Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2009

Ketika 'Gaji' Pengemis Melebihi Gaji Pejabat

Oleh: Asep M Tamam*

Kemiskinan dan kehidupan manusia tak bisa dipisahkan. Ia hadir untuk menjadi bunga penghias keberagaman kehidupan. Ada kemiskinan yang disengaja, tidak disengaja bahkan ada kemiskinan yang diciptakan. Ada kemiskinan materi, kemiskinan rohani dan ada juga kemiskinan nurani. Dalam segala hal, wacana kemiskinan tak enak didengar sekaligus tak sedap dilewati dalam kehidupan. Sebuah negara disebut terbelakang, berkembang ataupun maju, salah satu patron koherensinya adalah jumlah orang miskin di negara tersebut. Orang Arab mengatakan kata ‘miskiin’ untuk mengatakan kasihan deh loh!

Harian Priangan, Sabtu 30/5 lalu, mengangkat kisah Tini –entah nama asli atau samaran– baramaen yang sukses mencetak anak-anaknya menjadi ‘orang’ dari kerja kerasnya menjual kemelaratan. Kaget juga ketika kita mendapat informasi bahwa pendapatan Tini perhari melebihi gaji para pejabat. Di Tasik, Ciamis dan Garut ia bisa mendapat Rp. 100.000 perhari dari aktingnya memerankan tokoh orang miskin. Sementara penghasilan dua hari, Sabtu dan Minggu ‘berdinas’ di Bandung ia mendapatkan income minimal Rp. 150.000 perhari. Subhaanallaah

Paradoksi kehidupan tengah terjadi, dan kita tak pernah mencari apa hikmah di balik kisah Tini ini. Tini, adalah gambaran kecil dari luasnya cakrawala kehidupan manusia dalam perjalanan sejarahnya. Kota, di manapun ia, adalah surga yang menjanjkan, terutama dalam wacana kehidupan modern. Tak hanya untuk pelaku bisnis, ternyata kota pun menjadi ‘surga’ bagi para pengemis. Dampaknya pasti mudah ditebak, warna kota jadi terkotori. Di Jakarta, untuk mengurangi hingga mengusir para pengemis, pemda DKI hingga harus mengeluarkan perda untuk mengancam para pemberi sedekah bagi para pengemis dengan denda uang 50 juta rupiah atau enam bulan kurungan.

Tak hanya di Jakarta, di Bandung pun pengemis menyemut. Setiap perempatan lampu merah, area perbelanjaan umum terutama pasar, setiap bubaran jumatan dan acara-acara massal lainnya adalah bagaikan gula yang mudah mereka endus. Dengan berpenampilan kumuh, kisruh, menjijikan dan memuakkan mereka ‘bergaya’ di catwalk kota Bandung yang hawanya beranjak panas ini. Dengan nada sinis para ahli sosiologi di Bandung merubah gelar ‘kota kembang’ dan ‘Paris Van Java’ Bandung dengan ‘kota pengemis’.

Keadaan serupa terjadi juga di Priatim. Di Tasik misalnya, jumlah pengemis, lokal maupun impor luar biasa banyaknya. Mereka datang dengan membawa pasukan kecil hingga balita yang sengaja ‘diteteki’ di tengah halayak ramai. Sebuah proses regenerasi pengemis sedang dan terus terjadi. Ironisnya, mereka mempertontonkan kemelaratan hidup di hadapan kantor pemda dan gedung DPRD yang dihuni orang-orang yang dalam jargon politiknya menjanjikan peningkatan kesejahteraan dan pengentaskan kemiskinan di tatar Priangan ini.

Pengemis Dalam Perspektif Islam
Pengemis, adalah entitas kecil dalam kehidupan manusia yang menyejarah. Para pengemis hidup bukan hanya di negara-negara miskin dan berkembang, tapi juga di negara-negara maju. Mereka hadir bukan untuk dibasmi dan dilenyapkan, tapi untuk dikurangi dengan cara dibina dan diberi harapan. Walaupun penghasilan mereka fantastis –bandingkan dengan guru bantu di beberapa daerah terpencil yang bergaya di atas motor dan menenteng hp, padahal gaji mereka Rp. 200.000/bulan–, tetap saja mereka terhina, bak sampah yang mengumuhi kota.

Dalam sejarah Islam, pengemis telah menjadi elemen penting dalam pengembangan sikap karitas, pilantropi (kedermawanan) dan altruisme. Keanggunan sifat Nabi Muhammad saw., para sahabat dan para tokoh besar lainnya tercermin dari kebiasaan mereka mengorbankan hak-hak pribadinya untuk diberikan kepada pengemis. Nabi sendiri tak pernah menolak permintaan siapapun yang meminta sesuatu kepadanya. Kemasyhuran keluarga harmonis Ali bin Abi Thalib dengan istrinya Fatimah adalah karena pengorbanan mereka kepada para pengemis, walaupun kehidupan keduanya bukanlah refresentasi orang-orang beruntung.

Al- Quran menyebut pengemis dengan saail (tunggal/singular) atau saailiin (jamak/plural). Empat kali al- Quran menyebut saail dan sekali saja menyebut saailiin. Perlakuan dan sikap kita terhadap mereka, tentunya harus mengacu kepada pendapat para ulama tafsir, terutama dalam memahami surat al- Dhuha [93]: 10, “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya”. Salah satu tafsir kebanggaan warga Indonesia, Al- Misbah karya M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa di satu sisi, Nabi memperingatkan kita untuk tidak menolak orang yang datang meminta-minta. Dalam beberapa hadits beliau bersabda, “janganlah seseorang di antara kamu menolak permintaan walaupun yang meminta-minta itu memakai gelang emas” dan “bersedekahlah walaupun hanya dengan sebiji kurma”. Namun di pihak lain beliau juga bersabda, ”Tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (penerima)” dalam hadits lain, “siapa yang meminta untuk memperbanyak apa yang dimilikinya, maka sesungguhnya ia hanya mengumpulkan bara api neraka” (HR. Muslim).

M. Quraish Shihab juga mengingatkan kita, bahwa larangan menghardik di atas tidaklah berlaku terhadap peminta yang yang sanggup bekerja, usia produktif dan bertenaga kuat. Mereka yang demikian itu perlu diarahkan, dibimbing agar bekerja dan apabila mereka enggan, menghardiknya dengan tujuan menginsafkan merupakan sesuatu yang dapat dibenarkan.
Wallaahu min waraa al- qashd

*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung, dosen LB di STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.

Kamis, 26 Maret 2009

prahara di tengah keluarga nabi

Oleh: Asep M Tamam*

Rabi’ul awwal atau bulan Maulid ada di ujung hari-harinya. Namun kesan dan pelajaran dari bulan mulia ini tak akan pernah kering. Lantunan puja sanjung tanda cinta umat meruah memenuhi relung-relung bulan ini. Sebagian umat Islam menikmati bulan ini hanya sebatas ritual seremonial belaka, sebagian lainnya merefleksi perjuangan, pengorbanan dan keteladanan sang nabi dengan lebih jauh; membumikan tindakan, perbuatan dan ucapan mereka berdasar sunnahnya.

Muhammad SAW, adalah figur sentral umat Islam yang ingin membahagiakan diri dalam setiap episode hidupnya. Dan, babak demi babak kehidupan nabi merupakan babak hidup yang tak putus dirundung malang. Perihnya hidup di jalur dakwah dan kerasnya tantangan karena memperjuangkan nilai-nilai kebenaran adalah hal yang harus ditempuh siapapun yang siap dan rela menghambakan dirinya di jalan Allah SWT. Nabi SAW sendiri menyabdakan, “orang yang paling keras tantangan hidupnya adalah para nabi” (HR. Bukhari Muslim). Maka sejatinya, kepahitan yang juga senantiasa menyertai hidup kita akan mengantarkan kedekatan dan kemesraan kita dengan pemberi cobaan itu, seperti juga yang dinikmati nabi dalam hidupnya.

Tak hanya kenistaan hidup, kepahitan yang sempat menghampiri kehidupan rumah tangga nabi, harusnya juga dijadikan pegangan ketika di tengah keluarga kita pun terjadi kemelut, prahara atau badai yang seringnya mengganggu sisi lahir maupun dimensi batin suami dan isteri. Ketika pengetahuan kita tentang sejarah keluarga nabi sampai kepada sisi yang demikian, maka apapun yang terjadi antara pasangan suami dan isteri akan dirasa lebih ringan dan keutuhan hubungan pun akan terjaga.

Setidaknya, ada dua prahara yang pernah menerjang keluarga nabi. Dari apa yang akan terpapar berikut ini kita bisa menakar sejauhmana prahara yang menimpa keluarga kita, seberapa kuat kita merasakan tusukan batin yang ditimbulkannya dan seberapa keras kerja kita dalam menghadapi dan mengupayakan jalan keluarnya.

HADITS IFKI (BERITA BOHONG)
Kisah ini telah menguras emosi dan air mata bagi seorang Aisyah RA. Bagaimana tidak? Karena peristiwa ini, dua puluh hari lebih ia sakit keras dan merasa terusir dari rumah nabi dan tak seperti isteri-isteri yang lain, selama waktu itu ia tak merasakan pesona manusia teragung, suaminya sendiri, Muhammad SAW.

Dalam buku asbab al- Nuzulnya imam al- Wahidi atau buku Lubaab al- Nuqulnya imam Suyuthi disebutkan, berita bohong ini terjadi sepulang dari perang Bani Mushtaliq bulan Sya'ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula Aisyah berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. Aisyah keluar dari sekedup (sejenis tandu yang digotong) untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah ada dalam sekedup. Setelah 'Aisyah mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat di tempat itu seorang sahabat nabi, Shafwan ibnu Mu'aththal. Diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, isteri Rasul!" Aisyah terbangun. Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Shafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut versi masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, maka fitnah atas Aisyah RA itupun bertambah luas sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

DR. al- Syirbashi, dalam bukunya, Yasaluunaka fi al- Diin wal- Hayaat sampai menyatakan bahwa orang cerdaspun akan mudah terhasut oleh issu murahan yang paling diminati penduduk jagat pemburu kuliner gossip, apalagi ini berhubungan dengan keluarga nabi. Dalam kegamangan suasana itu, nabi tak mampu menentukan sikap dan Aisyah pun pulang untuk tinggal bersama orang tuanya. Dua manusia yang saling cinta dan saling membutuhkan ini pun terpisah untuk sekian lamanya.

Karena hebatnya gossip ini, hubungan Aisyah dengan Ali RA. pun merenggang. Ali dikisahkan merupakan salah seorang yang tidak membohongkan kebenaran peristiwa yang ‘menghebohkan’ ini. sementara itu, tiga orang dihukum dera delapan puluh kali karena terhasut dan ikut menyebarkan berita bohong ini. Mereka adalah Hamnah binti Jahsy, Mishthah bin Atsatsah dan Hasan bin Tsabit.

Gonjang-ganjing peristiwa ini berakhir dengan happy ending. Allah SWT menurunkan ayat yang menghibur nabi, terutama Aisyah dan menyatukan dua insan itu dalam ikatan yang lebih mesra lagi. Allah bebaskan ia dari segala tuduhan dari atas langit ke tujuh. Maka Aisyah pun digelari Al- mubarra ah (terbebas dari tuduhan). Ayat yang menyatukan kembali pasangan suami isteri yang saling menyayangi ini adalah surat an- Nur [24]: 11-19. Ayat pembebas itu berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”

KELAHIRAN IBRAHIM DARI MARIA
Husain Haikal, penulis buku Hayaat Muhammad menjelaskan, prahara yang menguras emosi nabi, para isterinya sampai melibatkan emosi kalangan sahabat ini terjadi ketika usia nabi lewat enam puluh tahun. Sebulan lebih nabi tak menegur isteri-isterinya dan nabi, isteri-isterinya dan para sahabat ada dalam posisi yang serba salah. Abu Bakar sampai memukul putrinya, Aisyah, dan Umar memukul putrinya, Hafshah. Buntut dari prahara ini adalah munculnya issu di kalangan sahabat bahwa nabi akan menceraikan semua isteri-isterinya

Kelahiran Ibrahim dari Marialah yang membuat isteri-isteri nabi cemburu, lalu mereka salah langkah. Maria adalah wanita shalihah yang dihadiahkan sahabat nabi, Mukaukis raja Habasyah. Dari dialah nabi memperoleh anak; hal yang tidak ia terima dari isteri-isterinya selain Hadijah, isteri pertamanya. Kecemburuan isteri-isteri nabi memuncak. Mereka bersepakat untuk membuat nabi merasa tertekan dan merasa bersalah. ‘Kelakuan’ mereka membuat kemelut rumah tangga menjadi bertambah runyam Inilah yang membuat nabi tak keluar rumah dan untuk sekian lamanya luput dari pergaulan dengan para sahabatnya. Tapi Allah SWT membimbingnya menghadapi masalah pelik ini sehingga justru isteri-isterinyalah yang merasa bersalah, terkucil dari kalangan sahabat (laki-laki dan perempuan) dan lalu mendorong mereka datang kepada nabi dan memohon maaf. Peristiwa ini, selain menjadi sebab turunnya ayat-ayat pertama surat Al- Tahrim {66, juga menjadi sebab turunnya ayat ke 28-29 dari surat al- Ahzab {34}.

Lagi-lagi, kisah berat yang melanda keluarga nabi ini berakhir dengan happy ending. Nabi menerima mereka kembali dan suasana dalam rumah tangga pun menjadi lebih indah lagi. Unek-unek mereka sebagai isteri nabi yang tersalurkan di tengah konflik dan mengundang antipati dari para sahabat menjadi pelajaran berharga bagi mereka khususnya, isteri-isteri para sahabat, dan tentunya untuk seluruh keluarga muslim yang hidup di sepanjang masa.

Dua peristiwa pahit yang dialami nabi dan isteri-isterinya ini, adalah bekal teramat berharga bagi para pasangan suami isteri dari keluarga muslim manapun yang hidup dalam naungan ajaran-ajaran suci agama Islam. Sehebat apapun kita, tak ada yang mampu untuk menghindari diri dari kemelut rumah tangga. Namun sikap kita dalam menghadapi prahara dalam hidup berumah tangga, berarti harus mengacu pada akhlak dan teladan yang telah sukses dilalui nabi bersama keluarganya.
Wallaahu min waraa al- qashd

*Penulis adalah ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAI Cipasung. Dosen LB pada STAI Tasikmalaya dan FKIP UNIGAL Ciamis.

Senin, 09 Maret 2009

muhammad, inspirator segala zaman dan kalangan

Refleksi maulid Nabi Muhammad saw. 1430 H

Oleh: Asep M. Tamam*

Hari-hari dalam sebulan ini, kita ada di bulan ke tiga penanggalan Hijriyah yaitu Rabi’ul Awwal. Tepat 1438 tahun yang lalu, sejarah menyaksikan kisah kelahiran nabi terakhir sekaligus teragung dari kalangan bangsa Arab. Sebelumnya, kisah kelahiran para nabi umumnya muncul dari utara jazirah Arab yaitu Syam.

Kelahiran manusia biasa yang luar biasa ini menghentak dunia karena tak sampai seabad ba’da wafatnya, agama yang ia bawa telah melewati batas mimpi warga dunia Arab masa itu, yaitu tumbangnya dua imperium penguasa dunia; Romawi dan Persia. Tak hanya itu, Islam, agama yang dibawanya, telah pula menjadi pilihan keyakinan jutaan pengikut Nasrani (Romawi) dan Majusi (Persia) yang telah dianut berabad-abad lamanya.

Muhammad, utusan terakhir itu lahir dan menjadi inspirasi berjuta, bahkan bermilyar orang di setiap masanya. Tak ada seorang pun manusia yang lahir dari rahim bumi dan kemudian menjadi inspirasi setiap generasi tentang sosok ketokohan, pengabdian, pengorbanan, kesetiakawanan, kepahlawanan, kepemimpinan, keteladanan; sesuatu yang menjadi rujukan utama dalam wacana umat manusia yang berperadaban.

Tentang prestasi kerja dan capaian perjuangannya ini, tak hanya umat Islam —yang diwakili para ulama dan cendekiawan— yang mengangkatnya dalam karya lidah dan tangan, orasi dan tulisan, tapi juga “ulama-ulama” dari agama lain; Kristen, Hindu, Budha dan lainnya. Mereka menyempatkan diri mendalami kehidupan sang Nabi, kemudian menulis catatan tentang keanggunan pribadinya. Inspirasi yang alami dan dihadirkan dari sosok yang bersahaja dan apa adanya ini bak dian yang menerangi langkah penduduk planet bumi. Karena itulah ia menjadi Rahmatan lil’aalamiin.

MUHAMMAD DI MATA ‘ULAMA’ AGAMA LAIN
Dalam bukunya, Muhammad, Prophet for Our Time (2007), Karen Armstrong —Islamolog perempuan Amerika yang dikenal santun dan objektif menulis tentang Islam— menulis berbagai pengakuan tokoh-tokoh agama besar dunia tentang Muhammad saw. Ia misalnya menulis pengakuan Michael H. Hart, penulis buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History yang menempatkan Muhammad di ranking pertama dari seratus tokoh dunia seanjang masa. Hart berujar, “keputusan saya memilih Muhammad sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia mungkin mengagetkan sebagian pembaca dan akan mempertanyakannya. Namun, dialah satu-satunya manusia dalam sejarah yang mencapai level prestasi paling puncak dalam berbagai bidang.”

Nobelis sartra 1925, George Bernard Shaw menyatakan, “Saya percaya, jika manusia seperti dia diserahi kendali kememimpinan dunia modern, dia akan berhasil memecahkan problema-problemanya sehingga penduduk dunia akan damai. Saya ramalkan, kelak agama yang Ia bawa akan semakin diterima Eropa.” Sebelum George Bernard Shaw, Alponse de Lamartine, sastrawan dan cendekiawan Prancis abad ke-19 menyatakan, “Muhammad adalah filosof, orator, nabi, pembuat hukum, pejuang, penakluk pikiran, pemulih dogma-dogma rasional dan peribadahan tanpa patung dan gambar: pendiri dua puluh kerajaan dunia dan satu kerajaan spiritual. Berdasarkan semua standar untuk mengukur keagungan seseorang, kita bisa bertanya, adakah manusia yang lebih agung daripada dia?”

Kekaguman lainnya diungkapkan William Montgomery Watt, seorang professor bahasa Arab dan studi Islam di universitas Edinburgh. Ia berujar, “Semakin kita merenungkan sejarah Muhammad dan masa awal Islam, semakin kita terkagum-kagum akan cakupan kesuksesannya. Andai dia tak memiliki bakat sebagai pengamat, negarawan, administrator dan, di balik semuanya ini, keyakinannya kepada Tuhan dan bahwa dia diutus oleh Tuhan, maka sebuah babak penting sejarah umat manusia tidak akan pernah tertulis.”

Selain dari belahan Amerika dan Eropa, Pemimpin dunia dari belahan Asia yang juga pemimpin para pengikut Hindu, Mahatma Gandhi, mengungkapkan kekagumannya terhadap Muhammad dalam kata-katanya, “Saya takjub, manusia seperti apakah yang hingga hari ini menawan hati jutaan manusia… Saya menjadi lebih dari sekedar yakin bahwa bukan pedang yang membuat Islam berjaya. Kebersahajaan, pelenyapan ego sang nabi, tekad kuat untuk memenuhi semua janjinya, pelayanannya yang amat mendalam kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya yang tak mengenal rasa takut, keyakinan penuhnya kepada Tuhan dan kepada misinya, semua inilah, dan bukannya pedang, yang menyebabkan umat muslim berjaya dan mampu menyingkirkan semua penghalang. Ketika menamatkan biografi sang nabi, saya sedih karena tak ada lagi yang bisa saya baca tentang kehidupan yang agung itu.

MUHAMMAD, PUNCAK INSPIRASI
Para cendekiawan dunia, masa lalu dan hari ini, masih saja seperti kehausan mencari air inspirasi yang menyegarkan dahaga mereka tentang sosok-sosok yang telah sukses mewarnai perjalanan sejarah bumi. Muhammad, manusia agung itu, sampai hari inipun tetap laksana oase yang airnya tak penah kering. Berbagai buku tentang sejarah kehidupannya telah ditulis dalam ratusan bahasa di dunia dan ditulis bukan hanya oleh umat Islam, tetapi bahkan oleh intelektual-intelektual non muslim yang kebanyakan objektif menulis sejarah sang nabi, sementara sebagian lainnya cenderung mencari-cari celah untuk memojokkannya, namun mereka tak bisa menemukan cara untuk itu.

Tak hanya sejarah hidupnya dari A sampai Z, atau dari mulai ia dilahirkan sampai wafatnya, tapi tak sedikit juga yang menulis tentang pribadi beliau secara tematis. Puluhan bahkan ratusan buku telah ditulis untuk mengungkapkan sejarah nabi Muhammad poin demi poin, judul demi judul seputar sejarah beliau yang telah sukses menjadi politikus, enterpreiner, kepala keluarga, panglima perang, imam spiritual, kepala negara, sahabat dari para sahabat dan lain-lain. Sekedar contoh, penulis mencatat buku Al- aayaat al- Bayyinaat fii A’dhaa i Rasuulillaah min Mu’jizaat karya Sa’id bin Abdil Qadir Basyanfar. Buku ini secara eksklusif menggambarkan visualisasi fisik badani nabi dan tidak menyentuh sisi spiritualnya yang memang telah ditulis puluhan bahkan ratusan orang ulama yang lain.

Rintisan Sa’id Basyanfar ini lalu disempurnakan oleh ulama Arab kontemporer DR. Aidh al- Qarni yang menulis Muhammad, Ka Annaka Taraa. Sisi spiritualitas nabi, bahkan ditulis hingga menyentuh episode mistisnya. Dalam hal ini, Badiuzzaman Said Nursi menulis Prophet Muhammad’s Miracles. Keunikan karya para ulama tidak hanya berhenti sampai di situ, tapi bahkan hingga mengangkat sisi lain dari nabi Muhammad, yaitu episode tertawanya. Dalam hal ini Khumais al- Sa’id menulis buku Mawaaqif Dhahika fiihaa an- Nabi. Karya demi karya tentang nabi Muhammad saw, pastinya akan semakin deras seiring tuntutan perkembangan zaman yang tak pernah puas dengan pola kepemimpinan para pemimpin dunia yang tidak mengusung nilai keteladanan dalam kepemimpinannya.

Bagi kita, umat Islam Indonesia yang tengah menghadapi episode baru dalam tatanan kehidupan berpolitik, bernegara, dan berkehidupan sosial, tentunya nabi Muhammad adalah sumber segala inspirasi bagi terciptanya kehidupan yang lebih baik. Anomaly dalam kehidupan sosial dan politik hari ini, terjadi karena tidak adanya inspirator yang bisa diteladani. Akibatnya, masalah demi masalah malah bertambah dan ini akan terus membebani para pemimpin kita dan juga rakyatnya, sekarang dan esok hari.

Maulid nabi Muhammad tahun ini, sejatinya diacu untuk memberi pencerahan umat dan warga masyarakat, terlebih bagi para pemimpin dan calon wakil rakyat agar kembali membaca sejarah hidupnya, menghayati sisi lahir dan bathinnya, mempelajari pola hidupnya dalam mengabdikan diri kepada Tuhannya, agamanya dan umatnya.
Wallaahu min waraa al- Qashd

*Penulis adalah Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) dan dosen LB STAI Tasikmalaya

Selasa, 10 Februari 2009

Menikmati Keindahan Bahasa al- Quran

Oleh: Asep M. Tamam*

Pusaka kebahasaan bangsa Arab merupakan bahan kajian kebahasaan terpenting di dunia. Orang-orang Arab sangat mencintai bahasa Arab bahkan hingga tingkat mensakralkan. Mereka memandang otoritas yang ada dalam bahasa Arab tidak hanya mengekspresikan kekuatan bahasa, tapi juga menjadi gambaran kekuatan mereka.

Bangsa Arab adalah satu-satunya bangsa di dunia ini yang menunjukkan apresiasi tertinggi terhadap ungkapan bernuansa puitis (syair), lisan ataupun tulisan. Philip K. Hitti, dalam History of The Arabs (2006) menyatakan, “Sulit menemukan bahasa yang mampu mempengaruhi pikiran para penggunanya sedemikian dalam selain bahasa Arab. Ritme, bait syair dan irama bahasa Arab telah memberikan dampak psikologis kepada bangsa Arab, layaknya hembusan ‘sihir yang halal’. Jika orang-orang Yunani mengungkapkan daya seninya terutama dalam bentuk arsitektur dan patung, orang-orang Ibrani mengungkapkannya dalam bentuk nyanyian agama, maka orang-orang Arab mengungkapkannya dalam bentuk sastra”.

Kecintaan orang-orang Arab terhadap seni sastra, adalah asset cultural terbaik mereka. Menggubah syair merupakan kebiasaan tradisional yang sudah melekat kuat yang dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan lisan mereka yang fasih. Posisi syair bagi bangsa Arab, ibarat posisi piramida-piramida, candi-candi, obelisk-obelisk dan tulisan-tulisan yang ada pada barang-barang tersebut bagi sejarah bangsa Mesir purbakala. Dengan kata lain, syair Arab merupakan catatan publik (diwan) bagi bangsa Arab.

SASTRAWAN ARAB SEBELUM ISLAM
Status sebagai sastrawan (penyair) adalah status yang luar biasa tingginya di kalangan bangsa Arab pra-Islam. Para penyair mewakili kelas intelek di antara mereka. Munculnya seorang penyair di kalangan suku tertentu dianggap peristiwa teramat penting. Posisi penyair begitu sakralnya sehingga seiring perkembangan kharismanya, dia memainkan berbagai peran sosial.

Dalam peperangan, lidah seorang penyair sama efektifnya dengan keberanian para pejuang. Pada masa-masa damai, pedasnya lidah seorang penyair merupakan ancaman bagi stabilitas publik. Seorang penyair dapat membuat sebuah suku mengambil tindakan tertentu, dipengaruhi oleh syair-syairnya yang mirip dengan hasutan seorang demagog dalam sebuah kampanye politik modern. Sebagai agen pembuat berita atau jurnalis pada masanya, ia mendapat banyak hadiah dari pemberitaan-pemberitaannya. Syair-syair yang dilestarikan lewat ingatan dan ditransmisikan secara lisan, merupakan sarana publisitas yang sangat efektif dan tak ternilai. Ia adalah pembentuk opini publik. Qath’ al- lisan (memotong lidah) adalah hukuman yang biasa dilakukan dalam rangka menghindari dan menghentikan kecaman-kecaman seorang penyair.

Seorang penyair di satu kabilah ibarat seorang nabi di kalangan umatnya. Bila muncul seorang penyair di antara mereka, maka berdatanganlah utusan dari kabilah-kabilah yang lain untuk menyampaikan tahniah (ucapan selamat). Untuk itu, maka diadakanlah jamuan besar-besaran dengan menyembelih binatang-binatang ternak. Wanita-wanita tercantik pun didatangkan untuk bernyanyi, menari dan menghibur para tetamu.

Kehebatan penyair dengan syi’ir-syi’rnya digambarkan sedemikian tingginya. Seorang penyair, dengan syair-syairnya dapat meninggikan derajat seseorang yang tadinya hina, atau sebaliknya, ia dapat menghina-dinakan seseorang yang tadinya mulia. Sebagai contoh, Abdul ‘Uzza ibn ‘Amir, ia adalah seorang yang tadinya hidup terhina dan melarat. Ia mempunyai banyak anak perempuan dan tidak ada seorang pun pemuda yang tertarik dan mau memperisteri mereka. Kemudian Al A’sya, penyair ulung dan terkenal memuji Abdul ‘Uzza ibn ‘Amir dan anak-anak gadisnya. Syair-syair pujian Al A’sya lalu membahana di mana-mana. Dengan demikian masyhurlah Abdul ‘Uzza dan kehidupannya segera membaik. Tak hanya itu, para pemuda pun datang melamar putri-putrinya.

Penyair lainnya, Al Huthaiyah pernah memuji sekelompok manusia. Mereka merasa berbangga dengan pujian Al Huthaiyah itu seakan-akan mereka beru saja mendapatkan anugerah materi termahal yang pernah ada pada masa itu. Sebaliknya, ketika sekumpulan orang dicela oleh Hasan ibn Tsabit, maka menjadi terhinalah mereka seketika itu juga. Itulah syi’r dan begitulah pengaruhnya di kalangan bangsa Arab pra-Islam.

CAHAYA BAHASA AL- QURAN
Setting bangsa Arab dan budaya mereka dalam menggubah dan menggandrungi syair, menjadi satu di antara berbagai alasan mengapa al- Quran diturunkan di tengah-tengah mereka. Dan memang, semenjak al- Quran turun ayat demi ayat, pamor dan kharisma syair Arab menurun dan bahkan jatuh ke titik terendah.

Atas kehendak Allah, Ia menurunkan al- Quran dengan menggunakan kosa kata bahasa Arab, bahasa mereka. Ini diingatkan-Nya secara tersurat dan tersirat, antara lain melalui surah-surah yang diawali dengan huruf-huruf hijaiyah (alphabet bahasa Arab). Seakan-akan al-Quran berkata kepada mereka yang ragu, “Inilah al- Quran, kalimat-kalimatnya terdiri dari huruf-huruf yang kalian kenal seperti alif, lam, mim, shad, kaf, ha, ya, ‘ain, shad, ya, sin dan-lain-lain. Tetapi, keharmonisan irama yang timbul dari rangkaian huruf demi hurufnya benar-benar di luar kemampuan siapapun juga. Gema irama yang harmonis dalam al- Quran ibarat lukisan yang lengkap, dengan warna-warni yang elegan, ditambah berbagai hiasan indah, seimbang dan memancarkan aneka ragam pesona.

Hadirnya al- Quran mengundang wacana publik bagi bangsa Arab tentang sesuatu yang benar-benar baru berhubungan dengan kegemaran mereka ‘merangkai kata’. Tentang bagaimana reaksi orang-orang Arab ketika turunnya al- Quran, M. Quraish Shihab dalam Mukjizat al-Quran (2006) menulis: “sesungguhnya orang-orang yang hidup pada masa turunnya al- Quran adalah masyarakat yang paling mengetahui tentang keunikan dan keistimewaan al- Quran serta ketidakmampuan manusia untuk menyusun semacamnya. Tetapi, sebagian mereka tidak dapat menerima al- Quran karena pesan-pesan yang dikandungnya merupakan sesuatu yang baru. Hal itu masih ditambah lagi dengan ketidaksejalanan al- Quran dengan adat dan kebiasaan serta bertentangan dengan kepercayaan mereka. Inilah yang tidak dapat mereka terima. Tetapi Bukankah mereka pun menyadari akan keunikan dan keindahan kata-katanya? Benar. Tetapi bagaimana dengan kepercayaan dan adat leluhur? Kepercayaan harus dipertahankan, al- Quran harus ditolak. Begitulah kesimpulan tokoh-tokoh masyarakat waktu itu.”

Suasana yang sedemikian complicable ini ditambah pula dengan tantangan Allah swt. supaya mereka menggubah bahasa sastera terbaik yang mereka miliki untuk menandingi al- Quran. Pertama, Allah menentang siapapun yang meragukan al- Quran untuk menyusun semacam al- Quran secara keseluruhan (baca QS 52:34). Kedua, menantang mereka untuk meyusun sepuluh surat semacam al- Quran (baca QS 11:13). Ketiga, menentang mereka untuk menyusun satu surat saja semacam al- Quran (baca QS. 10:38). Keempat, menentang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surat dari al- Quran (baca QS. 2:23).

Rupanya, mereka begitu terpepet, terpojok dan kehabisan alasan untuk menolak al-Quran. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengenyahkan kekikukan. Ketidakberkutikan kafir Mekah, terutama para penyairnya, membuktikan kemukjizatan dan kebenaran al-Quran, sebuah babak baru dalam sejarah kebahasaan bangsa Arab. Dalam sejarah mereka, bahasa Arab telah melewati masa-masa pasang dan surut, meluas dan menyempit, bergerak dan statis, modern dan kolot, sesuatu yang berbeda dari bahasa al- Quran yang dalam berbagai fasenya berada dalam kedudukan paling tinggi dan menguasai semuanya.
Demi menutupi malu, mereka menyematkan gelar demi gelar yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad. Sesekali mereka menyebutnya ‘penyair’ (sya’ir), di lain kesempatan mereka menggelari Nabi sebagai ‘dukun’ (kahin), dan di lain waktu mereka menganggapnya sebagai ‘orang gila’ (majnun).

Yang menarik dalam konteks ini, adalah gelar penyair yang mereka alamatkan kepada Nabi saw.. Al-Quran mengabadikan ungkapan mereka dalam firman-firman-Nya, (QS. Al- Anbiya [21]:5), (QS. Ath-Thur [52]:30-31), dan (QS. Ash- Shaffat [37]:36-37). Untuk itu, Allah swt tegas menyatakan bahwa al- Quran bukanlah syair, dan Muhammad bukanlah penyair. Ia berfirman, “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. (QS. 36:69). Dalam ayat-Nya yang lain Ia pun menegaskan, “Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. (QS. 69: 40-41)

Pada perkembangan selanjutnya, track sastra Arab menjadi lurus. Masa depan bahasa Arab pun lebih cerah dan lebih menjanjikan. Di kemudian hari, keindahan bahasa al- Quran menjadi inspirasi lahirnya ilmu Balaghah, ilmu yang telah mapan menjadi acuan para penikmat sastra Arab sampai hari ini. Misi al-Quran ternyata begitu lengkap, bukan hanya sebagai pemuas dahaga mereka yang mencari hidayah, tapi juga bisa dinikmati dari berbagai sisi, salah satunya adalah sisi kebahasaan dan kesusastraan.
Wallaahu min waraa al- qashd

*Penulis adalah ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung dan Dosen Bahasa Arab STAI Tasikmalaya.

Minggu, 11 Januari 2009

Tahun 2009 M dan 1430 H Sebagai Tahun Terbaik


Oleh : Asep M Tamam*

Tak terasa, beberapa saat akan menjelang dan usia kita akan bertambah. Kita akan segera menghirup udara baru di tahun yang baru, tahun yang akan penuh harapan, tantangan, dan perubahan. Semua pasti berharap, perubahan yang terjadi —di tengah kondisi ekonomi dan suasana politik yang belum stabil ini— adalah perubahan menuju keadaan yang lebih baik dan menjanjikan.

Secara kebetulan, dua penanggalan yang kita kenal, Masehi (syamsiyah) dan Hijriyah (Qomariyah) datang dalam waktu yang hampir bersamaan. Bagi sementara orang, perubahan waktu; detik, menit, jam, hari, minggu, bulan ataupun tahun tak berarti apa-apa dan tak ada pengaruhnya sama sekali. Tapi bagi kalangan lainnya, waktu amatlah berharga. Orang-orang Barat berkata, “Time is money”, itu karena bagi mereka, setiap watu haruslah bermakna dan didayaguna sehingga menghasilkan uang. Tapi bagi orang Arab, “Al-waqtu ka-assaif, in lam taqtha’hu qatha’aka”, waktu amatlah berharga sehingga kelalaian dalam memanfaatkan waktu amat berbahaya dan mengakibatkan pelakunya dalam kerugian. Untuk itu, Tuhan-pun bersumpah demi waktu, “Demi masa (waktu), sungguh, manusia pastilah merugi” (QS. al-’Ashr [103]: 1-2).

POTRET JIWA MUDA KITA

Bila ditanya, siapa orang yang paling menunggu-nunggu datangnya tahun baru? jawabannya tentulah semua orang. Tetapi yang terutama adalah anak-anak muda atau orang tua yang berjiwa muda. Di berbagai kota, dari tahun ke tahun, kita selalu mendengar perayaan tahun baru dirayakan dari perayaan yang biasa saja sampai yang luar biasa. Banyak di antara mereka yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan diri menghadapi pergantian tahun ini untuk menggelar ritual dari yang ‘manusiawi’ sampai ritual yang ‘hewani’. Lihatlah di sana-sini, pesta miras dan narkoba merajalela dan pesta seks bebas meruyak. Bagi mereka, momentum ‘mahal’ itu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Itu karena perayaan menyambut tahun baru umum terjadi di setiap belahan bumi dan sangat identik dengan pesta hura-hura dan penciptaan suasana surgawi.

Bagi para pekerja seni, malam tahun baru adalah puncak dari malam ekspresi. Sekali dalam setahun, mereka mendapat bayaran berkali lipat dari harga regular. Penyanyi, grup band, pelawak, penari, MC, dan semua pihak yang berhubungan dengan dunia seni hiburan memang selalu mematok harga ekstra ordinary. Bila demikian halnya, maka melewatkan malam itu tanpa hiburan sepertinya merupakan kerugian besar.

CARA LAIN MENGISI MALAM TAHUN BARU

Mengisi malam pergantian tahun seakan sudah menjadi kewajiban, utamanya di kota-kota besar, atau bahkan di berbagai pusat kota kabupaten/kota lainnya. Bila di Jakarta, warga ibukota itu beramai-ramai menyerbu Ancol, Taman Monas, Taman Mini, dan berbagai pusat keramaian umum yang biasanya acara yang menghadirkan para artis top ibukota itu disiarkan langsung oleh berbagai stasiun televisi. Tak peduli hujan, panas, macet, dan berbagai aksi kejahatan, mereka sedari sore telah menjubeli pusat-pusat keramaian itu dengan membawa sanak keluarga, bahkan anak-anak kecil sekalipun.

Namun tengoklah di beberapa tempat yang lain, mesjid-mesjid besar misalnya. Di Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya bahkan sampai di beberapa daerah perkotaan, anak-anak muda —entah datang dari belahan bumi mana— meramaikan pergantian tahun dengan ritual berkumpul, berdiskusi, membaca Alquran, tahajud berasama, muahasabah dan menghabiskan malam dengan meramaikan mesjid-mesjid. Pemandangan yang sungguh kontras dan mencolok ditinjau dari konteks anak muda kekinian. Siapa pun orang tua yang menyaksikan anaknya hadir dalam kumpulan anak-anak tadi pastinya akan terharu dan bangga.

Selain di mesjid, ada juga anak-anak muda kita yang mengisi tahun baru ini dengan diorganisir, bersama-sama mendatangi tempat-tempat seperti panti asuhan dan panti jompo. Mereka merayakan acara pergantian tahun dengan membagi kebahagiaan bersama orang-orang yang ‘terbuang’ dari masyarakat lain pada umumnya. Tak hanya di panti asuhan dan panti jompo, di antara mereka ada juga yang membawa dan menyalakan lilin, berkumpul di tempat-tempat terbuka dan mengadakan malam renungan. Isian acaranya adalah baca puisi, orasi sampai menyanyi, tapi yang dinyanyikan tentunya adalah lagu religi atau lagu-lagu penggugah jiwa, bukan lagu sembarang lagu.

Mereka semua, adalah anak-anak muda yang telah terjaga hati dan seluruh pancainderanya, dan itu adalah buah dari pergaulan elite yang melatih dan menguji masa paling berkesan dari semua masa; masa remaja. Disebut elite karena mereka hadir sebagai pengecualian dari umumnya anak muda modern yang ada. Inilah sisi lain dari dunia anak muda kita, hadir sebagai respon dari fenomena mereka-mereka yang salah kaprah dan kebablasan mengikuti arus asumsi publik yang dibangun oleh media massa, elektronik ataupun cetak.

TAHUN BARU DAN HARAPAN KITA

Tahun 2009 M. dan tahun 1430 H. akan segera menjelang secara bersamaan. Ada fenomena menarik sekaligus miris terjadi, di mana kalender Hijriyah lagi-lagi terabaikan dan dianaktirikan. Sepertinya, umat Islam sudah lupa dan tak peduli lagi betapa pentingnya momentum hijrah nabi SAW dalam sejarah Islam.

Kehadiran tahun yang baru biasanya diidentikkan dengan perubahan nasib dan peruntungan. Namun tahun 2009 ini, dalam konteks ekonomi kita warga dunia sedang mengalami masa-masa terberat yaitu krisis ekonomi yang melanda. Walaupun pemerintah kita cukup berhasil menghalau dampak terberat, namun badai krisis justru diprediksi muncul di tahun 2009 ini. Hari ini saja, kita sudah mendengar berita tentang badai PHK melanda di mana-mana. Beberapa perusahaan telah dan akan segera gulung tikar, dan jantung dari ribuan bahkan jutaan karyawan dan pekerja sedang berdegup dan berharap-harap cemas.

Di sisi lain, 2009 adalah tahun pesta demokrasi anak negeri. Mimpi para caleg dari tingkat kabupatean /kota sampai DPR RI ditentukan di tahun ini. Nuansa kehidupan kita dalam tahun itu, tentunya akan kental didominasi warna politik. Virus politik tidak hanya melanda mereka yang kecanduan ‘nikotin’nya saja, tapi juga akan menjangkiti seluruh penghuni bumi persada Indonesia ini.

Walau demikian, kita adalah bangsa yang kenyang mengalami nasib serupa di tahun-tahun yang lalu. Berbagai cobaan ekonomi dan politik sebarat apapun telah mampu kita atasi. Kita telah berpengalaman menjadi bangsa yang tak mudah menyerah, dan ini pertanda bahwa kita adalah bangsa yang selalu bekerja keras. Kerja keras jugalah yang bakal kita jadikan bekal dan modal dalam menyongsong tahun depan hingga tahun itu menjadi tahun terbaik bagi kita. Untuk itu, kita telah diberi berbagai pilihan untuk bisa menentukan nasib sekaligus biberi seperangkat modal untuk didayaguna dan dioptimalisasi. Pengalaman demi pengalaman menangani dan menanggulangi kesulitan, mestinya menjadi potensi untuk meraih berbagai harapan, tentunya dibarengi doa dan kerja lebih keras.

Wallaahu min waraa al- qashd

Ketua jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIC Cipasung. Mengajar Bahasa Arab di STAI Tasikmalaya.

Berharap Suci di Hari Fitri


Oleh: Asep M Tamam*

Ahirnya, Ramadhan benar-benar pamit. Ia berkunjung dan setelah menunaikan janjinya, ia kini berangsut pergi. Ia pergi dengan senyuman karena umat Islam sukses mengisi dari A hingga Z-nya dengan penuh khusyuk. Bila ia manusia, betapa ramahnya Ramadhan, betapa bersahabatnya ia karena telah menyertai perjalanan spiritualitas umat yang awalnya bermodal pas-pasan, kini terisi penuh dan siap menyambut esok, sebelas bulan ke depan dengan cukup amunisi.

Ramadhan pamit dengan meninggalkan inspirasi, bahwa dalam segala hal, umat harus melewatinya dengan bersama-sama. Dimulai dengan lapar yang dirasa bersama-sama diakhiri dengan zakat yang menuntut umat untuk merealisasikan keadilan bersama. Allah swt. menghendaki agar kita tidak membeda-bedakan diri, tidak selalu menghendaki perbedaan dan tidak mencari-cari perbedaan. Pelajaran demi pelajaran dari awal sampai akhir Ramadan ternyata menjadi inspirasi bahwa bila ingin maju, umat harus selalu bersatu.

Sebagai ungkapan syukur kepada Allah dan terima kasih kepada Ramadhan, kita telah mengagungkan- Nya (takbir), mengesakan- Nya (tahlil) dan menyampaikan pujian atas nikmat dan anugerah- Nya (tahmid) di malam satu syawal kemarin dan paginya, kita shalat ‘ied dalam suasana penuh keakraban. Keakraban umat yang ditandai sirnanya dendam dan kebencian di hari itu sering mengundang harap, seandainya tiap bulan adalah Ramadhan dan tiap hari adalah idul fitri.

Arti idul fitri, salah tapi benar

selama ini dan sampai hari ini, ada yang salah tapi benar berkenaan dengan penerjemahan kalimat ‘idul fitri’. Hampir kebanyakan kita mengartikan harfiah ‘idul fitri’ dengan ‘kembali kepada kesucian’. Berarti, ‘ied’ diterjemahkan kembali dan ‘fitri’ (fithr) diterjemahkan kesucian.

Mari kita cari atau buka di kamus manapun, entah Arab-Arab, Arab-Indonesia ataupun Arab- inggris. Kata ‘ied’ dan ‘fitri’ pasti diketemukan lain dari terjemahan ‘kembali kepada kesucian’. Terjemahan yang benar adalah ‘ied’ artinya hari raya dan fitri (fithr) artinya berbuka. Maka bila diartikan secara harfiah, idul fitri artinya ‘hari raya berbuka’ di mana hari itu umat Islam di seluruh dunia berhari raya dengan mewajibkan mereka makan-makan dan diharamkan melanjutkan puasa.

Ceritanya begini, penulis masih ingat ketika kuliah di semester lima jurusan Bahasa dan Sastera Arab UIN Jakarta, ada seorang dosen yang menggugat arti harfiah idul fitri di kelas. Ketika itu penulis tak mempedulikan pendapat pak dosen. Barulah ketika penulis kuliah di PPs (Program Pasca sarjana) di UIN yang sama (jurusan yang sama, Bahasa dan Sastera Arab) empat tahun berikutnya, seorang profesor bidang Bahasa Arab, tepatnya Prof. Dr. Bustami A. Ghani menjelaskan sejelas-jelasnya sambil menyebutkan sejumlah kamus yang bisa diakses di perpustakaan kampus. Ketika penulis sampaikan bahwa Prof. Dr. Quraish Shihab selalu mengartikan ‘kembali kepada kesucian’ dalam tulisan-tulisannya, pak Bustami, mantan rektor UIN Jakarta (dulu IAIN) di era 60-an itu menyuruh penulis menyampaikan salam hormatnya buat penulis tafsir al- Misbah itu. Penulis juga disuruh menyampaikan bahwa penerjemahan pak Quraish itu tidak tepat.

Lantas, di mana kebenarannya? Jawabnya, esensi (baca. substansi) idul fitri tak lain adalah kembalinya umat Islam pada jati dirinya, mengenali kembali dirinya sendiri setelah beberapa bulan ditelantarkan dan dibiarkan mengikuti sekehendak nafsunya. Maka bila diartikan ‘kembali kepada kesucian’, idul fitri tidaklah salah meskipun tidak juga tepat.

Terkadang ‘kembali kepada kesucian’ digeneralisasikan bagi segenap umat Islam. Hari itu biasa digelari ‘hari kemenangan’ padahal tidak semua umat Islam tersinari cahaya Ramadhan lalu suci dan kemudian beroleh kemenangan. Bisa kita saksikan sendiri, terutama di jantung-jantung kota, sebagian orang yang mengaku umat Islam justeru mengotori Ramadhan dan mengajak orang rame-rame mengotorinya. Maka kembali kepada kesucian harus dialamatkan kepada mereka-mereka —saja— yang menghidupkan siang dan malam Ramadhan dengan berjihad melawan hawa nafsu, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan- Nya (takwa).

Berharap kembali suci

Suci di hari raya adalah dambaan semua muslim yang berpuasa. Berbagai doa terucap sebagai penguat harapan agar dosa dengan Allah dan dosa dengan sesama tak lagi tersisa. Dalam rangkaian beberapa hari sebelum dan sesudah idul fitri, hp kita berdering lebih dari biasanya. Bagi penulis, mengirim sms menyampaikan tahniah (ucapan selamat) disertai permohonan maaf dan doa-doa kebaikan adalah wisata lebaran dengan paket murah, seratus rupiah.

Beberapa hadits shahih seputar Ramadhan; puasa, shalat malam, dan amaliah lainnya selalu bermuara pada janji-janji pengampunan dosa. Siapa orangnya yang tidak tergiur dengan janji pengampunan dosa? Siapa yang tidak pernah alpa untuk memenuhi janjinya selain Allah ‘azza wa jalla? Untuk itulah Rasulullah saw., para sahabat dan berbagai generasi saleh setelahnya selalu menyibukkan diri, siangnya, malamnya dan seluruh waktunya untuk meraih ampunan Sang Maha Ghafur..

Kita pastinya yakin akan kebenaran janji Allah dan rasul- Nya, “barangsiapa puasa Ramadhan dengan keimanan dan berharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang terdahulu diampuni Allah (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits yang lain Rasul bersabda, “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan berharap ridha Allah, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah.” (HR. Muslim). “Barangsiapa yang shalat pada malam lailat al- qadr dengan keimanan dan berharap ridha Allah, Allah akan mengampuni dosa-dosanya. (HR. Bukhari Muslim). Hadits-hadits di atas baru sebatas ibadah ritual antara hamba dengan Tuhannya. Dari dimensi sosial, Ramadhan dan idul fitrinya juga kental dengan rangkaian pembersihan dosa adami. Saling bersalaman (mushafahah atau ta’aafii), walau sederhana tapi efek positifnya disampaikan Rasulullah, “Tidaklah dua orang muslim bertemu dan bersalaman, kecuali Allah ampuni dosa keduanya sebelum keduanya berpisah.” (HR. Abu dawud). Demikian juga silaturahim (silaturahmi dalam istilah bahasa Indonesia) dan saling berkunjung, pahala besar dan pembebasan dari dosa menanti mereka yang selalu membiasakannya.

Maka lengkaplah sudah, seluruh rangkaian ibadah, mahdhah (langsung dengan Allah) atau ghair mahdhah (dengan sesama) yang melibatkan hati, mata, tangan, kaki, lidah dan semua anggota tubuh di bulan Ramadhan dan diakhiri idul fitri pada hakikatnya adalah rangkaian pembersihan seluruh aspek kemanusiaan manusia, baik di hadapan Allah ataupun di hadapan manusia.

Maka, dengan idul fitri, umat Islam —kita khususnya— telah diberi kesempatan yang sempurna untuk kembali kepada jati dirinya, kembali pada kesucian. Pertanyaan “apakah hari ini saya telah suci?” harus kita arahkan pada diri sendiri karena kita cemas, jangan-jangan kesucian itu menjadi milik orang lain, jangan-jangan kita hanya kebagian lapar dan hausnya saja. Akhirnya, penulis menyampaikan, selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, akhlash al-tahaanii wa athyab al- tamanniyaat bi’iid al- fithr al- mubaarak.

*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya

Idul Fitri, Setan pun Berdinas Kembali


Oleh: Asep M Tamam*

Idul fitri telah tiba, kesucian pun telah diraih. Beribu do’a terpanjat dan kata maaf membanjiri. Hari ini betul-betul menjadi hari milik umat Islam. Pengampunan dari Allah dari keikhlasan berpuasa ditambah pula pemaafan dari sesama. Lengkaplah kebahagiaan ini manakala sanak saudara dan handai taulan berkumpul dalam suasana lebaran yang penuh nuansa kebersamaan dan kepedulian.

Namun ada euphoria berlebih di sana-sini, utamanya bagi mereka yang tidak tulus berpuasa. Kebahagiaan idul fitri dimaknai kebebasan dan kemerdekaan. Lihatlah di pojokan sana, tengok pula di sudut sebelah sini, baru saja Ramadan pergi, ia langsung dilupai. Benar juga kata nabi, Ramadan adalah belenggu setan, dan ketika Ramadan pergi, setan pun kembali beraksi. Di balik nuansa idul fitri yang membahagiakan, ada panorama yang menyedihkan, yaitu merajalelanya kembali kemaksiatan.

Tulisan ini adalah in’ikas (refleksi) dari penulis setelah sekian lama mengintip sebagian umat Islam yang tenggelam dalam ‘memperlakukan’ idul fitri sehingga melenceng keluar dari tracknya. Ketika di bulan Ramadan dibelenggu, setan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya saja, ‘penataran’ yang dilakukannya terhadap manusia —umat Islam khususnya— dalam sebelas bulan sebelumnya telah menjadikan mereka begitu lancar dan akrab dengan kesalahan dan dosa walaupun di bulan Ramadan.

Hakikat setan

Secara terminologi, Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan setan sebagai roh jahat yang selalu menggoda manusia agar berlaku jahat. Dalam asy- Syaithan wal- Insan, Mutawalli al- Sya’rawi menjelaskan bahwa setan terdiri dari golongan jin dan manusia yang keduanya dihimpun oleh sifat dan tugas yang sama, yaitu menyebarluaskan kedurhakaan dan kerusakan di bumi (QS. Al- An’am [6] : 112).

Sejak memproklamirkan diri sebagai musuh bagi manusia, setan bertekad untuk bekerja maksimal demi meraih target optimal yaitu agar semua anak Adam masuk neraka. Ia akan terus dan terus memanfaatkan kelengahan manusia dan mencari berbagai celah agar manusia terjerat masuk ke dalam berbagai perangkap yang ia tebar. Sebaliknya, para ulama pun telah bekerja maksimal untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang setan ini dari al- Quran dan hadits-hadits nabi. Keingintahuan mereka dalam mencari informasi tentang setan ini adalah untuk mencari tahu titik kekuatan sekaligus kelemahan setan, sehingga umat bisa selamat dari makar dan tipu dayanya.

Kekuatan setan

Kekuatan pertama setan adalah ketersembunyian. Ketika bertemu musuh yang terlihat, kita kadang sulit untuk menghadapinya, bahkan mungkin kita yang dikalahkannya, maka apalagi bila yang dihadapi adalah musuh yang tersembunyi. Tentang ketersembunyian ini Allah firmankan dalam al- Quran, surat al- A’raf ayat 27 “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.

Kekuatan yang kedua adalah setan masuk ke dalam diri manusia. Al- Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah. Bahkan setiap manusia didampingi setan yang dalam al-Quran disebut qarin,Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman (qarin) yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka (QS. Fushshilat [41] : 25). Keberadaan setan yang mendampingi manusia bermacam-macam. Pakar hadits, Ibnu Abi Dunya meriwayatkan sabda nabi, “setannya orang mumin letih dan kurus, seperti letihnya unta dalam perjalanan.”

Ketiga, setan punya kemampuan membentuk diri dalam berbagai bentuk. M. Quraish Shihab, dalam buku yang tersembunyi menukil buku gharaib al- jinn wa ‘ajaibuhu karya asy- Sibli yang menyebutkan bahwa banyak sekali literatur yang mengungkapkan kisah-kisah yang menggambarkan poin ini. Yang menarik adalah tuturan M. Quraish Shihab bahwa dari kemampuan mengambil aneka bentuk itu, setan dapat mengambil bentuk manusia yang biasa digemari atau diidolai sehingga pada akhirnya manusia diantar untuk lengah dan terjerumus. Kekuatannya ini sering menjadikan euphimisme (penghalusan bahasa) dari kemaksiatan yang dilakukan manusia. Minuman keras dan zat adiktif sering diganti nama dengan sumber tenaga, kekuatan dan kepercayaan diri. Pornografi, sensualitas dan pornoaksi diibahasakan sebagai hak ekspresi, budaya dll.

Kekuatan yang keempat, setan sangat lihai, gigih dan sabar. Memanfaatkan keadaannya yang tersembunyi, setan menggoda dan menghiasi dosa-dosa dengan berbagai keindahan (rujuk QS. [6:43], [8: 48], [27: 24], [29: 38]). Usaha setan selalu berhasil dan andaipun gagal, ia akan datang dan datang lagi sehingga ia menang dan puas. Ia berkata, “saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al- A’raf [7] : 16-17). Tentang keuletan, kegigihan, kesabaran dan kelihaian setan nabi pernah berkata pada Umar bin Khattab, “ Hai Umar, jika setan gagal menggodamu dari satu jalan, ia akan datang lagi menggodamu dari jalan yang lain.” (HR.Bukhari Muslim).

Kelemahan setan

Jika manusia sering ingin show of force, setan pun demikian. Show of force adalah langkah siapapun untuk menyembunyikan kelemahan. Ternyata, setan pun punya kelemahan-kelemahan yang harus kita tahu untuk bisa mengalahkannya. Namun harus juga diungkapkan, jika setan mempunyai kekuatan, maka manusiapun punya kekuatan. Kalaulah ada setan dalam tubuh manusia dan maenjadi qarin, maka dalam diri manusia pun ada malaikat yang selalu mendampingi. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (QS. Ar- Ra’d [13]: 11)

Kelemahan setan yang pertama adalah keterbatasan. Jangan menduga bahwa setan memiliki kemampuan yang luar biasa. Jangan juga menduga bahwa kita tidak bisa mengalahkannya. “sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An- Nisa [4]: 76). Ia tidak punya kekuasaan —walaupun ia mampu menembus angkasa— bila kita memperkokoh keimanan dan ketawakalan. “Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS. An- Nahl [16]: 99)

Kedua, kelemahan setan adalah takut. Aisyah ra. meriwayatkan sabda nabi, “aku melihat setan jin dan manusia lari menjauhi umar.” Seorang tokoh tabiin, Mujahid berkata, “setan lebih takut kepada kalian daripada ketakutan kalian kepadanya. Bila ia datang dan menggoda, bertahanlah! Pasti ia akan pergi.” Para ulama berkata, “jika anda takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepada anda”. Lantas, mengapa setan takut? Setan takut karena ia tahu bahwa Allah akan membela hamba-hamba- Nya yang berlindung kepada- Nya. Allah berfirman, “karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu (QS. Ali ‘Imran [3]: 175).

Kelemahan ketiga, setan itu khannas (tersembunyi, mundur, kembali). Setan, apabila dihadapi dan dilawan ia akan pergi dan mundur lalu menghilang. Hal ini sesuai dengan sabda nabi, “Setan bersembunyi dan bercokol di hati manusia apabila ia lengah. Apabila ia berzikir, setan pun mundur dan menjauh.” (HR. Bukhari). Maka amat wajar dalam al- Quran banyak sekali ayat yang mengingatkan perlunya berzikir baik sebelum atau saat digoda setan. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah” (QS. Al- A’raf [7]: 200)

Kelemahan kelima bagi setan adalah lokasi godaan. Setan mempunyai kemampuan memperkuat jeratannya bila seseorang menetap pada lokasi godaan. Lokasi godaan setan adalah tempat-tempat hiburan, kehidupan malam, pasar, tempat-tempat kotor dll. Maka ketika seseorang meninggalkan lokasi jeratan setan, jerat-jerat itu satu persatu lepas sehingga setan menggoda mulai lagi dari awal. (rujuk al-Quran surat al- An’am [6] ayat 68).

Keenam, kelemahan setan ada dalam asal kejadiannya. Setan tercipta dari api, dan kehidupan mengajarkan bahwa api akan padam dengan air. Maka nabi bersabda, “sesungguhnya amarah bersumber dari setan, dan setan tercipta dari api. Maka jika salah seorang dari kalian marah, berwudhulah! (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Selanjutnya yang terakhir, kelemahan setan terletak pada kesudahan. Iblis dan semua setan pasti akan mati. Setelah kematian menjemput, ia seperti manusia akan dihisab dan diminta pertanggungjawaban. Kematian setan terjadi, apakah sebelum kiamat atau sesaat sebelum kiamat. “dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia,”. Ayat ke 25 dari surat Fushshilat ini menurut M. Quraish Shihab dalam al- Misbahnya adalah dalil bahwa seperti manusia, setan dan jin sudah banyak yang mati.

Tetap berjaga

Hari ini Ramadan telah pergi, ia akan semakin menjauh dan sedikit demi sedikit nuansanya akan sirna, tenggelam di makan waktu. Bagi kita, cahaya Ramadan masih belum meredup, ia akan tetap terang dalam memandu langkah ke depan. Pengetahuan akan hakikat setan akan membantu kita dalam menentukan arah hidup di dunia yang masih menyisakan sisa umurnya. Bila pengetahuan tentang setan itu ada, maka yakinlah, tanpa Ramadan pun kita akan tetap bisa berjaga. Wallaahu min waraa al- qashd

*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya.

Di Penghujung Kesempatan


Memoar seorang yang ‘gagal panen’ Ramadhan

Oleh: Asep M Tamam*

Ibarat lomba marathon, aku bersyukur, di belakangku masih banyak peserta yang tertinggal. Aku terus berlari, walau tenaga nyaris habis dan keringat kering terkuras. Tapi tetap saja aku tak jua masuk di hitungan para pemenang. Di depanku, jumlah peserta malah jauh lebih banyak dan aku tak mungkin, bahkan mustahil menyusul satu persatu di sisa tenaga yang masih bisa kuandalkan. Semua peserta di depanku melaju lebih cepat karena garis finish tersisa beberapa puluh meter di depan.

Ya, itulah petualanganku melewati emasnya kesempatan yang Tuhan tawarkan dalam sebulan ini. Medali emas yang berturut-turut kuraih di belasan tahun ke belakang harus lepas dari genggaman dan kini, yaa Tuhan… perunggu pun malah direbut orang. Apa sebenarnya yang terjadi? padahal sebelum lomba digelar, aku mempersiapkan suplemen batin dengan daftar vitamin yang lebih lengkap.

Tahulah aku, Tuhan adalah sumber segala dan tujuan semua. Aku tahu itu meski pesona ambisi seringkali menutupi. Ramadhan adalah misil semua misil. Kasih sayang Tuhan tumpah dan meruahi ruang dan waktunya. Sayang, aku menangkapnya hanya di hari kesatu dan kedua saja. Selebihnya, aku sibuk dengan berbagai sibuk. Salahnya, tanggung jawabku terhadap Yang Maha Agung kalah dipecundangi tanggung jawabku terhadap makhluk- Nya.

Mestinya, tensi kegiatanku di bulan dan tahun ini berangkat dari hangat, lalu bertambah hangat dan kemudian panas. Tiga tahapan dari tigapuluh hari yang dihidangkan malah kuputarbaliki. Sepuluh hari pertamanya panas, keduanya hangat dan ketiganya —astaghfirullah— dingin. Tak sulit sebenarnya mencari ‘dalang’ kegagalan dari hal yang sebenarnya aku tahu dari awal, “malas”. Aku tahu, bulan beribu gelar ini berkunjung —menurutku— hanya padaku saja. Tak kupungkiri bahwa janji-janji Sang Penghadir ‘bulan super’ ini benar-benar benar dan betul-betul betul. Tapi nyatanya, aku malah membelakanginya, lalu menjauhi tamu yang datang dengan membawa segala-galanya ini. Pikirku, esok pun masih punya sempat untuk bisa merajut hari dengan penuh arti. Hari-hari yang merayap, tak tahunya telah hampir tiba di garis finish, dan sungguh, aku belum mengerjakan apa-apa.

Aku malu, Tuhan datang padaku dengan membawa hadiah indah yang berbentuk Ramadhan. Aku bertanya pada diri, hadiah apa yang lebih mahal dari Ramadhan? Dan kujawab sendiri, “ada!”. Ia adalah hidayah dan taufik- Nya hingga setiap orang —dan aku termasuk salah satunya— mampu menyadarkan diri dan bisa mencicipi hidangan demi hidangannya, seperti dulu dinikmati oleh para pemburu ‘kuliner batin’ Ramadhan; para ulama dan orang-orang shalih.

Untungnya, kesadaran diri itu akhirnya hadir di penghujung kesempatan. Walau tersisa sehari, harga Ramadhan tetaplah mahal dan tak bisa dibeli. Harapan untuk mengejar ketertinggalan menyeruak setelah ketakberdayaan diri dihantam goda ambisi dua puluh hari lebih lamanya. “Ini hari terakhir bung! Bangunlah dan bangunkan jiwamu”, demikian batin berbisik. Maka aku segera melangkah sempoyongan. Pecahan-pecahan pertanyaan memenuhi batok kepala, “bisakah sehari menutupi dua puluh sembilan hari? bisakah satu jam membayar hutang sehari? Bisakah aku mengejar para peserta lain yang beberapa langkah lagi mengakhiri kompetisi?”.

Aku tak berdaya dan kurang selera. Di balik bongkahan daging, tulang dan darah yang dibalut kulit tipis ini jiwaku memanggil-manggil Sang Maula ‘Azza wa Jalla. Daripada kepalang malu, aku mencoba melawan sungkan dan berjuang meraih alasan. Aku yakin dan keyakinan ini menjadi modal di sisa hidupku, bahwa bagi Tuhan, tidak ada kata terlambat. Maa lam yugharghir kata Nabi, kesempatan itu terbuka jauh dari lebarnya asa semua penghuni makhluk di kolong jagat. Dan ternyata, Tuhan maha rahman, ia yang paling rahim. Aku tersungkur, hatiku kulekatkan pada- Nya. Aku berbisik sejadi-jadinya, :

Tuhan, terima kasih masih Kau gerakkan hati ini untuk mengingat- Mu, masih Kau basahi bibir ini untuk menyebut- Mu, masih Kau sinari batin ini untuk meraup laba dari secuil zikir yang tersisa, secarik wirid yang masih sempat terlafalkan, dan seuntai puji atas berjuta karunia, walau itu hanya tersembahkan sehari dari tiga puluh yang ada.

Tuhan, syukurku terpanjat hanya untuk- Mu, detik-detik terakhir bulan- Mu masih menyisakan semilir harum yang masih bisa kuhirup. Aku tahu Engkaulah yang mencipta detik dan menit. Bukankah Engkau yang memfirmankan ana al- dahru (Akulah pencipta, pemilik dan pengendali masa)? Sisa waktu yang tersedia adalah nikmat terlezat yang Kau khususkan untukku, sekali lagi, khusus untukku. Maka izinkan aku mengenyangkan sisi kesadaran ini untuk hanya membutuhkan- Mu, berlindung hanya pada- Mu, berbisik hanya dengan- Mu, untuk lalu meraup ridha- Mu, mendulang maghfirah- Mu dan memanen cinta- Mu.

Tuhan, aku mengaku, di saat semua orang berburu janji-janji maghfirah- Mu, aku malah ma’syuk dalam ketakmengertian. Bodohlah aku yang menyia-nyiakan raihan ampunan di bulan pengampunan. Tapi Engkau maha penguji, dan di hari perpisahan ini, kesempatan datang lagi dan untuk kali ini aku sambut sehangatnya. Walau hanya sehari yang ada, engkau maha kuasa menjadikannya hari terkhusus. Aku mengaku dan Engkaulah yang mengampuni Adam setelah ia mengaku alpa (QS. Al- Baqarah [2]: 37) ), Engkau juga telah mengampui Musa yang mengaku berlaku salah (QS. Al- Qashash [28]: 16), Engkau pulalah yang memaafkan Yunus yang mengaku bahwa ia zhalim (QS. Al- Anbiya [21]: 27 ).

Tuhan, Ramadhan sesaat lagi pamit dan aku tak tahu apa kami akan saling menyapa lagi di tahun depan. Maka ijinkan aku menghabiskan sisa waktu ini untuk memadu rindu. Sibukanlah bibir, hati, tangan, mata, lidah, telinga dan segalanya untuk menapaki tangga-tangga menuju- Mu. Maka pagutkan aku dengan mesjid- Mu, al- Quran- Mu dan segala ibadah- Mu. Biarkan aku melepas tamuku dengan saling melebar senyum, berpisah dengan air mata bahagia di atas bahagia- Mu menerima taubatku.

Tuhan, sebagaimana nabi- Mu, harapanku hanya tertambat pada- Mu, pertemukan kami lagi, yakinkan aku bahwa kami hanya berpisah setahun, tahun depan kami akan memagut hari dalam kesyahduan yang lebih lagi, hari-hari yang akan mengantarku menggenggam taqwa yang hakiki, taqwanya ramadhan- Mu.

Tuhan, puaskan aku hari ini, taubatkan aku… amiin

*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya

Muhasabah Ramadhan

Oleh: Asep M Tamam*

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.”

(QS. Al- baqarah [2]: 284)

Muhasabah, ya, kata muhasabah sudah tak asing lagi di telinga warga muslim Indonesia, utamanya ketika KH. Abdullah Gymnastiar ‘bertengger’ di puncak popularitasnya. Kata muhasabah berasal dari bahasa Arab, haasaba yuhaasibu muhaasabatan wa hisaaban yang berarti menghitung atau mengalkulasi. Muhasabah dianjurkan agar kita rajin menghitung diri, membandingkan kebaikan dan kesalahan yang dilakukan anggota tubuh, terutama titik-titik sumber datangnya dosa.

Muhasabah, dianjurkan terutama di saat-saat penting dan dalam suasana taubat. Ayat ke 284 dari surat al- Baqarah ini, ketika turun mengundang ‘protes’ dari kalangan sahabat. Bagaimana mungkin mereka mampu untuk selalu ada dalam suasana spiritual yang tak terputus? Padahal —sebagaimana kita— mereka pun sering lalai dan butuh suasana relaks. Mereka tak berdaya bila apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka harus diperhitungkan oleh Allah di hari perhitungan nanti. Protes mereka didengar, dan ayat lain hadir menjawab keresahan, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al- baqarah [2]: 286).

Ada kisah yang pastinya membuat kita ciut dan terundang untuk merenung. Konon, Abdullah bin Umar setiap kali membaca ayat ini selalu saja menangis. Ketika ditanya kenapa, ia selalu menjawab, “perhitungan yang akan terjadi di hari itu (kiamat) lebih dahsyat dari yang mampu kita bayangkan!”

Bahana muhasabah memasyarakat di kalangan sahabat di masa pemerintahan Umar bin Khattab. Para ulama kita sering mendendangkan kata-kata yang dilantunkan khalifah yang terkenal adil ini, “hitunglah (muhasabah) diri sebelum kau dihisab nanti, timbanglah amalmu sebelum kau ditimbang di ‘gelanggang’ mizan, dan berhiaslah dengan amal saleh demi kesenanganmu di hari ‘pameran terbesar’ (kiamat) nanti.”

Umar bin Khattab, dari dialah kita tahu bagaimana gambaran sebenarnya dari muhasabah. Kata-katanya diresapi dan dipraktekannya sendiri. Anas bin Malik pernah menyertai Umar dalam sebuah perjalanan dinasnya sebagai khalifah. Ketika lewat di rumah tak bertuan, Umar masuk sendirian sementara Anas di luar. Apa yang dikatakan Umar dari dalam rumah didengar jelas oleh Anas. Umar berkata pada dirinya sendiri, “Hai Umar, apa yang akan kau pilih, taqwa kepada Allah dan berlaku adil sebagai pemimpin atau kau akan memilih azab Allah karena ketidakadilanmu?”

Kata-kata Umar lainnya pun cukup melegenda dan sering didengungkan para ulama ketika berada dalam ritual muhasabah, atau ketika berhadapan dengan dosa dan kemaksiatan yang akan dilakukannya, “jawaban apa yang akan kau sampaikan nanti ketika Tuhan meminta pertanggungjawaban dari perbuatan yang kamu lakukan?”

Ramadan, bulan muhasabah

Hari ini adalah hari terakhir dari Ramadan tahun ini. Berarti kita akan ditinggalkan bulan mulia ini dalam hitungan jam, atau bahkan hitungan menit. Kita tak tahu dan pastinya takan pernah tahu dalam posisi apa dan kondisi bagaimana kita melewatkan detik-detik terakhirnya. Yang kita tahu, suasana sakral Ramadhan akan berlalu, lalu menghilang dan kita jelang lagi dua belas bulan ke depan.

Mestinya, muhasabah adalah ibadah rutin dan tak perlu bertanya kapan dan dimana dilakukannya. Tapi Ramadan, dari dahulunya memang kental dengan nuansa muhasabah. Bagaimana tidak, nabi Muhamad sendiri yang menjanjikan keterampunan dosa bagi hambanya yang bermuhasabah di bulan ini. Ihtisab, satu kata yang sering diartikan ‘mengharap ridha Allah’, justru ditafsirkan muhasabah oleh Prof. Quraish Shihab. Maka waktu yang paling tepat untuk melakukannya adalah hari ini, hari terakhir Ramadan.

Mari bermuhasabah

Seringnya kita lalai dan karenanya kita lupa apa yang telah terjadi setahun ke belakang. Terlalu jauh untuk menjangkaukan ingatan akan kelakuan kita sebelas bulan sebelum kedatangan Ramadan, karena yang kita lakukan selama sebulan ini pun mungkin sudah tak kita ingat lagi.

Dengan muhasabah, kita akan mengenali mana anggota tubuh kita yang paling sering diumbar masuk dalam dunia dosa dan pelanggaran. Di antara kita mungkin ada yang langsung menemukan, lidahlah anggota badan yang paling dibiarkan bebas mengumpat, mengejek, mencibir, menghasut, menyumpahi, membicarakan aib teman dan saudara, berkata jorok dan kasar, memfitnah, membuka rahasia, mengumbar janji sana-sini, memarahi teman, adik-kakak, anak bahkan isteri sendiri. Lidah jugalah anggota badan yang sering kita jauhkan dari memuji dan menghargai, baca alquran, dzikir dan wirid, berdakwah mengajak orang beramal baik, mendamaikan teman dan saudara dan lain-lain.

Ada juga di antara kita yang langsung menunjuk hati sebagai anggota badannya yang paling dibiarkan liar. Kita sering membiarkan hati terjepit pengap dalam siksaan rasa iri, dengki, ambisi dan angan kosong. Darinya pula lahir benci, kesumat, niat jelek, dendam, selalu ingin dipuji tinggi hati dan sombong. Pertemanan yang akrab dengan itu semua membuat hati kita terlantar dan terbiar, jauh dari sifat rendah hati, cinta sesama dan selalu terpanggil dalam segala kebaikan.

Atau mungkin mata dan telinga yang paling dominan kita korbankan untuk bebas sebebas-bebasnya. Mata kita betah untuk mengintip, mengintai, membaca dan memandang aurat, aib orang, tontonan-tontonan kotor, buku-buku dan bacaan-bacaan porno. Telinga kita pun terlanjur diakrabkan dengan omongan-omongan dosa, musik-musik nista, ocehan-ocehan kotor dan bukan alquran, lagu-lagu Islami juga nasehat-nasehat para dai, mubaligh dan para ulama.

Di antara kita, ada juga mungkin yang dominasi dosa dan kesalahannya terpusat di tangan dan kakinya. Tangannya terbiasa dilajurkan untuk mencuri dan mengutil, memukul dan menampar, mencubit dan mencakar, menengadah dan meminta, bukan memberi dan menyantuni, mengelus dan membelai anak, istri, dan orang yang sewajibnya dikasihi. Sementara kaki, seringnya kita biarkan untuk mengantar hasrat negatif ke tempat-tempat terlarang, menendang dan menghardik orang dan lain-lain.

Diawali pamitnya ramadan

Akhir Ramadan tahun ini adalah momentum untuk bertanya pada diri masing-masing, “kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi? Kehadiran Ramadan yang dinanti, pamitnya pasti ditangisi. Tangis di akhir Ramadan akan sia-sia bila tak disertai tekad untuk berubah, tekad untuk melewati hari-hari ke depan jauh lebih baik, berkualitas dan bertakwa.

Mengenali lidah, hati, mata, telinga, tangan, kaki dan segenap panca indera yang dihasilkan dari ritual muhasabah akan megantarkan kita pada pemahaman sebenar-benarnya akan makna hidup dan kehidupan. Dengan memahami makna kehidupan, kita akan beranjak untuk menghargai diri, keluarga, sesama dan juga lingkungan sekitar. Bila hal ini berhasil kita coba dan ulangi, maka berarti kita akan lebih siap menjelang hari-hari ke depan dengan senyum optimis.

Wallaahu mi waraa al- qashd

*Dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya

I'tikaf, Sunnah yang Hampir Punah

oleh: Asep M Tamam*

Ketika ditanya tentang i’tikaf, syaikh al- Syirbashi, penulis buku yasaluunaka fi al- din wal-hayat, menegaskan bahwa i’tikaf adalah sunnah takaadu takuunu mahjurah (kebiasaan nabi yang sudah hampir ditinggalkan). Jawaban mantan rektor Universitas al- Azhar Mesir ini, beberapa lamanya mengendap dalam dada dan pikiran penulis yang berharap, pada saatnya nanti satu judul tentang i’tikaf ditulis secara eksklusif.

Alhamdu lillah, momentum itu akhirnya datang juga. Selasa sore, 23 september 2008 yang bertepatan dengan 23 Ramadan 1428 H, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) menggelar kajian Ramadan dengan tema “sepuluh hari terakhir bersama keluarga Rasulullah”. Kajian yang berlangsung 90 menit itu memunculkan aneka pertanyaan yang tak penulis duga. Pertanyaan itu, selain berkisar tentang lailat al- Qadr juga tentang sunnah i’tikaf.

Lebih mengenal I’tikaf

Bila kita rajin meluangkan waktu menengok mesjid-mesjid di malam-malam akhir Ramadan, kita bisa membuktikan statemen al- Syirbashi ini benar. Walaupun ada generasi muda ataupun tua yang menyengaja meramaikan mesjid di pertengahan malam, itu hanya dilakukan oleh segelintir saja, ibarat satu tetes dari samudera umat yang begitu luasnya.

I’tikaf adalah berdiam diri (al- mukts) di mesjid beberapa saat, bisa lama atau sebentar, dilakukan seorang muslim yang balig dan suci, dengan niat taqarrub kepada Allah. Ulama telah sepakat tentang disyariatkannya i’tikaf ini. Imam al- Nawawi, al- Syaukani dan Ibnu Arabi berpendapat bahwa hukum i’tikaf adalah sunat muakkad. Imam Abu Dawud dan Ahmad menyatakan, tidak ada ikhtilaf di kalangan ulama tentang sunatnya I’tikaf. Tapi al- Syaukani menegaskan bahwa para ulama juga sepakat bahwa i’tikaf tidaklah wajib. Wajib i’tikaf, menurut mereka hanyalah bagi mereka yang bernadzar melakukannya.

Dalam buku zaad al- ma’aad, Ibnu Qayyim al- Jauziyyah menyebutkan hikmah i’tikaf dengan menulis “kelebihan makan dan minum, kelebihan bergaul dengan sesama dan kelebihan tidur telah membuat hidup manusia timpang, lalu itu semua menghalangi, melemahkan, menghentikan atau bahkan memutus rantai hubungannya dengan Sang Pencipta. Kelebihan-kelebihan ini (makan, pergaulan dan tidur) diperbaiki oleh shaum Ramadan, terutama dengan disyariatkannya I’tikaf. Dengannya, seorang hamba bisa merapatkan diri hanya kepada Allah, segenap jiwa raganya, lidah dan hatinya hanya terfokus untuk memuaskan-Nya. Maka keakraban pun hanya terpusat pada- Nya.”

Hadits al- Bukhari dan Muslim tentang rutinitas sepuluh hari terakhir yang diisi penuh oleh Rasulullah untuk i’tikaf menjadi dalil bahwa kegiatan ini dijadikan kesenangan, bahkan hiburan yang menyenangkan dimensi rohani bagi nabi. Beliau melakukan iI’tikaf di sepuluh hari terakhir sampai akhir hayatnya, lalu istri-istrinya melanjutkan tradisi itu sepeninggal nabi. Dalam hadits juga dikisahkan, nabi pernah tertinggal i’tikaf di satu hari, kemudian beliau mengqada (mengganti) i’tikafnya yang batal itu di bulan Syawal. Nabi, di tahun kewafatannya bahkan melakukan i’tikaf pada dua puluh hari terakhir bulan Ramadan.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits bahwa Nafi’, seorang tabi’in pernah diperlihatkan satu titik di mesjid Nabawi, yaitu tempat i’tikafnya nabi oleh Abdullah bin Umar. Ini, demikian para ulama, menjadi dalil bolehnya seseorang membuat tempat khusus untuk I’tikaf di mesjid bila itu bisa menambah nilai kekhusyuan dan tidak mengganggu hak-hak orang lain dan tidak riya (ingin pamer ibadah).

Tentang ketentuan tempat beri’tikaf, para ulama berbeda pendapat apakah harus di mesjid jami’ atau boleh di setiap mesjid. Sebagian ulama mensyaratkan di mesjid jami, sebagian lainnya membolehkan di mesjid manapun asal mesjid itu dipakai shalat berjamaah. Sementara itu, sebagian ulama membolehkan i’tikaf bagi perempuan dengan mengambil tempat di mushalla rumahnya. Adapun waktu dan lamanya i’tikaf, para ulama tidak menentukan batas waktu, apakah seharian, sejam atau bahkan hanya beberapa saat selama dia berada di mesjid, berniat i’tikaf dan di dalamnya hanya melakukan kebaikan.

Kita selalu berlebihan

Ibadah i’tikaf, bila dibiasakan akan betul-betul mendidik kita akan pentingnya penguasaan diri. Tengoklah diri kita, mata kita sering berlebihan memandang hal yang dilarang, telinga kita sering berlebihan mendengar hal yang tak benar, lidah kita sering berlebihan menyebut hal yang tak patut, hati kita sering berlebihan melajurkan iri, dengki, dan ambisi, perut kita sering berlebihan menyarap yang tak sehat, kaki kita sering berlebihan melangkah ke tempat yang salah dan seluruh anggota badan sering berlebihan mengikuti syahwat (keinginan) yang belum tentu bermanfaat.

Maka i’tikaf hakikatnya adalah nikmat yang dikhususkan Allah bagi siapapun dari umat ini, tanpa kecuali, yang ingin membersihkan diri, mengurangi ‘kadar’ berlebih yang bersemayam dalam jasadnya, sehingga hari-hari ke depan yang akan dijelang lebih seimbang. Dan, bukankah ajaran keseimbangan merupakan karakter dari ajaran suci yang dibawa nabi?

Kembali ke al- Syirbashi (inspirator judul di atas), beliau pernah ditanya oleh murid-muridnya, “Apakah pantas i’tikaf ini dilakukan oleh manusia modern jaman ini, padahal dua puluh empat jam bagi mereka tidak cukup untuk mencari uang? Ia menjawab: ”ya, i’tikaf adalah salah satu atau bahkan satu-satunya ibadah yang paling cocok untuk manusia abad modern. Ia bahkan bisa sampai kepada hukum wajib. Materialisme abad modern meniscayakan adanya ‘semilir-semilir’ rohani untuk menjaga keutuhan keseimbangan mental manusia modern yang kian hari kian rapuh.”

Pendapat al-Syirbashi ini mengingatkan penulis akan artikel Prof, DR. Azyumardi Azra dalam buku rekonstruksi dan renungan religius islam. Lewat artikelnya ia menginformasikan bahwa di kota-kota besar Amerika yaitu Manhattan, New York, Los Angeles dan lainnya, para pengusaha dan millioner muslim justru menghabiskan waktunya di mesjid-mesjid. ‘Belantara’ Amerika yang ketimpangan materi-rohaninya tak lagi diragukan justru menyuguhkan pemandangan lain yang —sepertinya— “lucu” dimana mesjid-mesjid menjadi mercusuar syiar Islam yang menyejukkan.

I’tikaf, dalam arti yang sesungguhnya, menunggu sosialisasi yang efektif dan akurat dari ‘pinisepuh-pinisepuh’ umat ini, sehingga umat tak ‘kehilangan’ mesjid, rumah yang diyakini menjanjikan kenyamanan hidup di balik derita kaum papa dan gemerlap harta orang-orang kaya, di zaman yang hanya tinggal menyisakan sisa-sisa umurnya.

Wallaahu min waraa al- qashd

*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya.

Lailatul Qadr di Malam ke 27, Benarkah?

Bagi siapapun, keindahan Ramadhan lebih dari yang bisa diucap, ditulis dan dibayangkan. Berbagai kesibukan di bulan ini tak henti dan beragam. Semua orang; ulama, guru, karyawan, pedagang, siapapun menyibuki diri, bergerak menuju karunia ilahi, baik lahir (harta) maupun batin (pahala). Kesibukan ini mencapai puncaknya manakala sepuluh hari terakhir datang dan menjelang.

Bila ditelisik lebih ke dalam, ada panorama yang kontras antara kegiatan material di pusat keramaian di satu sisi dengan kegiatan spiritual di mesjid di sisi yang lain. Seharusnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan ‘pemadatan’ intensitas rohani yang berpusat di mesjid. Mesjid pun semestinya lebih padat dan semarak. Sayangnya, pencerahan kepada umat sampai hari ini ‘gagal’ tersosialisasikan secara maksimal. Maka bisa disaksikan, kesibukan ‘berburu’ lailatul qadr pun pada akhirnya harus kalah oleh perburuan yang lain, di pusat keramaian.

Menengok ke belakang

Lupakan dulu kesibukan di atas, lalu mari kita menengok ke tempat yang lain. Nun di sana, ada aktivis-aktivis ROHIS (rohani Islam) sekolah dan aktivis-aktivis mesjid kampus yang mengisi siang dan malam Ramadhan dengan berbagai aktivitas. ‘Segar’ mata ini bila dipicingkan untuk melihat begitu semangatnya mereka dalam memesrakan diri dengan mesjid, al- Quran dan buku-buku agama. Walaupun entitas mereka minoritas, atau ilmu mereka terbatas, tapi kebersamaan yang mereka untai —dengan wajah basah bekas air wudhu— memantulkan pemandangan yang menyejukkan.

Para sahabat Rasulullah, lima belas abad yang lalu pun kebanyakannya adalah para pemuda. Jiwa muda yang disalurkan pada jalur yang benar telah mengantarkan mereka menjadi generasi terbaik (khair al-ajyal) di era terbaik (khair al-qurun) yang terlahir dari rahim bumi. Mereka adalah generasi rabbani yang menghabiskan waktu muda mereka sebagai generasi qurani.

Ketika Ramadhan tiba, lalu melaju dan menembus tanggal ke dua puluh, mereka berlomba memasang kavling —tentunya non-permanen— di mesjid untuk merayakan hari-hari terakhir Ramadhan dengan mengerahkan puncak ‘daya’ ibadah yang mereka miliki. Shalatnya, ritualnya, hidup dan matinya digadaikan kepada Allah hanya demi menggapai puncak kenikmatan dari satu malam yang dirahasiakan, lailatul qadr.

Lailatul qadr, malam termahal

Sesaat lagi, kita pasti ditinggalkan Ramadhan, pasti!, dan ketika itu terjadi, penyesalan tak lagi berarti. Hari ini Ramadhan memang masih tersisa dalam hitungan hari, dan harga termahal Ramadhan justru ada di hari-hari terakhirnya itu.

Rasulullah, di sepuluh hari terakhir Ramadhan beliau yajtahid (mengerahkan segenap kemampuan untuk beribadah). Dia tak pernah sehebat itu di luar bulan Ramadhan. Demikian kata-kata ‘Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim. Malam-malam terakhir Ramadhan tak pernah dilewatkan Rasulullah karena di antara malam-malam itu ada satu malam yang kebaikan, keberkahan dan keutamaannya lebih dari seribu bulan, yaitu lailat al- qadr. Malam itu malam diturunkannya al- Quran (QS. Al- Qadr [97]: 1-5) atau (QS. Ad- Dukhan [44]: 3-8).

Pada malam itu, Bagi orang yang terjaga, lalu shalat malam dengan menggenggam keimanan kepada Allah, yakin dengan karunia- Nya, hanya mengharap pahala dan balasan dari- Nya, maka dosa-dosanya pasti diampuni, kesalahan-kesalahannya dihapus, kekeliruan-kekeliruannya dimaafkan dan doa-doanya dikabul. Demikian Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan imam al- Bukhari dan Muslim.

Mengintai lailat al- qadr

Dari masa ke masa, selalu ada pertanyaan yang terlontar dari mulut umat. Tak lain, Tanya itu ada karena ada semangat membara dari mereka untuk mengejarnya, “malam ke berapa lailat al-Qadr turun?”

Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan rektor al- Azhar, Kairo, Mesir bertutur: “al- Quran tidak memerinci jawaban dari pertanyaan itu, demikian juga hadits Nabi. Beliau memerinci turunnya lailat al- qadr hanya dengan perkiraan. Rasul bersabda, “Carilah lailat al- qadr pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan!” (HR. al- Bukhari Muslim). Lalu beliau mendekatkan perkiraan itu dengan bersabda, “Carilah lailat al- qadr pada malam ganjil dari bulan Ramadhan!” (HR. al- Bukhari). Kemudian beliau lebih mendekatkannya lagi dengan sabdanya, “barangsiapa yang ingin mencarinya, maka carilah lailat al- qadr pada tujuh malam terakhir dari Ramadhan!”

Malam ke dua puluh tujuh, mungkinkah?

Para ulama, juga orang-orang saleh dari berbagai generasi —karena gandrungnya ‘berburu’ lailat al- qadr di setiap tahunnya— selalu mencari berbagai trik, juga meramu berbagai rumus tentang kemungkinan tanggal berapa lailat al- qadr turun.

Namun demikian, Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Nabi bersabda’ “barang siapa yang ingin mencari lailat al- qadr, hendaklah ia mencarinya pada malam keduapuluh tujuh di bulan Ramadhan.”

Banyak sahabat Nabi, lagi-lagi, karena kerinduan mendalam untuk bertemu lailat al- qadr, sering menyengaja mencari, menyelidiki dan mengintai malam terindah ini di malam-malam, terutama malam keduapuluh tujuh bulan Ramadhan. Seorang sahabat, Ubay bin Ka’ab mengatakan, “Demi Allah, tiada tuhan selain Dia, aku mengetahui malam lailat al- qadr itu, yaitu malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk melaksanakan qiyamullail, yaitu malam keduapuluh tujuh, dan tanda-tandanya adalah terbitnya matahari berwarna putih tanpa memiliki sinar.” (HR. Muslim)

Lailat al- qadr di malam keduapuluh tujuh? Ada-ada saja para ulama yang mencari-cari rahasia di balik ucapan Ubay bin Ka’ab ini. Samih Kariyam, dalam buku ma’annabiy fii Ramadhaan, menulis, “Sebagian orang mengatakan bahwa kata-kata dalam surat al- qadr bejumlah tiga puluh kata, seperti jumlah hari dalam Ramadhan. Dan kata ‘hiya’ yang menyatakan lailat al- qadr dalam firman- Nya “salaamun hiya” berada atau tertera pada kata yang keduapuluh tujuh dari surat tersebut. Ada lagi upaya yang dilakukan, dan ini lebih aneh lagi, yaitu bahwa jumlah huruf dalam kata lailat al- qadr berjumlah sembilan, sedangkan lailat al- qadr disebutkan tiga kali dalam surat tersebut. Bila dikalikan, sembilan kali tiga sama dengan duapuluh tujuh.”

Tetaplah menjadi rahasia

Sebetulnya masih banyak lagi upaya para ulama yang dilakukan untuk mencari titik kerahasiaan lailat al- qadr ini. Namun yang pasti, mereka tidak ada yang secara pasti menentukan yang sebenarnya dari malam-malam Ramadhan yang hadir tiap tahunnya.

Dr. Falih al- Shughair dalam buku waqafaat ma’ash-shaaimiin menegaskan, tidak ada ketentuan khusus bahwa lailat al- qadr akan muncul pada malam tertentu di setiap tahunnya, tapi dari tahun ke tahun selalu berubah-ubah. Allah sengaja merahasiakannya sebagai wujud kasih sayang kepada hamba-hamba- Nya, agar mereka terus memperbanyak ibadah dan ketaatan, tanpa harus menentukan kapan ibadah itu dilakukan. Dirahasiakan juga agar di setiap malamnya, hamba-hamba- Nya itu terus mengerahkan segala kemampuan ibadah terbaiknya dengan taqarrub, istighfar, taubat, muhasabah, baca al- Quran, dzikir, shalat malam, doa, dan segala betuk penghambaan lainnya.

Optimalisasi ibadah

Bila direnungkan lebih mendalam, rangkaian ajaran Islam dan kesempurnaanya tentang ibadah shaum dari mulai hari pertama sampai terakhir, tensinya justru semakin meningkat. Sementara yang tampak dan terjadi, umat sering terkesan kelelahan di awal sampai di pertengahan bulan. Inilah makanya Allah menentukan target orang yang berpuasa agar umat bertaqwa, la’allakum tattaquun. Maka dapat dipastikan, Ramadhan akan menjadi alat penyaring (sellector) yang terus mengayak umat sehingga nantinya terpilih mana hamba-hamba- Nya yang bisa istiqamah, atau bahkan penghambaannya dari hari ke hari terus meningkat.

Ketika di antara umat Islam ada yang semakin hari ibadahnya semakin meredup, ketika sampai di tengah perjalanan Ramadhan ia kehabisan bekal dan amunisi, lalu ketika yang lainnya sudah membelokan orientasi Ramadhannya ke acara lebaran, ketika persinggahannya pindah ke tempat-tempat perbelanjaan, maka, mampukah kita berbalik arah? Bisakah kita mencharge diri dan berjanji untuk mengoptimalkan kesempatan terindah ini untuk mengisi siang dan malam hari agar bisa membahagiakan ilahi???

Wallaahu min waraa al- qashd

*Dosen UIN Bandung, IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya

hitut

Followers

arabiyyatuna © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO