Di Penghujung Kesempatan
Memoar seorang yang ‘gagal panen’ Ramadhan
Oleh: Asep M Tamam*
Ibarat lomba marathon, aku bersyukur, di belakangku masih banyak peserta yang tertinggal. Aku terus berlari, walau tenaga nyaris habis dan keringat kering terkuras. Tapi tetap saja aku tak jua masuk di hitungan para pemenang. Di depanku, jumlah peserta malah jauh lebih banyak dan aku tak mungkin, bahkan mustahil menyusul satu persatu di sisa tenaga yang masih bisa kuandalkan. Semua peserta di depanku melaju lebih cepat karena garis finish tersisa beberapa puluh meter di depan.
Ya, itulah petualanganku melewati emasnya kesempatan yang Tuhan tawarkan dalam sebulan ini. Medali emas yang berturut-turut kuraih di belasan tahun ke belakang harus lepas dari genggaman dan kini, yaa Tuhan… perunggu pun malah direbut orang. Apa sebenarnya yang terjadi? padahal sebelum lomba digelar, aku mempersiapkan suplemen batin dengan daftar vitamin yang lebih lengkap.
Tahulah aku, Tuhan adalah sumber segala dan tujuan semua. Aku tahu itu meski pesona ambisi seringkali menutupi. Ramadhan adalah misil semua misil. Kasih sayang Tuhan tumpah dan meruahi ruang dan waktunya. Sayang, aku menangkapnya hanya di hari kesatu dan kedua saja. Selebihnya, aku sibuk dengan berbagai sibuk. Salahnya, tanggung jawabku terhadap Yang Maha Agung kalah dipecundangi tanggung jawabku terhadap makhluk- Nya.
Mestinya, tensi kegiatanku di bulan dan tahun ini berangkat dari hangat, lalu bertambah hangat dan kemudian panas. Tiga tahapan dari tigapuluh hari yang dihidangkan malah kuputarbaliki. Sepuluh hari pertamanya panas, keduanya hangat dan ketiganya —astaghfirullah— dingin. Tak sulit sebenarnya mencari ‘dalang’ kegagalan dari hal yang sebenarnya aku tahu dari awal, “malas”. Aku tahu, bulan beribu gelar ini berkunjung —menurutku— hanya padaku saja. Tak kupungkiri bahwa janji-janji Sang Penghadir ‘bulan super’ ini benar-benar benar dan betul-betul betul. Tapi nyatanya, aku malah membelakanginya, lalu menjauhi tamu yang datang dengan membawa segala-galanya ini. Pikirku, esok pun masih punya sempat untuk bisa merajut hari dengan penuh arti. Hari-hari yang merayap, tak tahunya telah hampir tiba di garis finish, dan sungguh, aku belum mengerjakan apa-apa.
Aku malu, Tuhan datang padaku dengan membawa hadiah indah yang berbentuk Ramadhan. Aku bertanya pada diri, hadiah apa yang lebih mahal dari Ramadhan? Dan kujawab sendiri, “ada!”. Ia adalah hidayah dan taufik- Nya hingga setiap orang —dan aku termasuk salah satunya— mampu menyadarkan diri dan bisa mencicipi hidangan demi hidangannya, seperti dulu dinikmati oleh para pemburu ‘kuliner batin’ Ramadhan; para ulama dan orang-orang shalih.
Untungnya, kesadaran diri itu akhirnya hadir di penghujung kesempatan. Walau tersisa sehari, harga Ramadhan tetaplah mahal dan tak bisa dibeli. Harapan untuk mengejar ketertinggalan menyeruak setelah ketakberdayaan diri dihantam goda ambisi dua puluh hari lebih lamanya. “Ini hari terakhir bung! Bangunlah dan bangunkan jiwamu”, demikian batin berbisik. Maka aku segera melangkah sempoyongan. Pecahan-pecahan pertanyaan memenuhi batok kepala, “bisakah sehari menutupi dua puluh sembilan hari? bisakah satu jam membayar hutang sehari? Bisakah aku mengejar para peserta lain yang beberapa langkah lagi mengakhiri kompetisi?”.
Aku tak berdaya dan kurang selera. Di balik bongkahan daging, tulang dan darah yang dibalut kulit tipis ini jiwaku memanggil-manggil Sang Maula ‘Azza wa Jalla. Daripada kepalang malu, aku mencoba melawan sungkan dan berjuang meraih alasan. Aku yakin dan keyakinan ini menjadi modal di sisa hidupku, bahwa bagi Tuhan, tidak ada kata terlambat. Maa lam yugharghir kata Nabi, kesempatan itu terbuka jauh dari lebarnya asa semua penghuni makhluk di kolong jagat. Dan ternyata, Tuhan maha rahman, ia yang paling rahim. Aku tersungkur, hatiku kulekatkan pada- Nya. Aku berbisik sejadi-jadinya, :
Tuhan, terima kasih masih Kau gerakkan hati ini untuk mengingat- Mu, masih Kau basahi bibir ini untuk menyebut- Mu, masih Kau sinari batin ini untuk meraup laba dari secuil zikir yang tersisa, secarik wirid yang masih sempat terlafalkan, dan seuntai puji atas berjuta karunia, walau itu hanya tersembahkan sehari dari tiga puluh yang ada.
Tuhan, syukurku terpanjat hanya untuk- Mu, detik-detik terakhir bulan- Mu masih menyisakan semilir harum yang masih bisa kuhirup. Aku tahu Engkaulah yang mencipta detik dan menit. Bukankah Engkau yang memfirmankan ana al- dahru (Akulah pencipta, pemilik dan pengendali masa)? Sisa waktu yang tersedia adalah nikmat terlezat yang Kau khususkan untukku, sekali lagi, khusus untukku. Maka izinkan aku mengenyangkan sisi kesadaran ini untuk hanya membutuhkan- Mu, berlindung hanya pada- Mu, berbisik hanya dengan- Mu, untuk lalu meraup ridha- Mu, mendulang maghfirah- Mu dan memanen cinta- Mu.
Tuhan, aku mengaku, di saat semua orang berburu janji-janji maghfirah- Mu, aku malah ma’syuk dalam ketakmengertian. Bodohlah aku yang menyia-nyiakan raihan ampunan di bulan pengampunan. Tapi Engkau maha penguji, dan di hari perpisahan ini, kesempatan datang lagi dan untuk kali ini aku sambut sehangatnya. Walau hanya sehari yang ada, engkau maha kuasa menjadikannya hari terkhusus. Aku mengaku dan Engkaulah yang mengampuni Adam setelah ia mengaku alpa (QS. Al- Baqarah [2]: 37) ), Engkau juga telah mengampui Musa yang mengaku berlaku salah (QS. Al- Qashash [28]: 16), Engkau pulalah yang memaafkan Yunus yang mengaku bahwa ia zhalim (QS. Al- Anbiya [21]: 27 ).
Tuhan, Ramadhan sesaat lagi pamit dan aku tak tahu apa kami akan saling menyapa lagi di tahun depan. Maka ijinkan aku menghabiskan sisa waktu ini untuk memadu rindu. Sibukanlah bibir, hati, tangan, mata, lidah, telinga dan segalanya untuk menapaki tangga-tangga menuju- Mu. Maka pagutkan aku dengan mesjid- Mu, al- Quran- Mu dan segala ibadah- Mu. Biarkan aku melepas tamuku dengan saling melebar senyum, berpisah dengan air mata bahagia di atas bahagia- Mu menerima taubatku.
Tuhan, sebagaimana nabi- Mu, harapanku hanya tertambat pada- Mu, pertemukan kami lagi, yakinkan aku bahwa kami hanya berpisah setahun, tahun depan kami akan memagut hari dalam kesyahduan yang lebih lagi, hari-hari yang akan mengantarku menggenggam taqwa yang hakiki, taqwanya ramadhan- Mu.
Tuhan, puaskan aku hari ini, taubatkan aku… amiin
*dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya
Posting Komentar