Tampilkan postingan dengan label DUNIA MAHASISIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA MAHASISIWA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2009

Dunia Pendidikan, Dunia Hati Nurani

Oleh: Asep M. Tamam*

Ujian Nasional (UN) yang telah berlalu beberapa minggu ke belakang, ternyata masih menyisakan permasalahan. Katakanlah, bila pun segalanya telah terlupakan, tapi apakah kita rela kerancuan demi kerancuan yang terbiarkan itu terjadi lagi di tahun-tahun mendatang?

Bila kerancuan dunia pendidikan yang terjadi dalam UN itu lolos dari tanggung jawab berbagai pihak termasuk kita semua, dikhawatirkan ke depan akan menjadi sebuah budaya yang melembaga. Budaya korupsi misalnya, pada awalnya hanya dilakukan oleh segelintir orang saja, namun karena dibiarkan dan dianggap lumrah, maka begitu kuat daya tularnya dan kemudian menjangkiti berbagai tempat, berbagai lembaga dan intansi, lalu mewabah dan menjelmalah sebuah budaya korupsi yang massif.

Di salah satu lembaga pendidikan elit di kota Tasikmalaya, ada penguatan paradigma yang terbangun apik dan menjadi sebuah pilihan pahit dari para pengelolanya. Setiap masa pelaksanaan UN berlangsung, semua pihak; kepala sekolah, para guru dan murid-muridnya ‘memasang kuda-kuda’ dan memagari diri untuk tidak terjebak pragmatisme menghalalkan segala cara untuk menunjang kelulusan siswa-siswanya yang diuji. Asumsinya, lebih baik mendapatkan nilai kecil dan murni tapi memuaskan batin daripada lulus dengan nilai tinggi tapi menyakiti dan menghianati hati nurani.

Deskripsi di atas, tak lebih merupakan gambaran dari dua opsi mikro yang selalu menghinggapi para pengelola lembaga pendidikan kita, entah itu pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Dilema demi dilema tak pernah berhenti menghampiri dan ketika itu harus terjadi, betapa beratnya bagi mereka untuk bermakmum pada hati nurani.

PENDIDIKAN DAN KEMENANGAN HATI NURANI
Tulisan ini, adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya (kebahagiaan hakiki para pejuang ilmu) yang mengurai survive dan bahagianya para pejuang ilmu; para guru, dosen, ulama, terutama guru swasta, guru bantu, guru honorer di negeri ini, walaupun mereka harus melewati hari-hari panjang perjuangannya itu dengan pendapatan minim dan irasional.

Kehidupan sederhana yang ditemani bertahtanya hati nurani dalam tingkah laku dan pilihan-pilihan hidup lainnya, sejatinya menjadi bagian inherent dari semua pengelola dan pelaku dunia pendidikan kita, swasta ataupun negeri. Keterpujian ataupun ketercelaan nama mengintai mereka kala godaan demi godaan datang dari berbagai penjuru. Berbahagialah mereka yang hanya memilih jalur kejujuran dan istiqamah dengan dunia ilmu. Kemanfaatan lahir batin akan bisa dinikmati semua pihak terutama para siswa terdidik. Sebaliknya kerugian massal, lahir dan batin, mengintai mereka ketika untuk meraih nama baik, mereka memilih untuk mengorbankan norma-norma yang disepakati.

Jujur dan tidaknya para pengelola dan pelaku dunia pendidikan kita, akan kuat berimbas pada perilaku para siswanya. Pemberitaan tentang demoralitas siswa-siswa didik di tanah air, tidak serta merta menjadi buah dari serangan boombastis teknologi informasi yang tidak terpagari nilai-nilai agama dan budaya, tapi juga karena nilai keteladanan dan kejujuran para ‘abdi ilmu’ (guru) yang semakin tergusur oleh tuntutan dunia pendidikan yang masih berbasis nilai ujian dan kelulusan. Moral para guru, dosen dan para stake holder dunia pendidikan lalu dipertanyakan.

Harapan akan terwujudnya pendidikan yang tidak melulu mengandalkan dan menitikberatkan sisi kognisi siswa semakin menggema di mana-mana. Sisi afeksi dan psikomotor yang terabaikan selama ini semakin meronta untuk diberikan porsinya yang memadai. Dimensi intelektualitas siswa memang paling penting, tapi bukan berarti dimensi emosional dan spiritual harus terpinggirkan dan kemudian terhempas ke pojokan. Maka dalam hal ini, meruyaknya pelatihan-pelatihan demi kelulusan sertifikasi dan menjual acara seminar demi sertifikat lalu dipertaruhkan.

Nyaman rasanya, bila suatu saat kita menyaksikan dunia pendidikan di negeri ini tidak lagi direcoki oleh kepentingan politik yang sisi negatifnya lalu berimbas pada perilaku para pelaku pendidikan. UN yang sejatinya menjadi ujian para siswa lalu berkembang menjadi ujian bagi guru pengampu, kepala sekolah, kepala KCD, kadisdik hingga kepala daerah (bupati dan walikota). Ke depan, ketika suasana dunia politik semakin nyaman, ketika penyakit-penyakit yang diidapnya sembuh, maka dunia pendidikan kita yang sedang menggeliat, dengan kocoran anggaran yang semakin mengarah kepada kemajuan, maka yang muncul dan menjelma adalah prestasi siswa yang menanjak dan porsi moralitas mereka yang meningkat.

Aib yang tak henti menghempas dunia pendidikan kita, sudah saatnya dibenahi dengan —salah satunya— kembali pada norma-norma yang bersumber pada kedalaman hati nurani yang tak pernah bisa dibohongi. Ketika anak-anak didik kita lulus seratus persen dan hati nurani kita mengakui bahwa hal demikian dihasilkan dari kerja keras ‘bermain’ curang, betapa nelangsanya hati terdalam dan tersembunyi itu. Tapi ketika kerja keras telah dilakukan, doa telah dipanjatkan, mental para siswa sudah dikuatkan dan kejujuran siap diperjuangkan, maka apalagi yang lebih indah daripada taqwa dan tawakal?

Kebahagiaan hakiki para pejuang ilmu, berarti ada dan bertengger pada kemenangan hati nurani. Tertanamnya nilai kejujuran dalam benak para siswa yang dipraktekkan para guru, kepala sekolah dan stake holder dunia pendidikan di depan para siswa, adalah satu di antara beribu jalan untuk menghasilkan anak-anak didik kita yang berakhlak mulia. Dengan demikian, demoralitas para pelajar yang berjangkit, mewabah dan menjadi endemi di negara tercinta ini, lambat laun akan menemui titik akhirnya.
Wallaahu min waraa al- qashd

*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung Tasikmalaya, dosen LB pada STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis, pengelola blog asmat-arabiyyatuna.blogspot

Senin, 27 April 2009

belajar dari Jajang dan Tian

Oleh: Asep M Tamam*

Tahun ajaran 2008/2009, bagi IAIC Cipasung terasa cukup istimewa. Di kelas tingkat satu fakultas Syari’ah, jumlah mahasiswa yang hadir di kelas dua orang lebih banyak dari mahasiswa yang tercatat di absensi. Ternyata, dua orang tersebut adalah pendamping dari dua mahasiswa sebenarnya yang bernama Jajang L Amarullah dan Tian Jayanti Lestari.

Jajang dan Tian adalah mahasiswa tuna netra yang karena kelebihan yang Allah titipkan di balik keterbatasan fisiknya, sampai juga ia di bangku kuliah. Walau masih menyisakan guratan kekakuannya di hadapan teman-temannya yang ‘normal’, tapi Jajang dan Tian tetap memantapkan injakan kakinya di kampus, melawan panasnya hawa Tasik yang belakangan terus meninggi maupun hujan deras yang masih menyisakan curahan-curahan terakhirnya. Mereka berdua yakin dan optimis bisa menyumbang saham bagi berjayanya Tasikmalaya.

Penulis sendiri, setelah setahun ini mengajar di kelas mereka tergoda untuk mengangkat keteladanan dua anak muda yang Allah jaga matanya dari jutaan godaan dosa yang setiap saat mengepung mata orang-orang normal. Kali ini, ketika awal bulan Mei sebagai bulan pendidikan bagi warga Indonesia tiba, kisah Jajang dan Tian dirasa sangat layak untuk diapresiasi sebagai bahan refleksi.

Masih Ingatkah Anda Dengan Orang-orang Hebat Ini?
Menghayati semangat belajar Jajang dan Tian, penulis ingat Michio Inoue. Ia adalah juara nasional di Jepang untuk karya tulisnya, Air Mata Ibu dan Diriku Dalam Genggaman. Ternyata anak ajaib itu adalah seorang tuna netra yang sejak lahir ia buta dan terlahir dengan berat 500 gram saja.

Tangan dingin seorang ibulah yang membuat Michio Inoue lalu menjadi inpirasi bagi jutaan orang di dunia untuk tidak menyerah dengan keterbatasan fisik. Selain mengilhami penduduk dunia akan makna terdalam dari rahasia “kerja keras” dan “belajar keras”, kehadirannya pun menjadi dorongan kuat bagi siapapun yang terlahir dalam keadaan normal agar tidak terlena dengan kesempurnaan fisik.

Selain Michio Inoue, masih banyak lagi manusia pilihan lainnya yang lahir dan menjadi ilham prestasi bagi anak-anak dunia. Sebut saja misalnya Hee Ah Lee dari Korea. Ia menjadi pesohor dunia sebagai seorang pianist anak-anak. Hee Ah Lee berhasil memukau dunia dengan permainan pianonya walaupun jari-jari tangannya hanya empat jumlahnya. Selain itu, dua telapak kakinya adalah lutut, artinya ia tak punya kaki.

Di Indonesia, kita mengenal Titiana Adinda. Ia adalah penulis yang memulai karyanya setelah mengidap penyakit Meningoensafalgtis tb (infeksi selaput otak disertai TB). Setelah sempat beberapa hari koma, ia sadar kembali dan mengalami kelumpuhan. Selain Titiana Adinda, ada juga Bahril Hidayat Lubis, penulis buku Aku Tahu Aku Gila. Ia adalah bekas orang gila (Psikosis) yang sembuh dan karena IQ-nya cukup tinggi dan berkarya, ia mampu menyumbangkan sesuatu yang bisa menjadi rujukan ilmu bagi para psikolog dan penyembuh penyakit kegilaan.

Tapi yang paling menakjubkan, adalah Prof. Randy Pausch. Ia adalah professor computer Universitas Carnegie Mellon, Amerika. Setelah dokter bidang medis memvonisnya memiliki sisa umur hanya enam bulan lagi karena sepuluh tumor ganas menyerang pankreasnya, ia dan kawannya, Jeffrey Zaslow menulis The Last Lecture (Pesan terakhir). Tak ia nyana, karyanya telah diakses oleh lebih dari tiga juta orang dan situsnya, YOUTUBE.COM telah mampu menguras air mata mereka.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional
Anak-anak kita, siswa dan mahasiswa dewasa ini tengah menghadapi masa-masa yang cukup berat berkenaan dengan keberadaan mereka sebagai tunas-tunas bangsa. Di balik seabreg kegiatan yang membanggakan dan torehan berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional di bidang sains, matematika, fisika, olahraga dan lainnya, mereka pun dihadapkan dengan berbagai pemberitaan minor dan pejoratif, seperti kasus brutalisme, seks bebas, narkoba dan kasus-kasus lainnya.

Hari Pendidikan Nasional tahun ini, seharusnya direfleksi dalam rangka meningkatkan semangat belajar dari anak-anak negeri. Bangga rasanya bila di pagi buta, kita berada di kawasan pegunungan, perkampungan terpencil dan wilayah-wilayah yang jauh dari perkotaan dan kendaraan umum. Sejam lebih mereka menghabiskan perjalanan berkilo meter, melewati lembah, ngarai dan menyebrangi sungai menuju sekolah. Ketika jam pelajaran di sekolah habis, mereka kembali melewati waktu dan melalui jalan yang sama. Di jalan becek yang dilewati, mereka membuka sepatu butut mereka dan sampai di tempat tujuan, baju mereka kotor oleh keringat dan cipratan air bercampur lumpur.

Di perkotaan, kita juga bangga menyaksikan anak-anak kita berjuang dan berkeringat di tengah jubelan penumpang kendaraan umum. Pagi-pagi adalah saat paling mengharukan menyaksikan ribuan anak-anak kita berpacu memburu masa depan dengan wajah optimis penuh keceriaan. Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri mereka seiring seleksi zaman yang akan menentukan nasib mereka di masa depan kelak.

Sayangnya, kehausan mereka akan ilmu dan kerinduan mereka akan figur teladan sering ternoda oleh ulah segelintir oknum dari kalangan mereka sendiri. Hal inilah yang harus menjadi “titik refleksi” lainnya bagi para pemegang kebijakan negeri ini untuk lebih intens menggodok ‘ramuan ampuh’ dalam rangka membenahi sistem pendidikan di tanah air. Bila hal itu terwujud, anak-anak didik kita dan orang tua mereka akan bahagia dan tak ada kekhawatiran dalam rangka menyongsong nasib yang lebih berpihak kepada mereka di hari esok.

Kembali ke Jajang dan Tian. Setiap kali memandangnya, penulis melihat adanya kelemahan dalam fisik ataupun raga mereka. Mereka tak leluasa dalam bergerak dan beraktivitas sehingga dunia pun, bagi mereka tak seluas apa yang biasa dinikmati orang-orang normal. Namun ke-Mahaadilan Allah swt memberikan keyakinan kepada kita bahwa orang-orang seperti Jajang dan Tian pastilah mendapatkan ribuan jalur kebahagiaan yang tidak diberikan kepada orang-orang normal seperti kita. Maka persoalannya adalah, sudah seberapa kuatkah tenaga batiniah kita -bila dibandingkan dengan tenaga bathiniah Jajang dan Tian- dalam mencintai ilmu pengetahuan dan mentransformasikannya kepada keluarga, kerabat, tetangga dan lingkungan sekitar kita?
Wallaahu min waraa al- qashd

*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAI Cipasung, juga dosen LB STAI Tasikmalaya dan UNIGAL Ciamis

Minggu, 21 Desember 2008

DIMENSI ILMIAH DARI ISRA MI'RAJ

Oleh : Asep M Tamam*

Bulan Rajab datang lagi, ia hadir untuk mengingatkan kita, bahwa di bulan ini, 1387 tahun yang lalu, kewajiban shalat lima waktu mulai disyari’atkan. Pada tahun 621 M itu, peristiwa supra natural Isra Mi’raj terjadi, setahun sebelum peristiwa hijrah beliau ke Medinah (622 M).

Pada tahun itu nabi dalam suasana berkabung. Meninggalnya Abu Thalib yang 40 tahun lebih mendampingi dan membelannya, disusul oleh wafatnya Khadijah, isteri tercinta yang lebih dari 25 tahun menyokong da’wahnya, diperberat oleh perlakuan kafir Quraisy yang semakin semena-mena, maka Allah menghibur beliau dan seakan-akan berkata, “Kalaulah penduduk bumi menolak kehadiranmu dan menentang ajaranmu, maka tidak demikian dengan penduduk langit.” Maka peristiwa Isra Mi’raj pun terjadi.

Perjalanan Nabi Muhammad dari Mekah ke Bait al- Maqdis, kemudian naik ke Sidrat al- Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya dalam waktu yang sangat singkat, merupakan tantangan terbesar –sesudah disodorkannya al- Quran— kepada umat manusia. Demikian M Quraisy Shihab dalam al- Misbahnya. Peristiwa ini, lanjutnya, membuktikan bahwa ilmu dan kekuasaan Allah menjangkau, bahkan mengatasi yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas ruang dan waktu.

Kaum empiris dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu dapat saja menggugat: bagaimana mungkin kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya (batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi) ini dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh nabi tidak dapat menimbulkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi karena tidak sesuai dengan hukum-hukum alam bahkan tidak dapat dibuktikan dengan hukum-hukum logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang tidak mempercayai peristiwa ini.

Supra rasional yang rasional

Pendekatan yang paling tepat untuk memahami peristiwa isra mi’raj adalah pendekatan imani. Inilah yang ditempuh sahabat Abu Bakar al- Shiddiq ra. seperti yang tergambar dalam ucapannya, “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pastilah benar adanya.” Namun tulisan ini berusaha memahami peristiwa isra mi’raj melalui bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh al- Quran.

Kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistim gerak mempunyai penghitungan waktu yang berbeda dengan sistim gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, pilosof dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai satu sasaran apapun yang dikehendaki- Nya. Sesuatu itu adalah Allah swt. Dia yang, ketika menghendaki sesuatu cukup dengan mengatakan, “kun” maka terbuktilah. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.” (QS. An- Nahl [16] : 40). Maka peristiwa Isra Mi’raj adalah peristiwa supra rasional yang rasional.

Selanjutnya, apa yang dinamakan hukum alam tidak lain adalah a summary of statistical everages (ikhtisar dari pukul rata statistik). Albert Einstein dengan tegas mengatakan bahwa semua yang terjadi di alam ini diwujudkan oleh superior reasoning power yang dalam al- Quran disebut al-‘aziz al-‘alim’, Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. Hal ini sesuai dengan ayat, “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS. Al- Nahl [16] : 49-50). Ayat ini, menurut M. Quraish Shihab dalam membumikan al- Quran, menjadi pengantar dari penjelasan al- Quran tentang isra mi’raj.

Dari segi yang lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian al- Quran tentang peristiwa isra dan mi’raj ini, dalam surat al- Isra sendiri, berulangkali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: “Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS 16:8), “Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 16:74), “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. 17:85) Itulah sebabnya, Allah pun berfirman,” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al- Isra [17] :36)

Apa yang disebutkan dalam al- Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad 20. Teori black holes misalnya, menyatakan bahwa pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedangkan sisanya yang 97% adalah di luar kemampuan pengetahuan manusia.

Kalau demikian, seandainya pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa isra dan mi’raj ini, maka usaha untuk membuktikannya secara ilmiah menjadi tidak ilmiah lagi. Asas filososfis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentsi terhadap berbagai fenomena alam. Padahal, peristiwa isra dan mi’raj hanya terjdi satu kali saja. Artinya, peristiwa agung ini tidak lagi dapat dicoba, diamati, dan dilakukan eksperimentasi.

Itulah sebabnya mengapa kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: ”Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu.” Dan itu pula sebabnya Immanuel Kant berkata: “saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hati saya untuk percaya.” Dan itu pula sebabnya mengapa ‘oleh-oleh’ yang dibawa oleh nabi dari perjalanan isra dan mi’raj adalah kewajiban shalat ; sebab shalat sarana terpenting untuk menyucikan jiwa dan ruhani.

Penutup

Kita percaya dan bahkan yakin akan kebenaran peristiwa isra mi’raj ini. Bagi kita, tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang-ulang, selama semua itu diciptakan dan berada di bawah pengawasan dan pengaturan Allah swt. Semoga selalu mampu menyuarakan keyakinan tenang adanya ruh intelektual Yang Mahaagung, Allah swt, juga mamp menyediakan banyak waktu untuk memuja dan sekaligus mengabdi kepada- Nya.

*Dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Taiskmalaya.

MENIKMATI HIDANGAN SPIRITUAL DARI MEMBACA DAN MENULIS

Oleh : Asep M. Tamam

Membaca Sebagai Konsep Hidup, Bukan Sekedar Hobi

Mutawatir, demikian menurt Dr. Yusuf al-Qardlawi dalam Al-Hayat Al Rabbaniyah wa al 'ilm, setelah menelusuri berbagai riwayat tentang kata “iqra” sebagai kata pertama dari 77.000 kata yang diturunkan Allah selama 23 tahun.

Iqra!”, “Bacalah!”, adalah juga perintah pertama dari ratusan kalimat perintah yang bertebaran di dalam mushaf mulia Al-Qur’an. Kata “bacalah!” turun terlebih dahulu sebelum perintah “dirikanlah Shalat!”, “bayarlah zakat!”, “berjihadlah di jalan Allah!”, “bersedekahlah!”, “bersabarlah!”, “bertaubatlah!” dan lain-lain. Dan perintah “bacalah!” ini diulang lagi menjadi dua kali sebelum ayat-ayat perintah lainnya turun sambung menyambung.

Dalam bahasa Arab, kata Iqra --demikian Quraish Shihab dalam Al-Misbahnya-- bermakna menyampaikan, menelaah, membaca, meneliti dan mengetahui ciri-ciri sesuatu. Selanjutnya Abdul Halim Mahmud (mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar, Mesir) memberikan pemahaman bahwa kata iqra dalam Surat Al-‘Alaq ini tidak sekedar memerintahkan untuk membaca, tapi ‘membaca’ adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik aktif maupun Pasif. Maka perintah iqra yang kedua (Al-Alaq ayat 3) memberi pengertian bahwa aktivitas positif ini harus dilakukan berulang-ulang dan lebih banyak lagi.

Dalam sirahnya, Rasulullah pernah meminta tawanan perang Badar yang ingin menebus dirinya agar mengajar cara membaca dan menulis kepada sepuluh orang muslim. Hal ini mengisyaratkan bahwa membaca, menulis dan belajar merupakan kebutuhan primer bagi umat manapun yang ingin bangkit, maju dan meningkat.

Lihatlah Zaid bin Tsabit, dia adalah contoh sahabat yang mengungguli sahabat-sahabat lainnya hanya karena ia pandai membaca dan menulis. Pada usianya yang ke 13, ia menjadi sekretaris Nabi, penulis wahyu dan penerjemah bahasa Suryani dan Ibrani. Tengok juga Abu Hurairah dan kekuatan hafalannya, dalam rentang waktu hanya 4 tahun saja, ia meriwayatkan 5.374 hadits. Ia mengatakan “Tidak ada sahabat Nabi yang hafalannya melebihi aku”, namun ia melanjutkan, “Kecuali Abdullah bin ‘Amr, sebab ia pandai membaca dan menulis, sementara aku tidak”.

Dalam buku iqra la budda an taqra, al-Raqhib al-Sirjani mengabadikan tokoh-tokoh legendaris muslim yang mendedikasikan hidupnya untuk membaca, sungguh mencengangkan! Tokoh-tokoh ini telah menjadikan aktivitas membaca bukan lagi sebagai hobi, tapi bahkan sebagai konsep hidup, sebagai kebutuhan yang melebihi kebutuhan mereka akan sandang, pangan dan papan.

Sebut saja syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah yang ketika sakit keras ia tetap membaca. Kondisi jiwanya semakin kuat justru ketika membaca. Dokter pribadinya pun lantas angkat tangan karena sang Syaikh bandel dan tak mempedulikan sarannya untuk istirahat. Muridnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyah pun demikian, walaupun telah membaca lebih dari 20.000 jilid buku, ia masih tetap ‘kelaparan’ dan ingin melahap buku lebih banyak lagi. Kemudian Ibnu ‘Uqail, murid Ibnu Qayyim, bahkan merasakan hasrat dan gairah membacanya justru bertambah ketika usianya sudah lebih dari 80 tahun.

Abu Thahir al-Hamawi lain lagi ceritanya, kecintaannya akan membaca membuat dia sangat mencintai buku-bukunya, dia tidak rela meskipun buku-bukunya itu harus ditukar dengan emas walaupun dengan berat yang sama. Untuk memperoleh buku, bahkan al-Fairuz Abadi pernah menjual emasnya seharga 50.000 dinar. Kisah lainnya diperagakan Abdullah bin Mubarak, ia lebih suka menyendiri untuk membaca daripada bergaul dengan sahabat-sahabatnya, ia berkata, “Aku tidak pernah kesepian karena aku sedang bersama (buku yang mengisahkan) Rasulullah dan sahabat-sahabatnya".

Kalaulah Ibn Daqiq al-‘Id sering meninggalkan shalat sunat karena sibuk membaca, maka al-Jahizh sering menyewa toko buku dan menginap di sana. Kalaulah Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Umar bin Khattab suka membaca buku di kuburan, maka Zubair bin Abu Bakar menolak berpoligami, ia lebih suka berpoligami dengan buku (menganggap buku sebagai istri kedua, ketiga dan seterusnya). Kalaulah Hasan al-Lu’Lu’i selama 40 tahun istirahat siang dan tidur malam selalu meletakkan buku di dadanya, atau Ibnu Jaham yang terbiasa mengusir kantuknya dengan membaca buku, maka Abdul Ghani al-Muqaddasi sampai rabun matanya karena terlalu banyak membaca.

Buku iqra la budda an taqra ini, meski tidak merinci tahun kelahiran dan wafat tokoh-tokohnya, tapi memberikan informasi penting bahwa saat ini, jumlah buta huruf di dunia Islam mencapai 37%, ia juga membeberkan data bahwa setiap tahunnya, rata-rata orang jepang membaca 40 buku, orang Eropa membaca 10 buku, dan orang Arab hanya 200 lembar saja, maka pantaslah kalau ada salah satu universitas di negara Arab yang 72% lulusannya tidak pernah meminjam satu bukupun di perpustakaan kampusnya. Kalau demikian halnya di negara Arab, maka timbul pertanyaan, berapa lembarkah yang dibaca oleh rata-rata orang Indonesia dalam satu tahun ?? berapa persenkah jumlah mahasiswa yang lulus kuliah, tetapi tidak pernah meminjam satu pun buku di perpustakaan kampus ??

Membaca Untuk Menulis

Sayyidina Ali, RA. Berkata “Tulisan adalah tali pengikat Ilmu”. Ibnu Hajar al-‘Asqalani membenarkan pendapat ini, ia pernah sangat menyesal ketika lupa tidak menuliskan catatan tafsir dari satu ayat dalam al-Qur’an dan kemudian murid-muridnyalah yang berusaha menuliskan tafsiran ayat itu.

Tradisi menulis, dalam dunia Islam sangat erat hubungannya dengan tradisi membaca dan menghafal. Al-Farabari pernah menginap di rumah Imam Bukhari, pada malam itu al-Farabari menghitung Imam Bukhari bangun sebanyak 18 kali untuk mengingat-ingat sesuatu yang akan ia tulis. Setiap malam pula Imam Syafi’i menyalakan lampu untuk menuliskan buah fikirannya.

Buadaya tulis ini, sampai beberapa abad lamanya, telah menjadi gerakan massif dalam sejarah Islam. Jutaan buku telah menghiasi perpustakaan Islam di Baghdad, Kordova (Qurtubah), Sevila (Isybilyah), Granada (Gharnathah), Kairo, Damaskus, Tripoli, Madinah dan al_Quds (Palestina).

Namun sayang, di dunia Arab, walaupun saat ini budaya tulis terus berlangsung, namun masih jauh ketika dibandingkan dengan dunia Barat. Dr. Syukron Kamil, dalam sains dalam islam konseptual dan islam aktual, mencatat data pada tahun 1976, bahwa dari 352.000 karya tulis ilmiah di dunia, hanya 3.300 saja yang dihasilkan dunia Islam, kalah oleh Israel saja yang menghasilkan 6.100 karya tulis.

Di Indonesia, saat ini masyarakat lebih memilih budaya mendengar daripada budaya membaca dan menulis. Ribuan jamaah mengikuti ceramah ‘da’i sejuta umat’, tapi membiarkan tulisan-tulisan bermutu tergeletak tak pernah disentuh. Di kalangan mahasiswa pun budaya positif menulis masih menjadi barang yang ‘aneh’. Tidak banyak dari mereka yang mau dan mampu mengaktualisasi dan mengekspresikan gagasan-gagasan dan pengetahuan-pengetahuan hasil baca mereka dalam bentuk karya tulis. Bahkan dari kota-kota besar sampai pelosok-pelosok daerah, dari beribu-ribu dosen yang tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, hanya sedikit saja yang aktif dan produktif menuliskan gagasan dan ide-ide mereka. Jurnal-jurnal ilmiah masih terbilang jari dan yang mengisi kolom-kolomnya pun terkadang itu-itu juga.

menikmati dimensi spiritual dari membaca dan menulis

Petualangan menelusuri kehidupan para tokoh legendaris yang hidup beberapa waktu yang lampau, di tempat nun jauh di sana, bagi kita di sini, yang hidup di jaman ini, pastilah menyumbang --sedikit banyak-- daya gugah. Kemampuan dan kemauan mereka dalam mendayagunakan potensi baca dan tulis sungguh jauh di luar batas jangkauan nalar kita.

Kita yakin, kemampuan fisik mereka terbatas, sama ketika kita mencoba dalam seminggu saja, begadang untuk membaca buku dan melakukan aktivitas positif lainnya, setelah itu kita pasti kelelahan atau bahkan sakit karena kurang istirahat. Tapi hal itu tidak berlaku bagi mereka. Lantas, apa dan di mana letak perbedaannya ?

Jawabnnya ada dalam ‘dimensi spiritual’. Seperti halnya kita, mereka pun membaca dan berkarya. Tapi selera, semangat, kecintaan, dan kehausan mereka untuk mencari, mengejar, mendapatkan dan mentransformasikan ‘ilmu’ ditunjang oleh ‘dimensi Spiritual’ yang unlimited. Kita tidak akan pernah mampu membaca sampai 20.000 jilid seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyah, atau menulis karya ratusan jilid seperti Ibnu Uqail, Ibnu Hubaira, al-Dauli, al-Najjar, al-Kindi, al-Maqrizi, al-Suyuthi, al-Nawawi, al-Shafadi dll, karena ‘dimensi spiritual’ kita ketika membaca atau menulis, mungkin kosong atau defisit. Dr. Thaha Husein, sastrawan besar di Mesir menyinggung kita….” Sering kali kita berlama-lama membaca hanya untuk menghabiskan waktu bukan untuk menyuplai makanan pada akal, nurani, dan hati. Di samping itu, kita acap kali berlama-lama membaca, hanya untuk mengundang kantuk, bukan menghindari tidur”.

penutup

Dengan hadirnya musykil edisi ke-empat, bulan April ini, seluruh civitas akademika STAI mesti bersyukur dan optimis, karena langkah ini merupakan upaya berbagai pihak untuk selain merangsang aktivitas dan produktivitas para dosen dan mahasiswa dalam mensyi’arkan baca dan tulis di lingkungan kampus tercinta, juga dalam rangka lebih menghidupkan iklim ilmiah kampus yang sejak beberapa bulan ke belakang geliatnya sudah terasa. Tapi penting diingat, upaya untuk menghadirkan selera baca tulis yang tinggi, harus diawali dengan upaya semua pihak untuk menyiapkan dimensi spiritual yang kuat.

Wallahu min wara al-qashd’

MEMBANGUN UMAT MENJADI KOMUNITAS PEMBACA

Membangun Umat Sebagai Komunitas Pembaca

Refleksi memperingati nuzul al- Quran

Oleh: Asep M Tamam*

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘alaq [96]: 1-5)

Hari ini, 1398 tahun yang lalu, tepatnya tahun 610 M ayat pertama alquran turun ke lubuk hati Muhammad (QS. 26: 94). Kitab sempurna yang juga penyempurna itu turun pada malam mulia dan penuh berkah (QS. 44: 3). Malam itu malam tanggal 17 Ramadan, malam lailatul Qadr (QS. 97: 1-5)

Allah Maha Suci dan Maha Berkehendak untuk memilih kata pertama dari rangkaian wahyu alquran dengan perintah ‘Iqra’ (bacalah!). Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang sampai dua kali. Anehnya, kata ini diturunkan pertama kali kepada orang yang tidak pernah membaca satu kitab pun sebelum turunnya alquran (QS 29:48), bahkan ia juga seorang yang tidak pandai membaca suatu tulisan pun sampai akhir hayatnya (QS. 7: 156 dan 157) . Namun keanehan ini akan segera sirna bila disadari, bahwa perintah ini turun bukan hanya untuk Muhammad saw., tapi bahkan untuk semua penduduk jagat raya, generasi demi generasi pecinta ilmu sampai di ujung usia bumi.

Hebatnya, perintah ‘bacalah’ diawalkan oleh Allah daripada perintah shalat, zakat, jihad, dakwah dan lain-lain. Hebatnya lagi, perintah ‘bacalah!’ dalam ayat 1 dan 3 tidak mencantumkan objek apa yang harus dibaca. Para mufassir menjelaskan bahwa objek ‘bacalah!’ bersifat umum, baik menyangkut ayat ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis, sehingga menyangkut telaah terhadap alam raya, masyarakat, diri sendiri, membaca alquran, majalah, Koran dan sebagainya.

Iqra! Dalam bahasa Arab terambil dari qara’a yang atrinya membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya. Perintah membaca dalam ayat ini dikaitkan dengan ‘bismi rabbika (dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini meupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.

Rangkaian lima ayat surat al- ‘Alaq ini disimpulkan M. Quraish Shihab dalam al- Misbahnya, juga dalam bukunya membumikan al- Quran dengan tuturannya, “Bacalah, Tuhanmu akan menganugerahkan pengetahuan yang tidak engkau ketahui. Bacalah dan ulangi bacaan tersebut walau objek bacaannya sama. Bacalah dan ulangi bacaan, Tuhanmu akan memberikan manfaat yang tidak terhingga karena dia maha akram (memiliki segala sifat kesempurnaan).

Rahasia besar

Sejarah umat manusia, secara umum dibagi dalam dua periode utama: sebelum penemuan tulis-baca dan sesudahnya sekitar lima ribu tahun yang lalu. Dengan ditemukannya tulis baca, peradaban manusia tidaklah merambah jalan dan merangkak-rangkak, tetapi mereka telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumaria sampai peradaban Amerika masa kini. Berkat kemampuan baca tulis inilah saat ini kita telah sampai pada masa di mana keterjarakan waktu dan batas daerah bahkan negara tak lagi terasa.

Potensi tulis baca yang dimiliki manusia membuktikan keterpilihan manusia sebagai makhluk Allah yang mengemban misi keilmuan. Segala aspek perubahan yang terjadi di bumi ini tak lain adalah karena dalam diri seorang manusia ada dua potensi yang tidak dipunyai siapapun atau apapun dari segenap makhluk Allah. Dua potensi itu adalah manusia sebagai abd lillah (hamba Allah) di satu sisi, juga sebagai khalifah fi al-ardh di sisi yang lain.

Dengan ilmu yang diajarkan Allah kepada manusia (Adam), ia memiliki kelebihan dari malaikat yang tadinya meragukan untuk menjadi makhluk pembangunan peradaban di bumi. Maka dengan ibadah yang didasari oleh ilmu yang benar, manusia menduduki tempat terhormat, sejajar bahkan dapat melebihi kedudukan umumnya malaikat. Dan ilmu yang Allah ajarkan kepada manusia, apakah yang kasbi (acquired knowledge) atau ladunni (perennial) tidak akan tercapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira’at (iqra) dalam arti yang luas (membaca, meneliti, mengkaji dan sebagainya)

Membangun komunitas baca

Bila menelaah data yang dirilis al- Raghib al- Sirjani dalam buku fenomenalnya iqra laa budda an taqra, kita akan diam sejenak dan menunduk malu. Dalam data itu diinformasikan bahwa rata-rata orang Jepang dalam setahun menghabiskan 40 buku untuk dibaca. Orang Eropa rata-rata membaca 10 buku dalam setahun. Sementara orang Arab dalam setahun rata-rata hanya membaca 200 lembar saja.

Data-data itu tidak menampilkan rilis tentang berapa buku, atau berapa lembar yang dibaca oleh rata-rata orang Indonesia dalam tiap tahunnya. Namun secara kasar kita bisa memperkirakan bahwa jumlah lembar yang dibaca oleh orang Indonesia pastilah jauh dari jumlah lembar buku yang dibaca oleh rata-rata orang Jepang, Eropa dan orang Arab.

Membaca, memang merupakan hal yang belum membudaya di negeri ini, khususnya di lingkungan terdekat kita. Kita lebih mudah melihat kerumunan orang di tempat-tempat hiburan, mal, dan lingkungan-lingkungan yang jauh dari nuansa buku. Perpustakaan sekolah di SD, SMP atau SMU mungkin lebih ramai dikunjungi karena faktor pendorongnya kuat. Arahan dari para guru, kebutuhan untuk mengakses informasi dari tugas sekolah dan lain-lainnya memaksa para murid untuk masuk ke perpustakaan. Permasalahannya adalah, berapa lama para pelajar itu mampu untuk duduk dan bertahan di kursi perpustakaan? Berapa banyak dari mereka yang datang sendiri-sendiri dan dari lubuk hati, bukan karena diajak teman atau terpaksa menemani teman? Bila perpustakaan di beberapa sekolah SD, SMP atau SMU masih ramai dikunjungi, maka perapa ramaikah pengunjung perpustakaan-perpustakaan kampus? Berapa persenkah jumlah mahasiswa pengunjung perpustakaan dari jumlah seluruh mahasiswa yang terdaftar?

Salah satu hal yang nampaknya perlu segera dihadirkan di tengah lembaga-lembaga pendidikan kita adalah apa yang disebut komunitas baca. Bila di sekolah bisa dengan mudah membangun organisasi (OSIS), bila kampus-kampus kita setiap tahunnya selalu diramaikan oleh pemilu mahasiswa yang membentuk kepengurusan ketua dan jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan bila organisasi-organisasi ekstra kampus begitu lestari dan menunjukkan ‘gejala keabadian’, maka sebetulnya tidaklah sulit bagi lembaga sekolah, lembaga kampus, OSIS dan BEM membentuk komunitas baca yang menghimpun para siswa/mahasiswa yang punya gairah baca berlebih dan tidak/belum tersalurkan.

Komunitas baca ini, sebetulnya bukan hanya berlaku bagi para siswa dan mahasiswa saja, tapi juga berlaku umum, apakah warga masyarakat, karyawan, dan mereka yang punya gregorious instinc (hobi kumpul-kumpul) dari siapapun, dan dari kalangan manapun.

Momentum nuzul alquran

Mengajar dan mendidik, di jaman sekarang ini tidak akan dirasa optimal manakala perintah, anjuran dan himbauan tidak diawali dari penerapan pada diri sendiri. Hasil dari usaha yang didasari keteladanan akan terasa lebih cepat menukik kepada target yang ingin dicapai. Sebaliknya, bila perintah, himbauan dan anjuran itu hanya verbal dan monologis, maka jangan harap target bisa dicapai.

Maka momentum nuzul alquran adalah tonggak yang teramat penting untuk mewacanakan komunitas baca, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa kita. Bangsa yang berperadaban maju ditandai dengan kegemaran warga bangsa itu dalam ‘melahap’ segala hal yang berhubungan dengan ilmu dan sains. Semakin kuat daya baca akan semakin mempercepat peradaban meningkat.

Jika harapan ini bisa diwujudkan, maka tidaklah mustahil bila suatu ketika manusia akan didefinisikan sebagai ‘makhluk pembaca’. Suatu definisi yang tidak kurang kebenarannya dari definisi-definisi yang lainnya semisal ‘makhluk sosial’ atau ‘makhluk berfikir’.

Demikianlah iqra, membaca, ia merupakan syarat utama dan pertama bagi keberhasilan seorang mausia bahkan sebuah Negara. Berdasarkan hal tersebut tidaklah mengherankan jika perintah itu (iqra, bacalah) menjadi tuntunan pertama yang dititahkan Allah kepada semua manusia, bukan titah yang lain. Wallaahu a’lam

Asep M Tamam, Dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya

Membangun Umat Sebagai Komunitas Pembaca

Refleksi memperingati nuzul al- Quran

Oleh: Asep M Tamam*

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘alaq [96]: 1-5)

Hari ini, 1398 tahun yang lalu, tepatnya tahun 610 M ayat pertama alquran turun ke lubuk hati Muhammad (QS. 26: 94). Kitab sempurna yang juga penyempurna itu turun pada malam mulia dan penuh berkah (QS. 44: 3). Malam itu malam tanggal 17 Ramadan, malam lailatul Qadr (QS. 97: 1-5)

Allah Maha Suci dan Maha Berkehendak untuk memilih kata pertama dari rangkaian wahyu alquran dengan perintah ‘Iqra’ (bacalah!). Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang sampai dua kali. Anehnya, kata ini diturunkan pertama kali kepada orang yang tidak pernah membaca satu kitab pun sebelum turunnya alquran (QS 29:48), bahkan ia juga seorang yang tidak pandai membaca suatu tulisan pun sampai akhir hayatnya (QS. 7: 156 dan 157) . Namun keanehan ini akan segera sirna bila disadari, bahwa perintah ini turun bukan hanya untuk Muhammad saw., tapi bahkan untuk semua penduduk jagat raya, generasi demi generasi pecinta ilmu sampai di ujung usia bumi.

Hebatnya, perintah ‘bacalah’ diawalkan oleh Allah daripada perintah shalat, zakat, jihad, dakwah dan lain-lain. Hebatnya lagi, perintah ‘bacalah!’ dalam ayat 1 dan 3 tidak mencantumkan objek apa yang harus dibaca. Para mufassir menjelaskan bahwa objek ‘bacalah!’ bersifat umum, baik menyangkut ayat ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis, sehingga menyangkut telaah terhadap alam raya, masyarakat, diri sendiri, membaca alquran, majalah, Koran dan sebagainya.

Iqra! Dalam bahasa Arab terambil dari qara’a yang atrinya membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya. Perintah membaca dalam ayat ini dikaitkan dengan ‘bismi rabbika (dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini meupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.

Rangkaian lima ayat surat al- ‘Alaq ini disimpulkan M. Quraish Shihab dalam al- Misbahnya, juga dalam bukunya membumikan al- Quran dengan tuturannya, “Bacalah, Tuhanmu akan menganugerahkan pengetahuan yang tidak engkau ketahui. Bacalah dan ulangi bacaan tersebut walau objek bacaannya sama. Bacalah dan ulangi bacaan, Tuhanmu akan memberikan manfaat yang tidak terhingga karena dia maha akram (memiliki segala sifat kesempurnaan).

Rahasia besar

Sejarah umat manusia, secara umum dibagi dalam dua periode utama: sebelum penemuan tulis-baca dan sesudahnya sekitar lima ribu tahun yang lalu. Dengan ditemukannya tulis baca, peradaban manusia tidaklah merambah jalan dan merangkak-rangkak, tetapi mereka telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumaria sampai peradaban Amerika masa kini. Berkat kemampuan baca tulis inilah saat ini kita telah sampai pada masa di mana keterjarakan waktu dan batas daerah bahkan negara tak lagi terasa.

Potensi tulis baca yang dimiliki manusia membuktikan keterpilihan manusia sebagai makhluk Allah yang mengemban misi keilmuan. Segala aspek perubahan yang terjadi di bumi ini tak lain adalah karena dalam diri seorang manusia ada dua potensi yang tidak dipunyai siapapun atau apapun dari segenap makhluk Allah. Dua potensi itu adalah manusia sebagai abd lillah (hamba Allah) di satu sisi, juga sebagai khalifah fi al-ardh di sisi yang lain.

Dengan ilmu yang diajarkan Allah kepada manusia (Adam), ia memiliki kelebihan dari malaikat yang tadinya meragukan untuk menjadi makhluk pembangunan peradaban di bumi. Maka dengan ibadah yang didasari oleh ilmu yang benar, manusia menduduki tempat terhormat, sejajar bahkan dapat melebihi kedudukan umumnya malaikat. Dan ilmu yang Allah ajarkan kepada manusia, apakah yang kasbi (acquired knowledge) atau ladunni (perennial) tidak akan tercapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira’at (iqra) dalam arti yang luas (membaca, meneliti, mengkaji dan sebagainya)

Membangun komunitas baca

Bila menelaah data yang dirilis al- Raghib al- Sirjani dalam buku fenomenalnya iqra laa budda an taqra, kita akan diam sejenak dan menunduk malu. Dalam data itu diinformasikan bahwa rata-rata orang Jepang dalam setahun menghabiskan 40 buku untuk dibaca. Orang Eropa rata-rata membaca 10 buku dalam setahun. Sementara orang Arab dalam setahun rata-rata hanya membaca 200 lembar saja.

Data-data itu tidak menampilkan rilis tentang berapa buku, atau berapa lembar yang dibaca oleh rata-rata orang Indonesia dalam tiap tahunnya. Namun secara kasar kita bisa memperkirakan bahwa jumlah lembar yang dibaca oleh orang Indonesia pastilah jauh dari jumlah lembar buku yang dibaca oleh rata-rata orang Jepang, Eropa dan orang Arab.

Membaca, memang merupakan hal yang belum membudaya di negeri ini, khususnya di lingkungan terdekat kita. Kita lebih mudah melihat kerumunan orang di tempat-tempat hiburan, mal, dan lingkungan-lingkungan yang jauh dari nuansa buku. Perpustakaan sekolah di SD, SMP atau SMU mungkin lebih ramai dikunjungi karena faktor pendorongnya kuat. Arahan dari para guru, kebutuhan untuk mengakses informasi dari tugas sekolah dan lain-lainnya memaksa para murid untuk masuk ke perpustakaan. Permasalahannya adalah, berapa lama para pelajar itu mampu untuk duduk dan bertahan di kursi perpustakaan? Berapa banyak dari mereka yang datang sendiri-sendiri dan dari lubuk hati, bukan karena diajak teman atau terpaksa menemani teman? Bila perpustakaan di beberapa sekolah SD, SMP atau SMU masih ramai dikunjungi, maka perapa ramaikah pengunjung perpustakaan-perpustakaan kampus? Berapa persenkah jumlah mahasiswa pengunjung perpustakaan dari jumlah seluruh mahasiswa yang terdaftar?

Salah satu hal yang nampaknya perlu segera dihadirkan di tengah lembaga-lembaga pendidikan kita adalah apa yang disebut komunitas baca. Bila di sekolah bisa dengan mudah membangun organisasi (OSIS), bila kampus-kampus kita setiap tahunnya selalu diramaikan oleh pemilu mahasiswa yang membentuk kepengurusan ketua dan jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan bila organisasi-organisasi ekstra kampus begitu lestari dan menunjukkan ‘gejala keabadian’, maka sebetulnya tidaklah sulit bagi lembaga sekolah, lembaga kampus, OSIS dan BEM membentuk komunitas baca yang menghimpun para siswa/mahasiswa yang punya gairah baca berlebih dan tidak/belum tersalurkan.

Komunitas baca ini, sebetulnya bukan hanya berlaku bagi para siswa dan mahasiswa saja, tapi juga berlaku umum, apakah warga masyarakat, karyawan, dan mereka yang punya gregorious instinc (hobi kumpul-kumpul) dari siapapun, dan dari kalangan manapun.

Momentum nuzul alquran

Mengajar dan mendidik, di jaman sekarang ini tidak akan dirasa optimal manakala perintah, anjuran dan himbauan tidak diawali dari penerapan pada diri sendiri. Hasil dari usaha yang didasari keteladanan akan terasa lebih cepat menukik kepada target yang ingin dicapai. Sebaliknya, bila perintah, himbauan dan anjuran itu hanya verbal dan monologis, maka jangan harap target bisa dicapai.

Maka momentum nuzul alquran adalah tonggak yang teramat penting untuk mewacanakan komunitas baca, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa kita. Bangsa yang berperadaban maju ditandai dengan kegemaran warga bangsa itu dalam ‘melahap’ segala hal yang berhubungan dengan ilmu dan sains. Semakin kuat daya baca akan semakin mempercepat peradaban meningkat.

Jika harapan ini bisa diwujudkan, maka tidaklah mustahil bila suatu ketika manusia akan didefinisikan sebagai ‘makhluk pembaca’. Suatu definisi yang tidak kurang kebenarannya dari definisi-definisi yang lainnya semisal ‘makhluk sosial’ atau ‘makhluk berfikir’.

Demikianlah iqra, membaca, ia merupakan syarat utama dan pertama bagi keberhasilan seorang mausia bahkan sebuah Negara. Berdasarkan hal tersebut tidaklah mengherankan jika perintah itu (iqra, bacalah) menjadi tuntunan pertama yang dititahkan Allah kepada semua manusia, bukan titah yang lain. Wallaahu a’lam

Asep M Tamam, Dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya

MEMBANGUN INTELEKTUALITAS MAHASISWA TASIK

Oleh : Asep M Tamam*

Salah satu ukuran yang sering digunakan masyarakat dunia untuk menentukan kebesaran peradaban sebuah negara adalah eksisnya Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi di negara tersebut. Universitas Harvard di Amerika, Universitas Oxford dan Cambridge di Inggris. Universitas Kyoto dan Waseda di Jepang, Universitas Sourborne di Prancis, Universitas Munich di Jerman dan Universitas Al- Azhar di Mesir adalah contoh universitas yang telah memantapkan kebesaran negara-negara tersebut dan mengundang kecemburuan negara-negara lain di dunia.

Standar kehebatan Perguruan Tinggi (PT) di dunia maju adalah bagaimana peran PT tersebut dalam menghasilkan produk penelitian, produk sains, wacana intelektual dan banyaknya pakar-pakar di bidang yang berbeda. PT-PT seperti tersebut di atas, sampai hari ini tetap menjadi ‘impian’ injakan kaki calon mahasiswa di antero dunia termasuk Indonesia karena alasan-alasan tersebut .

Dalam konteks ke-Indonesiaan, PT-PT di Indonesia harus diakui telah berperan aktif dalam mewarnai kehidupan sosial politik negeri ini. Dunia kampus dengan segala pernak-perniknya selalu menjadi patron perubahan arah sejarah. Maka sejarah jugalah yang mengawal eksistensi kampus sebagai institusi tempat lahirnya tokoh-tokoh lokal, regional, nasional sampai tingkat global.

Konteks ke-Tasikan

Di Tasikmalaya, jumlah kampus memang masih terbilang jari. Namun dalam dekade terakhir berbagai kampus dengan berbagai disiplin ilmu hadir bak jamur di musim hujan. Di wilayah kota saja, dalam jarak beberapa ratus meter kita bisa menemukan kampus demi kampus bertebaran.

Banyaknya kampus adalah hal yang menggembirakan karena berarti antusiasme masyarakat terhadap pentingnya pendidikan semakin meningkat. Naiknya angka sarjana juga menunjukkan statistika jumlah warga terdidik meningkat.

Memang ada asumsi bahwa kampus, di samping sebagai institusi transformasi ilmu dan sains, ia juga sebagai sarana bisnis potensial untuk meraih keuntungan materi. Bagi penulis, asumsi itu sah saja bila dominasi persepsi menunjukkan gejala demikian. Namun sebagai keluarga kampus, penulis menganggap asumsi ini sebagai tantangan bagi stick holder kampus untuk berbenah mengimbangi kuantitas dengan kualitas. Lembaga kampus juga harus membuktikan bahwa kampus adalah tempat mahasiswa untuk mengeksplorasi skil, potensi, dan minat bidang yang diapresiasi.

Mencermati dunia politik, sosial dan keagamaan di Tasikmalaya dalam dua dekade ke belakang, kiprah mahasiswa dan alumni Perguruan Tinggi di Tasik cukup signifikan dalam memainkan perannya di tingkat lokal. Hal ini menjadi ‘dalil’ bahwa kampus betul-betul telah bekerja dan memberi bukti. Kita bisa mendata, bahwa mereka yang hari ini duduk di kursi eksekutif, legislatif, ICMI, KNPI, dan lembaga-lembaga sosial keagamaan lainnya di Tasik adalah mantan aktivis Perguruan Tinggi di Tasik. Demikian juga di setiap ajang penerimaan CPNS, peserta yang lulus seleksi didominasi alumni Perguruan tinggi yang ada di Tasik.

Keberhasilan kampus di Tasik dalam mencetak tokoh-tokoh lokal dan regional bahkan nasional adalah hal yang harus disyukuri. Namun demikian, ada pertanyaan yang sampai hari ini belum terjawab, kenapa kampus-kampus di Tasik ‘hanya’ menghasilkan tokoh-tokoh yang berkarakter politik? Kenapa kiprah yang dimunculkan tidak melampaui wacana-wacana intelektual?

Kuatnya arus politik

Dinamika dunia kemahasiswaan di Tasik sampai hari ini cukup menggembirakan. Setidaknya, aktvitas internal setiap kampus tak pernah sepi. Setiap divisi dari elemen BEM bergerak mensukseskan program masing-masing. Aktivitas eksternal pun tak dilewatkan. Seperti halnya jaringan bisnis, jaringan kemahasiswaan juga tak pernah berhenti bergerak untuk merumuskan sumbangan pemikiran dalam menyikapi isu-isu yang berkembang, entah politik ataupun sosial, agama dan kemasyarakatan, baik lokal maupun nasional bahkan global.

Di Tasik sendiri, organisasi mahasiswa yang eksis memainkan peran kemahasiswaannya adalah HMI, PMII, KAMMI, BEM-BEM PT dan lain-lain. Semua organ kemahasiswaan ini dari tahun ke tahun selalu menjaga eksistensinya karena, selain dikawal oleh para seniornya, juga budaya yang dibangun memungkinkan eksistensi tersebut berkelanjutan tanpa batas waktu.

Memang, jumlah mahasiswa yang aktif di satu PT biasanya tidak lebih dari dua puluh persen saja dari jumlah mahasiswa yang ada. Dari jumlah aktivis itu, kemudian muncul satu-dua sosok yang biasanya bertahan dan melaju ke level di atasnya. Namun satu hal yang harus dimunculkan ke permukaan, aktivitas gerakan yang dari tahun ke tahun dibangun oleh mehasiswa Tasik terkesan politic sentries. Artinya, meskipun sentuhan-sentuhan intelektual diwacanakan selama masa berorganisasi, tetap saja tidak bisa mencairkan nuansa politik yang begitu kentalnya.

Inilah saatnya

Kalaulah universitas-universitas di dunia Barat dan Timur Tengah telah mengangkat harkat dan martabat negara-negara yang menjadi “markas demarkasinya” dengan misi intelektualitas, maka PT-PT di Tasik juga bisa menaikkan perannya dengan menambah muatan-muatan intelektulitas dalam aktivitas mahasiswanya. Ini bukan berarti harus menggeser dan mendesak peran dunia politik kampus yang telah sekian lama dibangun, tapi bangunan politik kampus yang sudah kokoh ini diberikan ornamen yang berwarna-warni, yang dalam hal ini adalah aspek intelektualitas.

Hidup dan maraknya dunia intelektualitas kampus akan memantapkan kesan bahwa kampus memang hadir bukan hanya sebagai institusi bisnis yang hanya mencari keuntungan materi semata, juga bukan ‘pabrik’ yang menghasilkan aktivis-aktivis jalanan yang dimanfaatkan unsur-unsur di luar kampus yang punya ‘hajat’ memanfaatkan mahasiswa demi sebuah kepentingan.

Pertengahan bulan Agustus ini adalah masa awal perkuliahan dimulai. Setiap kampus akan berbenah untuk menyongsong suasana dan semangat baru. Maka semangat intelektualitas adalah sebuah tawaran yang bisa dijadikan alternatif untuk menciptakan gairah dan geliat kampus yang ‘berwacana’. Maka lewat tulisan ini, penulis ingin menyumbang pemikiran ke arah semangat baru dunia kampus di Tasik dengan penguatan-penguatan hal-hal berikut:

Penguatan syahwat membaca

Salah satu kelemahan yang mendasar dari mahasiswa PT-PT di daerah, bila dibandingkan dengan mahasiswa di kota besar adalah motivasi kuliah dan semangat dalam mengakses wacana-wacana yang berkembang. Syahwat membaca mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di kampus Tasik nampaknya masih lemah. Setiap kali singgah di toko-toko buku di Tasik, penulis sering mengamati para pengunjung yang datang dan ternyata, kebanyakan pengunjung adalah orang tua dan anak-anak sekolah SMP atau SMU. Dan ketika penulis masuk di perpustakaan-perpustakaan kampus-kampus di Tasik, maka nampaknya pemanfaatan sarana perpustakaan oleh para mahasiswa masih jauh dari optimal.

Di sisi lain, ada alasan klasik ketika penulis mengajukan masalah-masalah yang berhubungan dengan dunia kepustakaan kepada para mahasiswa. Alasan itu adalah masalah ketaktersediaan buku-buku yang dicari yang berkenaan dengan proses perkuliahan mereka di perpustakaan kampus. Maka dengan demikian, ada dua masalah yang harus sama-sama kita carikan solusinya. Pertama, usaha berbagai pihak untuk terus menggenjot syahwat membaca dari mahasiswa kita sehingga menjadikan buku sebagai ‘sahabat terdekat’ dan membaca sebagai ‘konsep hidup’. Dan kedua, adalah usaha dari lembaga kampus untuk mengikuti, mengawal dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia pustaka di negeri ini.

Seperti diketahui, meskipun harga buku akhir-akhir ini terus melambung, namun derasnya buku-buku baru yang diterbitkan justru tidak pernah surut. Ini adalah hal yang mau tidak mau harus direspon pihak kampus untuk menyediakan anggaran khusus demi menghadirkan buku-buku baru dan up to date di perpustakaannya. Maka hal yang kemudian ke depan harus dibina, yaitu sinergitas lembaga kampus dengan para mahasiswa untuk mewacanakan, membentuk dan mengembangkan “komunitas baca” di kampus-kampus yang ada di Tasik.

Penguatan lingkar studi

Selain memperkuat budaya baca, ada kegiatan mahasiswa yang sepertinya sulit ditemukan di ‘belantara’ kampus Tasik. Ia adalah forum ilmiah atau lingkar studi. Penulis tidak menafikan hadirnya forum-forum kajian yang ada di Tasik, khususnya yang digelar mingguan, dwimingguan dan bulanan oleh organisasi ekstra kampus. Yang penulis maksud adalah forum kajian atau lingkar studi yang digagas, dilaksanakan dan dibudayakan mahasiswa kampus di lingkungan kampus.

Rindu rasanya menyaksikan maraknya kampus dengan lingkaran-lingkaran diskusi yang membahas wacana-wacana keilmuan dan bukan wacana organisasi (politik). Kampus-kampus besar sekaliber UI, UGM, ITB, UIN Jakarta dan UIN Jogja adalah contoh yang mungkin terlalu jauh untuk dijadikan bahan perbandingan. Namun sekedar untuk dijadikan contoh, kampus-kampus tersebut adalah kampus-kampus yang menjadi prototype kampus yang menghadirkan nuansa berbeda, yaitu maraknya organisasi politik mahasiswa di satu sisi, dan maraknya kajian diskusi wacana keilmuan di sisi yang lain. Berarti di kampus-kampus tersebut ada mahasiswa-mahasiswa aktivis organisasi dan mahasiswa-mahasiswa aktivis kajian, meskipun tidak sedikit di antara mereka yang aktif di dua dunia tersebut secara bersamaan.

Tokoh-tokoh nasional yang tampil di pentas wacana, entah politik atau sosial keagamaan biasanya dilahirkan dari ‘rahim’ forum-forum kajian di samping organisasi-organisasi politik kampus. Inilah mungkin yang harus terus diwacanakan di kampus-kampus kita untuk menciptakan “iklim ilmiah” di lingkungan mahasiswa Tasik, khususnya dalam menghadapi masa perkuliahan baru yang genderangnya akan segera ditabuh beberapa saat lagi. BEM-BEM yang ada di Tasik akan terus mengalami kemajuan bila orientasi kepolitikan kampus diperkuat dengan misi keilmuan di luar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Maka satu hal yang harus dilakukan adalah, sinergitas dari civitas akademika kampus dari mulai para pemegang kebijakan, dewan dosen dan semua mahasiswa yang menjadi eksekutornya.

Penguatan budaya menulis

Dua bidang penguatan di atas, bila bisa disukseskan oleh civitas akademika kampus-kampus di Tasik, akan mengantarkan para mahasiswa pada budaya ‘produktif’ menulis. Budaya positif ini, hari ini masih menjadi barang langka yang mendesak untuk dihadirkan.

Kita tidak menafikan peran mahasiswa Tasik dalam menyumbangkan arah kebijakan dari kinerja eksekutif dan legislatif Tasik. Koran-koran lokal sering memuat aksi dan aktivitas mereka dalam memainkankan perannya sebagai agent of chance, agent of development dan agent of modernization. Namun aktivitas-aktivitas tersebut rupanya masih terbatas pada aksi verbal yang beberapa saat setelah itu mungkin hilang dan terlupakan, belum menyentuh pada produksi wacana yang bisa diulang dan dikaji ulang, yaitu dalam bentuk tulisan

Beberapa kampus Agama Islam di Tasik, dalam satu tahun ke belakang ternyata telah mulai bergerak untuk mengahadirkan buletin/majalah kampus. Meskipun belum banyak mahasiswa yang men’donasi’kan tulisannya, namun kehadiran buletin-buletin ini harus diapresiasi sebagai usaha untuk mempropokasi bakat-bakat menulis mahasiswa yang sampai hari ini masih terpendam.

Ke depan, bila budaya tulis menulis ini sudah dalam posisi stabil, maka harus ditindaklanjuti dengan dibangunnya jalinan kerjasama antara aktivis penulis kampus dengan Koran-koran lokal, seperti yang telah terwujud selama ini, yaitu hadirnya kolom khusus pelajar SMU di harian PRIANGAN ini.

Penutup

Nyaman rasanya, bila kita menyaksikan para mahsiswa kita di kota/kabupaten Tasik, dengan anggaran yang ‘sederhana’ mampu untuk menghadirkan nuansa ilmiah kampus. BEM dengan kekuatannya yang ada, diyakini akan mampu untuk mengeksplorasi segenap potensinya dan menghadirkan nuansa positif yang beda dari biasanya, andai ketua BEM dan segenap divisi yang ada di bawahnya mau untuk “khusyu” dan konsentrasi mengurus organisasi intra ini, walau harus ‘diganggu’ oleh kegiatan lain di luar kegiatan BEM.

Akhirnya, kampus dengan segala elemen yang ada di dalamnya, bahkan dengan kekuatan yang lain harus bersinergi untuk menyongsong masa perkuliahan baru 2008/2009 ini, sehingga wajah kampus di Tasik lebih terlihat ‘sumringah’. Maka ke depan kita akan lebih optimis, warga dan masyarakat Tasik akan lebih memilih kuliah di Tasik dan warga dari luar Tasik memilih alternatif kuliah di Tasik. Hal seperti ini, tidak mustahil terwujud, andai bangunan dari dimensi intelektualitas mahasiswa Tasik kokoh dan menjulang. Wallahu a’lam

*Dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya

KONSEP DAN AKSI ISLAM TENTANG SAINS

Oleh : Asep M Tamam*

Sains, secara umum didefinisikan sebagai pengetahuan sistematis mengenai sifat dasar atau prinsip-prinsip objek-objek Indrawi atau fisik, yang berasal dari observasi dan eksperimen, yang karena itu bersifat empiris, eksak (pasti) dan mudah untuk diukur.

Sains kaitannya sangat erat dengan teknologi, kalau sains merupakan pengetahuan yang objeknya alam Indrawi, paradigmanya posititivisik, dan ukurannya logis dan empiris, maka teknologi adalah ilmu yang berkaitan dengan kepandaian membuat sesuatu yang berhubungan dengan industri, seni, dan kepentingan kehidupan manusia lainnya, Teknologi adalah penggunaan sains dalam pemanfaatan alam untuk kesejahteraan dan kenyamanan hidup manusia dan untuk merubah dunia tradisional menjadi dunia modern dan industrial.

Dengan Sains dan teknologi, manusia modern mampu menyiasati, misalnya jauh menjadi pendek, panas menjadi dingin atau sebaliknya, kerja berat jadi ringan, kotor jadi bersih, asin atau pahit jadi tawar dll. Dengan sains dan teknologi dikenalah istilah globalisasi yang menciptakan "ketakterjarakan" ruang dan waktu yang ditandai dengan lalu lintas manusia, produk dan informasi dalam tingkat yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dunia kini seolah-olah menjadi lebih mengecil dan batas-batas antar negara pun menjadi kabur, yang oleh sebab itu keterpengaruhan suatu negara oleh suatu negara lain pun sangat kuat.

Namun, sains dan teknologi juga melahirkan problem, sains dan teknologi menuntut biaya material, mental, kultural dan moral, baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena karakter sains yang empiris dan objeknya yang harus bersifat fisik, mengakibatkan lahirnya pandangan dunia (Saintisme) yang materialistis, yang beranggapan bahwa yang riil adalah yang material, sains pun selanjutnya bersipat sekuler. Beberapa Saintis barat kemudian menjadi atheis dan konplik antara sains dan agama pun berlangsung sampai sekarang. Sains, karenanya bukan saja telah melahirkan krisis etika, tetapi bahkan juga krisis agama.

Dalam konteks Islam, saat ini bidang sains dan teknologi merupakan kelemahan yang paling menonjol di negara-negara dan masyarakat muslim. Dalam tahun 1976 misalnya, jika jumlah penulisan karya ilmiah di seluruh dunia terdapat 352.000 buah dan di Israel saja terdapat 6.100 buah, maka di negara-negara muslim hanya 3.300 buah saja. Dilihat dari jumlah saintis, berdasarkan laporan tahun 1989, jika ahli fisika di dunia ada 4.168 orang, maka fisikawan muslim hanya 46 orang. Jika kimiawan dunia berjumlah 5.375 orang, maka hanya 128 orang saja yang muslim. Padahal, kemajuan suatu kelompok egara sangat tergantung pada penguasaannya terhadap sains dan teknologi. Kelemahan kaum muslimin dalam sains itu, di Indonesia misalnya, diperlihatkan oleh penilaian yang dilakukan Organisasi Kerjasama Pembangunan dan Ekonomi (OECD) bahwa penguasaaan matematika sebagai dasar sains, dari siswa Indonesia usia 15 tahun-nya adalah yang ke 39 dari 41 negara yang diteliti. Faktor penyebab lemahnya dunia Islam dalam sains dan teknologi itu antara lain karena tidak adanya praktisi yang bekerja secara sungguh-sungguh dan mendapat dukungan penuh dari infrastruktur ekperimental dan kepustakaan serta kemampuan saling kritik secara terbuka.

KONSEPSI DAN AKSI ISLAM DALAM SAINS

Jika Sains, di dunia Barat modern hanya mendalami objek empiris Indrawi saja, maka dalam Islam lebih dari itu, yaitu mencakup non fisik juga. Karena itu sains dalam Islam lebih kaya dibandingkan Barat. Sejauh yang bisadibaca dari Al-Qur'an dan hadits Nabi, Secara umum antara Al-Qur'an – Hadits dengan sains sejalan atau sesuai. Hal ini bisa dibuktikan, apakah dipandang dari sudut epistimologi (Cara mendapatkan Ilmu pengetahuan yang benar), ontologi (Isyarat Al-Qur'an mengenai hakikat yang dikaji), atau aksiologi (teori nilai mengenai kegunaan ilmu pengetahuan).

Dari sudut epistimologi, sains dalam Islam bukan saja mengenal metode observasi dan eksperimen (tajribi), tetapi juga metode demonstratif (burhani) dan intuitif (irfani), Metode Observasi (tajribi) misalnya, bisa dilihat dalam (QS Al-Nahl [16] : 43), (QS AL-Alaq [96] : 1), (QS : Yunus [10] : 101), (QS : Al-Ghasyiyah [88] : 17 -20), (QS Al-Naml [27] : 69), atau (QS Al-rum [30] : 42). Tentu saja masih banyak ayat lain, mengingat dalam Al-Qur'an terdapat 750 ayat atau seperdelapan isi al-Quran yang mendorong kaum muslimin untuk menelaah alam sekitar. Metode ini berlaku untuk bidang fisika, kimia, sosial serta humaniora. Demikian juga untuk Al-Hadits, banyak sekali mengungkapkan pernyataan Nabi yang memerintahkan kaum muslimin untuk menguasai sains, juga mengungkap keutamaan ilmu dan ilmuwan. Sementara itu, metode demonstratif (burhani) yang berdasar ilmu logika yang dipakai filsafat, bisa dilihat dari (QS Ali Imran [3] : 189-190), juga kalimat-kalimat lain dalam ayat-ayat yang bertebaran dalam Al-Qur'an, seperti "Apakah mereka tidak merenungkan?", "apakah mereka tidak berakal?", "Apakah kalian tidak memikirkan?". Metode ini berguna untuk mengetahui dunia metafisika. Adapun metode intuitif (irfani) tampak pada wahyu pertama, (QS. Al-Alaq [96] : 1-5), juga diperjelas dengan (QS. Al-Kahfi [18] : 65). Metode ini adalah metode pencapaian ilmu di mana Allah sendiri yang mengajarkannya.

Dari sudut pandang ontologi, terbukti bahwa penemuan-penemuan sains yang terjadi belakangan, sangat sesuai dengan isyarat-isyarat Al-Qur'an. Di antaranya adalah teori bahwa alam tercipta lewat big bang (ledakan dahsyat), dan ini diisyaratkan dalam QS (Al-Anbiya [21] : 30) atau (QS Al-Dzariyat [51] : 47), kemudian tentang hukum alam (QS. Al-Qamar [54] : 49), (Fushshilat [41] : 11), (Al-Ahzab [33] : 63), (QS Al-Fath [48] : 23), tentang Evolusi (QS. Al-Qashash [28] : 68), (Fahir [35] : 16), tentang gravitasi (QS. Al-Baqarah[2] : 74), tentang perputaran bumi (QS Al-Naml [27] : 88), tentang berputarnya matahari (QS. Yasin [36] : 38), (QS Al-Anbiya [21] : 33) dan (QS Yasin [36] : 40), tentang relativitas waktu (QS Al-Sajdah [32] : 5) dan (QS. Al Ma'arij [70] : 4), juga tentang penemuan-penemuan lain yang tidak bisa diurai semuanya di artikel singkat ini.

Adapun dari sudut pandang aksiologi, Islam dengan jelas menegaskan bahwa penggunaan sains harus ditujukan untuk hal-hal yang dibenarkan Tuhan. Sains saja tidak cukup, tapi harus dibarengi dengan keimanan dan kemampuan menjaga nilai-nilai etis kemanusiaan. Tingginya reputasi seorang saintis yang beriman sangat kohesif dengan penghargaan dari Allah (QS Al-Mujadalah [58] : 11) atau (QS. Fathir [35] : 28). Keritera ideal seorang saintis di antaranya selalu mengingat Allah saat berdiri, duduk dan berbaring (QS Ali Imran [3] : 190-191). Dalam hadits-hadits Nabi, penghargaan kepada ilmu, pelajar, pengajar dan orang-orang yang menguasai sains (Ilmuan) bahkan bertebaran lebih banyak lagi.

Dari konsep-konsep Islam tentang sains ini, maka sejarah telah menyaksikan aktor-aktor legendaris muslim di bidang sains. Tradisi observasi dan eksperimen kaum muslimin pernah mengakibatkan dimonopolinya sains oleh umat Islam selama 350 tahun, dan sekitar 6 Abad sains berada dalam lingkungan kaum muslimin, khususnya yang berkebangsaan arab, Persia, Turki dan Afghan. Dalam bidang kimia, Islam telah melahirkan Jabir bin hayyan (w. 193 H/808 M), Muhammad Zakaria Al-Razi (w. 313 H/925 M) dan Izzuddin al- Jaldaki (w. 762 M/1360 M). Dalam bidang Fisika, Sejarah Islam mengenal Ibn Al- Haitam (w. 1040 M), Al-Biruni (w.1048 M) dan Kamaluddin Al-Farisi yang hidup pada abad 13 M. Dalam bidang Matematika, Islam mencatat Al-Khawarizmi (w. 236 H/850 M), Al-Battani dan Umar Khayyam (w. 526 H/1132 M). Dalam bidang kedokteran, Sejarah Islam mengenal antara lain Al-Razi (w 313H/925 M), Ibnu Sina ( w 428 H/1037 M) dan Ibn Rusydi (w 595 H / 1198 M). dalam bidang geografi, sejarah telah mencatatkan nama Al- Syarif Al-Idrisi (w. 562 H/1166 M).

PENUTUP

Sejak diharamkannya filsafat oleh Al-Ghazali pada Abad 12, dan Ibnu Taimiyah abad 14, juga menguatnya sufisme dan tarekat-tarekat yang mengakibatkan sufisme menjadi gerakan yang massif, dan tidak adanya praktisi-praktisi yang bekerja sungguh-sungguh dalam tradisi eksperimen dan Observasi, serta banyaknya ulama yang menggunakan senjata takfir (Pengkafiran) ketika berhadapan dengan sains rasional, maka sains dalam Islam meredup. Sains kemudian tumbuh subur dan menjadi hegemoni bangsa-bangsa Eropa (Barat). Sampai hari ini kita menyaksikan, umat Islam hanya menjadi penonton, juga penikmat/konsumen produk-produk sains negara-negara maju. Sebuah siklus (Sunnatullah) berlaku, dan pada saatnya nanti, entah kapan, siklus itu akan kembali lagi ke pangkuan Islam.

WALLAAHU A'ALAM

*Dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya

Followers

arabiyyatuna © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO