Selasa, 10 Februari 2009

Kontroversi Film Perempuan Berkalung Sorban

oleh: Asep M. Tamam*

Dalam seminggu ini, dunia budaya di langit Indonesia kembali berselimut pro-kontra. Wilayah sakral dan uncriticable yang bernama “pesantren” terusik oleh hadirnya film Perempuan Berkalung Sorban. Sekali lagi, bukti demi bukti meyakinkan kita bahwa masyarakat kita adalah masyarakat penonton, bukan masyarakat pembaca. Film yang diadaptasi dari novel 309 halaman berjudul sama karya Abidah el- Khalieqy ini, di masa rilisnya tak sempat menjadi kontroversi massa karena pembaca buku novel ini tak banyak, hanya segelintir saja.

Bila rajin ‘berkunjung’ ke situs “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS), kita bisa mengais informasi bahwa novel ini, sejak dirilis tahun 2001 memang telah memiliki bakat ‘dicekal’. Konten cerita dan vulgaritas dalam beberapa adegan pecintaan —walaupun pelakunya suami isteri— di dalamnya memunculkan kekhawatiran dari para penikmat karya sastra Indonesia yang telah membacanya. Dan ternyata, kekhawatiran mereka tebukti. Berbagai kalangan, bahkan MUI pusat, keberatan bila film perempuan Berkalung Sorban ini terus diputar. Prof. KH. Ali Musthafa Ya’qub, Imam besar mesjid Istiqlal dan pengurus teras MUI pusat, dalam wawancaranya di beberapa stasiun TV, meminta film ini dihentikan sementara sebelum beberapa isi dan visualisasi beberapa adegan di dalamnya diperbaiki terlebih dahulu.

SENSASI DAN POLITIK MARKETING
Khalif tu’raf, demikian bunyi sebuah pribahasa Arab yang artinya “buatlah sensasi, pastilah kamu terkenal”. Pribahasa ini kemudian menjadi judul sebuah buku yang ditulis Ashof Murtadho (2007). Dalam pribahasa arab yang lain, bul zamzam fatu’raf, (kencingi sumur zamzam, pasti kamu terkenal!). Dan memang, dalam sejarahnya, para pesohor; entah artis, politisi, pebisnis dan tokoh dari status sosial lainnya yang akrab dengan kontroversi, dia akan terkenal dan lebih marketable dibandingkan mereka yang lurus-lurus saja.

Di Indonesia sendiri, nama-nama seperti Inul Daratista, Dewi Persik, Ahmad Dani, Pasha Ungu, Ariel Peterpen, keluarga Azhari, Julia Perez, Luna Maya, dan lainnya termasuk yang terakhir, Hanung Bramantyo adalah nama-nama yang terbiasa mendekati grey area atau wilayah-wilayah yang controvertable. Dengan sensasi yang mereka lakukan, sengaja atau tidak, eksistensi mereka sebagai pelaku bisnis di bidang entertainment terjaga. Undangan untuk tampil pun ngantri dan berjejer, head line surat kabar gossip dan acara-acara infotainment di berbagai stasiun TV pun menampilkan wajah mereka. Bisa dibayangkan, banjir keuntungan mengalir di balik kelelahan lahir batin yang mereka alami dalam menyikapi pemberitaan di media massa.

Tapi yang paling penting untuk diingat, popularitas yang dihasilkan dari sebuah aksi kontroversi adalah semu dan hanya sementara, easy come, easy go. Wara-wirinya batang hidung si artis sensasional di berbagai media massa, bukan berarti selalu mengundang wacana positif di kalangan halayak, tapi bahkan —dan justru seringnya— menghadirkan kesan negatif dan minor. Contohnya, dicekalnya seorang dewi persik di beberapa kota dan kebupaten di negeri ini menggambarkan ketidak sukaan, bahkan kebencian anggota masyarakat agamis yang punya girah agama yang cukup atau berlebih.

SENSASI HANUNG BRAMANTYO
Kekuatan sensasi dalam Novel berbau religi Perempuan Berkalung Sorban (PBS) yang dicetak pertama kalinya tahun 2001 ini, hampir sama dengan novel yang dirilis dua tahun setelahnya, Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan (2003). Namun dipilihnya PBS ini karena setting sosial dan kulturalnya begitu kuat dan cukup mengusik kemapanan dunia pesantren yang untouchable, khususnya di Indonesia .

Mas Hanung Bramantyo, sejauh ini telah berhasil mempermainkan suhu emosi para penonton PBS yang sampai hari ini diputar di cinema 21 dan blitz megaplex di kota-kota besar. Masuknya PBS ini ke wilayah kontroversi tentu telah mengangkat namanya di jajaran sutradara yang diperhitungkan, setelah dua tahun lalu ia sukses mengemas Ayat-ayat cinta menjadi La phenomenon.

Bila PBS ini telah melahirkan sensasi di tanah air, maka Ayat Ayat Cinta (AAC) yang sukses di tanah air, justru telah mengangkat kontroversi di Mesir. Muhammad bin Ismail abdul hafizh, seorang asli Mesir dosen IAIC Cipasung yang baru dua bulan ini tinggal di Indonesia memberikan informasi bahwa film AAC yang tiga kali ia tonton, telah berhasil menggegerkan jagat Mesir dengan minimal dua issu; pertama, Ketika Bahadur memukul Naura di depan umum yaitu di pasar. Kedua, budaya pacaran yang sampai hari ini di Mesir masih tebilang tabu. Warga Mesir, demikian menurut ustadz Ismail, keberatan dengan aksi pemukulan yang dilakukan terhadap kaum perempuan. “Mustahil orang Mesir memukul perempuan, apalagi di jalan, apalagi di depan halayak ramai”, demikian kata ustadz Ismail. Lalu budaya pacaran, walaupun penceritaannya dalam novel dan filmnya terkesan Islami dan suci, tetap saja orang Mesir berkeberatan sehingga dihawatirkan budaya ini menular kepada muda mudi Mesir.

SENI, DUA MATA PISAU
Berkesenian, dalam Islam ibarat dua sisi mata pisau, bisa positif dan bisa negatif, bisa manfaat dan bisa madharat, tergantung misi dan azas pemanfaatan para pelakunya. Betapa banyak orang luar Islam tertarik dengan kesenian Islam yang mengeluarkan ‘daya rinding’nya yang langsung menusuk ke bawah kesadaran manusia, dulu dan hari ini. Banyak buku yang ditulis mengisahkan kisah masuk Islamnya orang-orang Barat justru karena menikmati kesenian Islam. Sebut satu saja misalnya buku Santri Santri Bule karya Prof. R. Deddy Mulyana M.A.

Dalam buku al- Islam wa al- Fann (Islam dan seni), DR. Yusuf Qardhawi memilah dengan tegas mana seni yang berkategori mubah (boleh) dan haram. Kekuatan dari pengaruh seni dalam kehidupan manusia, di manapun juga, begitu kuat sehingga muncullah adagium art for art, al-fannu lil-fanni (seni untuk seni). Dalam beberapa era, adagium ini telah berhasil menciptakan opini publik yang mengusung kebebasan berekspresi. Posisi agama dalam hal ini termarginalisasi. Maka sering kita mendengar kalimat, “jangan bawa-bawa agama dalam dunia seni, agama adalah masalah pribadi, wilayah privat seseorang dengan Tuhannya”.

Film PBS yang ketika di awal launchingnya menyedot perhatian masyarakat yang antusias dan merindukan film-film benuansa pembangunan moral, kini menjadi polemik. Maka kebijakan semua pihaklah yang tentu menjadi solusi pemecahan masalah. MUI, yang sekarang ini semakin bertaji dan semakin produktif, diharapkan bukan hanya memokuskan perhatian kepada film-film seperti PBS ini, tapi justru harus lebih meluangkan waktu dan perhatian untuk meluruskan film-film sekuler, berbau mistis dan film vulgar berthema seks. Bila PBS ini hanya ‘menyerang’ lembaga pesantren dan korp ulama, maka film-film mistis dan vulgar justru ‘menyerang’ agama.

*Penulis adalah peminat masalah sosial, budaya dan keagamaan. Alumni Fakultas Sartra UIN Jakarta.

Seja o primeiro a comentar

Poskan Komentar

Followers

arabiyyatuna © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO