begitu familiar, bahkan sangat familiar karena tiap tahun selalu dibaca mulai jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba, menjelang tiba,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;di awal bulan bahkan hingga bulan mulia ini bersua hari terakhirnya.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Tapi yang lebih menakjubkan, ayat ini selalu ‘ngangenin’, keagungannya sering menyingkap lembar demi lembar perjalanan yang telah dilalui, semenjak pertama kali diperkenalkan &lt;i&gt;shaum&lt;/i&gt; oleh orang tua kita. Kemuliaan ayat ini, walau beribu-ribu kali diulang takan mungkin membuat kita —&lt;i&gt;na’udzu billah—&lt;/i&gt; sampai bosan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ayat ke 183 dari surat al- Baqarah yang selalu dilantunkan para ulama dan pendakwah ini, kekuatannya telah menggerakkan semua manusia beriman penghuni planet bumi untuk serempak bangun dini hari untuk sahur, serempak berbuka puasa bila azan maghrib mengumandang, serempak untuk mengisi setiap relung Ramadhan dengan &lt;i&gt;khusyu&lt;/i&gt;’, dan serempak untuk memanjakan diri menikmati aneka hidangan spiritual dalam kesyahduan ibadah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tentunya, disyari’atkan shaum melalui ayat ini adalah pesona utama dan terutama dari hadiah Ramadhan yang Allah berikan kepada kita. Tanpa diturunkannya ayat ini, pastilah kita kehilangan beribu momentum kenikmatan &lt;i&gt;bathiniyah &lt;/i&gt;yang efek kepuasannya tak mungkin tertandingi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pesona lapar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sebulan saja, dalam setahun kita diuji oleh Allah untuk merubah pola hidup, mengganti jadwal makan, jam tidur, jam istirahat dan tentunya jam ibadah. Dalam sebulan itu umat harus tunduk pada ketentuan yang telah digariskan, yaitu kewajiban menahan lapar, haus dan syahwat, padahal ketiganya merupakan modal naluriah yang dititipkan Allah bukan hanya pada manusia, tapi juga makhluk yang lain seperti binatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Berat memang, dalam setengah hari kita harus mengosongkan perut yang biasanya kita pasok dengan ‘sampah’ yang nikmatnya hanya sampai di lidah. Tapi itulah caranya agama mendidik kita untuk memahami makna keseimbangan. Allah swt. berfirman, “&lt;i&gt;Makanlah, minumlah, tapi janganlah berlebihan&lt;/i&gt;!” (QS. Al- A’raf [7]: 31 ), Nabi pun lantas bersabda, “&lt;i&gt;Sungguh, termasuk kategori berlabihan bila kamu memakan apa saja yang ketika kamu mau, kamu memakannya.”&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Para &lt;i&gt;mufassir&lt;/i&gt; (ulama ahli tafsir), ketika menafsirkan ayat,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;”&lt;i&gt;Sebagaimana shiyam (puasa) ini diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu&lt;/i&gt;”, menjelaskan bahwa untuk menjaga keseimbangan jasmani dan rohani, juga untuk lebih memfokuskan diri pada satu misi, orang-orang Yunani kuno, Mesir kuno, Nasrani, Yahudi, Majusi, bahkan para penganut Hindu dan Budha terbiasa melakukan ritual pengosongan perut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kekuatan rasa lapar, ternyata —&lt;i&gt;subhanallah&lt;/i&gt;!— telah membangunkan umat Islam sejagat untuk berada dalam satu kondisi dan satu rasa. Keseragaman ini telah menghadirkan empati, &lt;i&gt;altruisme (itsar&lt;/i&gt; dalam bahasa Arab) dan jiwa solidaritas yang kuat antara orang hitam dan putih, orang kaya dan miskin juga para pemimpin dan rakyatnya. Kesatuan rasa inilah yang seharusnya bisa melahirkan ‘&lt;i&gt;izzah’&lt;/i&gt;, yaitu keunggulan Islam dalam segala bidang. Namun sayangya, kebanyakan umat ini tidak atau belum mampu untuk mengarahkan kekuatan dari hikmah (&lt;i&gt;falsafah tasyri’&lt;/i&gt;) shaum ke arah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Mereka hanya baru mampu untuk memahami shaum sebagai &lt;i&gt;ibadah mahdhah&lt;/i&gt; (hubungan dengan Allah) saja. Padahal, bila kita mampu memahami dan memahamkan shaum ini lebih jauh lagi, kita akan menyaksikan indahnya pesona ke-Maha Adilan Allah yang tercipta lewat kewajiban shaum. &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pesona kekhususan bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadits qudsi Allah berfirman, “&lt;i&gt;Shaum itu miliku, aku akan membalas pahala shaum sekehendakku.” &lt;/i&gt;(HR. al- Bukhari). Dengan firmannya ini, Allah mengkhususkan Ramadhan sebagai bulan yang teristimewa. Sepuluh hari pertamanya, Allah mengguyur umat Islam dengan hujan rahmat, sepuluh hari yang kedua, Allah membanjiri umat dengan lautan maghfirah dan sepuluh hari ketiga Allah haramkan jasad umat dari sentuhan bara neraka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bila Allah mengkhususkan mesjid sebagai hak milik- Nya di antara miliaran rumah tempat tinggal (&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt; (QS. Al- Jinn [72] : 18), dan bila Mesjid al- Haram Allah Khususkan sebagai rumah- Nya &lt;i&gt;(baitullah &lt;/i&gt;atau rumah Allah&lt;i&gt;), &lt;/i&gt;maka Allah pun mengkhususkan Ramadhan sebagai bulan- Nya dan shaum sebagai ibadah khusus bagi- Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kekhususan bulan ini takan bisa dibandingkan dengan bulan yang lainnya, walaupun harus di’keroyok’ oleh sebelas bulan. Kekhususannya membuat Ramadhan bergelar “bulan seribu gelar”. Nilai pahala ‘gede-gedean’ dan segala fasilitas kebaikan yang disibak dalam hadits-hadits Nabi menjadi &lt;i&gt;hujjah&lt;/i&gt; bahwa di bulan ini umat Islam jangan pernah sampai lengah. Di bulan inilah kitab termulia (&lt;i&gt;al- Quran al- karim&lt;/i&gt;), turun kepada makhluk termulia (&lt;i&gt;khair al- bariyah&lt;/i&gt;), pada malam paling mulia (&lt;i&gt;lailat al- qadr&lt;/i&gt;) untuk dipedomani umat termulia (&lt;i&gt;khair ummah). &lt;/i&gt;Kitab inilah yang menunjukkan jalan lurus yang menyelamatkan manusia dari bencana &lt;i&gt;duniawi&lt;u&gt; &lt;/u&gt;&lt;/i&gt;dan derita&lt;i&gt; ukhrawi&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kekhususan lainnya adalah: turunnya satu malam dalam setahun. Ia adalah &lt;i&gt;lailat al- qadr. &lt;/i&gt;Malam ini, karena kemuliaannya menjadi pusat kerinduan umat dalam menggapai puncak kenikmatan ‘menghamba’. Setetes kebaikan yang dilakukan dalam rentang waktu sedetik saja akan lebih bermakna dari “seribu bulan”. Allah maha berkehendak untuk menyentuhkan kebaikan &lt;i&gt;lailat al- qadr&lt;/i&gt; ini bagi siapapun yang ikhlas dalam mengisi detik demi detik Ramadhan dengan terus memagutkan hatinya untuk berbisik, merayu, dan tak putus rindunya untuk ‘bermesraan’ dengan- Nya. Bagi mereka yang belum mampu mengoptimalkan sepuluh hari pertama dan sepuluh hari kedua, maka sepuluh hari ketiga adalah momen untuk bertanya dan berkata pada dirinya sendiri, “&lt;i&gt;Ayo, kapan lagi kamu punya waktu, ini adalah hari-hari terindah yang belum tentu bisa kamu temukan di tahun depan. Ayo, buanglah malas, lawanlah, kalahkan ia, atau kalau tidak, kamu akan pulang ke- haribaan- Nya nanti sebagai pecundang!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pesona takwa&lt;i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;i&gt;Taqwa itu terletak di sini&lt;/i&gt;,” demikian Nabi, dalam hadits riwayat Bukhari Muslim bersabda sambil menunjuk ke arah dada. Memang, kalau kita mengacu pada hari-hari yang lalu sebelum Ramadhan tiba, kita mendapatkan dada (hati) kita liar dan tak terawat. Ketakterawatan hati inilah yang kemudian menyeret segenap panca indera kita menjadi liar. Namun ada yang aneh ketika Ramadhan, dengan segala pesonanya hadir dan membawa kita dalam ‘penggembalaan’ hati. Di bulan yang teramat mulia ini kita harus berfikir dua bahkan sampai berkali-kali untuk membebaskan lidah kita berbicara semaunya, mata kita ‘jelalatan’ sekenanya, kaki kita melangkah sekehendaknya, dan fikiran kita menerawang semesumnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ramadhan datang dengan membawa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satu saja misi, yaitu agar umat Islam bertaqwa. Memang tak mudah untuk kita mengisi hari dengan takwa, yaitu mengerjakan setiap perintah dan menjauhi semua larangan. Maunya kita bahkan sebaliknya, bukankah Nabi bersabda, “&lt;i&gt;Surganya Allah diliputi segala hal yang pahit dan memberatkan, sementara neraka- Nya dilingkpi segala hal yang menyenangkan dan menyelerakan.”&lt;/i&gt; (HR. al- Bukhari). Takwa adalah barang mahal yang tidak diperjual belikan, atau pusaka yang tidak bisa diwariskan. Ia hadir di benak siapapun yang cerdas emosional, cerdas sosial dan terutama cerdas spiritual, dan Ramadhan hadir untuk misi itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ketakwaan seorang muslim akan mencapai klimaksnya manakala segenap aspek multidimensional Ramadhan bisa dijalankan secara paripurna. Aspek rohani adalah menu utama bulan ini, sementara aspek sosial adalah pelengkap utama. Zakat adalah aspek rohani karena ia adalah perintah ilahi, tapi manfaat sosialnya juga sangat besar karena membawa dampak keadilan dan kenyamanan hidup bermasyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penutup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pesona Ramadhan begitu luas, tidak sesempit apa yang bisa penulis tulis. Pesonanya bahkan seluas cakrawala pemikiran manusia berfikir. Setiap muslim yang berpuasa pasti mendapat pesona Ramadhan yang mungkin tidak dirasakan muslim yang lain. Begitu mahalnya pesona itu sehingga Allah menghadirkannya hanya sebulan saja dalam setahun. Oleh karena itu, karena Ramadhan masih menyisakan hari-harinya yang panjang, maka mari kita cari pesona-pesonanya yang lain, sebanyak yang bisa kita cari. &lt;i&gt;Wallaahu min waraa al- qashd &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;*Dosen UIN &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-1871753691465995968?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/1871753691465995968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/menyibak-pesona-di-tiap-sisi-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1871753691465995968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1871753691465995968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/menyibak-pesona-di-tiap-sisi-ramadhan.html' title='Menyibak Pesona di Tiap Sisi Ramadhan'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-1617715283761888402</id><published>2009-01-11T19:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:31:17.059-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Ramadhan dan Reposisi Peran Agama</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Oleh: Asep M Tamam&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, sampai juga kita di bulan Ramadan. Bulan mulia penuh berkah ini tiba dan dari tahun ke tahun selalu menjadi &lt;i&gt;fashl al- rabi’ &lt;/i&gt;(musim semi) bagi umat Islam. Setiap tahunnya umat Islam seolah dibangunkan dari mimpi panjang yang melenakan, lalu mereka didorong untuk bergegas menuju hidayah, rahmat, dan ampunan Allah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ramadan adalah bulan multi momentum dari berbagai dimensinya. Segenap aspek kemanusiaan umat Islam yang sudah lusuh, kotor dan berbau dalam sebelas bulan ke belakang kembali dicuci dan disegarkan dengan berbagai ibadah, baik kuantitatif atau kualitatif, &lt;i&gt;mahdhah&lt;/i&gt; (langsung kepada Allah) atau &lt;i&gt;ghair mahdhah &lt;/i&gt;(sesama manusia). Maka shaum merupakan &lt;i&gt;dirasah mukatstsafah syahriyah&lt;/i&gt; (pesantren kilat sebulan) yang men&lt;i&gt;charge&lt;/i&gt; umat Islam agar lebih mengurus dan mendidik dirinya karena selama ini, sebelas bulan yang lalu, mereka telah lalai dan tenggelam dalam pesona dan pesta duniawi.&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Posisi agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di hari pertama Ramadhan, beberapa stasiun TV menayangkan berita tentang razia aparat keamanan di berbagai &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; di tanah air yang digelar pada malam pertama Ramadan. Razia itu berhasil menggaruk beberapa pelaku yang rupanya belum mau atau masih malu bersentuhan dengan simbol-simbol agama. Sungguh aneh bila mencermati saudara-saudara kita itu, mereka merasa terbebani dan keberatan dengan kedatangan Ramadan. Mereka menganggap Ramadan datang untuk mematikan mata pencaharian dan mengurangi &lt;i&gt;income &lt;/i&gt;mereka. Razia ini memunculkan kesan bahwa pengetahuan mereka tentang kebutuhan primer masih berkutat pada sandang, pangan dan papan. Padahal jauh di atas kebutuhan primer ada kebutuhan maha primer, yaitu terpenuhinya kesenangan batin yang bersumber dari ajaran langit, yaitu agama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kebutuhan umat Islam akan agama kian hari tampak kian menipis. Tuntutan modernitas menjadikan nilai-nilai materi sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipertahankan, walaupun untuk itu harus mengorbankan ajaran agama. Berbagai polemik yang ditampilkan di berbagai &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar dan ditayangkan di berbagai TV membuktikan bahwa semangat para penyeru agama dalam &lt;i&gt;amar&lt;/i&gt; &lt;i&gt;ma’ruf nahi munkar&lt;/i&gt; sebanding atau bahkan kalah oleh semangat mereka yang membela kebebasan ekspresi atas nama demokrasi dan HAM. Diskusi dan debat tentang porno aksi, aliran sesat dan berbagai kemaksiatan misalnya, selalu membenturkan pihak agamawan dengan para pengusung ajaran demokrasi dan HAM. Polemik dan debat itu sering memunculkan kehawatiran terkikisnya kebutuhan manusia akan pentingnya agama dalam memandu langkah manusia, khususnya umat Islam. Agama kemudian sering digambarkan sebagai institusi atau kekuatan yang menghalangi gerak, langkah dan ekspresi manusia sebagai makhluk yang merdeka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari diskusi tentang pornografi, pornoaksi, kasus Ahmadiyah, tayangan-tayangan tentang dunia ghaib dan lain-lainnya, kita sering dibuat hampir menyerah untuk melawan alasan dan kemauan mereka yang ingin bebas dan tak mau dikendalikan agama. Posisi agama kemudian hanya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mereka jadikan komplemen atau sekedar pelengkap saja. Pada saat berkreasi, mereka beraksi dan hanya ingin memuaskan para peminat dan penikmat aksi mereka. Dan karena itu tak aneh bila kita menyaksikan betapa bebasnya mereka dalam menanggalkan rasa malu yang semestinya mereka jaga utuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Reposisi agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagi beberapa kalangan, agama adalah masalah privat antara manusia dengan Tuhannya. Kekuatan apapun tidak bisa masuk ke wilayah privat itu karena kalau dilakukan berarti mengganggu hak pribadinya yang asasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masuknya momen agama, Ramadhan misalnya, setiap tahun selalu menghadirkan nuansa berbeda bagi umat Islam, bahkan bagi para pengusung kebebasan ekspresi itu sendiri. kebanyakan artis sebagai pelaku dunia seni, di bulan ini kembali memperbarui jati dirinya dan bangga mengakui Islam sebagai agamanya. Semua terdorong masuk ke dalam nuansa religius yang dihadirkan Ramadhan ini. Begitu kentalnya agama dalam hidup mereka yang kemarin-kemarin entah dicampakkan di mana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka patut kita syukuri, nuansa religi ternyata telah meliputi umat Islam di seantero dunia. Semua kalangan merasakan perbedaan suasana yang dibawa Ramadan ini karena semua orang masuk ke dalam pesona ke-Maha Adilan Allah. Dalam sebulan ini, semua orang kaya yang setiap hari kekenyangan merasakan lapar yang setiap saat dirasakan orang-orang miskin. Semua larut dalam satu kondisi yang sama: lapar. Maka apa yang dinyatakan &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;Prof.   DR.&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:Street&gt; dr. H. Dadang Hawari benar adanya: “&lt;i&gt;bila fisik manusia kosong (lapar), maka sisi spiritualitas (kesadaran agamanya) akan penuh. Namun bila fisiknya penuh (kenyang), maka sisi spiritualitasnya kosong.”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika demikian, tidaklah salah bila di bulan Ramadan ini, perasaan memiliki&lt;i&gt; (sense of belonging&lt;/i&gt;) umat Islam terhadap agamanya begitu kuat. Simbol-simbol keagamaan melekat begitu kuat dalam keseharian dan kehidupan yang –sayangnya— hanya akan berlangsung dalam tiga puluh hari saja. Maka wajar kalau MUI dan pemerintah, dari tahun ke tahun selalu menyerukan agar kesucian bulan ini tidak terkotori oleh kegiatan dan acara apapun yang mengganggu kesyahduan ibadah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tapi sayangnya, Ramadan mampir hanya sebulan. Setelah itu ia kembali menghilang dan muncul setelah sebelas bulan berikutnya. Bila diajukan pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab untuk menjaga posisi agama yang sudah &lt;i&gt;on track&lt;/i&gt; ini setelah Ramadan menyelesaikan masa kunjungannya? Jawabannya adalah :&lt;i&gt; kita&lt;/i&gt;!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Wallahu a’lam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-1617715283761888402?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/1617715283761888402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/ramadhan-dan-reposisi-peran-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1617715283761888402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4847055919157272941/posts/default/1617715283761888402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/2009/01/ramadhan-dan-reposisi-peran-agama.html' title='Ramadhan dan Reposisi Peran Agama'/><author><name>asmat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04320257620467130754</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3e9effb-QFc/SajLgVoCj6I/AAAAAAAAAAs/z1IlFeH3LOQ/S220/ABCD0011.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4847055919157272941.post-8394013876127509238</id><published>2009-01-11T19:28:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:30:00.629-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REFLEKSI'/><title type='text'>Jadikan, Ramadhan Tahun ini yang Terbaik</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;MENJADIKAN RAMADHAN 1429 H SEBAGAI RAMADHAN TERBAIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Renungan hari pertama Ramadhan 1429 H&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Ramadhan 1429 telah tiba. Sejuta perasaan yang berkecamuk dalam dada umat Islam adalah ekspresi dari rasa rindu yang mendalam untuk menikmati berbagai hidangan maha lezat, suguhan dari Allah swt. Untuk itu, Allah mengundang para kekasih- Nya untuk menghadiri dan menikmati jamuan- Nya, “&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,&lt;/i&gt; (QS. Al- Baqarah [2] : 183) &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Bagi umat Islam, Ramadhan ibarat taman yang sangat luas dan indah. Di taman itu aneka bunga yang segar menebarkan semerbak harum. Sungai yang jernih mengalir di setiap sisinya. Di area taman juga lengkap aneka pohon buah-buahan. Sebulan dalam setahun, pohon-pohon itu berbuah. Setiap pohon menghasilkan buah yang lebat, ranum, dan rasanya sungguh istimewa. Semua orang berhak memetik bunga dan buahnya, menikmati sekehendak dan sesuka hatinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Bulan kemenangan spiritual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Harus diakui, perjalanan sebelas bulan ke belakang adalah hari-hari panjang tanpa makna, minggu-minggu yang melelahkan demi memburu materi duniawi, dan bulan-bulan pembiaran dimensi spiritualitas kita. Sebelas bulan itu berlalu dan menyisakan pertanyaan, benarkah untuk memuaskan sisi spiritual, kita harus menunggu datangnya Ramadhan?. Benarkah untuk menekan dan menundukkan dorongan nafsu duniawi harus dihadirkan tiga puluh hari Ramadhan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Kehampaan makna-makna spiritual ini terbuktikan dengan kondisi al- Quran di rumah kita yang semakin kusam dan berdebu. Halaman yang sempat terbaca mungkin belum beranjak, masih berkutat di halaman-halaman awal. Shalat pun sering tak tertunaikan di mesjid. Sementara shalat di rumah dikerjakan dengan super ekspres, laksana burung yang makan biji-bijian. Wiridan sering terlewatkan, bahkan hanya untuk membaca &lt;i&gt;tasbih, tamid, takbir&lt;/i&gt; 33 kali ditambah sekali&lt;i&gt; tahlil&lt;/i&gt; pun selalu tak sempat waktu. Lalu &lt;i&gt;halaqah-halaqah&lt;/i&gt; pengajian hanya terdengar dari rumah lewat pengeras suara. Suaranya pun tertutup kerasnya suara TV yang dipirsa sambil melepas penat kerja seharian. Kemudian, buku-buku agama yang sengaja dibeli tak juga sempat disentuh karena tangan kita terlalu sibuk membolak-balik remote TV.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Bila dicari biang permasalahannya dan bolak-balik kita mencari, maka titik jawabnya tak lain adalah: hasrat duniawi/materi/jasmani kita terlalu dominan mengalahkan kebutuhan rohani. Sebelas bulan kita telah sukses mempekerjakan fisik kita untuk memuaskan kebutuhan jasmani dan materi. Sementara itu, dimensi rohani terdesak dan terhempas ke pojokan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Maka kedatangan Ramadhan adalah momentum termahal yang dihadiahkan Allah, agar kita memenuhi hak-hak spiritual yang selama ini dijadikan pelengkap dan kebutuhan sekunder. Satu hal yang pasti, takan banyak di antara kita yang akan memanfaatkan momentum emas Ramadhan ini, karena pada saat yang bersamaan kita juga akan menyaksikan fenomena lain yang terjadi setiap tahun, yaitu perputaran uang dan nilai-nilai duniawi yang sangat deras, yang memaksa umat Islam untuk lagi-lagi kembali tunduk di bawah kendali materi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Bagi kita, penulis dan pembaca, tekad yang kuat harus dipasang sejak dini untuk menjadikan bulan suci ini –sebulan saja— untuk memenangkan sisi rohani kita dan menjadikan sisi jasmani dan materi sebagai anak tiri. Jika berhasil, berarti kita telah kembali pada jati diri sebagaimana dulu kita diciptakan, “&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;(QS. Asy- Syams [91] : 9-10)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Bulan suci untuk bersuci&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Penulis sangat setuju pendapat para ulama yang merumuskan Ramadhan sebagai arena&lt;i&gt; tathhiir wa I’daad, &lt;/i&gt;(pembersih dan persiapan). Maksudnya, bila dimaksimalkan untuk memuaskan dimensi rohani, Ramadhan akan menjadi kekuatan dahsyat untuk membersihkan segenap aspek negatif yang melekat pada diri umat Islam dalam kurun sebelas bulan ke belakang, sekaligus mejadi persiapan yang mantap menghadapi sebelas bulan ke depan. Aspek pembersihan itu di antaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Aspek jasmani. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Begitu banyak ulama yang secara khusus membahas kekuatan &lt;i&gt;shaum &lt;/i&gt;dalam menyehatkan dimensi jasmani umat Islam. Tak hanya ulama, dokter-dokter di dalam dan luar negeri pun tak ketinggalan menyumbang pemikiran dan penemuan mereka akan keajaiban di balik syari’at shaum ini. Pencarian akan kekuatan nilai kesehatan dalam ibadah shaum dilandaskan pada sabda Nabi saw., &lt;i&gt;“berjalanlah di muka bumi, kamu pasti mendapat kunci rizki. Berpuasalah, kamu pasti sehat dan berperanglah, pasti kamu mendapat keuntungan.”&lt;/i&gt; (HR. Ahmad dari Abu Hurairah). Di antara tulisan tentang masalah ini bisa kita baca di buku &lt;i&gt;waqafaat ma’a al- shaaimiin &lt;/i&gt;karya DR. Yusuf al- Shughair, buku &lt;i&gt;tsalaatsuun darsan fii ramadhan &lt;/i&gt;karya DR. ‘Aidh al- Qarni, buku &lt;i&gt;ma’annabiy fii ramadhan&lt;/i&gt; karya DR. Samih Kariyyam, juga beberapa artikel DR. Ahmad al- Syibasi dalam bukunya, &lt;i&gt;yasaluunaka fiddiin wal- hayaat &lt;/i&gt;dalam bab shaum&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Aspek hati. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Sebelas bulan merupakan waktu yang panjang untuk memanjakan hati kita tenggelam dalam syahwat materialistis. Tidak hanya itu, hati yang sempat bersih di bulan Ramadhan tahun lalu dikotori lagi oleh dosa yang kemudian berkarat. Dengki, iri hati, dendam, benci, sombong, ambisi dan bangga diri telah bersarang dalam hati sehingga hati kita dilumuri sisi negatif. Maka shaum, bila dilaksanakan dengan ikhlas akan mendidik hati kita untuk lapang, ramah, penuh kasih, cinta, rendah hati dan menerima apa adanya. Kita teringat syair Imam al Ghazali, &lt;i&gt;syifaa al- quluub&lt;/i&gt; yang beberapa abad ke belakang didendangkan salah seorang dari sembilan ulama wali songo. Di tahun 90-an, syair itu dilagukan Cak Nun (Emha Ainun Najib) bersama Kiai Kanjengnya dengan judul &lt;i&gt;tombo ati&lt;/i&gt; yang di tahun 2000-an lagu &lt;i&gt;tombo ati&lt;/i&gt; itu juga dibawakan Opick dalam dua bahasa. Dalam lagu itu disampaikan satu pesan bahwa untuk membersihkan hati, salah satunya adalah dengan mengosongkan perut, maksudnya shaum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Aspek dosa. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Salah satu hadits Nabi yang paling popular tentang shaum adalah hadits “&lt;i&gt;Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap rahmat dan ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah&lt;/i&gt; &lt;i&gt;lalu.” &lt;/i&gt;Maka seluruh rangakaian ibadah dan penghambaan diri di bulan Ramadhan bila dibulatkan akan menjadi rangkaian pembersih dosa-dosa umat Islam, apakah dosa&lt;i&gt; Adami&lt;/i&gt; antar sesama manusia maupun dosa terhadap Allah swt. Hari-hari terakhir Ramadhan adalah hari-hari yang seharusnya, dan memang biasanya, mengundang banjir air mata dari hamba-hamba yang tak henti-hentinya memanjatkan doa permohonan ampunan Allah swt. nabi saw. pernah bersabda&lt;i&gt;, “Alangkah hina orang yang dikunjungi Ramadhan, tetapi ia luput dari ampunan Allah.” &lt;/i&gt;(HR. Tirmidzi dan Hakim).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Aspek harta. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Setiap tahun, kita selalu menyaksikan perputaran uang dan harta benda secara besar-besaran di bulan Ramadhan, terutama menjelang hari-harinya yang terakhir. Bukan hanya &lt;i&gt;zakat fitri, &lt;/i&gt;tapi juga &lt;i&gt;zakat mal&lt;/i&gt; yang mestinya setiap saat dikeluarkan dan tidak harus menunggu tibanya bulan suci ini. Tapi yang pasti, zakat adalah kewajiban agama yang diwajibkan demi –bukan hanya— untuk membersihkan harta benda, tapi juga membersihkan hati dari sifat kikir dan rakus. “&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan&lt;b&gt;&lt;sup&gt; &lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” &lt;/i&gt;(QS. At- Taubah [9] : 102) &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Aspek hubungan keluarga dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Sebelas bulan adalah masa yang cukup untuk berinteraksi dengan orang-orang terdekat; keluarga, tetangga, masyarakat tempat tinggal dan lingkungan pergaulan. Dalam kurun waktu tersebut tentunya kendali diri dilepas sehingga kebersinggungan antar idividu memungkinkan tejadinya&lt;i&gt; clash&lt;/i&gt; yang diakibatkan perbedaan karakter, kinginan, kepentingan dll. Seperti tahun-tahun lalu, Ramadhan dating dan selalu menghadirkan suasana berbeda dalam mewarnai interaksi antar sesama muslim. Rupanya, kendali diri yang lepas sebelas bulan lalu itu tersambung kembali dan mengikat segenap aspek pancaindera kita. Hubungan antar keluarga dan masyarakat menemukan momentum terindahnya manakala ‘&lt;i&gt;idul fitri&lt;/i&gt; datang. Sesaknya dada karena himpitan rasa benci, dendam, iri dan lainnya hilang seketika. Hari itu adalah &lt;i&gt;idul fitri&lt;/i&gt;, hari kesucian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Penutup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Sebetulnya, masih banyak kesempurnaan syari’at shaum dalam mensucikan nilai-nilai ‘kemanusiaan’ umat Islam ini. Namun hal yang kemudian harus dihayati dan lalu dipedomani adalah, bahwa aneka pengabdian dan penyucian di bulan yang penuh berkah ini harus dijadikan modal untuk persiapan menghadapi sebelas bulan ke depan. Biasanya, dan ini celakanya, umat Islam tidak menghubungkan segenap peribadahan di bulan suci ini untuk hal tersebut. Selepas Ramadhan, mereka seperti terlepas dari kendali yang sudah terjaga baik di bulan Ramadhan. Sisi-sisi kebinatangan kemudian kembali muncul dan hati, lidah, mata, telinga, tangan dan kaki tak lagi terjaga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;Tidak! ramadhan tahun ini adalah momentum termahal untuk mewujudkan satu tekad, bahwa sebulan berpuasa, harus mampu menjadi bekal yang cukup untuk menghadirkan Ramadhan tidak lagi tiga puluh hari (sebulan), tapi kita kita akan mampu menjadikan 365 hari dalam setahun sebagai Ramadhan. Maka yang kemudian harus kita lakukan adalah, dalam sebulan Ramadhan ini, kita harus menjadikan dimensi rohani sebagai ‘raja’ yang harus kita layani, juga sebagai anak emas yang harus kita manja. Kalau demikian kita akan bersama-sama mampu untuk menjadikan Ramadhan tahun ini 2008 M (1429 H) sebagai Ramadhan yang terbaik. &lt;i&gt;Wallaahu min waraa al- qashd&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;*dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung Tasikmalaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4847055919157272941-8394013876127509238?l=asmat-arabiyyatuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmat-arabiyyatuna.blogspot.com/feeds/8394013876127509238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http
