Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH JUMAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH JUMAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2009

meyakini kemahapengampunan Allah

oleh: Asep M Tamam*

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS Az-Zumar [39]: 53)

Siapapun kita, pastinya berharap kehidupan yang sedang dialami adalah kehidupan yang bergerak menuju idealitas yang berwujud insan kamil, manusia paripurna. Namun siapa nyana, di tengah perjalanan menuju posisi ideal itu, kita selalu saja terantuk dalam sebuah kenyataan, bahwa manusia adalah makhluk tak sempurna. Kodrat kemanusiaan yang melekat melazimkan kita lagi dan lagi masuk ke perangkap dosa. Di saat masuk dalam perangkap itu, sebagian kita ada yang berusaha dan mengerahkan segenap tenaga untuk keluar darinya, sebagian tak bisa bergerak, ia terjebak dalam perangkap itu dan lambat laun menikmatinya.

Adakalanya, kita merasa hidup seakan berada di atas awan, jauh dari dosa dan begitu mudah kita menyapa-Nya, menyebut asma-asma-Nya dan mengantarkan segala anggota badan ke jalan yang dicintai-Nya. Namun anehnya, seringnya kita bagai hidup di neraka dunia, terhimpit dalam perasaan dosa, tercekam dalam hitamnya lumpur kemaksiatan yang selalu saja menjanjikan kenikmatan dan keindahan sesaat.

Bahasa Arab mempredikati kita dengan kata insan. Ia berasal dari kata nisyaan yang bermakna lupa dan lalai. Lupa dan lalai ini mengantarkan kita ke gerbang dosa. Nabi bersabda, “Semua manusia adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah ahli taubat” Bila kita dalam posisi berdosa dan belum tergerak hati untuk bertaubat, maka betapa kita merasa jauh dari Sang Khaliq, Allah SWT. Jangankan menyebut-Nya, ingat pun kita luput. Bila demikian, berarti kita tengah menjauhi-Nya, jauh dari lingkaran kasih sayang-Nya.

MAKNA TAUBAT
Setelah kita kenyang menikmati dosa dan kemaksiatan, lalu berkehendak memperbaharui hubungan dengan-Nya, maka kembalilah kita kepada rangkulan-Nya, bersimpuh memohon maghfirah-Nya, menangis sejadi-jadinya dan berjanji tak akan mengakrabi kesalahan serupa di kemudian hari. Maka betapa bahagianya Allah, betapa Ia akan menghamparkan senyum ramah menerima penyesalan dan ikrar janji hamba-Nya.

Bukankah nabi SAW pernah menggambarkan bahagianya Allah ketika menerima taubat setiap pendosa? Ya, ia menggambarkan seorang pengembara yang kelelahan di tengah lautan padang pasir. Ia bertemu pohon besar yang terbayangkan betapa nikmat berteduh dan mengusir lelah sambil tidur pulas di bawahnya. Sayang, ketika bangun ia mendapati unta yang membawa segenap bekalnya kabur. Sedihnya tak alang kepalang, ia menangis dalam kebingungan, terbayang langkah jauh yang akan dilewatinya dalam melanjutkan perjalananyya. Dan, ketika suasana sedemikian mencekam, untanya datang lengkap dengan bekal dan bawaannya. Tak sadar ia berteriak, “alhamdu lillaah ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu!”

Gerangan apa yang membuat ia berteriak dan salah melafalkan kata-kata? Ya, tak lain adalah karena rasa bahagia yang tak terkira dan…nabi lalu melanjutkan sabdanya, “Demi Allah! kebahagiaan Allah menerima taubat hamba-hambanya yang ahli dosa dan maksiat jauh lebih besar dari kebahagiaan musafir tadi yang karena saking bahagianya hingga salah melafalkan kata-kata”.


AL-GHAFFAR, AL- GHAFUR, AT- TAWWAB DAN AL’AFUW
Maha suci Allah SWT, ia memiliki 99 nama indah dan sempurna, Al- asma al-husna. Di antara 99 nama itu ada empat nama yang bermakna “Allah Yang Maha Pengampun”. M. Quraish Shihab dalam bukunya Menyingkap Tabir Ilahi, mengutip pendapat Imam Al- Ghazali dan menjelaskan ke-empat nama indah itu.

Al-Ghaffar yang tertuang dalam Alquran sebanyak lima kali, bermakna Allah maha pengampun, Ia mengampuni dosa-dosa manusia dan menutupi berbagai kesalahan dan dosanya hingga di mata orang, ia tak seperti berdosa. Al- Ghafur yang tercatat sembilan puluh satu kali dalam Alquran, bermakna Allah maha pengampun, Ia mengampuni dosa-dosa manusia dan membuka peluang seluas-luasnya bagi manusia untuk memohon ampunan-Nya. At- Tawwab yang tertulis sebelas kali alam Alquran, bermakna Allah maha pengampun dan memberi dorongan kepada manusia untuk kembali dan kembali lagi kepada-Nya dan menjanjikan ampunan dari dosa seluas dan sedalam apapun. Sementara itu Al-‘Afuw yang terekam tiga puluh lima kali dalam Alquran, bermakna Allah maha pengampun, Ia mengampuni dosa-dosa manusia dan menghapus segala kesalahan dan dosa manusia.

Sejarah mencatat, Abu Dzar Al- Ghifari, seorang sahabat sampai ‘protes’ kepada nabi ketika beliau menyampaikan berita bahwa Allah SWT akan menyambut dan mengampuni seorang hamba yang berulang sampai tujuh puluh kali dalam sehari mengulang dosa dan mengulang taubatnya.

Dalam buku Al- Hayat Ar- Rabbaniyah wa al- ‘ilm, DR. Yusuf Qardhawi, ulama kontemporer yang kharismatik asal Mesir menyampaikan kekagumannya akan kemaha pengampunan Allah atas hamba-hamba-Nya. Dalam ayat 53 surat Az- Zumar [39] yang menjadi pembuka artikel ini, Allah memanggil para pendosa yang melampaui batas dalam kemaksiatannya dengan panggilan sayang “Wahai hamba-hambaku”.

Kekaguman akan kemaha pengampunan Allah ini, akan memerindingkan kita manakala kita membaca penafsiran para ulama terhadap puluhan ayat-ayat Alquran yang menjelaskan sifat Al- Ghaffar Al- Ghafur, Al- Tawwab dan Al-‘Afuw dan puluhan hadits-hadits shahih lainnya. Dalam surat Al- Furqan [25] ayat 70 misalnya, Allah SWT berfirman, “orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dalam hadits qudsi riwayat At-Tirmidzi, Allah SWT bersabda, “hamba-Ku, jika engkau datang kepada-Ku membawa dosa sebanyak isi bumi, Aku akan datang menyambutmu dengan maghfirah seisi bumi juga, selama engkau tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu”. Sementara itu para ulama meyakini bahwa pengampunan Allah tidak hanya terhadap dosa yang ditaubati, Allah bahkan mengampuni hingga terhadap dosa-dosa manusia yang tidak tertaubati.

Bila keyakinan kita tak berubah dan berkurang tentang kemaha pengampunan Allah SWT, tentunya kita akan melewati babak demi babak kehidupan kita dengan tanpa menyisakan keraguan tentang eksistensi kita, manusia sebagai pendosa yang harus kembali kepada-Nya setiap kali melakukan dan mengulang dosa. Kita dan dosa tak bisa dipisahkan, hanyasaja pengetahuan kita akan kemaha pengampunan Allah yang tersurat alam ayat-ayat-Nya dan dalam hadits-hadits nabi-Nya, akan memandu kita untuk terus dan terus memohonkan ampunan-Nya. Bukankah nabi SAW sendiri yang memberi contoh, bahwa beliau beristighfar dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali (HR. Bukhari), bahkan lebih dari seratus kali (HR. Muslim)?
Wallaahu min waraa al- qshd

*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung dan dosen LB STAI Tasikmalaya dan UNIGAL Ciamis

Minggu, 21 Desember 2008

KETIKA COBAAN BERTUBI-TUBI MENERJANG

Oleh: Asep M Tamam*

Dan sungguh Kami akan terus menerus memberikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al- Baqarah[2]: 155-157)

Bencana ekonomi global akibat krisis keuangan di Amerika Serikat menyerang kita tanpa dinyana. Begitu cepat itu terjadi, padahal kita belum mempersiapkan apa-apa. Untungnya, rakyat negeri ini telah terbiasa bersahabat dengan cobaan —dari skala kecil sampai besar— sehingga tak lagi harus panik menghadapinya. Setiap tahunnya, negeri ini tak pernah luput dari musibah. Musim hujan selalu saja ditandai dengan longsor dan banjir. Musim kemarau tak luput dibarengi kekeringan, paceklik dan gagal panen. Belum lagi tsunami, gempa bumi, kebakaran hutan dan pemukiman warga, dan sekarang, lagi-lagi harga-harga mulai naik karena goncangan ekonomi dunia.

Ayat ke 155-157 surat al- Baqarah di atas memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Betapa tidak, Allah menegaskan bahwa kita hanya diberikan ‘sedikit saja’ (bi syai in) aneka cobaan itu. Cobaan terberat, demikian para ulama tafsir, adalah justeru ketika kita gagal menerima cobaan itu, atau dengan kata lain, kita menerimanya dengan sikap terjelek. Prof. Dr. Quraish Shihab dalam al- Misbahnya bertutur bahwa cobaan itu, seberat apapun tetaplah sedikit bila dibandingkan dengan besarnya pahala bagi mereka yang sabar menerimanya.

Sabar, apalagikah akhlak yang lebih hebat dari sabar? Demikian Musa Kazhim dalam buku ash- shabr fii dhau al- Quran wa as- sunnah. Kata sabar dan derivasinya disebutkan dalam al- Quran lebih dari seratus kali, dan tidak ada akhlak apapun yang melebihinya dalam penyebutan al- Quran.

Menghadapi cobaan

Hari ini adalah bulan-bulan pertama kita menghadapi bencana ekonomi dunia ini sehingga —walau pulihnya disinyalir akan memakan waktu lama— dampaknya belum berat terasa. Sejalan dengan apa yang terjadi, ketiga ayat ini menjelaskan bahwa memang Allah akan terus menerus menguji kita dengan berbagai kehawatiran, terutama ketakutan akan ancaman kelaparan, kemiskinan, kematian juga kekurangan bahan makanan dan buah-buahan.

Di jaman Nabi, cobaan merupakan ‘makanan pokok’ sehari-hari bagi beliau dan para sahabatnya. Tak terperikan rasa pahit dari cobaan yang dialami Nabi dan para sahabatnya, entah di Mekah ataupun di Medinah. 23 tahun perjalanan yang direkam dalam berbagai literatur sejarah menyiratkan kisah bahwa rasa manis yang diwariskannya pada kita umatnya, tidak serta merta hadir dari perjalanan singkat dan mudah, tapi dari perjuangan maha berat dan sangat lama.

Kalau nabi sendiri menyampaikan berita, “orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi,” (HR. Bukhari), juga dalam sabdanya yang lain, “sungguh, besarnya nilai pahala seorang muslim disesuaikan dengan beratnya cobaan yang ditanggungnya” (HR. Turmudzi), maka itulah yang telah menginspirasi berpuluh-ratus generasi sesudahnya dalam mengemban misi hidup dan dakwahnya.

Dalam buku the great hundred Moslems, Jamil Ahmad menitik beratkan, dari seratus orang muslim terbesar yang telah tampil dalam pentas sejarah umat Islam, tujuh puluh persen lebih di antaranya adalah mereka yang melewati masa kecil, remaja dan dewasanya dalam kepedihan hidup. Deraan dari barbagai cobaan adalah masa-masa terindah bagi ‘aktor-aktor’ dalam buku itu dalam perjalanan mereka mengarungi kehidupan ini, sampai akhirnya mereka menjadi teladan bagi kita, manusia yang hidup di abad modern ini.

Para ulama sepakat, bahwa hakikat sabar adalah aktif. Artinya, dalam menghadapi sesulit dan sepahit apapun cobaan hidup, sikap terbaik dalam menghadapinya harus dibarengi dengan usaha keras untuk bisa keluar darinya. Ibnu qayyim al- Jauziyah dalam bukunya ‘idah al- shabirin wa dzakhirah al- syakirin merumuskan sabar sebagai induk dari berbagai akhlak terbaik manusia dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dialaminya, entah manis ataupun pahit.

Sabar, demikian Ibnu qayyim, bisa berwujud ‘iffah (menjaga diri) ketika seorang muslim berhadapan dengan godaan naluriah adami semisal seks. Ia akan berwujud qana’ah (memerima seadanya) ketika berhadapan dengan godaan harta duniawi. Ia akan menjelma menjadi hilm (berjiwa besar) bilamana bersinggungan dengan kondisi yang membuatnya harus marah. Ia, akan menjadi waqar atau tsabat (tenang) di saat harus berhadapan dengan sikap lahiriah. Sabar, bahkan akan berwujud syaja’ah (berani) ketika menghadapi musuh. Pada situasi yang mengharuskannya mengumbar dendam, sabar akan hadir dalam bentuk ‘afw atau shafh (memaafkan). Selanjutnya, ketika menghadapi situasi yang melemahkan jiwa, sabar akan menjelma dalam bentuk kayis (cerdas mencari jalan keluar). Ketika harus menghadapi situasi yang menimpakan beban kepada orang lain, sabar akan berubah nama menjadi muruah (menjaga harga diri), sedangkan dalam menghadapi perbedaan kehendak dan pilihan, sabar akan beralih nama menjadi samahah (toleransi).

Sikap terbaik

Sekarang ini, dampak dari ambruknya ekonomi Amerika belum sampai mencekik leher kita. Tapi kita tak pernah tahu seberapa berat beban yang akan ditanggung warga bangsa ini di hari, minggu dan bulan depan. Dari berita media massa yang setiap menitnya menyuguhkan perkembangan problema keuangan dunia, kita menangkap gelagat ke arah yang —mau tak mau— kita harus siap-siap mengeluarkan sikap terarif yang kita punya.

Pastinya, agama adalah pegangan terkuat (al-‘urwah al- wutsqa atau habl allah) bagi siapapun yang ingin menata hidupnya lurus dalam senang dan lurus dalam susah. Agama pulalah yang menjadi pusat kerinduan manusia modern, orang kaya ataupun miskin dalam membahagiakan dirinya di tengah hiruk pikuk kehidupan yang serba tak menentu ini. Tanpa agama, jiwa akan rapuh walaupun dalam kegelimangan dan kegemilangan materi.

Inilah Islam, agama yang jika kita kaffah dan tak setengah-setengah memasukinya, tak pernah kita akan ragu untuk memasuki babak demi babak kehidupan sesulit dan sepahit apapun. Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib mengajari kita satu doa, “ya Allah, berikan aku cobaan seberat-beratnya, tapi anugerahkan juga bagiku kekuatan untuk mengatasinya.” Sikap mental seperti inilah yang mahal adanya di jaman ini. Kesenangan demi kesenangan duniawi yang kita kejar selama ini, telah membuat kita terlalu rapuh jika diterjang musibah dan cobaan.

Jadi, kita akan menunggu apa yang akan terjadi esok hari. Sekarang kita mempersiapkan diri dan berharap, kerja keras tokoh ekonomi dan politik dunia —terutama para pemimpin negeri ini— dalam membendung arus bencana ekonomi ini berhasil dan berbuah manis. Kalaupun ekses negatifnya sampai kepada kita, senjata sabar adalah senjata pamungkas yang bisa kita praktekkan.

Wallahu min waraa al- qashd

*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya

KEMBALI KEPADA ALLAH

Oleh: Asep M Tamam*

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Dua ayat dari surat az- Zumar (39 : 43-44) ini dinilai oleh para ulama sebagai ayat yang paling memberi harapan bagi umat manusia. Betapa tidak? bukan hanya umat Islam, orang- orang kafir yang berniat untuk bertaubat dari kekafirannya, juga dipanggil untuk kembali kepada Allah dan meraih maghfirah- Nya. Demikian M. Quraih Shihab dalam al- Misbahnya. Lanjutnya, dalam ayat ini Allah sendiri yang memerintahkan nabi Muhammad saw. untuk menyampaikan secara langsung ke-Mahapengampunan Allah swt.

Ayat ini turun berkenaan dengan beberapa orang musyrik yang telah banyak melakukan kedurhakaan seperti zina, membunuh dan lain-lain. Mereka datang kepada Rasulullah dan mengatakan, “sungguh! Yang engkau serukan adalah kebenaran. Namun kami merasa telah terlalu banyak melakukan kesalahan. Sekiranya anda beritahukan, bahwa agama anda mengabarkan kabar baik, bahwa kesalahan- kesalahan kami ada penghapusnya.” Maka turnlah ayat ini (HR Bukhari dari Ibnu Abbas).

Dalam hadits riwayat at- Thabrani, Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa ayat yang paling agung dalam al- Quran adalah ayat Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) (QS. Al- Baqarah [2] : 255). Ayat yang paling lengkap memuat kebaikan dan keburukan adalah ayat Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. Al- Nahl [16] : 90). Ayat yang paling menekanakan untuk berserah diri kepada Allah adalah ayat Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. At- Thalaq [56] : 2-3) dan ayat yang paling memberi kabar gembira dan harapan adalah ayat ke 53 dari surat Az- Zumar ini.

Berkenaan dengan ayat ini, Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Tsauban, bekas budak Nabi selalu optimis dalam hidupnya. Ia selalu mengatakan, “sungguh tidak ada artinya bagiku dunia beserta isinya bila dibandingkan dengan kabar gembira yang dikandung ayat ini.”

Ada hal yang teramat indah untuk diungkapkan, bahwa lafazh ‘ibad berulang disebut dalam kitab suci al- Quran. Lafazh ‘ibad dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang beriman yang bergelimang dosa dan kemaksiatan. Kata ‘ibad sendiri dalam bahasa Arab bermakna ‘hamba-hamba terkasih’. Ini berarti, sebesar apapun dosa seorang mumin, Allah senantiasa memanggilnya dengan panggilan kesayangan. Dia mengundang para pendosa itu hadir ke haribaan- Nya untuk bertaubat dan kembali ke jalan yang diridhai- Nya. DR. Yusuf Qardhawi, ulama yang paling dihormati dunia Islam saat ini, mengungkapkan kekagumannya terhadap redaksi dan isi ayat ini. Dalam bukunya, al- Hayat al- Rabbaniyyah wa al- ‘ilm, beliau menuturkan bahwa dengan penuh cinta kasih, Allah memanggil orang-orang yang durjana dan penuh dosa dengan panggilan “wahai hamba- Ku”.

Kita dan dosa

Setiap manusia tercipta dalam bentuk dan rupa yang berbeda-beda. Namun mereka sama, telah dibekali dua potensi oleh Allah; baik dan buruk (rujuk QS. Al- Balad [90] : 10) sebagaian mereka ada yang punya potensi berlebih untuk selalu condong kepada kebaikan. Sementara yang lainnya ada yang selalu condong kepada keburukan. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Al- Syams [91] :9-10).

Manusia, semuanya adalah pelaku dosa, demikian sabda nabi. Tetapi, lanjutnya, sebaik-baik pelaku dosa adalah mereka yang senantiasa menyesali perbuatan dosanya dan kembali kepada- Nya. Nabi sendiri dalam hadits yang lain meyakinkan kita bahwa tidak ada seorang pun di antara kita yang bisa meluputkan diri dari kesalahan. “kalaulah kalian bersih dari dosa, maka Allah akan melenyapkan kalian, kemudian Allah ganti posisi kalian dengan satu kaum lain yang senantiasa melakukan dosa, kemudian mereka memohon pengampuan dan Allah ampuni dosa mereka.”

Kembali kepada-Nya

Ada satu buku yan penting untuk dirujuk berkenaan dengan pentingnya bertaubat dan kembali kepada Allah. Muhammad bin Abdul aziz al- Misnad menghimpun kisah orang-orang yang menikmati manisnya taubat dalam bukunya kafilah orang-orang yang bertaubat (al- ‘aaiduun ila Allah).

Buku ini, dengan bahasa yang sederhana mengisahkan sekitar 40 orang yang mengalami sesaknya hidup dalam himpitan dosa. Bukan hanya orang-orang biasa seperti kita, buku ini bahkan memunculkan tokoh tokoh ulama besar seperti Sayyid Qutub (ulama mujahid yang menulis tafsir fii zhilaal al- Quran), Said bin Mishfir yang terkenal sebagai orator terkenal di Arab Saudi, Syaikh Ahmad al- Qahthan, Syaikh adil al- Kalbani dan lain-lain.

Dosa, dengan segala madu pemanisnya ternyata tidak hanya menjebak orang-orang yang terbiasa berkawan dengannya. Pesonanya bahkan telah meluluhkan keimanan ulama-ulama besar berlevel dunia. Namun tentunya, mereka berbeda dengan kita. Jebakan dosa yang biasa memerangkap kita, jaringnya sering meninabobokan kita sehingga kita sering mau berlama-lama tenggelam dalam janji-janji manisnya yang ternyata hanya berlaku sesaat saja. Beberapa saat setelah sadar, kita menemukan kesimpulan bahwa dosa, semanis apaun rasanya, pasti berbuah penyesalan.

Maka, kembali kepada Allah akan memberikan bukan hanya janji, tapi bukti rasa manis yang tak terperikan, dan tentunya tidak hanya sesaat. Seberat apapun, setinggi apapun dan sedalam apapun, dosa kita pasti diampuni Allah bila kita tulus memohon ampun- Nya. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, “wahai putra (putri) Adam, selama engkau bedoa dan memohon ampunan dari- Ku, Aku akan ampuni dan Aku tak peduli walaupun dosamu setinggi langit dan seluas wadah bumi ini.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Maka bertaubat untuk kembali kembali kapada Allah akan menjadi kebutuhan bagi kita, andai kita merasa, kita adalah hamba-hamba yang selalu membutuhkan- Nya.

* dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasik.

MEMAAFKAN, BERAT TAPI MULIA

"Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik. Bersabarlah (hai Muhammad)! dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan."

Dalam lubab al- Nuqulnya, Jalaluddin al-Suyuthi menyatakan bahwa ayat 126-127 surat al- Nahl [16] ini ditrurunkan sampai tiga kali. Pertama, ketika Nabi bersama para sahabat masih berada di Mekah. Ketika itu, kesewenang-wenangan orang-orang kafir membangkitkan potensi berontak dari umat Islam. Maka ayat ini menyuruh Nabi menahan diri dan bersabar atas seberat apapun resiko akidah yang mereka terima.

Kedua, ayat ini turun sesaat setelah usainya perang Uhud (625 M). Kekalahan menyakitkan yang dialami umat Islam (rujuk Ali Imran [3] : 153) diperberat oleh kondisi mayat umat Islam yang setelah terbunuh, anggota mayat mereka ditamtsil, yaitu disayat, dikoyak, dipotong, diinjak dan diguling-guling di pasir. Kondisi ini kemudian diperparah lagi ketika Nabi melihat jasad Hamzah bin Abdil Muthalib, sahabat, paman dan teman sebaya Nabi yang setelah ditombak oleh Wahsyi, budak dari Muth'im bin 'Adi, jasadnya dipereteli dan hatinya dimakan oleh Hindun yang menuntut balas atas kematian bapaknya, 'Utbah bin Rabi'ah. Nabi kemudian marah dan berjanji untuk membalas perlakuan orang-orang kefir ini dengan perlakuan yang tdak pernah dilakukan siapapun di tanah Arab. Husain Haikal dalam buku Hayat Muhammad mencatat bahwa sepanjang hidupnya, Nabi tidak pernah sedemikian marah melebihi hari itu. Ayat ini turun membimbing Nabi untuk brsabar dan berjiwa besar menerima kekalahan.

Ketiga, ayat ini turu pada Fath Makkah (630 M). Ketika Mekah ditaklukan, seluruh penduduk Mekah menyerah tanpa perlawanan, ujung nyawa mereka berada di ujung lidah Nabi. Di hari yang bersejarah itu, dalam benak para sahabat terekam jelas perlakuan dan kekejaman yang mereka alami dari orang- orang kafir yang hari itu ada di bawah pedang mereka. Mereka yakin bahwa keputusan Nabi adalah kehancuran orang-orang kafir. Tapi ayat ini kemudian turun mengarahkan Nabi untuk mengampuni mereka. Nabi kemudian berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang." (QS Yusuf [12] : 92). Generalle amnesty atau pengampunan umum ini kemudian menghadirkan pemandangan yang sangat indah, yaitu berbondong-bondongnya penduduk Mekah masuk Islam (QS al- Nashr [100] : 1-3).

Misi kerahmatan

Dr. Daud Atthar menegaskan, berulangnya satu ayat yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya –termasuk ayat ini— menandakan betapa pentingnya kandungan ayat tersebut. Nabi, demikian Imam Syafi'I dalam al-Ummnya, bukan hanya mampu meredam amarah, mema'afkan, memohonkan ampunan kepada orang yang bersalah, beliau bahkan sukses menjadi rujukan dalam hal 'mengalahkan hak-hak pribadinya selama bukan hak-hak Allah'.

Pada Fath Makkah yang bersejarah itu, Nabi tidak hanya memaafkan semua penduduk Mekah yang dulu memusuhi, menzhalimi, menyakiti, mencaci maki, mengusir dari kampong halaman dan memeranginya, Nabi bahkan mengampuni lima orang yang pasca perang Uhud dulu diponis mati dan dihalalkan darahnya; Abu Sufyan, Hindun binti Utbah bin Rabi'ah, Ikrimah bin Abi Jahal, Abdullah bin Sark dan Wahsyi.

Pada saat yang lain, orang dusun (badui) menemuinya dengan kasar dan tidak sopan, beliau tersenyum, memaafkan dan bertambah kasih sayangnya. Ayat "maka maafkanlah mereka dengan cara yang baik" (QS al-Hijr [16]) selalu membimbingnya dalam berinteraksi sosial dan mengembangkan misi kerahmatan semesta.

Setiap ada perkataan buruk tentang beliau yang disampaikan seorang sahabat, beliau tidak akan pernah mencari tahu siapa yang mengatakannya. Beliau bersabda: "janganlah ada seorang dari kalian menyampaikan apa yang dikatakan tentang aku, karena aku lebih senang keluar menemui kalian dalam keadaan hati yang bersih" (HR Abu Daud, Ahmad dan Turmudzi). Ketika ibnu Mas'ud menceritakan perkataan buruk seseorang tentang beliau, maka berubahlah raut mukanya dan bersabda: "Semoga Allah merahmati Musa, Ia disakiti lebih dari ini, dan ia bersabar…"

Akhlak mulia Nabi ini kemudian menjadi acuan para sahabat dan generasi-generasi selanjutnya dalam melanjutkan misi kerahmatan ini. Namun dari semua sahabat, Ahnaf bin Qais adalah yang paling terkenal. Menurut Dr. Mustafa Murad dalam buku Sirat al- Sahabah, Ahnaf sendiri sukses menerapkan akhlak pemaaf ini karena belajar langsung dari ayahnya, Qais bin 'Ashim al- Minqari. Dalam buku yang lain, Fii Rihaab al- Ukhuwwah, Dr. Aidh al- Qarni mencatat bahwa Qais bin 'Ashim al- Minqari ini sepanjang hidupnya tak pernah marah.

Ketika mendengar salah seorang anaknya dibunuh oleh seorang laki-laki yang ibunya sedang berada dekat Qais, Qais tidak bergerak dari tempat duduknya. Ia bertahan untuk tidak memberikan ruang kerja bagi syetan untuk mengusik potensi marahnya. Yang terjadi kemudian adalah Qais berkata: "uruslah jenazahnya dan mandikanlah, bawalah mayatnya ke sini supaya aku menshalatkan dan menguburkannya, lalu ambilah seratus ekor unta untuk diberikan kepada anak itu (yang membunuh) agar dia tidak ketakutan... dan tenangkan ibunya agar dia tidak berburuk sangka kepada kami...dan semoga Allah mengampuni apa yang terjadi."

Kemuliaan pemaaf

Kehidupan sosial yang selalu diwarnai pergesekan karena perbedaan watak, kehendak dan kepentingan begitu lebar membuka peluang terlukanya hati, apakah disebabkan lidah (perkataan) atau anggota badan lainnya (perbuatan). Maka ayat 126 dan 127 dari surat al- Nahl ini menawarkan dua opsi yang keduanya sama bolehnya; membalas dengan perlakuan yang sama atau memaafkan. Namun titik tekan ayat ini adalah perintah Allah untuk memaafkan seberat apapun beban sakit hati dan dendam yang harus ditanggung.

Kalaulah dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa kemampuan bersabar dan menahan diri adalah wujud dari pertolongan Allah, maka memaafkan, walau dirasa berat, adalah akhlak/watak yang tidak dimiliki sembarang orang. "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar" (QS. Fushshilat [41] : 35). Pahala bagi orang yang terlatih untuk memaafkan adalah juga merupakan pahala yang besar di sisi Allah, "barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah (QS al- Syura [42] : 40). Kalaulah memaafkan mengantarkan seseorang kepada taqwa, "dan pema'afan kamu itu lebih dekat kepada takwa"(QS. Al- Baqarah [2] : 237) maka memaafkan juga merupakan ciri-ciri ketaqwaan seorang muslim "dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang." (QS Ali Imran [03] : 134), dan yang pasti, orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, maka kesalahannya akan mudah dimaafkan oleh Allah "dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"(QS al- Nur [24] : 22)

Penutup

Seorang pemaaf, biasanya menampakan wajah ramah, periang dan menawan. Bersinarnya wajah seorang pemaaf muncul sebagai pancaran dari gambaran hatinya yang bersih dan dadanya yang lapang. Sebaliknya, seorang pemarah, pendengki dan pendendam selalu memunculkan wajah yang sangar dan menakutkan. Kusamnya wajah seorang pendendam lahir dari gelapnya hati dan sempitnya dada. Watak para pemaaf akan menciptakan lingkungan dan suasana yang sejuk, nyaman dan penuh cinta kasih, senyaman kehidupan para sahabat yng disinari bimbingan seorang Nabi yang bersabda: "karena memaafkan, seorang hamba akan bertambah mulia...(HR Bukhari). Wallahu a'lam.

Asep M Tamam. M.Ag. dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar pada STAI Tasikmalaya.

MEMBUMIKAN MISI KERAHMATAN

Dan tidaklah kami mengutusmu, melainkan (menjadi) rahmat bagi alam semesta

Ayat ke 107 surat al- Anbiya ini begitu singkat, tapi uraian serta berbagai aspek yang dikemukakan oleh para pakar tafsir tentang ayat ini panjang sekali. Redaksi ayat ini hanya mengandung lima kata, dua puluh lima huruf dan dan empat hal pokok : 1) Rasul/ utusan Allah yakni Muhammad saw, 2) yang mengutus beliau yakni Allah, 3) yang diutus kepada mereka (alam semesta) dan 4) risalah Nabi sebagai rahmat.

Ayat ini tidak menyatakan bahwa: "kami tidak mengutus engkau untuk membawa rahmat, tetapi sebagai rahmat atau agar engkau menjadi rahmat bagi seluruh alam." Hal ini memberikan pemahaman yang lebih luas bahwa totlitas wujud Nabi Muhammad merupakan rahmat bagi semesta alam. Maka wajarlah kalau dalam al- Quran tidak ada seorang pun yang dijuluki dengan rahmat kecuali beliau (ayat ini) dan tidak ada satu makhluk pun digelari sifat rahim kecuali beliau (QS. Al- Taubah [9]: 128)

Ayat ini memberikan penegasan bahwa kehadiran Nabi adalah sebagai rahmat yang sekaligus merupakan acuan bagi jalan hidup yang mesti ditempuh oleh seluruh umat Islam, kapanpun dan di manapun. Nabi, seperti disebutkan ayat ini, adalah rahmat bagi 'alam dan alam adalah kumpulan makhluk Allah yang hidup, baik hidup yang sempurna atau yang terbatas. Maka ada alam manusia, alam jin, alam malaikat, alam tumbuhan dan lain-lain, dan semua itu memperoleh rahmat dengan kehadiran Nabi, demikian M. Quraish Shihab dalam al- Misbahnya.

Sebelum Eropa mengenal organisasi pecinta binatang, Nabi telah mengajarkan perlunya mengasihi binatang. Banyak sekali pesan beliau menyangkut hal ini, dimulai perintah untuk tidak membebaninya melebihi kemampuannya sampai dengan perintah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum menyembelihnya (HR. Muslim). Beliau juga memperingatkan bahwa ada seorang wanita masuk ke neraka karena mengurung seekor kucing hingga akhirnya mati tanpa memberinya makan dan tidak pula melepaskannya mencari makan sendiri (HR. Bukhari dan Muslim melalui Ibn 'Umar).

Dalam ajaran Nabi Pembawa rahmat ini, terlarang memetik bunga sebelum mekar, atau buah sebelu matang, karena tugas manusia adalah mengantar semua makhluk menuju tujuan penciptaannya. Kembang diciptakan antara lain agar mekar sehingga lebah datang mengisap sarinya, dan mata menjadi senang memandangnya. Bahkan benda-benda tak bernyawa pun mendapat kasih sayang beliau. Ini antara lain terlihat ketika beliau memberi nama-nama bagi benda-banda khusus beliau. Pedang beliau diberi nama Dzul fiqar (yang bercabang), perisainya diberi nama Dzat al-fadhul (yang berjasa), pelananya diberi nama ad-daj (yang meleyani), tikarnya diberi nama al-Kuz (yang menghimpun), cerminnya diberi nama al-Midallah (yang mengantar), gelas minumnya diberi nama ash-Shadir (yang menyegarkan), tongkatnya diberi nama al-Mamsyuk (yang tinggi kuat) dan lan-lain. Itu semua untuk mengesankan bahwa benda-benda tak bernyawa itu, bagaikan memiilki kepribadian yang juga membutuhkan rahmat kasih sayang dan persahabatan.

Indahnya kasih sayang

Untuk mewujudkan misi kerahmatannya, Nabi pernah bersabda, "belum sempurna iman kalian sampai kalian mencintai saudara kalian sebagaimana kalian mencintai diri kalian sendiri." (HR Bukhari Muslim). Bagi Nabi, betapa mahalnya harga kehormatan jiwa seorang manusia. Abdullah bin Umar berkata "aku melihat Rasulullah thawaf mengelilingi ka'bah sambil berkata: "alangkah indah dan harumnya baumu (ka'bah). Alangkah agungnya kehormtanmu. Demi Allah. Kehormatan seorang muslim di sisi Allah lebih mulia daripada kehormatanmu." (HR. Muslim)

Maka sejarah mencatat, gambaran praktek saling mencintai yang diperagakan para sahabat tidak pernah ada duanya. Perbedaan asal-usul, watak, kepribadian dan kepentingan tidak menghalangi mereka untuk manciptakan indahnya negeri impian yang berwujud masyarakat madani. Dr. 'Aidh al- Qarni, dalam bukunya fii rihaab al-ukhuwwah mengisahkan Umar bin Khattab yang berkata: " demi Allah, sungguh aku merasa malamku terasa panjang bila aku ingat saudara seimanku, aku barharap waktu pagi segera tiba agar aku segera memeluknya karena rindu ingin menemuinya." Maka keterpautan dan kebersatuan hati mereka telah diabadikan Allah,"dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal [8] : 63)

Kerahmatan berubah anarkisme

Setelah berita kekerasan FPI yang menggegerkan itu berangsur menghilang, maka hari- hari terakhir ini kita disuguhi berita yang tidak kalah mengerikan. Anak-anak negeri ini mengekspresikan keinginnnya dengan membabi buta, merusak, membakar, meruntuhkan pagar, membuat kemacetan dan aksi-aksi yang lain. Seperti seorang anak kecil yang mengamuk ketika keinginannya dihalangi, demikian juga aksi yang dilakukan mahasiswa dan alumni aktifis mahasiswa satu dekade ke belakang. Alasan dan dalih mereka, seperti diungkapkan para korlapnya di layar televisi, sebetulnya masuk akal dan dapat diterima, tapi hukum agama dan Negara ini tidak menghendaki adanya aksi-aksi yang kalau dibiarkan akan merubah negeri ini menjadi hutan rimba.

Apapun alasannya, kekerasan yang diungkapkan untuk menyuarakan kehendak, akan bertabrakan dengan nilai ideal sebuah misi perjuangan suci menolong warga yang merana dihantam kenaikan harga BBM yang merembet kepada kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok. Misi kerahmatan yang diungakapkan dengan ekspresi anarkis justru akan menambah masalah yang runyam ini semakin bertambah runyam. Kekerasan pasti akan berbuah kekerasan, anarkisme akan menghasilkan anarkisme, dan permusuhan akan berbalas pernusuhan serupa.

Paradigma penduduk negeri ini dalam menyikapi perbedaan dan mengekspresikan keinginan harus segera dibenahi atau dirubah. Kita menyaksikan bahwa kehendak yang terekspresikan dengan anarkisme selalu menjauhkan dari target dan tujuan yang diharapkan. Lebih jauh dari itu, bahkan ekspresi-ekspresi tadi hanya menghasilkan antipati dan kebencian.

Misi kerahmatan yang terekspresikan dengan dialog, musyawarah, keteladanan, pengayoman dan jihad pemikiran akan lebih produktif menghasilkan gagasan-gagasan perubahan menuju kondisi yang lebih baik.

Penutup

Dalam membumikan kerahmatan semesta, pasti kita dihadapkan untuk menjaga nilai-nilai kesabaran dan keteladanan. Sabar karena waktu yang dibutuhkan tidak akan sebentar dan keteladanan dibutuhkan kerena seruan dan da'wah verbalistik (di bibir saja) selalu berdampak hanya sesaat. Wallahu A'lam

Asep M Tamam M Ag. Dosen UIN Bandung, dpk pada IAIC Cipasung. Juga mengajar di STAI Tasikmalaya.

MENJAGA UKHUWAH ISLAMIYAH

"Sesungguhnya orang-orang mumin adalah bersaudara. Maka damaikanlah antara saudara kamu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat".

Ayat ke sepuluh surat al-Hujurat ini merupakan ayat yang paling populer untuk menganjurkan ukhuwah islamiyah. Setidaknya, ayat ini mengandung empat point di dalamnya. Pertama, penegasan bahwa seluruh umat Islam itu bersaudara dan penegasan adanya kesejajaran antara keimanan dan persaudaraan. Kedua, perintah untuk mendamaikan dua orang yang berselisih. Ketiga, perintah untuk bertakwa kepada Allah, menjaga pesan-pesan agama ketika terjebak dalam perselisihan dan keempat, berita tentang rahmat Allah yang disediakan khusus bagi mereka yang selalu menjaga nilai-nilai persaudaraan.

Nilai persaudaraan dalam Islam

Mantan rektor universitas al-Azhar Mesir, Dr. Abdul Halim Mahmud dalam bukunya, fiqh al-ukhuwaah fi al-Islam, mengutip pendapat imam Quthubi dan Ibnu Katsir, bahwa ukhuwah dalam ayat sepuluh surat al-Hujurat ini adalah persaudaraan seagama sesuai dengan sabda Nabi: "seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya". (HR. Bukhari)

Ketika Rasulullah dan para sahabatnya tiba di Medinah, langkah pertama yang dirintis Rasulullah adalah muakhah (mempersaudarakan) antara seorang anggota Muhajirin dengan seorang anggota Anshar. Sejarah mencatat betapa kuatnya persaudaraan yang terjalin di antara kedua golongan Muhajirin dan Anshar ini sampai terjadi tawaruts (saling mewarisi) bila satu di antara dua sahabat tersebut meninggal dunia. Tradisi tawaruts ini kemudian dihapus setelah turun ayat "Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin (QS al-Ahzab [33] : 6). Indahnya persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar ini juga diabadikan dalam al-Quran, "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (QS al-Hasyr [59] : 9).

Ukhuwah dalam Islam menempati posisi yang sangat tinggi. Ia merupakan batu bata bagi tegaknya bangunan perjuangan Islam. Rasulullah selalu menekankan terjaganya nilai-nilai persaudaraan di hati para sahabat. Beliau bersabda: "janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling memusuhi, dan jangan membeli barang yang sedang ditawar orang lain, hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang saling bersaudara", (HR. Muslim)

Ketika ukhuwah Islamiyah tercederai

Minggu, 1 Juni 2008 adalah hari kelabu bagi umat Islam Indonesia. Hari itu –dan hari hari setelahnya-- berita utama di hampir semua media cetak dan media elektronik diisi berita penyerangan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB). Tak penting untuk menunjuk siapa yang benar dan siapa yang salah dalam tragedi ini, yang sangat penting adalah hadirnya perasaan pilu yang mendalam ketika kita menyaksikan saudara-saudara kita saling 'memakan' antara sesama. Lebih pilu lagi ketika setelah hari itu, kita menyaksikan betapa mendalamnya rasa benci, dendam dan permusuhan yang berkecamuk di antara para pemimpin dan pengikut kedua belah pihak.

Dalam segala hal, Indonesia adalah negara mejemuk yang penuh warna warni. Islam di Indonesia pun begitu banyak bingkainya, ada Islam tradisionalis, modernis, liberalis, fundamentalis, puritanis, revivalis, formalis, substantifistis dan lain-lain. Keberagaman ini, bila bersinergi akan menghasilkan hasil seindah hiasan mozaik. Islam juga akan perkasa bilamana setiap keragaman ini bekerja maksimal sesuai dengan jalurnya masing-masing. Namun yang terlihat ke permukaan adalah betapa kuatnya fanatisme golongan dan fanatisme terhadap pendapat dan pola pikir yang sudah tumbuh dan mengakar, yang menutupi rasionalitas al-Quran dan sabda Nabi (hadits) sebagai landasan agama dalam menghadapi perbedaan.

Mendamaikan saudara yang bertikai

Tak nyaman rasanya, bila ada dua saudara kita yang bertikai, dan kita berada di salah satu pihak, lantas kita tergugah atau menggugah orang lain menanam, menyiram memupuk dan menyuburkan benih-benih permusuhan terhadap pihak musuh. Tapi lebih jelek lagi ketika kita ada di luar dua pihak yang bertikai tadi lantas kita bertepuk tangan untuk menyemangati pertikaian itu. Tapi yang terbaik adalah melangkah untuk mendamaikan. Ayat sepuluh dari surat al-Hujurat ini, juga ayat sebelumnya (ayat 9) menegaskan perintah Allah agar kita, dengan cara apapun dan bagaimanapun bekerja untuk mendamaikan pertikaian, terlebih-lebih bila yang bertikai itu saudara-saudara kita sendiri. Minimalnya, kita sendiri tidak terjebak dalam posisi di mana kita membiarkan diri kita larut dalam perasaan membenci sesama.

Kalau dalam ayat ini Allah menjanjikan rahmat-Nya bagi siapapun yang menjaga ukhuwah Islamiyah, mendamaikan dua pihak yang bertikai, dan menjaga nilai-nilai ketakwaan ketika bertikai, maka dalam ayat yang lain Allah menjajikan pahala yang besar, yaitu surga, "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS al-Nisa [4] :114)

Penutup

Cinta dan kasih sayang adalah benih yang ditanamkan Allah di hati sanubari manusia. Sedangkan benci, dendam dan sikap bermusuhan adalah benih yang terus ditanamkan setan di dada setiap manusia, "Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu" (QS al-Maidah [5] : 96). Maka, mari kita terus kobarkan ukhuwah Islamiyah di tengah keragaman yang ada, sehingga Islam senantiasa memperlihatkan keindahannya, seindah-indahnya. Wallahu A'lam.

BERSAHABAT DENGAN AIR MATA

Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan (al-Qur'an) ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkan(nya)?

Ketika ayat ke 59-61 dari surat al- Najm ini turun, ahlu suffah –sekitar 300 lebih kaum fakir muhajirin yang tak punya rumah dan tinggal di pojokan mesjid Nabawi– menangis. Melihat ahlu suffah menangis, Nabi pun menangis dan, para sahabat yang menyaksikan tangisan Nabi kemudian tak kuasa menahan haru. Maka dapat dibayangkan seluruh penghuni mesjid saat itu larut dalam suasana yang menurut hadits Bukhari, tidak pernah hadir satu hari pun yang melebihi keharuan hari itu.

Ayat ini, dan puluhan ayat serupa menggambarkan satu dari berbagai dimensi kehidupan Nabi dengan para sahabat, yaitu menangis ketika membaca, mendengar atau diperdengarkan ayat-ayat al- Qur'an. Hati para sahabat –demikian menurut Dr. Mustafa Murad dalam sirat al- Sahabat-- begitu lembut, kulit mereka merinding dan mata mereka kuyup dengan air mata ketika lubuk nurani mereka bersentuhan dengan daya I'jaz (kemukjizatan) al- Qur'an.

Tulisan ini ditulis tidak untuk membuat kita cengeng dan lemah semangat, tapi justru untuk menggugah wawasan tentang hati kita yang cenderung mengeras seiring laju perkembangan jaman. Keras dan ketatnya persaingan hidup di jaman modern telah menguntungkan industri media massa untuk menyuguhkan berbagai acara hiburan. Maka acara televisi yang paling diminati dari waktu ke waktu dan menempati rating tertinggi adalah acara musik dan komedi.. Satu saja pertanyaan patut kita ajukan, pernahkah kita tersentuh dan menangis ketika menjelang shalat jumat atau pengajian mingguan ibu-ibu, dari load speaker mesjid kita diperdengarkan rekaman qiraah atau murattal al- Qur'an?

Seperti inilah menangis

Kepada Abdullah bin Mas'ud, Nabi pernah meminta dibacakan al-Qur'an, beliau ingin mendengarnya dari orang lain. Ketika bacaan ibnu Mas'ud sampai di ayat, " Maka bagaimanakah halnya apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)? " (QS an- Nisa [4] : 41), maka Nabi menyuruhnya menghentikan bacaan. Ibnu Mas'ud kemudian menyaksikan Nabi menangis sehingga janggut dan baju beliau basah.

Beberapa pakar tafsir mengomentari tangisan Nabi ini sebagai gambaran betapa mengerikannya hari kiamat nanti. Menurut Ibnu Hajar al- 'Asqalani, hadits ini juga membuktikan betapa mendalamnya cinta Nabi kepada umatnya. Maka al- Maraghi bertanya, seperti apakah cinta kita untuk mengimbangi cinta beliau kepada kita?

Jaman Nabi adalah jaman yang dihiasi derasnya hujan air mata. Di balik keperkasaan para sahabat di medan perang dan penaklukan berbagai negeri, juga kegagahan mereka dalam melawan kebatilan, mereka adalah hamba-hamba Allah yang menghiasi malam dengan cucuran air mata.

Bayangkan saja, seorang Umar bin Khattab yang dikenal keras dan tegas, adalah seorang yang tak terbiasa melewatkan baca al- Qur'annya tanpa derai air mata. Abdullah bin Syidad berkisah, aku mendengar senggukan Umar ketika membaca ayat, "aku mengadukan keusahan dan kesedihanku hanya kepada Allah." (QS Yusuf [12] : 86), padahal aku shalat di shaf paling belakang. Putranya, Abdullah, juga mendengar cenggukannya dari shaf ketiga. Dalam khutbah jumat, Umar membaca ayat, "maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya." (QS at-Takwir [81] : 14), maka dia menghentikan bacaannya karena menangis. Dalam kesempatan lain bahkan Umar sampai pingsan dan sakit selama dua puluh hari setelah membaca ayat," sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya." (QS at- Thur [52] : 7-8).

Nah, kalau Umar saja yang keras dan tegas harus menangis, maka apalagi Abu Bakar. Sahabat yang santun ini adalah pemeran utama dalam hal menangis. Ketika Nabi sakit keras, Nabi memerintahkan sahabat untuk menunjuk Abu Bakar untuk menjadi imam. Siti Aisyah berkata," ya Rasul, Abu Bakar adalah orang sensitif, dia tidak akan mampu mengimami shalat karena selalu menangis." Nabi lalu mengulang perintahnya untuk menunjuk Abu Bakar mengimami shalat dan sahabat lain pun mengulangi protesnya. Nabi kemudian bersabda,"kalian ini seperti saudara-saudara Yusuf saja."

Kebersamaan para sahabat dengan Nabi saw, telah menghantarkan mereka untuk menyatu dengan al-Qur'an. Al- Qur'an sangat memuji hamba-hamba Allah yang menangis ketika berinteraksi dengannya. Coba kita renungkan ayat-ayat berikut ini," Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui." (QS al- Maidah [5] : 83) Lalu, mari juga kita tadabburi ayat berikut,"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'.(QS al-Isra [17] : 109) atau juga ayat berikut, "Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (QS Maryam [19] : 58)

Dalam buku dumu' al- qurraa (air mata pembaca al- Quran), Muhammad Syauman al- Ramli mencatat kisah lebih dari lima puluh sahabat dan tabi'in yang berkesan mengalami nikmatnya tangisan ketika membaca al- Qur'an. Selain memberi batas pembeda antara tangisan yang ikhlas dan riya (tidak ikhlas dan ingin dipuji), buku ini juga memberi rangsangan bagi para pembacanya untuk mentadabburi setiap ayat al- Qur'an sehigga atas karunia- Nya, kitapun bisa mendapat kesempatan untuk meyakinkan diri bahwa membaca al- Qur'an itu nikmat dan mengesankan bila sampai menangis, walaupun kita tak tahu arti dan maksud kandungannya.

Kita dan dunia hiburan

Sekarang ini, tak mudah rasanya mencari momentum yang pas untuk mengembangkan potensi menangis kita seperti halnya potensi tertawa. Hal ini berbanding berbalik dengan kondisi jaman dahulu. Penulis setuju dengan ungkapan "dosa menghalangi air mata" karena pada saat iman kita terpuruk, atau ketika kita dalam kondisi lalai dan lemah semangat untuk beribadah, maka air mata itu menghilang sekering musim kemarau. Tapi ketika iman sedang subur di hati, tak sulit kita menghiasi taubat kita dengan air mata. Maka pantaslah di pipi sahabat Nabi yang sekaligus saudara sepupunya, Abdullah ibn Abbas, ada guratan kehitaman yang terlihat karena aliran air mata yang terus menerus mengalir di setiap ibadahnya.

Jaman modern seperti sekarang ini ditandai dengan tingginya kebutuhan yang mendasar akan terpenuhinya tuntutan fisik/ jasmani. Sementara kebutuhan jiwa/ rohani selalu terpenuhi dengan aneka hiburan, bukan kebutuhan pundamental yaitu agama dan suluruh aspek ritualnya. Maka jiwa manusia modern terkesan hambar, hampa tak berisi dan rapuh ketika harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang kadangkala pahit.

Hampir setiap saat, kita bisa menghibur diri dengan memilih acara hiburan di berbagai stasiun televisi, entah itu acara musik, komedi, sinetron, reality show atau infotainmen. Bisa seharian kita dibius untuk tidak beranjak dari tempat duduk karena sayang kalau acara- acara itu terlewatkan. Sementara di luar rumah –apalagi di kota-kota besar– kita sudah ditunggu dengan berbagai acara-acara yang bisa manghilangkan stres dan suntuk. Maka patut kita mengajukan pertanyaan yang harus kita jawab sendiri, kapan kita punya waktu khusus untuk jiwa kita? Kapan kita bisa menikmati waktu dan mengisinya untuk mengundang hadirnya air mata??

Bagi laki- laki, menangis adalah hal yang tak populer. Malu rasanya menangis apalagi terlihat oleh orang lain. Tapi tidak demikian halnya dalam Islam. Nabi bersabda."ada dua mata yang tidak tersentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang semalaman berjaga di jalan Allah. (HR Turmudzi). Maka, bersahabat dengan air mata, apalagi pada saat beribadah, adalah hal yang perlu dilatih untuk dibiasakan, atau, apakah memungkinkan untuk diadakan 'kursus menangis'?

wallaahu A'lam

yang benar pasti menang

"Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap"

Surat al- Anbiya ayat 18 ini mengilustrasikan haq (kebenaran) sebagai sesuatu yang padat dan keras, kemudian Allah lontarkan haq itu kepada yang batil hingga hancurlah kebatilan itu. Dalam tafsir al- Maraghi, leburnya kebatilan digambarkan sebagai seorang manusia yang otaknya dihancurkan sehingga mamburai keluar kepalanya. Penggunaan bentuk mudhari' (kata kerja masa kini dan akan datang) dalam kata naqdzifu (kami melontarkan) mengisyaratkan bahwa pemusnahan kebatilan yang Allah lakukan melalui haq/kebenaran bersifat berkesinambungan, sunnatullah yang berlaku kapan dan di mana saja.

Senada dengan ayat ini adalah ayat ke 18 dari surat al- Isra yang berbunyi," Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." Kandungan kedua ayat ini, walau redaksinya berbeda, adalah sama tentang penegasan bahwa kapanpun dan di manapun, kebatilan akan hancur binasa.

Ada hal yang pasti, bahwa bila waktunya tiba, kebenaran pasti mengalahkan kebatilan. Namun masalahnya kita terkadang ragu dan pesimis karena kebatilan sering memperlihatkan diri sebagai sosok yang dominan dan terkesan sulit tersentuh ( untouchable). Maka di sinilah kebenaran dan pejuang-pejuang kebenaran diuji.

M. Quraish Shihab, dalam al- Misbahnya menuturkan bahwa kebatilan sifatnya selalu bertentangan dengan kelanggengan, maka ia tidak akan bisa bertahan lama. Ini karena, penyebab adanya kebatilan adalah faktor ekstern yang ketika faktor itu merapuh, maka kebatilan pun akan segera punah. Berbeda dengan batil, haq selalu memiliki faktor-faktor yang bisa membuat dirinya bertahan. Kalaulah ia tak tampak ke permukaan, maka itu disebabkan karena ia tertimbun, tetapi cepat atau lambat ia akan muncul lagi karena faktor internal yang melekat padanya akan mendorongnya muncul terus menerus tidak ubahnya dengan benih tumbuhan yang pada saatnya akan tumbuh berkembang dan berbuah.

Yakin, yang benar pasti menang

Kasus-kasus hukum yang terjadi dalam skala kecil dan besar, yang bertaraf lokal ataupun nasional yang kualitas dan kuantitasnya telah menempatkan Indonesia pada jajaran tertinggi dan barisan terdepan negara terkorup di dunia ini --ketika hukum tak mampu menanganinya-- sering memunculkan pesimisme kita. Tak terselesaikannya kasus-kasus seperti ini sering memunculkan anggapan bahwa kebatilan telah menang dan haq telah kalah.

Bila kita mengaji ulang perjuangan Rasulullah saw. Dan para sahabat dalam menegakkan haq, kita akan menemukan titik terang bahwa terwujudnya haq sebagai pemenang menjadi ujian dan tantangan bagi para pejuang haq itu sendiri. Bisa dibayangkan, dalam kurun waktu 23 tahun da'wahnya, Rasulullah melewatinya dengan perjuangan maha berat. Perlakuan zhalim yang dilancarkan kafir Mekah sudah diluar batas term 'anarkisme' yang terjadi belakangan di Indonesia.

Tapi hasil dari perjuangan itu sungguh luar biasa. Dr. Mustafa Murad dalam buku sirat al- shahabah menyingkap statistika hasil perjuangan Rasulullah ini sebagai berikut: selama 23 tahun perjuangan ini, orang yang berzina hanya 7 orang padahal zina adalah hal yang lumrah dilakukan sebelum datangnya Islam. Orang yang dihukum karena minuman keras hanya 15 orang padahal sebelumnya, arak tidak berbeda dengan air biasa. Orang yang dipotong tangan karena mencuri hanya 7 orang padahal mereka hidup pada satu masyarakat yang umumya miskin dalam kehidupan yang keras. Orang yang berani meninggalkan shalat, menolak kewajiban zakat, sengaja makan minum di siang hari bulan Ramadhan dan meninggalkan haji bagi orang yang mampu, tidak pernah terjadi atau tidak diketemukan sama sekali pada satu kasuspun.

Kembali ke perjuangan kita di Indonesia, kasus-kasus yang terjadi memang sampai hari ini penanganannya masih berwarna buram, tapi haq tetaplah haq, ia akan sedikit demi sedikit menampakkan dirinya dan hadir sebagai pemenang. Betul bahwa pelaku-pelaku kejahatan di negeri ini selalu bisa berkelit dan berkeliaran dengan bebas sebagai 'pemenang'. Tapi itu hanya nampak di luarnya saja, sementara batinnya pasti sakit dan menangis. Itu berarti bahwa di mata dirinya, juga Tuhannya, dia adalah pecundang yang ditunggangi setan. Bukti yang paling absah akan kekalahan mereka adalah bergulirnya opini-opini negatif, entah di surat kabar, media elektronik atau sumpah serapah yang beredar di masyarakat yang menyudutkan bahkan mengutuk mereka.

Penutup

Perjuangan untuk memenangkan haq dan mengalahkan yang batil sebagaimana dicontohkan Rasulullah menuntut adanya komitmen dan keyakinan. Seorang yang membela kebenaran selalu menghadirkan kebahagiaan dan kemantapan batin bagi dirinya, meskipun ada di penjara bawah tanah yang gelap dan penuh bau. Sebaliknya, seorang yang salah, walaupun berada di hotel mewah dan fasilitas serba 'wah', dia akan tersiksa dalam 'penjara' yang dia hadirkan sendiri dalam jiwanya. "agar Allah menetapkan yang hak dan membatalkan yang batil walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya." (QS. Al- Anfal [8] : 8)

Wallahu a'lam

zhalimkah kita

ZHALIMKAH KITA ?

Oleh : Asep M. Tamam*

Dalam al-Qur’an, surat Fathir (35) : 32. Allah swt membagi tipologi umat Islam menjadi 3 : zhalim, muqtashid dan sabiq.

Syekh Yusuf Qardhawi, dalam al-hayat al rabbaniyah wa al-‘llm, secara gamblang memberi gambaran bahwa zhalim adalah orang yang terbiasa menunaikan kewajiban-kewajiban dari Allah, tapi terkadang ia melalaikannya, juga terbiasa meninggalkan larangan-larangan Allah, tapi terkadang ia melakukannya. Muqtashid adalah orang yang terbiasa melakukan kewajiban-kewajiban dari Allah, dia tidak berani untuk meninggalkannya, juga terbiasa meninggalkan larangan-larangan-Nya, dan ia tidak berani melanggarnya, sedangkan sabiq adalah orang yang tidak cukup dengan menunaikan kewajiban-kewajiban saja, tapi ia menyempurnakannya dengan amalan-amalan sunat. Ia juga tidak merasa cukup dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, lebih dari itu ia pun meninggalkan syubhat (diragukan halal dan haramnya), makruh dan bahkan sampai meninggalkan hal-hal yang mubah (boleh) yang kalau dilakukan bisa mengantarkannya pada dosa, seperti makan, minum dan belanja yang berlebihan, menegur orang, menuntut hak.dan lain-lain.

Maka pertanyaan yang muncul adalah : di posisi mana kita berada? Jawabannya tergantung kepada kondisi religiusitas kita yang selalu berubah-ubah. Rasulullah bersabda :” Keimanan itu bisa bertambah dan berkurang”, maka ketika keimanan bertambah, boleh jadi kita sampai kepada derajat sabiq , dan ketika keimanan berkurang, maka menurun juga derajat kita menuju derajat zhalim.

M. Quraish Shihab, dalam al-Misbahnya memberikan pemahaman bahwa ketiga tipe muslim dalam surat Fathir ayat 32 ini, adalah gambaran pribadi muslim di sekitar kita. Kesan ayat ini begitu kuat –demikian menurut beliau– karena dalam ayat ini Allah memilih kata ishtafa dan ‘ibad yang keduanya menunjukkan makna positif dan mulya. ishtafa adalah kata yang paling indah untuk arti ‘memilih’, dan ibad adalah kata pilihan yang biasa digunakan untuk arti hamba-hamba yang shalih. Lalu, munculah 3 pertanyaan, pantaskah dua kata yang indah ini, ishtafa dan 'ibad disandingkan dengan kata zhalim? Kenapa kata zhalim didahulukan dari kata muqtashid dan sabiq ? dan zhalimkah kita?

Jawaban dari pertanyaan pertama adalah: sekian banyak riwayat mendukung pendapat yang menyatakan bahwa kendati seorang ‘hamba’ yang ‘terpilih’ itu zhalim, tidaklah berarti akan terjerumus ke dalam neraka. Suatu ketika Rasulullah saw membaca ayat ini, lalu bersabda :” mereka semua dalam satu kedudukan dan semua di dalam surga “ (HR. Tarmudzi). Umar bin Khatab juga pernah membaca ayat ini dan berkata : “yang zhalim di antara kita juga diampuni oleh Allah”. Sahabat-sahabat Nabi yang lain seperti Utsman bin Affan, Abu Darda, Ibnu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr, dan ‘Aisyah ra, kesemuanya berpendapat bahwa yang zhalim juga merupakan penghuni surga. Maka al-Qurtubi dalam al jami' li ahkam al- Quran menyatakan bahwa ayat ini adalah gambaran tentang urutan atau tingkatan penghuni surga.

Jawaban dari pertanyaan kedua adalah: didahulukannya kata zhalim daripada muqtashid dan sabiq __demikian menurut Syeikh Yusuf Qhardawi dan Quraish Shihab__ karena boleh jadi kelompok zhalimlah yang jumlahnya terbanyak, atau didahulukan untuk mendorongnya meraih lebih banyak lagi harapan karena dia tidak dapat mengandalkan apapun selain rahmat Allah.

Sedangkan jawaban dari pertanyaan ke tiga pastilah beragam adanya, tergantung pada perhatian kita terhadap pesan-pesan agama. Seandainya masih banyak kewajiban-kewajiban yang masih kita tinggalkan, atau masih banyak larangan-larangan Allah yang masih kita kerjakan, maka posisi kita pastilah zhalim.

Namun pengakuan diri akan kezhaliman, merupakan hal positif yang harus terus kita jaga. Sebaliknya pengakuan dan perasaan bahwa diri kita bersih dan tidak pernah salah adalah gambaran ketakaburan kita. Bukankah Nabi Adam pernah mengaku bahwa dirinya zhalim ? (Qs. al-A’raf [7] : 23), bukankah Nabi Musa pernah berucap bahwa dirinya zhalim ? (Qs. al-Qashas [28] : 14) atau juga Nabi Yunus yang sama-sama mengakui kezhaliman dirinya ? (Qs. al-Anbiya [21] : 87).

Perasaan dan pengakuan bahwa diri kita zhalim akan menambah dorongan kepada kita untuk lebih khusyu' dan bersungguh-sungguh dalam beribadah dan beramal shalih. Maka pertanyaan terakhir patut kita ajukan : “ kalaulah orang yang terbiasa melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan saja, ketika lalai dan tidak melakukan kewajiban atau melanggar larangan-larangan disebut zhalim, lantas apa gelar bagi seorang muslim yang betul-betul sudah tidak peduli lagi dengan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan Allah ?

WALLAHU A’LAM

*Asep M. Tamam, M.Ag Dosen UIN Bandung, Dpk pada IAIC Cipasung, juga mengajar di STAI Tasikmalaya.

Rabu, 17 Desember 2008

TAWAKAL DI MATA HAMKA, CAKNUR DAN AA GYM

Oleh: Asep M Tamam*

jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri."

(QS Yunus [10]:84)

Hari ini, minggu di bulan ini, nasib perekonomian masyarakat dunia sedang dirundung malang. Dimulai oleh ancaman kebangkrutan bank dan berbagai institusi keuangan di Amerika, ekonomi di hampir semua belahan bumi termasuk di Indonesia tergoncang. Kepanikan yang sempat melanda pelaku pasar di tanah air, sampai hari ini masih mendapatkan momentum stabilitasnya.

Pemerintah Indonesia dinilai cukup optimal dalam menggalang kekuatan meminimalisir dampak negatif dari badai ancaman yang sporadis menyerang perekonomian dunia ini. Ketika usaha keras dan upaya optimal telah dikerahkan, maka tidak ada lagi harapan yang lebih hebat daripada keyakinan akan turunnya pertolongan Sang Khaliq.

Tawakal, adalah satu dari pesona akhlak manusia dalam menggapai pencerahan spiritualitasnya. Al- Jurjani, penilis buku At-Ta’rifat (definisi-definisi dalam istilah agama) mendefinisikan tawakal dengan “yakin akan dukungan dan pertolongan Allah, tak lagi berharap uluran bantuan manusia”.

HAMKA, Cak Nur dan Aa Gym

Ketiga tokoh nasional ini, memang bukanlah representasi dari ulama dan pemikir Muslim Indonesia secara keseluruhan. Tapi tak diragukan, dunia dari ketiga tokoh ini cukup mewakili dimensi keislaman dan keumatan di negeri ini. Secara kebetulan saja, di perpustakaan pribadi penulis, rujukan tentang tawakal dari ulama Indonesia hanya ditemukan dari tiga tokoh ini.

HAMKA dengan Tafsir al-Azhar dan Tasawuf Moderennya, Cak Nur dengan Islam Doktrin dan Peradabannya, sementara Aa Gym dengan Islam Prestatif dan Aa Gym Apa Adanya-nya telah memberi entry point akan pemahaman mereka tentang tawakal. Pemahaman mereka, ternyata sebagiannya sama, sementara sebagian lainnya saling menyumbang.

Secara umum, ketiga tokoh harismatik ini memandang tawakal bukanlah ajaran fatalistik dan eskapis sebagaimana difahami sebagian umat Islam yang terpengaruhi ajaran kaum Jabariyah. Tawakal adalah sikap aktif dan tumbuh hanya dari pribadi yang memahami hidup dengan tepat dan menerima kenyataan hidup dengan tepat pula.

Menurut HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), tawakal adalah ekspresi dari seorang muslim tangguh setelah maksimal mengerahkan ikhtiyar. Tawakal berarti menjadikan Allah sebagai al- wakil (Maha Mewakili, Maha Memelihara), dan meyakini secara total bahwa Allah-lah yang menjadi penjaminnya (QS. At-Thalaq [65]: 3).

HAMKA, dalam tafsir al-Azhar menulis, “Orang yang bertawakkal kepada Allah, ia akan menyerah dengan sebulat hati dan yakin bahwa Allah tidak akan mengecewakannya. Pendirian itu menyebabkan dia tidak pernah berputus asa dari rahmat Tuhan. Pengalaman manusia berkali-kali menunjukkan bahwa kesusahan tidaklah menetap susah saja, bahkan hidup adalah pergantian antara susah dengan senang. Karena keyakinan demikian teguh, maka pintu yang tertutup untuk orang lain demikian terbuka untuknya. Perbendaharaan orang yang bertawakal tidaklah akan dibiarkan Tuhan jadi kering; ketika dekat dengan kering, datang saja bantuan baru yang tidak disangka-sangka.”

Dengan bahasa yang indah, HAMKA pun berujar, “Segala sesuatu dipersiapkan, segala daya upaya, sekedar tenaga yang ada pada manusia semuanya dilengkapkan. Tidak ada yang dikerjakan dengan acuh tak acuh, selalu siap dan sedia. Dan keputusan terakhir terserahlah kepada Tuhan.” Demikian tawakal hakiki di mata HAMKA.

Di mata Cak Nur (Prof. DR. Nurcholis Majid) , kata yang benar adalah tawakul, beliau mengambil kata jadian (mashdar) dari bahasa Arab. Menurutya, tawakal adalah ‘mempercayakan diri atau menaruh kepercayaan’ kepada Allah SWT. Maka tawakal, ia adalah implikasi langsung dari iman. Ditegaskannya, tidak ada tawakal tanpa iman dan tdak ada ada iman tanpa tawakal, demikian yang ia fahami dari QS. Al- Maidah [5]: 3.

Tawakal, lebih jauhnya, adalah keberanian moral untuk menginsafi dan mengakui keterbatasan diri sendiri setelah upaya optimal, dan untuk menyatakan bahwa tidak semua persoalan dapat dikuasai dan diatasi tanpa bantuan (inayah) Tuhan Yang Maha Kuasa. Kekuatan dari tawakal adalah semangat akan berbagai harapan hidup. Jika takwa melandasi kesadaran berbuat baik demi ridha-Nya, maka tawakal menyediakan sumber kekuatan jiwa dan keteguhan hati menempuh hidup yang penuh tantangan dan tidak sepenuhnya dapat dipahami ini, terutama dalam perjuangan memperoleh ridha-Nya.

Tawakal, di mata Aa Gym (KH. Abdullah Gymnastiar) dalam otobiografinya Aa Gym Apa Adanya, adalah kunci utama untuk menjadi manusia terbaik, ia juga merupakan jalan terakhir setelah seorang muslim menempuh dan mengerahkan tiga potensi dasarnya; dzikir, pikir, dan ikhtiyar.

Dzikir, menurut Aa Gym adalah keyakinan yang benar disertai amalan yang penuh. Ia menjadi fondasi yang akan meluruskan niat dan menjadi sandaran yang kokoh bagi setiap aspek kehidupan yang dijalani. Tanpa dzikir, niat tak akan benar dan keyakinan pun akan mudah goyah. Selanjutnya, pikir adalah potensi berupa akal yang dengannya seorang muslim bisa membaca berbagai hal yang baik pada diri dan lingkungannya. Potensi ini, bila diolah akan berbuah karya nyata. Sementara ikhtiyar, ia adalah kombinasi antara dzikir dan pikir yang diaktualisasikan dengan wujud kerja keras. Maka, optimalisasi ketiga potensi ini, akan menghasilkan energi besar pada diri seorang muslim, yaitu keyakinan, penyerahan, dan penyandaran diri terhadap keMaha Kuasaan Allah SWT.

Kontekstualisasi tawakal

Sering kali kita goyah dan ragu, sering juga kita terburu-buru, seringnya kita pun berburuk sangka terhadap Allah terhadap berbagai permasalahan hidup yang terus menerus dan tanpa henti menghampiri. Inginnya, kita hanya menerima yang enaknya saja, maunya, nasib mujur selalu memihak kita dalam setiap episode demi episode kehidupan kita. Kita tak mau hidup ini selalu ada dalam balutan kesulitan, kesedihan dan kenestapaan

Ini semua adalah ekspresi dari ketidak tahuan kita akan makna terdalam dari tawakal. Pengetahuan kita akan makna tawakal berarti akan menggugah potensi positif kita dalam mengisi babak demi babak kehidupan kita hari ini dan masa yang akan datang. Maka, pelajaran berharga dari HAMKA, Cak Nur dan Aa Gym ini akan memandu langkah kita memahami dan menghayati makna tawakal yang sebenar-benarnya.

Saat ini, bencana ekonomi global tengah menyerang bukan hanya negara maju, imbasnya telah pula menerjang semua penghuni planet bumi ini. inilah episode paling mutakhir yang mau tak mau harus kita jalani dengan mengacu pada ketentuan Sang Maha Mengatur, Sang Maha Berkehendak, Allah Azza wa Jalla.

*Dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya

Followers

arabiyyatuna © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO