Tampilkan postingan dengan label DUNIA KEULAMAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA KEULAMAAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2009

moderat; sikap keagamaan dan politik alumni darussalam

Oleh: Asep M Tamam*

Mungkin Darussalam, khususnya Akang (Pak Kiai, KH. Irfan Hilmi), belum sempat meneliti sikap keagamaan dan politik para alumninya setelah tiga, enam atau sepuluh tahun nyantri, lalu keluar menjadi alumni. Tahunya, mungkin sebatas kabar afiliasi beberapa alumni di beberapa partai, atau terdaftarnya mereka sebagai pengurus di beberapa ormas keagamaan lokal, regional ataupun nasional.

Tulisan ini, mungkin subjektif bila dikatakan refresentasi sikap keagamaan dan politik para alumni Darus —demikian kami menyingkat Darussalam— secara keseluruhan. Dan bila ternyata salah, maka tulisan ini berarti hanya sebatas ‘curhat’ pribadi penulis sendiri. Namun demikian, penulis mempunyai keyakinan —bila penelitian benar-benar dilakukan— bahwa thesis ini bisa dibuktikan kebenarannya.

Saya sendiri, adalah alumnus yang hanya tiga tahun menikmati kedalaman kasih sayang Darus dalam bingkai pendidikan. Sekarang, entah apa nama sekolah tempat kami dibina dulu, atau mungkin sudah hilang tergerus masa, tapi dulu, dua puluh tahun yang lalu, saya dan 40 orang teman sekelas mengukir sejarah diri dalam suka dukanya hidup menjadi murid MAPK angkatan kedua (1988-1991).

Pahit Artinya Manis
Sebelum jauh melangkah ke topik di atas, saya mohon diizinkan menulis pengalaman ‘super’ indah yang telah membawa kami pada posisi seperti sekarang ini. Kalau dihitung-hitung, tiga tahun digodok dalam belanga ilmu di Darus, rasa dukanya lebih dominan dibandingkan rasa sukanya, pengalaman pahit lebih banyak dirasa daripada pengalaman manisnya. Subjektivitas demikian wajar disampaikan oleh sesosok diri yang datang ke Darus dengan modal ilmu yang biasa-biasa saja, pas-pasan dibanding teman-teman yang lebih dulu mematangkan ilmu dan kepribadian mereka di MTs-MTs asal.

Pengalaman pahit dan rasa duka selama tiga tahun itu, bila dirinci takan bisa diulas hanya dalam 5000 characteres tulisan sebuah artikel. Singkatnya saja, bagaimana seorang santri bisa kerasan mengisi hari demi hari dengan efektivitas belajar 15 jam —dari jam empat dini hari hingga jam sembilam malam dengan asumsi, ada dua jam istirahat makan, mandi, qailulah dan canda— perhari. Demikian kuatnya arus kompetisi kala itu hingga jika tidak ikut ‘karapan’, pastilah satu demi satu tunas bangsa itu berguguran sebelum bunganya meranum buah.

Walaupun ‘surga’ Darus bisa dinikmati, itu hanya sesaat saja. Sejak lonceng sekolah di Sabtu siang berdenteng, kami beroleh ‘kemerdekaan’ hingga senja di hari Minggu tiba. Malam Senin menjelang dan kami kembali masuk ‘neraka’. Shalat Maghrib adalah tanda genderang perang mulai ditabuh. Siklus itu berlangsung hingga Sabtu siang hadir kembali di pangkuan. Dalam enam hari itu, sahabat kami adalah al- Quran, buku pelajaran dan kitab kuning. Seharian setiap harinya, mulut kami tak henti “menghitung jumlah huruf” al- Quran, buku dan kitab kuning itu. Jam satu siang, ketika anak-anak SMA pada umumnya sudah santai di depan TV sambil ongkang kaki dengan makanan ringan di tangan, kami justru harus mengenakan kembali seragam putih abu, melanjutkan misi, memforsir perangkat ilmu untuk lagi dan lagi membaca, menulis, menghafal, diskusi, mengonklusi dan menyantap aneka hidangan berbagai ilmu dari para guru.

Tanah Ciamis umumnya merah bata. Bila kering pecah dan bila hujan lengket. Kemarau atau pun musim hujan sama menyiksanya. Kemarau hanya menyisakan sedikit air hingga untuk mandi harus terlebih dahulu berkompetisi memperebutkan air ‘bajigur’ yang lecek. Jika tak mandi, kami takan bisa melawan panasnya hawa Ciamis dan tidur malam pun pastinya berteman mimpi buruk. Musim hujan pun tiba dan kami yang duduk di kelas tiga, telah terlatih dengan ledoknya tanah merah bata yang leueurnya minta ampun itu. Dulu, di tahun pertama, kami pergi ke mesjid dan harus berjibaku melawan leueurnya jalan menurun menuju mesjid. Seringnya kami tisorodot, tikosewad, tigorewal, tijumpalit dan tijurahroh. Saya sendiri, sumpah! dalam sehari pernah tiga kali ganti sarung.

Bila jam makan tiba, dada kami berdetak lebih kencang bagai genderang mau perang. Kami benar-benar khawatir dengan nasib piket penggotong nasi, terutama nasinya, akankah perjuangan keras piket penggotong nasi tiba di warung bu Dedeh dengan selamat? Apakah jalan licin itu mampu ditaklukkan? Bila tidak, kami haris kembali pulang ke kamar, sambil memukul-mukulkan sendok ke piring, berjama’ah bersama-sama.

Pak Kiai dan Sikap Moderat Kami
Di tengah suasana serba ‘mencekam’ itu, kebersamaan yang terajut antar teman sekelas dan sobat seasrama, ditambah suhu keilmuan Darussalam yang menakjubkan membuat suasana mencekam itu menjadi cair. Sampai hari ini, ketika ada acara di Darus yang sengaja saya ambangi, tradisi intelektualitas yang terbudayakan itu masih tertata apik dan menjadi alasan kuat kenapa orang tua kami dulu menyekolahkan dan memesantrenkan anak-anaknya di ranah nyiur melambai itu. Satu hal yang harus ditiru pesantren lainnya di wilayah Priatim, adalah budaya baca yang sudah terbenam kuat di kalangan santrinya. Berbagai harian surat kabar lokal maupun nasional bisa dibaca setiap harinya di MTs, MAN, IAID, perpustakaan Darussalam dan rumah keluarga pak kiai; santapan penutup di samping bacaan utama, buku pelajaran dan kitab kuning.

Di atas segalanya, sebenarnya ada faktor lain yang membuat kami bisa betah menggayung samudera ilmu Darussalam, ia adalah sosok pak kiai, juga civitas academica pesantren; guru-guru, pengurus pesantren, keluarga besar pak kiai dan lingkungan sekitar yang melebarkan pintunya untuk kami semua sebagai pendatang yang jauh dari keluarga. Sosok yang sering mengatakan dirinya ‘bapak’ dari semua santrinya dan tidak membedakan siapa dari siapa ini, adalah perekat bathin yang tak seperti leader yang sok mengatur, tapi sebagai manager yang mengayomi semua unsur dengan penuh tanggung jawab.

“Anak-anakku”, kata-kata itulah yang terekam kuat dan takan terlupakan dari pak kiai. Suara lirihnya yang sangat dijiwai itu selalu saja membuat kami ‘merinding’ dan sejenak melupakan orang tua kami, lalu bangga dengan sosok bapak penyabar, bijak dan ikhlas menjaga keseimbangan langkah kami kala itu. Kata-kata itu juga yang kami lantunkan di hadapan anak didik kami dan nyatanya, semua yang mendengarnya terdekap dalam kedalaman kasih sayang.

Sayang, kami hanya tiga tahun merasakan kehangatan pribadi khas pak kiai. Kepemimpinannya dalam mengatur arah Darus, di tengah usianya yang tak muda lagi, telah berhasil mengantarkan Darus menjadi pesantren modern, inklusif, dan multi prestasi. Layaknya madu, manisnya Darus telah tercicipi oleh berbagai kalangan, suku, organisasi dan lainnya. Kesatuan dari berbagai unsur perbedaan latar belakang siswa yang datang ke Darus, menjadi unsur terpenting dalam mengarahkan pilihan dan sikap para santrinya setelah kelak keluar dari Darus dan berkiprah di masyarakat. Bila dulu pak kiai mengarahkan santrinya kepada fanatisme buta dan kepentingan sektarian, maka sikap yang terbangun di setiap benak alumni pasti tak seindah apa yang terjadi hari ini. Ikhtilaf latar belakang santri yang sebagian NU, sebagian lainnya PERSIS, Muhammadiyah, PUI, thariqah dan lainnya berhasil diramu dalam bingkai ittifaq, lalu muncullah keanggunan ukhuwah; hal yang di zaman sekarang ini tak mudah untuk diamalkan di tengah-tengah masyarakat biasa.

Maka di manapun alumni Darussalam berada, ia —harusnya— memperlihatkan maturitas (kedewasaan) sikap ketika ‘terpaksa’ ada dalam kepentingan organisasi massa atau partai politik dan berhadapan dengan kepentingan berbeda dari berbagai arah. Fanatisme buta dan kepicikan berfikir yang dibawa dari kampung halaman —dan itu modal saya sendiri ketika datang ke Darus— nyaris terpangkas habis di tahun-tahun yang penuh kesan dan kepuasan bathin ini.

Dulu, di tiga tahun yang terenyam itu, saya mencoba menyelami kedalaman makna dari visi Darussalam mencetak muslim yang mederat, mu’min yang demokrat dan muhsin yang diplomat. Setelah tak berhasil memaknai tiga kata kunci (moderat, demokrat dan diplomat) itu, maka setelah keluar dan menyelaminya di permanent system, kehidupan nyata, maka jawaban sebenarnya terhidang begitu dekat.

Contoh kecil dari sikap moderat —satu saja dari tiga visi itu yang diangkat dalam makalah singkat ini— adalah apa yang saya alami sendiri (ma’af narsis). Ketika itu, Al- Muttaqin, yayasan elit di Tasikmalaya membutuhkan seorang ‘ustadz’ untuk mengisi pengajian mingguan orang tua murid. Pengajian ini adalah ajuan orang tua murid yang ingin ikut belajar mengaji seminggu sekali di komplek SMP SMA yang megah itu. Ustadz yang dibutuhkan tadi ternyata harus berkeriteria moderat. Saya, kebetulan punya koneksi dengan seorang guru di yayasan itu yang mengenali luar dalam kemoderatan sikap saya dalam perbedaan sekecil apapun di dalam wacana keagamaan bahkan juga politik. Lima tahun kebersamaan bersama ibu-ibu yang berlatarbelakang berbeda; NU, Muhammadiyah dan Persis itu telah mengajarkan saya bahwa visi Darus mencetak muslim moderat, titik kuncinya ada pada pengalaman nyata.

Last but not least, kita, pembaca khususnya, bisa mendulang kekayaan sikap moderat dari para alumni Darussalam di manapun mereka adanya. Fanatisme berlebih sepertinya tak koheren dengan alumni Darussalam. Jika pun dalam prakteknya masih ada yang bersikap demikian, maka ia harus kembali ke pangkuan Darussalam, dan mesantren lagi barang tiga, enam atau sepuluh tahun.
Hasbunallaah wa ni’mal wakiil

*Penulis adalah Alumni Darussalam 1988-1991, tinggal di Tasikmalaya. DPK UIN Bandung di IAIC Cipasung. Dosen LB STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis. Pengelola blog asmat-arabiyyatuna.

Selasa, 12 Mei 2009

tasik antara santri, gay dan babi

Oleh: Asep M Tamam*

Siapa orang Tasik yang tak bangga dengan Tasik? Pastinya tidak ada. Kota cantik tempat tinggal kita semua ini -dengan hawa sejuknya yang membetahkan- terkenal karena tangan penduduknya yang motekar. Tikar mendong, kelom geulis, sandal kulit, payung geulis, berbagai karya bordir, berbagai karya kerajinan tangan, batik dan lainnya menjadi bukti nyata kemotekaran warga Tasik.

Tengoklah di setiap jengkal tanahnya, gunung, laut, kekayaan bumi dan letak geografisnya yang luar biasa indahnya. Lihatlah juga mojangnya yang gareulis dan jajakanya yang karasep dengan adat priangannya yang sopan dan pikayungyuneun. Intip juga di setiap pori-pori kampungnya, lantunan suara merdu dari load speaker masjid mengumandangkan lantunan bacaan al- Quran dan puji-pujian; sebuah tradisi yang berpuluh-puluh tahun telah terbina apik, wujud dari nafas religis warganya yang selain nyakola juga nyantri. Nikmati juga pemandangan di tiap sore hari, tak ada aktivitas bagi ibu-ibu kita selain mengaji. Bagi mereka, slogan ”tiada hari tanpa mengaji” sudah menjadi nafas dan mendarah daging dalam keseharian. Perhatikan juga rutinitas di pesantren-pesantren, siapa yang tak reugreug menyaksikan anak-anak kita digembleng siang dan malamnya untuk menjadi penerus tradisi kesalehan masyarakat Tasik.

Di Tasikmalaya (kabupaten dan kota) pada tahun 1993 tercatat 613 pesantren dengan jumlah santri 61.000 orang. Data tahun 2009 menyebutkan di kabupaten Tasikmalaya terdapat 604 pesantren dengan jumlah kyai 837 orang, jumlah santri laki-laki 41.203 orang dan 38.241 santriwati. Di kota Tasikmalaya, data terbaru mencatat jumlah pesantren 249 buah dengan 19.093 santri mukim dan 29.541 tidak mukim. Ini adalah prestasi membanggakan di mana Tasik menjadi wilayah tingkat dua di negeri ini yang menampung pesantren dan santri terbanyak.

Di Balik Kebanggaan itu
Kentalnya aroma Tasikmalaya dengan nuansa ‘seribu santri’ bisa disaksikan dari wara-wirinya para kiai dan para santri yang hilir mudik di setiap tempat dan sepanjang jalan, dari utara sampai selatan dan dari barat sampai timur hingga di pusat kota Tasik. Hal ini diperkuat dengan visi “religius Islami” yang senantiasa dipegang teguh dan menjadi wacana yang terus mengumandang di tengah warganya.

Namun di balik kebanggaan itu, hari-hari terakhir ini Tasikmalaya diguncang dua isu menghebohkan; gay dan babi. Ke-kotasantri-an Tasikmalaya lalu dipertaruhkan dan dipertanyakan. Akankah predikat yang telah lama melekat dalam wacana ke-Tasik-an itu akan terus tergerus dan rasa keagamaannya akan bertambah hambar? Ataukah Tuhan sengaja menghadirkan dua isu besar ini agar kita semua introspeksi dan memperkuat barisan agar radiasi daya cemarnya tak bertambah luas.

Di atas segalanya, dua isu besar itu cukup mengganggu suasana nyaman Tasik pasca kerusuhan Desember 1997 yang adem ayem. Isu gay yang tak bisa dianggap main-main itu misalnya, harus menjadi bahan kajian berbagai elemen dan isu ini adalah kesalahan kolektif warga Tasik. Jangan-jangan, selama ini semua sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga semua dibuat terlena. Pemerintah sibuk dengan program-programnya, para ulama sibuk mengasuh santri dan jamaahnya, anggota dewan sibuk dengan kampanye dan dunia politiknya, para guru, civitas akademika kampus, para pengusaha dan para tokoh warga masyarakat sibuk dengan dunianya masing-masing sehingga akhirnya kecolongan.

Harus diakui, bila benar entitas kaum homo itu ada di Tasik dan jumlahnya benar fantastis yaitu 900 orang, ini benar-benar memalukan sekaligus memilukan. Jumlah itu bahkan disinyalir lebih banyak dari jumlah gay yang ada di padayeuh Bandung. Namun sekali lagi, tak elok rasanya bila kesalahan itu dialamatkan ke salah satu alamat karena ini adalah kesalahan kolektif yang hadir tidak untuk diratapi, tapi agar semua elemen sinergis dan bergerak ke depan mencari solusi mengembalikan anak-anak kita ke jalan yang lurus dan mencerahkan.

MUI sebagai garda terdepan dalam menjamin kesehatan rohani warga Tasik, harus lebih pro aktif dalam menangani masalah serius ini untuk mengurai benang kusut yang terjadi di tengah-tengah umatnya. Bila ketua MUI kota Tasik yang di awal kemunculan isu gay ini berjanji untuk segera bergerak dan sinergis dengan pihak kepolisian, maka kita sebagai warga Tasik harus mendorong dan menjadi bagian dari proses itu. Tentunya, kita tengah menunggu janji ketua MUI itu digodok hingga matang dan diimplementasikan dalam bentuk aksi nyata, tentunya lebih lekas lebih bagus.

Bila di Amerika, Eropa dan di negara-negara besar dan demokratis lainnya homoseks merupakan fenomena biasa, tapi di Tasikmalaya yang nyantri dan agamis, hal ini luar biasa, kita harus mengkaji ulang dan mencari solusi terbaik agar herang caina, beunang laukna. Di tengah wacana digulirkannya perda syari’ah, di kala kasus-kasus yang menimpa anak-anak Tasik terus diangkat dalam pemberitaan media, maka isu gay ini harus menjadi prioritas utama mengingat “daya tularnya” yang sporadis dan sangat cepat.

Tak hanya kasus gay, munculnya kasus global yang menjadi bahan kewaspadaan warga negara kita, flu babi (H1 N1) memunculkan kembali wacana RPH (rumah pemotongan hewan) babi yang lokasinya ada di wilayah hukum kota Tasikmalaya. Dilema besar bagi pemerintah kota dan kabupaten Tasikmalaya ini harus didiskusikan ulang oleh pemerintah, DPRD, para ulama dan tokoh masyarakat lainnya sehingga opsi terbaik, sepahit apapun hasilnya bisa menjadi pegangan. Lokalisasi ‘barang haram’ ini tak ubahnya seperti lokalisasi WTS, artinya dilokalisasinya babi ini di satu tempat saja, agar dampak negatifnya –seperti dikatakan drh. H. Budi Utarma, kadis peternakan, perikanan dan kelautan kabupaten Tasikmalaya, Priangan 6/5- tak sampai meluas dan mencemari kehidupan warga Tasik secara umum.

Islam yang diajarkan para ulama kepada umatnya, khususnya di Tasikmalaya telah menempatkan babi pada posisi yang begitu kotornya. Maka amatlah wajar ketika isu global flu babi ini muncul, mata warga Tasik kembali terbelalak. Mereka pun akhirnya tahu bahwa permintaan pasar di Tasik, Banjar, Ciamis dan kota lainnya akan daging babi cukup tinggi. Dilema seperti tahun-tahun ke belakang itu lagi-lagi menyeruak.

Akhirnya kita berharap, keseriusan berbagai pihak dalam menangani dua isu besar yang melanda warga Tasik ini segera menemukan jalan keluar terbaiknya. Tentunya kita tak ingin gara-gara dua isu ini semua kalangan menjadi katempuhan, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Maka gebrakan para pemimpin kita dalam menyelesaikan masalah ini, tak sabar kita nantikan.
Wallaahu min waraa al- qashd

Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAI Cipasung dan dosen LB STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.

Senin, 27 April 2009

ulama dan pencerahan politik umat

Oleh: Asep M Tamam*

Harus diakui, kondisi politik pasca pemilu terdegradasi pada kondisi yang carut marut. Tapi naif dan kurang adil rasanya, bila berpuluh dan beratus kerancuan pemilu legislatif yang telah berlangsung hanya ditujukan kepada kesalahan KPU semata. Bila jujur kita membuka mata hati, jauh sebelum pemilu digelar, prediksi tentang berbagai kemungkinan buruk yang akan menimpa dunia politik kita —bila dihubungkan dengan perilaku para politikus kita di lapangan dan sistim pemilu yang diterapkan— nyatanya benar-benar terjadi.

Jauh sebelum 9 April tiba, benih-benih konflik politik dengan segala resikonya telah terbaca sejak awal. Stress caleg dan tim sukses yang ‘kalah perang’, protes dan gugatan berbagai kalangan dan gejala-gejala lainnya yang mengarah pada instabilitas politik telah diwanti-wanti akan terjadi. Kita masih ingat ketika itu, para caleg dan perwakilan setiap parpol, dari pusat hingga daerah berjanji dan berikrar damai dan di hadapan KPU, kepolisisan, mahasiswa, para ulama, wartawan dan masyarakat lainnya. Kini, semua itu benar-benar berbeda dan berubah dan berbagai prediksi tentang akan munculnya ‘watak asli’ para politikus kita itu ternyata tak meleset.

MENENGOK KE BELAKANG
Keran politik yang dibuka di awal musim kampanye, lalu semakin menggelontor ketika MK mendefinisikan kemenangan caleg mengacu kepada perolehan suara terbanyak, membuat seluruh caleg berkompetisi secara ‘habis-habisan’. Siapapun anggota masyarakat, dari kelas teri hingga kelas kakap lalu menjadi pengamat yang intens mengomentari tingkah dan kelakuan para caleg.

Kerancuan itu bermula dari sini. Tak ada satu kekuatan pun yang bisa menekan dan menghentikan jutaan, puluhan, ratusan juta hingga miliaran rupiah uang haram, sekali lagi uang haram yang mengalir deras dan hinggap di berbagai kantong saku, utamanya rakyat miskin di kota sampai masyarakat terpencil. Sampai di sini, tak ada satupun kekuatan yang memberikan pencerahan dan pencerdasan, utamanya dari perspektif agama bahwa kelakuan memperebutkan jabatan dengan mengeluarkan amunisi materi besar-besaran itu ‘tak elok’ di mata agama.

Sekarang ini syndrom stress ringan dan berat hingga gejala kegilaan menghinggapi para caleg dan tim suksesnya yang kalah dan tak ada satu kekuatan pun yang bergerak untuk mengantisipasi dari awal agar hal-hal demikian tidak terjadi. Ketika hal itupun akhirnya terjadi, lagi lagi blaming the fictim, menyalahkan pihak luar menjadi bagian penting yang berpotensi menambah keruh suasana.

MENANTI KERJA KERAS ULAMA
Mu’adz bin Jabal, tokoh sahabat nabi yang masyhur akan ketinggian kharismanya pernah menyatakan, “Ulama adalah hamba-hamba Allah yang terpilih. Tingkah, ucap, dan langkah mereka adalah panduan dan referensi bagi umat. Segala permasalahan umat, dari yang ringan hingga yang berat selalu terselesaikan dengan campur tangan dan keterlibatan mereka. Betapa cintanya segenap ciptaan Allah, di darat juga di laut kepada mereka…”

Berwarnanya masyarakat Islam selalu identik dengan kehadiran para ulama. Lintasan zaman pun lalu melahirkan jutaan ulama shalih, berilmu tinggi dan bukan hanya sebagai pengasuh umat dalam hal keilmuan dan keagamaan saja, tapi bahkan hingga melampaui wacana sosial hingga politik. Dalam hal ini, ribuan buku terbit dalam rangka ‘membenamkan’ berbagai dimensi positif mereka di hati umat.

Zaman modern sekarang ini, warna para ulama pun semikan beragam. Tantangan hidup mereka yang didedikasikan di jalan dakwah pun semakin hebat. Kini, rambahan kaki mereka hingga memasuki wacana perebutan jabatan dan kekuasaan. Maka tak ayal, posisi umat pun berubah. Tak seperti dulu di mana posisi ulama ada di wilayah uncriticable atau sakral, zaman modern ini praduga umat kepada mereka seiring sejalan dengan gerakan sosial politik yang mereka tempuh.

Posisi ini dikhawatirkan semakin merosot ketika keberadaan mereka di ‘panggung kotor’ politik tak memberikan signal positif. Alih-alih ingin mengasuh arah politik dan mengarahkannya ke jalan yang lebih bermartabat, posisi para ulama yang ‘polos’lah yang justru dimanfaatkan ‘oknum-oknum’ tertentu dan lalu menjadikan misi ulama di kancah politik semakin bias. Alih-alih ingin menyucikan dunia politik dari berbagai unsur syubhatnya intrik-intrik dan haramnya suap politik, kaum ulamalah yang justru “dikhawatirkan” menjadi bagian darinya. Bila kekhawatiran itu lalu terjadi, maka unsur kekuatan apalagikah yang bisa bergerak untuk membersihkan dunia politik?

Teriakan-teriakan dari luar panggung agar ulama kembali ke umatnya, khusyu’ melayani mereka dan melangkah menjauhi ‘wilayah abu-abu’ politik nyaris tak didengar. Seiring datangnya musim politik, umat nyaris tak bisa memisahkan mana ulama dan mana yang bukan ulama ketika eskalasi suhu politik meningkat. Dari titik inilah lalu gerakan pemurnian nilai-nilai ideal dalam berpolitik terhambat dimunculkan.

Rabu (15/4) kemarin, Majlis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten Tasik menggelar musdanya dan sukses mengantarkan KH. Ii Abdul Bashit, ulama muda kharismatik sebagai pucuk pimpinannya. Ulama pengasuh PP. Sukahideng yang sangat dihormati dan dibanggakan santri-santrinya ini —penulis tahu hal ini dari obrolan ringan dengan para santri PP. Sukahideng yang kuliah di IAIC, tempat khidmat penulis— tentunya akan menjadi harapan baru di di kabupaten Tasik bukan hanya dalam membebaskan area Tasik dari faham dan aliran sesat, tapi juga dalam rangka mengembalikan pamor para ulama ke posisi terlayak ketika mereka terpaksa harus ancrub ke dalam kolam politik atau sudah kaduhung terpilih dan melenggang ke gedung dewan.

Harapan umat begitu kuatnya agar dunia keulamaan di tanah air, khususnya di Tasikmalaya, bisa bersih dari segala unsur kepentingan politik. Harapan lebih kuat lagi adalah bila mana para ulama ada di wilayah imparsial (netral) ketika musim politik tiba. Bila demikian halnya, maka ulama ada di pihak yang bisa memberi jalan tengah, pencerahan dan pencerdasan politik. Jebakan demi jebakan yang terpasang untuk mengeluarkan para ulama dari dunianya dan masuk ke wilayah pragmatisme, seringnya membuat umat ambigu.

Tulisan ini merupakan resume subjektif dari bincang-bincang ringan penulis dengan teman-teman mahasiswa dan rakyat di dataran paling bawah yang berada di luar pagar politik. Diharapkan, tulisan ini memberi sumbangsih pemikiran dan wacana yang bisa didiskusikan dalam rangka optimalisasi peran ulama dalam pencerahan politik umat.
Wallaahu min waraa al- qashd

*Penulis adalah peminat masalah politik, keagamaan dan keulamaan. Tinggal di Tasikmalaya

Minggu, 08 Maret 2009

kewajiban dakwah dan problema keumatan

Oleh: Asep M. Tamam*

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung

Surat Ali ‘Imran ayat 104 ini, adalah salah satu ayat paling populer yang berhubungan dengan dakwah selain ayat ke 125 dari surat an- Nahl [16] “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”, Ali ‘Imran [3]: ayat 110 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” dan Fushshilat [41]: ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Ayat ini (Ali ‘Imran [3] ayat 104) Mengandung tiga hal yang harus dilakukan oleh umat Islam, baik secara pribadi ataupun berkelompok, berhubungan dengan upaya pemeliharaan masyarakat dari berbagai hal yang bisa menjerumuskan mereka kepada kesengsaraan di dunia dan kecelakaan di akhirat. Pertama, yad’uuna ilal khair mengajak kepada kebajikan, kedua ya muruuna bil ma’ruuf menyuruh kepada yang makruf dan ketiga yanhauna ‘anil munkar mencegah dari yang munkar.

Dalam tafsir al- Misbahnya (2002), M. Quraish Shihab menjelaskan kewajiban dakwah kepada dua pendapat umum para ulama yang berbeda. Perbedaan demikian dikarenakan kata minkum dalam ayat di atas difahami oleh sebagian mufasir dengan makna ‘sebagian di antara kamu’, dan mufassir yang lainnya memahami min (harf jar) lilbayaan atau ‘penjelasan’, artinya kewajiban dakwah dibebankan kepada semua umat Islam. M. Quraish Shihab sendiri lebih memilih pemahaman pertama, dakwah adalah kewajiban sebagian muslim saja tanpa menutup kewajiban semua umat Islam untuk saling mengingatkan satu dengan yang lain.

Namun demikian, Abdullah Ahmad al- ‘Allaf dalam bukunya Kullunaa du’aat aktsar min aalaaf fikrah wa wasiilah wa usluub fii al- da’wah ilallaah (2008) dan banyak ulama lainnya memahami bahwa da’wah adalah kewajiban setiap individu tanpa kecuali. Dengan kata-katanya yang indah ia berujar, “Da’wah adalah kewajiban yang mesti dilakukan seluruh umat Islam yang mampu memikulnya, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, baik secara teoritis maupun praktik”. Terlepas dari dua pendapat yang sebetulnya sama tapi berbeda penekanan ini, aktifitas da’wah dalam Islam tak dapat ditawar-tawar lagi, ia adalah prasyarat keberlangsungan hidup umat Islam di sepanjang zaman. SK dari Allah SWT. untuk merekomendasikan setiap orang menyibukkan diri di dunia dakwah termaktub dalam ayat ke 110 dari surat Ali ‘Imran.

Dalam ayat ini (Ali ‘Imran 104) terdapat dua kata yad’uuna (mengajak) dan ya muruuna (memerintah). Sayyid Quthub dalam fii zhilaal al- Qur’aan mengemukakan bahwa, penggunaan dua kata yang berbeda itu menunjukkan keharusan adanya dua kelompok dalam masyarakat Islam. Kelompok pertama bertugas untuk mengajak khair, dan kelompok kedua bertugas untuk memerintah ma’ruuf dan melarang munkar. Kelompok kedua ini, tentulah memiliki kekuasaan di bumi, termasuk di antaranya adalah pemerintah.

Apa makna al- khair, al- ma’ruf dan al- munkar? Ibnu Katsir dalam tafsir al- Quran al- ‘azhimnya memberikan batasan al-khair dengan nilai kebaikan universal yang diajarkan dalam al- Quran dan sunnah. Sedangkan al- ma’ruf adalah sesuatu yang baik menurut pandangan umum satu masyarakat selama sejalan dengan al- khair. Adapun al- munkar, ia adalah sesuatu yang dinilai buruk oleh suatu masyarakat serta bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Ayat di atas menjelaskan betapa pentingnya mengajak kepada al- khair yang kemudian didahulukan penyebutannya, kemudian memerintahkan kepada yang ma’ruf lalu melarang yang munkar.

DAKWAH DAN PROBLEMANYA
Di setiap masanya, Indonesia adalah negeri yang kaya akan ulama. Mereka berdakwah sesuai kapasitas masing-masing dan efektivitas dakwah mereka terlihat dari tersebar dan mendominasinya umat Islam di pelosok tanah air. Gerakan dakwah massif ini telah merubah Indonesia yang Hinduis dan animis menjadi Islamis. Dan secara mencengangkan, Indonesia lalu menjadi sebuah negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia.

Yang harus menjadi bahan renungan bagi kita, adalah kenapa dalam beberapa dekade ke belakang umat Islam terdegradasi secara kuantitatif, bahkan juga secara kualitatif? Jawaban dari pertanyaan ini sangat komplek menyangkut faktor internal umat Islam sendiri ditambah faktor eksternal. kemudian, sering juga penulis dihadapkan dengan pertanyaan klasik “kenapa gairah umat islam untuk mengamalkan ajarannya sedemikian lesu?” jawaban dari pertanyaan inipun sangat komplek. Lalu pertanyaan berikutnya muncul, “apakah kehadiran berbagai institusi dan lembaga dakwah di Indonesia sudah efektif?” sekali lagi, jawaban dari pertanyaan inipun juga komplek. Satu lagi pertanyaan tersisa, gencarnya dakwah di media massa, cetak ataupun elektronik, juga banyaknya da’i da’i muda yang cukup enerjik, kenapa tidak kohesif dengan perubahan dan perbaikan? Jawabannya pun tentunya komplek.

Kompleksitas problematika yang dihadapi umat Islam ini, bila dikaitkan dengan masalah dakwah, andai ditelisik lebih ke dalam sebetulnya tak ‘rumit-rumit’ amat. Bangsa Indonesia adalah bangsa penonton dan pendengar, bukan bangsa pembaca. Menonton dan mendengar adalah amaliah keseharian umat Islam di Indonesia. Menonton dan mendengar dakwah pun bukan hal baru bahkan sudah melekat kuat pada jiwa dan raga mereka.

Masalah pokok yang perlu dikemukakan untuk menjadi bahan renungan kita adalah, ruh atau jiwa dari dakwah yang dihadirkan para pendakwah dan ulama jaman dulu masih murni dan tak terkontaminasi unsur luar yang sekarang ini sedemkian sulit dikendalikan. Sementara ruh dan jiwa dakwah saat ini, maaf, seakan gersang karena kurangnya nilai-nilai keteladanan, keikhlasan, kesungguhan, profesionalitas, dan dari hati ke hati. Faktor-faktor inilah yang dikatagorikan sebagai faktor psikologi massa dalam dunia dakwah.

Seni dakwah yang dipraktekkan dengan teori alakadarnya di jaman dulu, juga merupakan faktor yang saat ini sudah sangat mendesak untuk dihadirkan. Seni dakwah yang dimaksud adalah tadarruj (berjenjang) dalam dakwah. Ibrahim bin Abdillah al- Muthlaq menulis buku al- Tadarruj fii da’wati al- Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (2008). Secara sistematis beliau merunut sejarah dakwah Nabi SAW yang memperagakan keberjenjangan dakwah, apakah dari segi materi, waktu, tempat dan objek dakwah. Sekarang ini, materi dakwah yang disuapkan langsung ke objek dakwah (audience) terpotong-potong dan tematis, sesuai kecenderungan dan minat mereka dalam menonton TV atau mendengar siaran radio.

OPTIMALISASI KHUTBAH JUMAT
Satu hal yang pasti, khutbah jumat adalah cara yang paling efektif dalam keberlangsungan dakwah di zaman Nabi SAW dan para sahabat RA. Disebut efektif karena di zaman ini, Nabi —juga para sahabat— sekaligus menjadi khatib jumat setiap hari Jumat dan dihadiri oleh semua sahabat. Berbeda dengan khutbah Jumat, ta’lim yang dilakukan Nabi tidak dihadiri oleh semua kalangan sahabat. Dalam hal ini, Prof. DR. Mustafa Murad dalam bukunya siirat al- Shahabah (2006) menuliskan cerita para sahabat tentang suasana dan keadaan dakwah di zaman Nabi. Umar bin Khattab dalam hadits riwayat al- Bukhari menceritakan, bahwa beliau mencari nafkah dengan berdagang di kampung Bani Umayyah bin Zaid. Namun demi kecintaannya pada Nabi dan ilmu, ia melakukan tanaawub (giliran) dengan seorang sahabat dari kalangan Anshar, sehari ia sendiri yang datang kepada Nabi, lalu hari berikutnya giliran sahabatnya itu yang menemui Nabi. Sepulang dari Madinah, kedua sahabat ini pasti saling berkunjung untuk menyampaikan apa yang diterimanya dari Nabi, apakah ayat-ayat al- Quran yang baru turun ataupun hadits.

Al- Barra bin ‘Ajib juga berkata, “Tidak semua sahabat Nabi mendengar setiap hadits yang disampaikanya. Di antara kami ada yang bertani, berdagang, dan bekerja dengan pekerjaan lainnya. Selain itu, kami pun butuh waktu luang untuk kumpul keluarga, ia berkata, “kaanat lanaa dhai’ah wa asyghaal” untungnya, ada kegemaran lain di antara mereka, yaitu mereka akan selalu menyampaikan apapun yang didengar dari Nabi itu kepada sahabat-sahabat lain yang tidak hadir, ia melanjutkan, “walaakinnannaasa laa yakdzibuuna hiinaidzin” (HR. Ahmad dan al- Hakim).

Dewasa ini, miris juga kita menyaksikan ironi dakwah yang terjadi di tanah air, pulau Jawa khususnya berkenaan dengan suasana dalam mesjid di saat khutbah Jumat sedang berlangsung. Disebut ironi karena suasana itu mencerminkan sistematika dan materi dakwah yang disampaikan tidak atau belum membumi. “Gemprah”nya jamaah berjamaah tidur di saat khutbah disampaikan memunculkan pertanyaan, siapakah yang bersalah dan bertanggungjawab atas apa yang tengah terjadi dalam tubuh umat ini?

Pertanyaan di atas seharusnya bisa terjawab. Acara pelatihan khatib dan imam jumat harus digalakan dengan target untuk mencapai memperbaiki dan mengobati kondisi ironis dalam acara jumatan. Pelatihan-pelatihan seperti ini, juga diyakini mampu mengarahkan sistematika dan materi khutbah yang lebih baik, dan ini secara tak langsung akan memberi pengaruh dalam pengobatan berbagai penyakit kronis yang menimpa umat Islam.

FENOMENA DAKWAH MODERN
Dalam dua dekade ke belakang, dakwah yang disampaikan kiai pop (demikian Prof. DR. Jalaluddin Rachmat menyebut para muballigh yang dibesarkan media, seperti yang ia tulis dalam buku Ajengan Cipasung karya Iip D. Yahya, 2004) sedemikian membahana di tengah-tengah masyarakat kita. boombastisnya dakwah di TV lalu menjadi tren dakwah yang di awal-awal masanya benar-benar bisa memberikan daya gugah dan daya rubah. Namun belakangan, umat terkesan kecapean dan lalu melewatkan begitu saja tontonan gratis yang dibawakan para da’i kondang yang sebetulnya sayang untuk dilewatkan ini.

Pertanyaannya, apakah umat telah merasa jenuh untuk sekedar meluangkan waktu paginya demi hal positif penyiram dahaga rohani ? ataukah mereka lebih suka memilih acara berita terhangat ataupun acara infotainment? Apakah —kalau boleh lebih jauh kita mempertanyakanmasalah pelik ini— ada yang salah secara internal atau eksternal dalam tubuh umat ini?

Masalah demi masalah yang diajukan dari awal sampai akhir dalam penulisan makalah sederhana ini, adalah bahan refleksi untuk kita semua, penulis khususnya, dalam rangka ‘mengurai benang kusut’ dari pertanyaan yang terjadi seputar kabar paling mutakhir dari problematika dakwah Islam di republik tercinta ini.
Wallaahu min waraa al- qashd

di kedalaman makna ma'ruf dan munkar

Oleh: Asep M Tamam*

Kamis, 26 Februari lalu, MUI kota Tasikmalaya sukses menggelar Majlis Mudzakarahnya yang kedua. Sebagai anggota umat Islam kota Tasikmalaya, penulis mengapresiasi acara majlis mudzakarah ini dengan positif. Di balik hangar bingar dunia politik yang masih jauh dari unsur keteladanan, MUI mampu menghadirkan acara yang menyejukkan. Ulama-ulama besar dan pinisepuh-pinisepuh kota Tasik, ‘ulama pop’ dan ‘ulama tidak pop’, wakil walikota, para pejabat yang ingin ‘mengaji’, unsur pengurus ulama tingkat kelurahan, kecamatan dan ‘sebagian’ anggota MUI kota Tasik tumplek memeriahkan acara ini. Meskipun masih merangkak mencari bentuk, Majlis Mudzakarah ini —mudah-mudahan— bisa memberikan rangsangan dan pencerahan significan bagi warga kota santri yang masih dihantam issu faham sesat, batu petir bertuah, kenakalan pelajar dan korupsi pejabat.

Kali ini, tema yang terangkat dan menjadi diskusi hangat adalah definisi ‘ma’ruf dan munkar’. Mengagumkan, demikian kesan penulis dengan pendapat para peserta yang datang lengkap dengan berbagai referensi, klasik ataupun kontemporer. Namun demikian, waktu yang camporet membuat acara ini belum maksimal memberi arah dan belum membumi. Sosialisasi kegiatan bermutu ini, karena pentingnya harus terus ditingkatkan seiring kebutuhan warga/umat yang ‘kelaparan’ akan hidangan bathin.

Memahami makna ma’ruf dan munkar
Secara etimologi, ma’ruf artinya dikenal dan diterima dan munkar sebaliknya, ia berarti tak dikenal dan tak diterima. Dalam ilmu fiqh Lughah (linguistik) yang salah satu cabangnya adalah tarikh al- mufradat (sejarah kata-kata), kata ma’ruf dan munkar telah ada sejak pra-Islam atau sebelum Muhammad saw. menjadi Rasulullah. Di kalangan masyarakat Arab jahiliyah, ma’ruf dan munkar umum digunakan untuk menggambarkan sesuatu perbuatan atau perkataan itu baik ataupun buruk sesuai saliqah (indera bathin) masyarakat.

Islam hadir dan memakai dua kata itu di lebih dari empat puluh ayat al- Quran. Selain menggunakan dua kata itu, Islam juga meluruskan pengertiannya. Menurut terminologi Islam, ‘Ali bin Muhammad al- Jurjani dalam bukunya, al- ta’riifaat mendefinisikan ma’ruf sebagai ‘apa yang dianggap baik dan bernilai ibadah sesuai syara’. Sebaliknya, munkar didefinisikan Ibnu Taimiyah sebagai ’segala sesuatu yang dilarang oleh agama’.

Pengertian dari kedua kata yang dalam ilmu Balaghah (sastra Arab) disebut Thibaq (dua kata yang berlawanan) ini lalu berkembang. Prof. DR. M. Quraish Shihab misalnya —setelah membandingkan berbagai pendapat para ulama tafsir dalam berbagai tafsirnya dan memahami sejarah dua kata tersebut sebelum Islam— mendefinisikan ma’ruf dengan ‘sesuatu yang baik menurut pandangan umum dan adat suatu masyarakat selama sejalan dengan nilai-nilai agama’. Beliau lalu mendefinisikan munkar dengan ‘sesuatu yang dinilai buruk oleh pandangan umum dan adat suatu masyarakat serta bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi’. Demikian M. Quraish Shihab ketika memahami surat an- Nahl [16] ayat 90. Dalam memahami ayat lain, al- Maidah [5] ayat 79, M. Quraish Shihab bahkan memahami penekanan dua kata ma’ruf dan munkar ini bahkan lebih banyak kepada adat istiadat.

Karena telah di-Islamisasi, pengertian ma’ruf dan munkar menjadi lebih terarah kepada Isamisasi adat. Karena itu, Islam sangat akomodatif terhadap budaya lokal Arab dan kemudian al- Quran, ayat demi ayatnya turun menguatkan adat yang baik, meluruskan adat yang bengkok dan membenarkan adat yang salah. Di negeri ini, kita pun mengenal peribahasa “adat bersendi syara, syara bersendi kitabullah”. Hal ini memperkuat kesan tentang karakter ajaran Islam yang menurut DR. Yusuf Qardhawi dalam al-hayaat al- Rahbaaniyah wa al-‘ilm, salah satu karakternya adalah sangat mudah dan komprehensif (yusr wa sa’ah). Yang wajib digaris bawahi di sini berarti, Islam melalui ajaran al- Quran dan hadits Nabi adalah sumber tertinggi sehingga adat istiadat harus tunduk pada keduanya.

Pengertian ma’ruf, setelah datangnya Islam lalu melebar dan meluas. Namun demikian, pengertian munkarlah yang cakupannya menjadi sangat luas. Kata-kata seperti al- junah, al-harj dan al-lamam (dosa kecil), al-itsm dan al-dzanb (dosa secara umum), al-ma’shiyah, al- jariimah dan al-kabiirah (dosa besar), al-fahisyah (dosa terbesar) merupakan cakupan munkar. Munkar, saking luas cakupannya bahkan menyentuh bukan hanya mukallaf (orang yang baligh dan terkena tuntutan agama), tapi juga yang tidak mukallaf. Seorang anak kecil yang mengonsumsi narkoba dan minuman keras, walau tidak berdosa ia telah melakukan munkar. Munkar bahkan mencakup bukan hanya ‘aqil (makhluk berakal atau manusia), tapi bahkan yang tidak berakal. Seekor kerbau dan gembalaan lain yang memakan tumbuhan yang sengaja ditanam, walau tidak berdosa tapi ia telah munkar.

Ma’ruf, munkar dan aksi kita
Keluasan ajaran Islam memungkinkan kita memanfaatkan panca indera kita bukan hanya melakukan ma’ruf (ityaan al- ma’ruf) dan menjauhi munkar (ijtinaab al- munkar), tapi meningkat ke amar ma’ruf dan nahy munkar (memerintah ma’ruf dan melarang munkar kepada orang lain). Kita, siapapun juga yang beragama Islam diperintahkan untuk menganjurkan kepada kebaikan (da’wah ila al- khair), memerintahkan yang ma’ruf (amar ma’ruf) dan melarang yang munkar (nahy munkar) sesuai dengan ayat ke 104 dari surat Ali ‘Imran [3].

SK (Surat Keputusan) dari Allah jelas-jelas diberikan kepada siapapun yang tergugah untuk beramar ma’ruf dan nahy munkar. Siapapun yang melibatkan diri pada aktivitas ini, entah para ulama, pemerintah (umara), para guru, pelajar atau mahasiswa, siapapun itu ia akan mendapatkan gelar khaira ummah (umat terbaik). SK itu tertuang dalam suat Ali ‘Imran [3]: ayat 110.

Dalam kegamangan hidup seperti ini, di mana kejujuran semakin mahal, pusat pusaran dosa semakin mengepung, budaya setan semakin menggejala, dunia politik semakin buram, keteladanan semakin terpencil, maka gerakan amar ma’ruf nahy munkar adalah pilihan terbaik yang harus dilakukan secara massif.
Wallaahu min waraa al- qashd

*penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam (IAIC) Cipasung, staf pengajar STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.

Minggu, 21 Desember 2008

ISLAM DI ANTARA ULAMA DAN PENGUASA


ilmu dengan segala poin positifnya telah dijadikan patron utama oleh Allah SWT untuk menjadikan seseorang terhormat dan dimulyakan sebagai ulama. Kecintaan para ulama terhadap ilmu, pengorbanan jiwa, tenaga, waktu dan harta demi ilmu, telah membuat mereka menjadi oase di tengah dahaga umat, mereka laksana butiran-butiran mutiara di tengah gunungan tanah, Lumpur, pasir dan batu

penulis mengajak kita semua untuk bernostalgia, menyelam ke kedalaman samudra kehidupan ulama terdahulu, menghirup di balik keharuman nama serta ketinggian penghargaan dan penghormatan umat kepada mereka.

Maka dengan ilmu pula Allah memilih gelintir-gelintir umat dari milyaran manusia yang lahir dari rahim dunia. Dari dahulu sampai sekarang, puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan manusia-manusia pilihan telah menghiasi cakrawala pemikiran dunia. Mereka adalah para ulama yang jasadnya telah mati, umurnya telah habis, tapi "umur kedua'nya" 21 akan abadi dan tetap dikenang dalam sanubari umat.

Tidak terhitung buku yang telah mengangkat ketinggian ilmu, kemulyaan akhlak, kesungguhan ibadah dan pahit manis kehidupan mereka yang semuanya telah menjadi inspirasi dan inisiasi umat setelah mereka dalam memasyarakatkan ilmu-ilmunya Allah..

Secara umum para ulama besar terdahulu adalah hamba-hamba Allah "biasa yang luar biasa". Ada hal-hal yang membawa mereka sampai ke puncak popolaritas dunia ilmu. Ada kelebihan-kelebihan yang sengaja Allah titipkan dalam otak/akal dan hati mereka, ada kesiapan-kesiapan lahir bathin, perpaduan antara kehendak Allah dengan usaha keras mereka.

Dari beberapa buku yang penulis baca, tersimpul beberapa hal yang membawa mereka khususnya dan ulama-ulama panutan jaman sekarang pada umumnya sampai kepada derajat demikian, diantaranya: Hapal AlQur'an, ribuan hadits dan sya'ir-sya'ir arab, banyak guru, lamanya belajar, kesulitan dan rintangan selama belajar, Keseimbangan antara aktivitas "Rabbani" dengan interaksi sosial,kuang minat terhadap kursi kekuasaan politik, dan lain-lain seperti: Mencintai kebersihan, banyak diam, ditanya tak menjawab, banyak yang tidak suka, dan banyaknya orang yang hadir dalam acara pemakaman.

. Mereka bukan hanya penghamba malam, tapi juga pengabdi sosial yang selalu mendengar setiap denyut nadi masyarakat.

28 Lebih dari itu, mereka bahkan lebih memilih hukuman penguasa dibanding kursi istana. imam Hanafi ditangkap, dipenjara, dicambuk setiap hari, leher dikalungi rantai besi dan wafat setelah mereka diberi minuman beracun. Imam Maliki pernah didera oleh penguasa, diikat dengan tali dan dinaikan ke atas unta, diarak keliling kota, dicambuk lagi sampai kedua tulang belikat beliau tercabut keluar dari lengannya. Imam Syafi'i juga pernah mendapat ujian, beliau dirantai, dipenjara dan hampir dipenggal kepalanya. Imam Hambali bahkan dirantai, dipenjara, didera sampai berdarah dan pingsan, dilemparkan di tanah dan diinjak-injak, 28 tahun beliau dipenjara sampai meninggal melewati 4 khalifah Abbasiyah, Al-Mamun, Al-Muttashim, Al-Mutawakkil. masih banyak pula ulama lain setelah mereka yang bernasib serupa, meninggal di tangan penguasa.

MUI ANTARA HARAPAN DAN KEHAWATIRAN

Oleh : Asep M Tamam*

Senin, 26 Mei 2006, kepengurusan MUI kota Tasik resmi dilantik. KH. Achef Noor Mubarok dan 101 orang pengurus terpilih dipercaya menjadi nakhoda dan ABK yang siap membawa kapal besar, dengan ratusan ribu penumpangnya untuk berlayar selama lima tahun ke depan, menuju sebuah dermaga yang penuh kedamaian, kesejukan dan keteladanan.

Ulama, adalah gelar yang tak gampang disandang sembarang orang. Ia adalah anugerah Allah yang disematkan kepada seseorang yang setiap helaan nafasnya adalah ilmu, bahkan tak cukup hanya ilmu, ortopraksi atau kesalehan vertikal dan sosial pun tidak kalah pentingnya. Maka penulis percaya, 101 orang yang telah dilantik ini adalah mereka yang bisa mewakili ilmu dan kesalehan vertikal dan sosial warga kota Tasikmalaya.

Ulama sebagai harapan

Sekali lagi, tidaklah mudah mendapat gelar ulama, ia adalah sejarah, dan sejarah telah bersaksi bahwa dari zaman ke zaman, ulama bagaikan mutiara di antara gundukan pasir, batu dan lumpur. Ia adalah kejora dari milyaran bintang tak bernama. Ia laksana oase dari sebuah sahara luas tak berbatas. Ia bagaikan mata air yang tanpa lelah meneteskan tetesan-tetesan air kehidupan. Maka tidaklah mengherankan kalau kehadiran atau ketidak hadiran ulama di satu daerah menjadi gambaran tentang kekayaan atau kehampaan spiritual daerah tersebut.

Dalam buku sirat al- Shahabah (2003), DR. Musthafa Murad menyitir ucapan Mu'adz bin Jabal sebagai berikut : " Ulama adalah manusia pilihan...dalam setiap kebaikan dia ada di depan...serumit apapun persoalan dia selalu jadi jawaban...ucapnya jadi ikutan...langkahnya jadi teladan...bagai rembulan...kehadirannya selalu jadi harapan…"

Kalaulah Heppy Andi Bastoni menulis buku 101 kisah tabiin (2007), maka jumlah 101 pengurus MUI kota Tasik juga diharapkan menjadi representasi kehidupan, perjuangan dan keteladanan101 tokoh tabiin yang terbukti, hidup mereka didedikasikan demi menjaga dua objek risalah, yaitu ilmu dan umat.

Ulama di tengah kehawatiran

Dalam dekade terakhir ini, dunia kepustakaan di Indonesia dikejutkan oleh kehadiran buku-buku baru bertema dunia keulamaan. Buku-buku ini mengejutkan karena menampilkan ulama bukan lagi sebagai sosok yang uncriticable, sakral dan anti kritik. Shafiyullah MZ menulis buku memandang ulama secara rasional (2007), Ahmad Fathani menulis buku peran kiai pesantren dalam politik (2007), Khoiro Ummatin menulis buku perilaku politik kiai (2006), Endang Turmudzi menulis buku perselingkuhan kiai dan kekuasaan (2003), Masdar Fahman menulis buku kiai dan korupsi (2004), dan Ahmad khoirul Anam menulis buku kiai dan budaya korupsi di Indonesia (2006).

Buku-buku ini pastinya ditulis tidak tanpa sebab, buku-buku ini pasti hadir stelah perenungan dan pendalamam yang seksama dari para penulisnya terhadap perubahan paradigma, misi dan orientasi para ulama. Juga pastinya, buku-buku ini dihadirkan atas landasan cinta yang mendalam terhadap ilmu dan ulama.

Politik Indonesia pasca reformasi, nampaknya merupakan faktor terbesar yang merubah paradigma perjuangan politik para ulama. Alih-alih ingin membersihkan lantai politik dari sampah kotornya, ulamalah yang malah terkotori. Dunia ulama yang sepanjang sejarahnya selalu memberikan gambaran jujur, shaleh, bersih dan berorientasi kebenaran, diyakini tidak akan tersambung dengan dunia politik yang selalu identik dengan intrik, adu domba dan berorientasi kemenangan. Oleh karenanya, sebagai pribadi, penulis sering merasa risih dan hawatir ketika membaca, atau menyaksikan langsung para ulama yang berderet, dipajang di panggung kampanye PEMILU atau pemilihan kepala daerah (PILKADA).

Penulis juga, selama beberapa tahun ke belakang membaca denyut nadi masyarakat Tasik, dari rakyat jelata sampai pengacara, dari teman sejawat sampai pejabat dan wakil rakyat, yang secara umum masih dan selalu menggantungkan harapan yang tinggi bahwa entitas keulamaan akan selalu menjadi symbol of moral and spiritual guidelines, penjaga keseimbangan kehidupan umat. Namun ketika entitas keulamaan dihubungkan dengan konteks politik, maka penilaian mereka berubah menjadi kehawatiran. Dan, meskipun hawatir selalu identik dengan cinta dan sayang, --seperti orang tua yang hawatir akan keberadaan anak-anaknya, atau anak-anak yang hawatir kepada orang tuanya-- hawatir juga kadang identik dengan rasa takut, maka sah-sah saja kalau umat takut ulama terjerumus ke dalam sisi negatif dunia politik.

Andai ulama netral

Dalam buku al-khilafah wa al- Mulukiyah, sayyid Abul A'la al- Maududi mempolarisasikan kepemimpinan umat Islam pada masa Daulah Bani Umayah dan daulah Bani Abasiyah menjadi dua; kepemimpinan rakyat dipegang para penguasa, sementara kepemimpinan agama dipegang para ulama. Ulama, pada dua masa ini --karena situasi sosial-politik yang menghendaki-- memiliki posisi terpisah dari penguasa. Mayoritas ulama akan menolak bergabung di istana ketika mereka diminta, walaupun sebagai konsekwensinya mereka dihukum, disiksa atau bahkan dibunuh.

Pendapat ulama legendaris asal Pakistan ini nampaknya tidak mungkin terjwujud di indonesia. Sekarang ini, kita sulit mencari figur ulama yang tidak berpolitik. Euphoria dunia politik menyuguhkan selera yang sangat tinggi bagi para ulama negeri ini.

Sambutan walikota Tasikmalaya dalam pelantikan pengurus MUI agar para ulama tidak berpolitik praktis seharusnya tidak verbalistis, tapi walikota bersama umat Islam kota Tasik harus terus mendorong independensi, imparsialitas dan netralitas para ulama dalam dunia politik. Netralitas para ulama dalam ajang politik adalah impian terdalam umat pada dunia keulamaan. Di sisi lain, kehadiran, kedekatan dan kemesraan para ulama dengan umat akan menjadi pemandangan yang paling indah dalam konteks keulamaan.

Penutup

Tulisan ini, tidak lebih merupakan ungkapan tanggung jawab salah seorang anggota umat Islam kota Tasik terhadap lembaga keulamaannya yang baru saja dilantik. Tulisan ini juga –walau tak bermakna-- diharapkan menyumbang arah bagi perjalanan panjang MUI kota Tasik yang diimami KH. Achef Noor Mubarak, ulama muda enerjik yang kebetulan cukup dekat penulis kenal.

*Asep M. Tamam M. Ag. Dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC juga mengajar di STAI Tasikmalaya

WAJAH ULAMA KITA


Ulama, dari masa ke masa, memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan umat. Bukan hanya sebagai sandaran dalam Ilmu Agama, juga tidak hanya rujukan langkah, ucapan dan tingkah laku, tapi ulama bahkan menjadi penopang keseimbangan kehidupan sosial dan spiritual (social and spiritual equilibrum).

Namun akhir-akhir ini,, di beberapa tempat dari kota sampai desa, dari kampung sampai pelosok, bahkan hampir di setiap pori-pori negeri tercinta ini, berkembang riak-riak opini yang mengarah ke desakralisasi ulama. Hingar-bingar dunia politik yang menggoda, hiruk-pikuk dunia bisnis yang merayu, kemegahan singgasana ‘Istana’ dengan berbagai fasilitasnya, telah melalaikan mereka dari misi utamanya sebagai pewaris ilmu dan akhlak para Nabi. Tapi yang paling dominan dari semua itu adalah opini umat tentang keterlibatan para ulama dalam gelanggang politik.

Tulisan ini, adalah surat cinta penulis sebagai anggota umat Islam kepada para ulama, setelah beberapa ‘saat’ mengkaji, dan terus mencari jawaban dari pertanyaan, “kenapa tampilnya para ulama dalam arena politik dan keterlibatan mereka dalam ‘ring’ kekuasaan telah melahirkan opini yang kurang ‘sedap’ di kalangan umat”.

Benar -Salah, Bukan Menang -Kalah

Sebenarnya, keterlibatan para ulama dalam arena politik dan kedekatan mereka dengan wilayah kekuasaan di Indonesia bukanlah merupakan ‘barang baru’. Puluhan bahkan ratusan buku dan karya ilmiah telah terbit dan terinspirasi dari kebersinggungan kehidupan sosial mereka dengan dunia politik dan para penguasa (umara). Sebagian menghadirkan gambaran yang putih bersih, sebagian lain menampilkan warna abu-abu dan sebagian lainnya memunculkan wajah yang hitam.

Putih, abu-abu atau hitamnya wajah ulama, bergantung kepada nilai-nilai perjuangan mereka dalam memainkan perannya sebagai --meminjam istilah Cliffordz Greetz dalam Religion Of Java-- Cultural Broker, guru dan penerjemah setiap problematika umat, juga sebagai sosok yang punya ketertarikan atau di ‘tertarik’i oleh wilayah politik dan kekuasaan.

Rumus perjuangan dunia politik adalah menang – kalah, kebahagiaan hadir bersama kemenangan dan kesedihan muncul karena kekalahan. Sementara rumus perjuangan para ulama adalah Benar – Salah, memperjuangkan dan membela nilai yang benar dan melawan untuk menghapus nilai-nilai yang salah. Nah, ketika rumus perjuangan para ulama berubah, ketika nilai perjuangannya menjadi menang – kalah, maka nilai-nilai idealitas hati nurani tercerabut dari akarnya. Wajar saja ketika seorang ulama yang mengungkapkan ekspresi berlebih dalam partisipasi berpolitknya, potensinya dalam memobilisasi massa diungkapkan dengan menghalalkan segala cara dan menempuh jalur ‘abu-abu’ demi meraih kemenangan. Dari sinilah kemudian opini umat terbangun.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Bukan Simbiosis Mutualisme

Keharmonisan hubungan antara ulama dan umara, sering memunculkan pemandangan yang indah dan menyejukan hati. Pemimpin membutuhkan ulama untuk mensosialisasikan program kerja, memasukan warna spiritual dalam berbagai kebijakan dan menghadirkan nuansa religius di lingkungan Pemerintah. Demikian juga sebaliknya, dalam uaya mensukseskan misi da’wahnya, ulama juga membutuhkan bantuan dan kerjasama dengan pihak pemerintah demi menunjang kelancaran bidang pengajaran, pengelolaan dan pengembangan sarana-prasarana yayasan dan pesantrennya.

Namun dalam konteks politik, kedekatan antara dua lembaga presitius ini, sering mengundang Prejudice di kalangan umat. Lalu munculah anggapan bahwa di balik kedekatan itu terjdi proses Simbiosis mutualisme. Dari fenomena-fenomena yang kerap muncul ke permukaan ini, DR. Endang Turmudzi terinspirasi untuk menulis bukan dengan judul Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan,’ dan dari hasil ‘perselingkuhan’ ini, munculah fenomena --meminjam istilah Ahmad Khoirul Umam dalam Kyai dan Budaya Korupsi di Indonesia-- Kiai kaya mendadak.’

Kedekatan antara Ulama dan Umara akan menghasilkan buah yang ranum dan manis, bila dasarnya adalah Amar Maruf Nahi Munkar, kehidupan akan berjalan seimbang ketika posisi ulama di atas posisi Umara yang mengarahkan para pemimpin ke arah Ma’ruf, dan mencegah mereka dari tingkah laku dan kebijakan yang Munkar. Umat dan rakyat akan merasa nyaman menghirup udara kehidupan andai Ulama dan Umara bergandnegan tangan menuju dua ambisi ideal pemerintahan Khulafa Al Rasyidin 15 abad yang lalu yaitu : kesejahteraan rakyat dan keridhaan Allah.

Memiliki Bukan Menguasai

Misi utama para ulama sebetulnya sama dengan misi para Nabi, yaitu mengajar, mendidik dan mengarahkan umat kepada nilai-nilai Ilahi, menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kekuatan, kebesaran dan karisma mereka terbentuk dari seberapa besar Social Submission (Pengabdian) mereka untuk mewujudkan masyarakat yang ideal dan betul-betul diridhai-Nya. Maka sosok ulama selalu menajdi figur yang dicintai, disayangi, dirindukan dan didambakan.

Hal inilah yang dalam konteks ke-Indonesiaan, menarik hati para aktivis-aktivis politik untuk mrekrut para ulama sebagai Selling point bagi partai-partai politik mereka. Daya jual para ulama pun akhirnya sangat tinggi dan akan bertambah tinggi lagi harga ulama yang kaliber kekiaiannya lebih tinggi. Maka tidaklah heran kalau sebuah partai politik merasa cukup dengan memanjakan seorang ulama karena satu asumsi “Mun Beunang Huluna, Pasti Beunang Buntutna”. Dan hampir bisa dipastikan, bahwa pada saat suhu politik meninggi, masa kampanye misalnya, frekuensi kehadiran ‘tamu’ bagi para ulam,a meningkat tajam. Bermacam-macam ‘buah tangan’ dibawa untuk menundukkan hati mereka.

Fenomena seperti ini nampaknya harus segera diluruskan, dan ulamalah yang harus berperan dalam pelurusan itu. Fenomena semacam ini menggambarkan asumsi bahwa ulama ‘menguasai’ umat, dan umat akan Samina Wa Atha’na kepada ulama. A kata ulama, A juga kata umat, pilih B kata ulama, maka B juga pilihan umat. Kata’menguasai’ selalu memunculkan konotasi yang negatif, contohnya suami menguasai istri atau sebaliknya, orang tua menguasai anak, pemimpin menguasai rakyat, guru menguasai murid dan seterusnya. Berbeda dengan kata ‘memiliki’ yang selalu identik dengan menyayangi, menjaga, mengayomi dan melakukan apaun untuk membuat senang orang-orang yang dimilikinya.

Manis Tapi Bau, atau Pahit Tapi Harum

Kedekatannya para ulama dengan umara yang tidak didasari niat suci, atau ekspresi berlebih dalam partisipasi berpolitik mereka, dalam beberapa dekade telah memunculkan kecemburuan, bahkan sampai tahap kehawatiran di kalangan umat. Pada tahap selanjutnya, tak terbendung lagi umatan-umpatan keluar dari mulut umat, mulai dari yang baisa-biasa saja sampai sumpah serapah, dan… inilah yang disebut Desakralisai Ulama.

Mencintai dan memiliki harta adalah Lawazim Al-Hayat atau kemestian hidup, tak terkecuali bagi para ulama. Bahkan pada batasan-batasan tertentu para ulama haruslah menampilkan dirinya --seperti Abu Bakar, Utsman, Imam Maliki atau Imam Hanafi-- Sebagai orang kaya karena kerja jujur dan ilmu yang mereka miliki. Namun kaya bukanlah tujuan, ia hanyalah sebagi sarana yang mengantarkan kepada tujuan hakiki yaitu keridhaan Allah.

Namun rasanya, sulit sekali membedakan kekayaan yang menjadi ‘tujuan’ dan mana yang menjadi “sarana” di kalangan para ulama. Kedekatan mereka dengan umara karena tujuan materi-duniawi sering menimbulkan kesan ‘bau’ pada mereka, apalagi umat --dewasa ini-- jauh lebih cerdas membaca interest dari ‘kemesraan’ di antara kedua lembaga tadi. Ujung-ujungnya korp keulamaan tidak lagi sakral dan anti kritik (Uncrtiicable), dan inilah yang dikhawatirkan terjadi.

Agak sulit juga rasanya, pada masa-masa sekarang ini, menacari figur-figur ulama yang kokoh di ‘singgasana’ pesantrennya, laksana singa yang menjaga hutannya (Kal Laits Mani’a Ghabihi). Mereka tidak tertarik dengan hingar bingar dunia politik karena sibuk mencerdaskan dan menggodok santri-santrinya sebagai tunas dan cikal bakal ulama-ulama penerus mereka. Kalaulah ada, pastilah mereka itu ‘Pahit’ dalam keterasingan, terisolasir di dunia luar, tapi yang pasti, mereka ‘manis’ di mata umat.

Namun patut untuk tidak dilewatkan, bahwa peran ulama dalam dunia politik di Indonesia, telah sangat banyak menyumbang ‘Saham’ positif. Tampilnya mereka di panggung politik atau keterlibatan mereka di ‘ring’ kekuasaan telah membawa semilir angin yang ‘harum’ dalam tatanan kehidupan masyarakat. Mereka mendapatkan apa yang selayaknya mereka dapatkan, rizki yang halal dan nama baik yang terjaga. Maka pilihan mereka adalah pilihan yang ‘manis’ juga ‘harum’ tipe inilah yang menjadi dambaan umat. Mereka telah berhasil berperan sebagai Symbol Of Morality And Social Giuide Lines.

PENUTUP

Laju dari arus desakralisasi ulama ini, sebetulnya bisa diperlambat , bahkan dihentikan seandainya para ulama kembali meluruskan visi dan misi mereka dalam rangka mengemban tugas mulia, menciptakan suasana nyaman di hati umat. Mengabdi kepada masyarakat ‘bawah’ (umat) pasti jauh bernilai lebih dibandingkan merapat ke ‘atas’ (kekuasaan). Dengan demikian akan terjalinlah rasa saling memiliki yang murni, hakiki, tulus dari hati nurani antara ulama dengan umatnya. Tulisan ini --sekali lagi— merupakan ‘surat cinta’ yang merupakan hasil perenungan, yang kemudian diharapkan menjadi bahan perenungan semua pihak, terutama bagi para aktivis politik yang selalu memanfaatkan figur ulama bukan lagi sebagai ‘guru’, tapi sebagai ‘alat kepentingan’

Wallahu A’lam

Asep M. Tamam M. Ag., dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya.

Rabu, 17 Desember 2008

ULAMA DALAM KEHODUPAN SOSIAL POLITIK

Ulama Dalam Kehidupan Sosial Politik

Oleh: Asep M Tamam*

Dunia keulamaan adalah dunia yang multidimensional dan multi purpose. Tak hanya mengurus hal-hal yang bersifat ukhrawi, para ulama sering pula over leaving masuk ke berbagai wilayah publik, sosial, bahkan politik. Tak ayal, di tiap masanya, para ulama selalu menjadi simbol kultural yang memiliki pengaruh sosial dan legitimatsi moral di tengah-tengah umat.

Dalam bukunya, religion of java, Cliffordz Greetz mengungkapkan bahwa peran sosial para ulama adalah sebagai cultural broker (guru dan penerjemah setiap permasalahan umat), defender of culture (benteng untuk mempertahankan budaya lokal), transmitter of culture (pelestari budaya) dan filter of culture (penyaring budaya dari kontaminasi budaya asing).

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan para ulama. Baik ulama yang mengasuh pesantren ataupun tidak, mereka selalu memberi warna bagi berbagai aspek kehidupan sosial bahkan politik negara kita. Maka tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa keberlangsungan negeri ini selalu inherent dengan keterlibatan para ulama di dalamnya.

Namun keterlibatan para ulama dalam berbagai aspek kehidupan sosial politik dewasa ini, telah menghadirkan kesan yang beragam di kalangan umat. Sebagian ada yang setuju ulama keluar ‘rumah’, sementara yang lainnya menghendaki ulama di ‘rumah’ saja dan concern membina ‘rumah’. Setuju dan tidak setujunya umat ini, pastilah dilatarbelakangi oleh kenyataan, bahwa keterlibatan mereka dalam wilayah sosial politik kadang memberi kesan positif, abu-abu atau bahkan negatif.

Beberapa tipe ulama

Dalam buku kiai dan budaya korupsi di Indonesia, Ahmad Khairul Umam menuliskan rumusan singkat tentang peran ulama dalam kehidupan sosial politik yang ‘diracik’ KH. Musthafa Bisri. Kiai Rembang kharismatik yang biasa disapa Gus Mus ini, setelah mencermati arah kerja para ulama di Indonesia, membagi tipologi mereka kepada: pertama, ulama produk masyarakat. Kedua, ulama produk pemerintah. Ketiga, ulama produk pers. Keempat, ulama produk politisi dan kelima, ulama produk sendiri.

Penulis, setelah mencermati ‘racikan’ Gus Mus tentang ulama ini ingin mencoba menafsirkannya sesuai dengan hasil ‘bacaan’ penulis akan fenomena sosial politik para ulama di Indonesia dewasa ini.

Tipe ulama yang pertama adalah ulama produk masyarakat. Mereka adalah para ulama yang dengan ikhlas, siang dan malam memperjuangkan kepentingan umat dan kemuliaan ilmu. Credo atau pengakuan umat terhadap ortopraksi (kesalehan) vertikal dan horizontal para ulama tercermin dengan berbondong-bondongnya generasi demi generasi yang dipercayakan pengasuhannya di pesantren-pesantren yang mereka pimpin. Ketinggian ilmu dan kemantapan mental mereka terpancar dari tingkah laku, ucapan dan keteladanan. Merekalah ulama-ulama dambaan umat karena lahir, dibesarkan dan pada akhirnya membesarkan masyarakat.

Tipe kedua adalah ulama produk pemerintah, yakni entitas keulamaan yang sengaja dibentuk oleh pemerintah yang berfungsi sebagai legitimasi sosial keagamaan bagi kebijakan-kebijakan pemerintah. Tipe kedua ini mengingatkan kita kepada para ulama besar jaman dahulu di mana mereka ditawari, diminta, dirayu sampai dipaksa ikut bergabung bersama-sama di istana. Sebagian dari mereka menerima dan sebagian besar yang lainnya menolak dengan resiko dikucilkan, diinterogasi, diancam, dihukum sampai dibunuh. Bagi mereka yang menerima ajakan penguasa, sebagian hidup sejahtera karena punya kecenderungan duniawi berlebih dan sebagian besar yang lainnya dekat dengan penguasa demi misi amar ma’ruf nahi munkar, mendukung aksi-aksi baik pemerintah dan menahan aksi-aksi jahatnya. Di Indonesia, tidak sedikit para ulama yang bergaul dengan penguasa hanya untuk mengambil keuntungan semata, sementara sebagian besar lainnya merapat demi memberi arah positif, mengingatkan dan menasehati. Dengan demikian posisi ulama ada di atas, tidak equivalent apalagi ada di bawah penguasa.

Tipe ketiga adalah ulama produk pers, yaitu tipe ulama yang sudah cukup lama menjadi fenomena menarik di negara ini. Kang Jalal (Prof. Dr. Jalaluddin Rachmat) dalam sambutannya pada buku Ajengan Cipasung karya Iip D. Yahya menyebutnya ‘kiai pop’. Tanpa harus menyebut nama, pembaca pasti kenal benar siapa saja mereka. Mereka adalah selebriti-selebriti negeri ini yang tampil dalam balutan busana yang berbeda. Inilah yang di satu sisi memberi warna positif tentang fleksibilitas Islam, bahwa Islam kaffah untuk segala jaman dan segala pergaulan. Mereka menjadikan Islam betul-betul up to date. Mereka telah melahirkan paradigma ‘yang muda yang berdakwah’ dan ‘kaya dengan berdakwah’. Tapi di sisi yang lain, prematuritas mereka dalam menggapai popularitas dihawatirkan tidak seimbang dengan kematangan ilmu, mental dan spiritualitas seperti ulama-ulama pesantren. Kehawatiran lainnya adalah keberadaan Islam akan semakin permissif. Segala serba boleh dan serba mudah. Namun kita berhusnuzzhan, mereka akan terus mempertebal keyakinan dan meluruskan niat sehingga mereka tidak easy come easy go.

Tipe keempat adalah tipe ulama produk politisi. Tipe ulama seperti inilah yang dewasa ini di beberapa daerah selalu mewarnai perjalanan kisah pilkada dan pemilu. Partisipasi yang berlebih dari para ulama melahirkan bahasa profane di kalangan umat. Desakralisasi ulama dimulai dari sini, di mana umat tidak lagi manghormati dan menghargai entitas keulamaan. Tapi pastinya, itupun hanya sesaat terjadi dan dalam batas-batas yang wajar. Bisa jadi, bahasa profane itu terlontar dari mulut orang awam yang hanya menilai dari hal-hal lahiriyah saja, atau dari mereka yang tidak melibatkan agama dalam berpolitik. Wallaahu a’lam.

Yang kelima adalah tipe ulama produk sendiri, yaitu mereka yang memiliki ambisi berlebih untuk mengejar target-terget duniawi dengan mengandalkan kepandaian bicara, keterampilan meyakinkan orang dan kemahiran memobilisasi massa. Mereka tidak begitu sulit dikenali karena tidak memiliki aspek-aspek keulamaan seperti institusi pesantren, ilmu agama yang mapan, kesalehan sosial, aspek keturunan dan lain-lain.

Penutup

Bagaimanapun juga, dunia keulamaan adalah dunia yang unik, yang dari hari ke hari entitas, kualitas dan kuantitasnya semakin bisa menyesuaikan diri dengan dimensi sosial politik dunia modern. Tantangan para ulama ke depan tentunya semakin komplek seiring dengan perubahan dan perkembangan paradigma dan hukum sosial yang ada. Namun karena hukum agama pun selalu berkembang, maka para ulama kita akan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan jaman ini, tentunya dengan berpegang teguh pada landasan keagamaan yang lebih dulu mereka akses dari literatur-literatur otoritatif. Bila hal itu bisa diwujudkan, maka tipe-tipe ulama keenam, ketujuh dan seterusnya akan memperkaya hazanah keulamaan negeri ini, tentunya yang konotasinya lebih positif.

Wallahu min waraa al- qashd

*Dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya.

Sabtu, 13 Desember 2008

Kesederhanaan Yang Mengharumkan

Langit Tasik, 18 Desember 2007 setahun yang lalu bergelayut kabung. Rupanya, putra terbaiknya, KH. Ilyas Ruhiyat dipanggil Sang Pemilik. Keharuman namanya tergambar dari tangisan cinta umat yang hari itu tumpah di Cipasung, Singaparna Tasikmalaya. Begitulah bila ulama ‘besar’ wafat, kerugian spiritual yang dialami umat adalah kerugian yang sesungguhnya. Allah swt. secara gradual akan ‘menghabisi’ ilmu dari kehidupan umat, tak lain dengan mewafatkan para ulama. (HR. Bukhari Muslim)

Dari berbagai referensi tentang tokoh harismatik yang pantas menjadi ‘referensi’ ini, penulis menangkap kata “kesan” paling mendominasi pewacanaan tentang dirinya. Ketika penulis pertanyakan ke kang Iip (Iip D. Yahya, penulis biografi “Ajengan Cipasung”, 2006), kenapa tokoh Cipasung ini yang diangkat untuk dibiografikan? singkat ia menjawab, “Karena pa Ilyas adalah yang paling saya kagumi”. Kang Iip —tentunya setelah membaca sepak terjang pak Kyai— mendapatkan ‘sesuatu’ yang terus menggoda daya imaginasinya untuk segera menulis biografi kyai santun ini. Dan, sesuatu itu tak lain adalah ‘kesan’ demi ‘kesan’.

Tasik yang beruntung
Beruntunglah warga Tasik karena dalam sejarahnya, tokoh-tokoh ulama besar lahir dari ‘rahim’nya. Sebut saja Syeh Abdul Muhyi, KH. Zainal Mustafa, KH. Khaer Afandi, Mama Kudang, KH. Ruhiat Cipasung, KH. Wahab dan KH. Syihab Muhsin dari Sukahideng, dan tentunya berpuluh ratus ulama lain yang ilmunya nyata-nyata telah mengawal Tasik menjadi ‘gudang’ santri dan ‘pabrik’ ulama. Keharuman nama dan kecintaan umat pada mereka, tentulah karena kepribadian mereka yang walaupun berbeda dan berwarna, tapi positif dan menggambarkan Islam lewat persepsi masing-masing.

KH. Ilyas Ruhiat, adalah salah satu ‘aset’ termahal Tasik yang bila kita mengaji ilmu keteladanan darinya, kita akan menemukan bahwa keteladanannya itu muncul dari aspek multi dimensional. Berbagai kesan pastinya didapatkan siapapun yang sering atau jarang, lama atau sebentar, dekat atau jauh, bergaul dengannya dan mencicipi pesona pribadinya yang ‘apa adanya’ itu. Penulis sendiri, walaupun hanya sebentar menjadi muridnya, berobsesi untuk menuliskan kesan pribadi terhadap beliau walaupun itu tertuang dalam satu paragfaph saja. Dan, satu saja yang ingin penulis angkat, adalah nilai kesederhanaan yang lekat dengan dirinya.

Keharuman di balik kesederhanaan
Al- Bushairy, penulis qasidah burdah itu, pernah mengungkap kesannya terhadap Nabi Muhammad saw. “Gunung-gunung merayunya agar dapat berubah emas untuk keperluan hidup Sang Nabi, sayang… ia menolaknya”. KH. Ilyas Ruhiat, adalah satu dari sekian sosok yang hanya mengambil seperlunya saja dari kelebihan yang sebetulnya bisa ia raih dengan ‘haq’. Tokoh yang menasional (mantan anggota MPR RI, DPA, MUI pusat, Rais ‘Aam PBNU) ini, bila dilihat ‘posisi tawar’nya sebagai ‘orang besar’, sebetulnya bisa saja meraup apapun sekehendak hatinya, namun ia tak mau dan ia tak seperti itu. Kesan yang terekam dari pengalaman para tetamu yang datang siang malam dan ‘nyaris’ tanpa kesulitan dan hambatan (baca ajengan Cipasung, Iip D. Yahya hal. 126-131) menggamblangkan bahwa sosok, pribadi, gaya bicara, penampilan, suasana dalam rumah, kendaraan, makanan dan lain-lainnya betul-betul sederhana, tak memaksakan diri dan tak dibuat-buat.

Penulis sendiri, walaupun terhitung jari, alhamdu Lillah berkesempatan langsung mempelajari keteladanan dari nilai kesederhanaan beliau di rumahnya. Kesenangan bathin yang terhidang dalam beberapa puluh menit pertemuan itu betul-betul menggambarkan pemahaman beliau tentang Islam yang dipraktekkannya langsung di depan tetamu. Bagi beliau, semua orang sama saja, siapapun yang datang dan butuh sesuatu (ilmu, informasi dan lainnya) harus dipuaskan dan jangan diputus harapan, kecuali bila kondisi fisiknya tak memungkinkan menerima tamu. Dan pada saat itu, tamulah yang harus mengerti.

Inspirasi bagi calon ulama
Kekuatan pribadi KH. Ilyas Ruhiat adalah buah dari bakat intrinsik dirinya, di samping juga dari pelatihan dan pembiasaan yang lama, dan inilah yang harus diteladani oleh siapapun yang bercita-cita agung jadi ulama. Santun, sederhana, ramah, menyejukkan, memuaskan, memecah berbagai masalah, adalah sifat Nabi Muhammad saw. yang ditiru pak Kyai. Tentunya, giliran kita yang harus meneladaninya, di sela-sela zaman yang selalu saja merayu kita untuk membelakangi dan menjauhi akhlak dan karakter mulya yang telah dipraktekkan pak Kyai tadi.

Semoga, KH. Ilyas Ruhiat-KH. Ilyas Ruhiat lain muncul dan dalam jumlah yang lebih banyak lagi, di Tasik khususnya tempat Pak Kyai tinggal, juga di negeri ini tempat pak Kyai berkhidmat.

Wallaahu min waraa al- qashd

*Oleh: Asep M Tamam
Ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAIC Cipasung. Dosen Bahasa Arab STAI Tasikmalaya

Dunia Ulama Adalah Dunia Keteladanan

Tanggal 18 Desember 2007, tepat setahun yang lalu, pas ketika para (calon) haji dari seluruh dunia sedang melakukan wukuf di ‘Arafah, KH. Ilyas Ruhiat wafat. Esok harinya, hampir semua pemberitaan media massa lokal dan nasional mengangkat berita kepergian tokoh lokal yang menasional ini. penulis, yang saat itu hadir di pesantren Cipasung, ikut larut bersama ribuan pelayat dan santri yang sama-sama merasa kehilangan ‘aset’ mahal pewaris Nabi ini.

Semua orang yang pernah dekat dan merasakan pesona pribadi yang santun ini, pastinya masih menyimpan memori yang bisa memberi inspirasi tentang dunia keulamaan dan dunia keteladanan. Dan, pribadi KH. Ilyas Ruhiat, karena habl minallaah dan habl minannaas yang baik, telah memberi warna positif tentang bagaimana seharusnya seorang ulama ketika menghadapi umat, menghadapi santri, menghadapi para tamu, dan tentunya bagaimana seharusnya berpolitik. Tulisan ini, ditulis dalam rangka mengenang salah seorang tokoh besar yang telah mengharumkan dunia keulamaan pada khususnya, juga mengharumkan Tasikmalaya. Bukankah mengingat keteladan seseorang, walaupun telah wafat, akan memberi sedikit banyak manfaat?

MEMAKNAI KETELADANAN
hari ini, generasi kita nyaris kehilangan sosok yang bisa diidolakan dalam konteks keteladanan. Prof. DR. M. Nuh, Menkominfo kita, dalam khutbah ‘iedul adha di Mesjid Istiqlal 8 Desember lalu menegaskan hal itu (Republika, 09 Desember 2008).

Setidaknya, ada tiga ayat dalam alquran yang mengangkat masalah keteladanan. Pertama berkenaan dengan kehidupan agung Nabi Muhammad SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al- Ahzab [34]: 21). Kedua berkenaan dengan Nabi Ibrahim AS dan para nabi sebelumnya. “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS. Al- Mumtahanah [60]: 4) dan yang ketiga berkenaan dengan nabi Ibrahim dan kaumnya, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian.” (QS. Al- Mumtahanah [6]: 6)

Kenapa nilai-nilai keteladanan ‘wajib’ diangkat dalam berbagai kesempatan? Tak lain, agar figur-figur yang telah berlalu dan menorehkan berbagai inspirasi tentang nilai-nilai perjuangan, dedikasi, pengorbanan, keikhlasan, keteladanan dan segala hal positif lainnya bisa diaktualisasikan secara kontekstual hari ini, oleh kita yang hidup di hari ini, dan anak-anak kita di keesokan hari. Bukankah Allah SWT berfirman, “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir (QS. Al- A’raf [7]: 176)


KH. ILYAS RUHIAT, SANG TELADAN
Dalam sejarahnya, ulama selain merupakan symbol of morality and social guidelines, mereka juga merupakan spiritual and social equilibrium. Namun hari ini, ketika kita sering mendapatkan keluhan dari umat yang menghawatirkan terjunnya para ulama di kancah politik dan aneka dunia kebendaan, maka KH. Ilyas Ruhiat telah memberikan arah dan warna positif di berbagai kancah yang dilangkahinya sebagai tokoh yang menasional. Maka keharuman namanya, walau seabreg jabatan politis organisatoris ada di pundaknya, tetap terjaga.

Sebagai ulama yang lekat dengan dunia politik, beliau adalah sosok yang bisa menjadi rujukan ideal bagi para ulama negeri ini yang sedang dan akan terjun ke ‘kancah panas’ dunia politik. Dunia politik tak bisa dijauhinya, tapi berbagai syubhat politik bisa dihindarinya. Berbagai ijtihad politiknya pun selalu saja muncul dari pendalaman seksama demi kemaslahatan bersama. Berbagai komentar tentang kiprah politiknya, entah dari lingkungan terdekat, lingkungan pesantren Cipasung, atau pun di buku-buku yang memuat dirinya (Iip D. Yahya dengan Ajengan Cipasungnya, 2006,…), selalu saja membuat pembaca/pendengarnya ‘merinding’ takjub.

Sebagai seorang kyai, beliau adalah guru yang sangat dicintai para santrinya. Hampir-hampir penulis tak penah mendengar kata ‘kecuali’ dari para santri dan alumni pesantren Cipasung khususnya, juga mereka yang pernah dekat dengannya, ketika mereka menyampaikan ungkapan kekaguman mereka terhadap guru yang santun, sederhana, saleh, ramah, lurus, pemaaf, murah senyum dan penuh pesona ini. Masing-masing mempunyai kesannya tersendiri, bekal untuk diteladani.

Sebagai tokoh nasional, beliau adalah sosok yang terjaga reputasinya. Beliau dikenal sebagai tokoh yang seperlunya saja dalam berkata dan beraksi. Sebagai tokoh yang selalu disowani wartawan, beliau pun selalu punya sudut pandang sendiri dalam menghadapi berbagai problema nasional dan kasus-kasus anak bangsa. Pembawaan watak intrinsiknya yang sedemikian adanya, dan kekuatannya dalam menahan diri selalu memunculkan kesan berbeda dari tokoh serupa yang lainnya. Maka, kekuatan pak kyai yang kalem dan lembut ini, ternyata di sinilah adanya.

Sebagai orang tua dan suami, ayah tiga anak (dua putri dan satu putra) dan suami seorang isteri ini telah berhasil memperagakan perannya dengan baik. Kemesraan yang terjaga dengan keluarga adalah modalnya untuk melanglang menjadi tokoh. Kesan dari putra-putrinya yang direkam dalam buku ajengan Cipasung membuat bapak dan suami manapun akan tergugah untuk meneladaninya.

KITA DAN KETELADANAN
Kehidupan para ulama, adalah kehidupan ideal yang layak diteladani. Hanya saja, berbagai trend dunia modern (politik, bisnis, istana penguasa) sering menggoda mereka layaknya trap (jebakan). Maka tak sedikit di antara mereka terjebak, terlena dan tenggelam di dalamnya. Pada giliranya, tak jarang umat sebagai konsumen ilmu dan keteladanan yang menyandarkan kebutuhan primer rohaninya pada mereka pun akhirnya ambigu.

KH. Ilyas Ruhiat, dalam hal ini telah menginspirasi dan menginisiasi kita untuk kembali membaca dan mendalami diri, menelaah jejak yang kita langkahi selama ini. Dengan demikian, cermin yang dibingkai dalam jejak langkah dan gerak-gerik hidup KH. Ilyas, tentu perlu kita aktualisasi sampai hari-hari ke depan, tak tebatas.

Sekilas tulisan yang alakadarnya ini, mudah-mudahan mengingatkan kita akan jasa para tokoh ulama, khususnya ulama lokal produk ‘dalam negeri’ Tasikmalaya, dalam menyemai bukan hanya benih-benih ilmu pengetahuan agama, tapi juga menyemai benih-benih keteladanan. Dua hal ini —ilmu dan keteladanan para ulama— adalah sumber tenaga bagi keberlangsungan umat Islam hari ini, esok dan masa yang akan datang.
Wallaahu min waraa al- qashd

*Oleh: Asep M Tamam
Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAIC Cipasung, dosen Bahasa Arab STAI Tasikmalaya

Followers

arabiyyatuna © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO