Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2009

Dari Elegi Gedung Dewan, Pilpres hingga Kontroversi Facebook

Oleh: Asep M. Tamam*

“Dua menit!”, kalimat itu sepertinya telah menjadi idiom yang tergumam dari bapak-bapak yang baru keluar dari mulut mesjid, tanda obrolan sabulangbentor ba’da bubaran wirid subuh dimulai. Tradisi itu telah mewarnai sejarah mesjid kami sebelum bapak-bapak itu pulang ke rumah masing-masing. Di undakan mesjid, obrolan berat urusan negara, kelakuan para inohong, rencana kegiatan RT hingga melonjaknya harga cabe merah keriting diulas.

Obrolan dua menit yang terkadang memanjang menjadi setengah jam itu, kadang sampai menghabiskan dua hingga lima topik. Arah obrolan berpindah sesuai celetukan sekena dan semaunya dari peserta ‘rumpi’ pagi itu. Obrolan ringan yang kadang juga berat itu, bagi penulis adalah gambaran kecil dari rangkaian suara rakyat akan berbagai harapan mereka, yaitu terwujudnya kehidupan ideal dalam tatanan ekonomi, sosial hingga politik.

Pagi itu, topik yang sedang hangat dalam wacana masyarakat Tasik adalah masalah perbaikan interior gedung dewan yang menghabiskan lebih dari satu miliar Rupiah dibahas. Dengan geramnya bapak-bapak mengutuk rencana yang sudah berjalan itu hingga bila walikota dan anggota dewan hadir dan mendengar, pastilah kuping mereka panas dan mereka akan marah. Bapak-bapak itu tak tahu bahwa dari sudut pandang hukum, tak ada yang salah dengan proyek yang telah tercium bau di hidung rakyat Tasik itu. “Tapi bayangkan”, kata seorang bapak, “rakyat baru saja terbuai dengan janji demi janji untuk kesejahteraan dan perbaikan hidup mereka, janji yang terucap dari para caleg belum juga hilang dari ingatan mereka, bibir para caleg belum juga mengering, eh, legislatif dan walikota malah hom pim pah mendahulukan kepentingan mereka dan melupakan rakyatnya, manajemen pemerintahan macam apa ini?” bapak tadi, saking bernafsunya menaikkan nada suaranya.

Untuk membelokkan arah pembicaraan, seorang bapak yang rutinitas hariannya menonton berita di televisi mengangkat isu yang lain. Isu yang paling hangat dalam wacana sosial politik hari-hari terakhir ini, juga sebulan ke depan adalah isu pilpres. “Lagi-lagi untuk kenduri politik besar-besaran itu, rakyat dipaksa untuk memilih dan lagi-lagi hak mereka untuk memilih berubah menjadi kewajiban untuk memilih”, katanya. Bapak-bapak tadi lalu bergantian memaparkan ‘presentasi’ dari thesis mereka setelah mencerna berbagai masukan informasi dari berbagai pemberitaan televisi. Semua membawa hasil “kuliah pemadatan” semalam.

Politik, selain menghadirkan wacana serius karena berhubungan dengan ilmu dan seni pengelolaan negara, ternyata ia juga menghadirkan wacana sensitif karena bila seorang calon presiden diunggulkan di hadapan seseorang yang berbeda pilihan, masalah justru akan meruncing dan kemudian menjurus kepada pertengkaran. Politik, selain menjanjikan wacana serius dan sensitif tadi, ternyata juga menjanjikan wacana yang lucu dan menggelitik. Bagaimana tidak, dari mulai pejabat tinggi hingga ketua RT, dari mulai ekonom kelas berat hingga tukang jualan bakso, dari mulai pekerja berat hingga kaum pengangguran, dari mulai pejabat higga penjahat, dari mulai seniman, agamawan, pelaku pendidikan hingga pengamen jalanan, semuanya berhak jadi pengamat politik. Anehnya, tukang becak dan kuli angkut di pasar Cikurubuk menganggap dirinyalah yang paling tahu urusan politik. Dengan penuh keyakinan, seorang pemulung di terminal Indihiang memprediksi SBY-lah calon pemenang pilpres mendatang. Lain di terminal, lain pula di pangkalan ojek, seorang pengojek yang punya kemampuan menggirig opini massa, mengarahkan opini tentang kemenangan JK Juli mendatang. Di sudut lainnya, di pesawahan dan di pinggiran pantai, para petani dan nelayan yakin MSP-lah calon juaranya.

Obrolan bapak-bapak tadi, biasanya dibubarkan oleh ibu-ibu yang sekedar nongol memperlihatkan batang hidungnya di depan suaminya, atau juga bisa jadi dibubarkan oleh teriakan seorang ibu yang menyuruh suaminya segera pulang untuk membantu pekerjaan rumahnya atau sekedar meringankan tugas memperiapkan anak-anaknya yang segera akan pergi sekolah. Namun untuk menutupi pembicaraan, biasanya tersisa satu topik penutup. Kali ini, judulnya cukup berat, yaitu ketika penulis ditanya, apa itu facebook (FB)? Apa urusannya sehingga ulama Jawa Madura mengharamkannya?

Penulis menjawab bahwa benar bahtsul masail XI Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur memutuskan bahwa FB haram. Tentu banyak alasan yang mengarahkan pendapat para ulama yang berkumpul di Pesantren putri Hidayatul Mubtadiat Kediri itu berujung di kesimpulan facebook haram. Seperti fatwa-fatwa haram terdahulu; haram rokok, haram pornografi dan pornoaksi, fatwa haram FB ini juga menuai pro kontra. Wajar saja, anggota facebook saat ini marah, mereka merasa seperti anak-anak yang baru saja punya mainan baru nan amat menyenangkan, –hinggga untuk masuk jalur FB siap menghabiskan waktu berjam-jam– lalu ada pihak lain yang siap merebut dan mengambil kembali mainan itu.

Haram tidaknya FB, hemat penulis, tergantung sejauhmana FB memberi dampak madaharat kepada penggunanya sehingga hak dirinya, hak usaha dan waktu kerja produktifnya, hingga hak Allah (agama) terabaikan. Bila FB haram, maka akan sangat banyak variable lain selain FB yang harus difatwa haram. Memang, ada benang merah antara bermain FB dengan penelantaran waktu ataupun hal-hal yang mengarah kepada perselingkuhan dan perzinahan, tapi itu kasuistis, sementara nilai positif FB tak kalah dari nilai negatifnya. Nilai positif itu misalnya, adalah keanggotaan KH. Hasyim Muzadi (ketua umum PBNU) dan Prof. Dien Syamsudin (ketua umum PP Muhammadiyah) di FB. Tentu, keberadaan keduanya bukan legitimasi halalnya FB, tapi sosialisasi program kerja PBNU dan PP Muhammadiyah setidaknya terwakili dan terbantu dengan kehadiran FB ini.

Yang penting untuk dilakukan, adalah sertifikasi atau akreditasi WARNET! Penulis punya cukup pengalaman ketika harus kehabisan tempat di warnet karena penuh oleh anak-anak sekolah. Di satu sisi, anak anak kita (pelajar SMP dan SMU) di zaman sekarang ini sudah melek teknologi, tidak ketinggalan informasi dan tidak jadul. Tapi, lagi-lagi hemat penulis, nilai negatif keberadaan mereka memenuhi ruangan warnet memunculkan pertanyaan, apa yang mereka perbuat di kamar warnet yang nyelegon itu? Situs apa yang mereka hunting? Apakah berjam-jam keberadaan mereka di kamar itu setelah berbagai kewajiban mereka sebagai anak-anak sekolah dan kewajiban mereka sebagai orang-orang beragama telah terpenuhi?

Bapak-bapak yang khusyuk mendengar “ceramah” penulis pun bubar. Salah seorang di antara mereka nyeletuk, “teu ngarti ah…”

*Penulis adalah peminat masalah sosial keagamaan, tinggal di Tasikmalaya, pengelola asmat-arabiyyatuna.blogspot

Senin, 09 Maret 2009

kembalikan anakku pada usianya

Oleh: asep M Tamam*

Sejak beberapa bulan ke belakang, ada yang aneh terjadi pada anakku yang belum genap tujuh tahun. Sepulang mengaji, ia selalu bergegas mengambil buku dan ballpoint untuk menulis lagu-lagu yang setiap malam diputar di TRANS 7. Judul lagu dan penyanyi dia tulis lengkap sambil mulutnya komat kamit menghafal syair lagu-lagu yang disajikan dengan ‘bumbu’ hot gossip terbaru.

Mulanya kebiasaan itu dibiarkan dengan asumsi bahwa dia masih anak-anak. Alasan lainnya, karena musik secara universal mempengaruhi tingkat kecerdasan terutama bagi anak-anak. Namun semenjak setahun ke belakang, terutama setelah RCTI punya acara yang ditayangkan live tiap Sabtu siang dan Minggu sore yaitu Idola Cilik, kehawatiran mulai menggoda. Acara yang juga dirindui anakku ini sempat menjadi polemic dan diprotes karena hampir semua lagu yang dibawakan anak-anak bau kencur itu bertema cinta. Tapi kemudian lagu-lagu itu ‘dipaksa’ untuk dimodifikasi sehingga menjadi lagu anak-anak. Alasan yang mengemuka ketika itu adalah karena cinta itu universal, cinta bisa terekspresi ke berbagai objek; Tuhan, orang tua, sesama, semua tumbuhan, hewan dan alam raya.

Lama kelamaan, kekhawatiran itu bertambah karena seharian, anakku mengumandangkan lagu demi lagu yang syair-syairnya —gradually— pasti menghampiri sanubari terdalamnya dan memberi pengaruh walau tak secara langsung. Lagu-lagu yang berjudul terlanjur cinta (Rossa feat Pasha Ungu), Penghianat Cinta (Duo Maya feat Cinta Laura), Ular Berbisa (Hello Band), Pemain Cinta (Ada Band), Cinta Sampai di Sini (The Massiv) dan lain-lain begitu akrab dengan lidah cadel dan badan kerempengnya.

PREMATURITAS ANAK-ANAK INDONESIA
Sejak sekitar setahun lebih hingga hari ini, lagu pop merajai belantika musik di tanah air. Penyanyi single, duo, trio dan grup band pengusung musik aliran pop sejak subuh hingga malam hari sambung menyambung bak acara infotainment di berbagai stasiun TV. Derasnya penyanyi dan grup band baru dalam dunia musik pop di tanah air memasuki puncaknya sehingga lagu dangdut dan lagu anak-anak tiarap dan sekarat. Namun bila melihat ke belakang, boombastisnya acara TV yang digandrungi —entah acara musik, komedi, sitkom dan lainnya— akan melintasi masa menjemukan dan sampai di antiklimaks. Ketika siklus itu terjadi, maka siklus lagu dangdut dan lagu anak-anak akan mendapatkan momentumnya.

Bila aliran dangdut masih bisa bertahan walaupun dalam ‘radius’ terbatas, maka lagu anak-anak berada dalam kondisi kritis sehingga mendesak untuk diselamatkan. Wajah imut dan menggemaskan dari penyanyi-penyanyi cilik semisal Tasya, Cikita Meidy, Kristina, Tina Toon, Joshua, Chantika dan yang lainnya masih tarbayang dan belum hilang dari ingatan kita. Sementara itu, Leony, Dea Ananda, Eno Lerian, Bondan Prakoso, Agnes Monika, Eza Yayang dan lainnya bahkan sudah tak menyisakan guratan anak kecil lagi seperti yang dulu kita saksikan sekitar sepuluh tahun lalu.

Yang belum kita lupa, adalah bahwa mereka menyanyi sesuai usia mereka. Lagu anak-anak yang diciptakan khusus untuk mereka membuat dunia anak-anak pada masa itu benar-benar berkibar. Anak-anak Indonesia pun hidup dalam suasana merdeka, alami, penuh ceria dan tidak ada suasana yang dipaksakan.

Namun sekarang ini, begitu banyak tontonan di televisi yang memaksakan anak-anak kita harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Bukan hanya acara-acara di televisi, tatanan adat dan budaya masyarakat tradisional pun sudah terlanjur berubah. Kebiasaan bayi kecil yang di zaman kakek nenek kita dahulu dibedong sampai usia tiga bulan, sekarang ini baru seminggu saja bayi-bayi kita kegerahan dengan bedong. Permainan anak seperti gatrik, cat-catan, jibeh, sermen dan puluhan permainan lainnya telah pula hilang di telan acara-acara TV, komputer sampai internet. Dunia pacaran yang sepuluh tahun lalu divisualisasi untuk remaja SMA dan anak kuliahan, kini sudah sebegitu permissif hingga bukan hanya anak SMP, anak-anak SD pun mulai ‘dikenalkan’, sebuah bentuk euphimisme dari kata ‘diajarkan’.

ELEGI DARI DUNIA PENDIDIKAN KITA
Teriris hati kita manakala kasus demi kasus tentang kenakalan remaja dan anak-anak sekolah kita menohok dan menyentak semua orang. Di Tasikmalaya, kasus adegan syur anak SMP favorit menjadi bukti prematuritas anak-anak kita. Beberapa bulan sebelumnya, di kecamatan Taraju, seorang siswa SMU tega menjual pacarnya yang nota bene anak murid SMP kepada lebih dari empat puluh pemuda tanggung dan di beberapa di antaranya adalah lelaki paruh baya. Ini adalah sebuah hasil gemilang dari pembelajaran maturisasi (proses pendewasaan) anak kecil yang dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya.

Kebebasan pergaulan anak remaja kita seperti yang terekam dari pemberitaan media massa —selain beberapa peristiwa kekerasan yang sambung menyambung diberitakan dan mudah diakses di dunia maya— hanyalah setetes dari potret sebenarnya dari realitas kebebasan mereka di lapangan. Data yang mengerikan tentang hilangnya virgiditas (keperawanan) anak SMU di Tasikmalaya saja menunjukkan angka di atas 30% dan di Bandung bahkan melebihi 50%.

Salut bagi para pengelola pendidikan kita; diknas, kepala sekolah, dewan pendidikan dan semua pihak yang telah berusaha keras dalam memerangi atau minimal meminimalisir kasus lanjutan. Tapi akan lebih ‘mengharukan’ lagi apabila kerja keras itu berlangsung secara berkesinambungan dan bersifat antisipatif, bukan reaktif seperti sekarang ini, di mana razia HP dan sosialisasi pelanggaran siswa baru dilakukan setelah kasus demi kasus terjadi.

Lewat tulisan ini, penulis ingin melempar wacana sekaligus harapan agar dunia anak-anak yang sekarang ‘hilang dicuri’ segera dikembalikan. Hak anak-anak Indonesia untuk hidup dalam dunianya mendesak untuk diperjuangkan oleh siapapun yang mencintai dan menyayangi mereka. Generasi terbaik akan tercipta dari pola pendidikan sistimatis dan berjenjang. Suatu saat nanti, pemaksaan dari maturisasi anak-anak tidak lagi dialami anak-anak kita, semoga.
Wallaahu min waraa al- qashd
*Penilis adalah ketua Jurusan Bahasa Arab Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) dan dosen LB di STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.

Selasa, 10 Februari 2009

Kontroversi Film Perempuan Berkalung Sorban

oleh: Asep M. Tamam*

Dalam seminggu ini, dunia budaya di langit Indonesia kembali berselimut pro-kontra. Wilayah sakral dan uncriticable yang bernama “pesantren” terusik oleh hadirnya film Perempuan Berkalung Sorban. Sekali lagi, bukti demi bukti meyakinkan kita bahwa masyarakat kita adalah masyarakat penonton, bukan masyarakat pembaca. Film yang diadaptasi dari novel 309 halaman berjudul sama karya Abidah el- Khalieqy ini, di masa rilisnya tak sempat menjadi kontroversi massa karena pembaca buku novel ini tak banyak, hanya segelintir saja.

Bila rajin ‘berkunjung’ ke situs “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS), kita bisa mengais informasi bahwa novel ini, sejak dirilis tahun 2001 memang telah memiliki bakat ‘dicekal’. Konten cerita dan vulgaritas dalam beberapa adegan pecintaan —walaupun pelakunya suami isteri— di dalamnya memunculkan kekhawatiran dari para penikmat karya sastra Indonesia yang telah membacanya. Dan ternyata, kekhawatiran mereka tebukti. Berbagai kalangan, bahkan MUI pusat, keberatan bila film perempuan Berkalung Sorban ini terus diputar. Prof. KH. Ali Musthafa Ya’qub, Imam besar mesjid Istiqlal dan pengurus teras MUI pusat, dalam wawancaranya di beberapa stasiun TV, meminta film ini dihentikan sementara sebelum beberapa isi dan visualisasi beberapa adegan di dalamnya diperbaiki terlebih dahulu.

SENSASI DAN POLITIK MARKETING
Khalif tu’raf, demikian bunyi sebuah pribahasa Arab yang artinya “buatlah sensasi, pastilah kamu terkenal”. Pribahasa ini kemudian menjadi judul sebuah buku yang ditulis Ashof Murtadho (2007). Dalam pribahasa arab yang lain, bul zamzam fatu’raf, (kencingi sumur zamzam, pasti kamu terkenal!). Dan memang, dalam sejarahnya, para pesohor; entah artis, politisi, pebisnis dan tokoh dari status sosial lainnya yang akrab dengan kontroversi, dia akan terkenal dan lebih marketable dibandingkan mereka yang lurus-lurus saja.

Di Indonesia sendiri, nama-nama seperti Inul Daratista, Dewi Persik, Ahmad Dani, Pasha Ungu, Ariel Peterpen, keluarga Azhari, Julia Perez, Luna Maya, dan lainnya termasuk yang terakhir, Hanung Bramantyo adalah nama-nama yang terbiasa mendekati grey area atau wilayah-wilayah yang controvertable. Dengan sensasi yang mereka lakukan, sengaja atau tidak, eksistensi mereka sebagai pelaku bisnis di bidang entertainment terjaga. Undangan untuk tampil pun ngantri dan berjejer, head line surat kabar gossip dan acara-acara infotainment di berbagai stasiun TV pun menampilkan wajah mereka. Bisa dibayangkan, banjir keuntungan mengalir di balik kelelahan lahir batin yang mereka alami dalam menyikapi pemberitaan di media massa.

Tapi yang paling penting untuk diingat, popularitas yang dihasilkan dari sebuah aksi kontroversi adalah semu dan hanya sementara, easy come, easy go. Wara-wirinya batang hidung si artis sensasional di berbagai media massa, bukan berarti selalu mengundang wacana positif di kalangan halayak, tapi bahkan —dan justru seringnya— menghadirkan kesan negatif dan minor. Contohnya, dicekalnya seorang dewi persik di beberapa kota dan kebupaten di negeri ini menggambarkan ketidak sukaan, bahkan kebencian anggota masyarakat agamis yang punya girah agama yang cukup atau berlebih.

SENSASI HANUNG BRAMANTYO
Kekuatan sensasi dalam Novel berbau religi Perempuan Berkalung Sorban (PBS) yang dicetak pertama kalinya tahun 2001 ini, hampir sama dengan novel yang dirilis dua tahun setelahnya, Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan (2003). Namun dipilihnya PBS ini karena setting sosial dan kulturalnya begitu kuat dan cukup mengusik kemapanan dunia pesantren yang untouchable, khususnya di Indonesia .

Mas Hanung Bramantyo, sejauh ini telah berhasil mempermainkan suhu emosi para penonton PBS yang sampai hari ini diputar di cinema 21 dan blitz megaplex di kota-kota besar. Masuknya PBS ini ke wilayah kontroversi tentu telah mengangkat namanya di jajaran sutradara yang diperhitungkan, setelah dua tahun lalu ia sukses mengemas Ayat-ayat cinta menjadi La phenomenon.

Bila PBS ini telah melahirkan sensasi di tanah air, maka Ayat Ayat Cinta (AAC) yang sukses di tanah air, justru telah mengangkat kontroversi di Mesir. Muhammad bin Ismail abdul hafizh, seorang asli Mesir dosen IAIC Cipasung yang baru dua bulan ini tinggal di Indonesia memberikan informasi bahwa film AAC yang tiga kali ia tonton, telah berhasil menggegerkan jagat Mesir dengan minimal dua issu; pertama, Ketika Bahadur memukul Naura di depan umum yaitu di pasar. Kedua, budaya pacaran yang sampai hari ini di Mesir masih tebilang tabu. Warga Mesir, demikian menurut ustadz Ismail, keberatan dengan aksi pemukulan yang dilakukan terhadap kaum perempuan. “Mustahil orang Mesir memukul perempuan, apalagi di jalan, apalagi di depan halayak ramai”, demikian kata ustadz Ismail. Lalu budaya pacaran, walaupun penceritaannya dalam novel dan filmnya terkesan Islami dan suci, tetap saja orang Mesir berkeberatan sehingga dihawatirkan budaya ini menular kepada muda mudi Mesir.

SENI, DUA MATA PISAU
Berkesenian, dalam Islam ibarat dua sisi mata pisau, bisa positif dan bisa negatif, bisa manfaat dan bisa madharat, tergantung misi dan azas pemanfaatan para pelakunya. Betapa banyak orang luar Islam tertarik dengan kesenian Islam yang mengeluarkan ‘daya rinding’nya yang langsung menusuk ke bawah kesadaran manusia, dulu dan hari ini. Banyak buku yang ditulis mengisahkan kisah masuk Islamnya orang-orang Barat justru karena menikmati kesenian Islam. Sebut satu saja misalnya buku Santri Santri Bule karya Prof. R. Deddy Mulyana M.A.

Dalam buku al- Islam wa al- Fann (Islam dan seni), DR. Yusuf Qardhawi memilah dengan tegas mana seni yang berkategori mubah (boleh) dan haram. Kekuatan dari pengaruh seni dalam kehidupan manusia, di manapun juga, begitu kuat sehingga muncullah adagium art for art, al-fannu lil-fanni (seni untuk seni). Dalam beberapa era, adagium ini telah berhasil menciptakan opini publik yang mengusung kebebasan berekspresi. Posisi agama dalam hal ini termarginalisasi. Maka sering kita mendengar kalimat, “jangan bawa-bawa agama dalam dunia seni, agama adalah masalah pribadi, wilayah privat seseorang dengan Tuhannya”.

Film PBS yang ketika di awal launchingnya menyedot perhatian masyarakat yang antusias dan merindukan film-film benuansa pembangunan moral, kini menjadi polemik. Maka kebijakan semua pihaklah yang tentu menjadi solusi pemecahan masalah. MUI, yang sekarang ini semakin bertaji dan semakin produktif, diharapkan bukan hanya memokuskan perhatian kepada film-film seperti PBS ini, tapi justru harus lebih meluangkan waktu dan perhatian untuk meluruskan film-film sekuler, berbau mistis dan film vulgar berthema seks. Bila PBS ini hanya ‘menyerang’ lembaga pesantren dan korp ulama, maka film-film mistis dan vulgar justru ‘menyerang’ agama.

*Penulis adalah peminat masalah sosial, budaya dan keagamaan. Alumni Fakultas Sartra UIN Jakarta.

Rabu, 17 Desember 2008

MENANTI FILM KETIKA CINTA BERTASBIH


Oleh: Asep M Tamam*

Film nasional kita akhir-akhir ini terus bergeliat. Kuantitas dan kualitas pun bersipadan dan ini menandakan bahwa dunia seni peran di tanah air telah kembali bangkit. Setelah film Ayat-Ayat Cinta (AAC) laris manis di pasaran dengan raihan penonton sekitar 3,7 juta orang (PR, Rabu 12/10/2008), film laskar pelangi yang melanjutkan fenomena AAC kembali menggebrak massa dengan raihan melebihi penonton AAC, yaitu 3,9 juta penonton.

Raihan angka penonton sebanyak itu baru terdata dari bioskop jaringan 21 saja dan belum ditambah dengan jumlah penonton di bioskop Blitzmegaplex. Jumlah itu masih akan terus bertambah mengingat hari-hari ke depan, penayangan film itu masih akan terus berlangsung. Produser dan co-producer film tersebut, Mira Lesmana dan Putut Widjanarko bahkan sampai saat ini masih melanjutkan misi promosinya hingga menyentuh wilayah-wilayah di daerah yang belum terjangkau jaringan bioskop seperti Aceh, Natuna, Rantau (Sumatera Utara), Prabumulih (Sumatera Selatan), Kamojang (Jambi), Kalimantan Timur dan Papua.

Fenomena Laskar Pelangi

Sejak 25 september 2008 lalu, film laskar pelangi yang dibintangi anak-anak asli wilayah propinsi Bangka-Belitung ini telah menyihir tidak hanya pecinta seni peran, tapi bahkan sampai anak-anak kecil. Di beberapa kota, tiket bioskop 21 dan lainnya sering habis di-booking oleh beberapa SD dan SMP.

Penulis yang baru sempat menonton seminggu yang lalu, punya apresiasi sendiri dengan film yang diadaptasi dari novel super best seller karya Andrea Hirata ini. Setelah setahun lalu sempat melahap novel aslinya, dan dag dig dug der ketika mendengar novel itu akan difilmkan, akhirnya wajah Ikal (yang punya cerita, Andrea Hirata), Lintang (si jenius), Kucai (KM Laskar Pelangi), Mahar (seniman laskar), A Kiong (seorang Khong Hu Chu yang terdampar di sekolah Islam militan itu) , Harun (penggenap 10 murid), Sahara (satu-satunya murid dari kaum Hawa), Trapani (perfectionist, staylist), Syahdan, Borek (Samson yang otot kawat tulang besi), dan ditambah Flo (masuk anggota laskar di tahun kelima) hadir di depan mata.

Sebagai sutradara yang sukses menangani film Petualangan Sherina beberapa tahun ke belakang, Riri Reza telah sukses mengolah Laskar Pelangi ini dan menggiring emosi penontonnya sehingga anak kecil pun tak mau beranjak dari tempat duduk bioskop. Sentuhan tangan Riri Reza telah mengombang ambing perasaan sehingga penonton ‘berjamaah’ menangis haru pada setting tertentu, juga serempak tertawa pada setting yang lain.

Menurut penulis, novel Andrea Hirata jauh lebih ‘dahsyat’ daripada filmnya. Hanya karena masyarakat kita masyarakat penonton, maka film Laskar Pelangi jauh lebih sukses daripada novelnya. Film Laskar Pelangi tidak cukup kuat dalam menggambarkan geniusitas sang penulis, padahal lembar demi lembar novel Laskar Pelangi benar-benar menggambarkan Andrea Hirata yang berilmu mumpuni dan daya hafal yang kuat terhadap sains (biologi, fisika, metal, ekonomi, politik), agama dan tentu saja ‘permainan’ bahasa.

Kesuksesan Laskar Pelangi ini, tahun 2009 nanti akan disusul oleh sekuelnya Sang Pemimpi yang ternyata sedari sekarang sudah mulai dipersiapkan strategi dan segala macam persiapannya. Tentunya, hari ini kita bisa terlebih dahulu membaca novelnya yang sudah diterbitkan pertamakali bulan Juli 2006 yang lalu dan beredar luas dari toko buku beretalase megah sampai toko buku di daerah-daerah.

Ketika Cinta Bertasbih

November ini adalah bulan pertama shooting sekuel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman el- Syirazi (Kang Abik) yaitu dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Yang pasti, audisi (seleksi) pemeran yang melibatkan salah satu stasiun televisi itu telah berhasil memilih pemeran Azzam, Ana Althafunnisa, Elliana, Furqan, Hafez, Salwa, Cut Mala, Tiara, Fadhil, Sara, Nasir dan lainnya.

Diperkirakan, kesuksesan Ketika Cinta Bertasbih (KCB) ini akan melampaui pendahulunya AAC. Cerita cinta Islami yang masih ber-setting Mesir tempat kuliahnya Habiburrahman el-Shirazi ini, menurut penulis lebih berwarna dibanding AAC. Bila cerita Fahri, Aisha dan Maria (AAC) dari awal sampai akhir terjadi di Mesir, maka akhir cinta Azzam-Elliana dan Furqan-Anna (di akhir cerita, Azzam beristrikan Anna dan Furqan menikahi Elliana) ini berawal di Mesir dan berakhir di Pulau Jawa.

Sebagai pemeluk moralitas religius yang kuat, Habiburrahman el- Shirazi (Kang Abik) dalam dwilogi Ketika Cinta Bertasbih ini masih menampilkan bentuk pacaran dalam Islam yang menurut versinya sedemikian suci dan indah. Dan memang, Kang Abik ingin mengajak dan mendakwahi pembacanya untuk mengenali gaya pacaran yang etis, beradab dan berdasar ajaran suci agama Islam.

Bila di novel AAC kang Abik menampilkan Fahri yang memikat hati para wanita dengan keteguhan akhlak, kekhusyuan ibadah, rajin belajar dan kecerdasan emosional dan sosial, maka di novel dwilogi Ketika Cinta Bertasbih ini, kang Abik menggambarkan Azzam yang jujur, sederhana, pekerja keras (kuliah di mesir dengan membiayai diri dan keluarga dengan berjualan tempe dan bakso), bertanggung jawab dan cinta keluarga. Bila Aisyah yang dinikahi Fahri seorang miliarder berkebangsaan Jerman, maka Anna yang dinikahi Azzam adalah ‘bidadari’ putri seorang kyai di Jawa Tengah. Sebagaimana penulis pernah ganggarateun menunggu buku KCB jilid kedua sampai setahun lamanya, maka film KCB juga sudah ganggarateun penulis tunggu sampai masa tayangnya tiba, entah di bulan Desember tahun ini atau awal tahun 2009 nanti.

Pelajaran bagi insan film

Sebagai rakyat biasa, pikiran penulis tak pernah sampai kepada apa yang ada di benak sebagian pelaku perfilman di tanah air. Selain film-film bermutu dan mengusung nilai-nilai ketinggian moral seperti AAC, Laskar pelangi, dan lainnya, film-film bertema ‘jurig’, paranormal, pergaulan bebas, umbar aurat dan syahwat masih saja mereka ‘perjuangkan’ atas nama HAM, demokrasi dan ekspresi seni. Film-film yang menampilkan ajaran-ajaran moral yang kotor dan bertentangan dengan nilai agama, adat ketimuran dan adat ke-Indonesiaan bahkan hadir dengan arus yang lebih deras dibanding film yang membawa misi keindonesiaan dan ketinggian idealitas.

Maka, laku kerasnya film seperti AAC, Laskar Pelangi dan lainnya, seharusnya —menurut hemat penulis— menjadi bahan renungan bagi semua insan perfilman untuk mencipta karya serupa yang menampilkan citra orang Indonesia yang bermoral dan beragama. Di sela-sela suguhan berita kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok, berita kriminal, berita kejahatan para pejabat dan berita bencana yang terus melanda, rakyat butuh suguhan tontonan yang membawa gairah dan berbagai pencerahan.

Kepuasan penulis dan umumnya anda yang telah menonton film Laskar Pelangi ini, tentunya telah menghembuskan semilir kerinduan akan film-film serupa di hari-hari yang akan datang. Lahirnya film-film bermutu ini menggambarkan tanggungjawab dari insan perfilman kita akan betapa pentingnya sebuah misi pengembangan pribadi rakyat Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang. Bebagai pujian dan penghargaan patut dialamatkan bagi siapapun dari anak negeri ini yang ingin memadukan kemuliaan ajaran agama dengan dunia seni.

Wallaahu min waraa al- qashd

*Peminat masalah sosial-politik dan keagamaan. Dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya

Followers

arabiyyatuna © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO