TAWAKAL DI MATA HAMKA, CAKNUR DAN AA GYM
Oleh: Asep M Tamam*
jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri."
(QS Yunus [10]:84)
Hari ini, minggu di bulan ini, nasib perekonomian masyarakat dunia sedang dirundung
Pemerintah
Tawakal, adalah satu dari pesona akhlak manusia dalam menggapai pencerahan spiritualitasnya. Al- Jurjani, penilis buku At-Ta’rifat (definisi-definisi dalam istilah agama) mendefinisikan tawakal dengan “yakin akan dukungan dan pertolongan Allah, tak lagi berharap uluran bantuan manusia”.
HAMKA, Cak Nur dan Aa Gym
Ketiga tokoh nasional ini, memang bukanlah representasi dari ulama dan pemikir Muslim Indonesia secara keseluruhan. Tapi tak diragukan, dunia dari ketiga tokoh ini cukup mewakili dimensi keislaman dan keumatan di negeri ini. Secara kebetulan saja, di perpustakaan pribadi penulis, rujukan tentang tawakal dari ulama
HAMKA dengan Tafsir al-Azhar dan Tasawuf Moderennya, Cak Nur dengan Islam Doktrin dan Peradabannya, sementara Aa Gym dengan Islam Prestatif dan Aa Gym Apa Adanya-nya telah memberi entry point akan pemahaman mereka tentang tawakal. Pemahaman mereka, ternyata sebagiannya sama, sementara sebagian lainnya saling menyumbang.
Secara umum, ketiga tokoh harismatik ini memandang tawakal bukanlah ajaran fatalistik dan eskapis sebagaimana difahami sebagian umat Islam yang terpengaruhi ajaran kaum Jabariyah. Tawakal adalah sikap aktif dan tumbuh hanya dari pribadi yang memahami hidup dengan tepat dan menerima kenyataan hidup dengan tepat pula.
Menurut HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), tawakal adalah ekspresi dari seorang muslim tangguh setelah maksimal mengerahkan ikhtiyar. Tawakal berarti menjadikan Allah sebagai al- wakil (Maha Mewakili, Maha Memelihara), dan meyakini secara total bahwa Allah-lah yang menjadi penjaminnya (QS. At-Thalaq [65]: 3).
HAMKA, dalam tafsir al-Azhar menulis, “Orang yang bertawakkal kepada Allah, ia akan menyerah dengan sebulat hati dan yakin bahwa Allah tidak akan mengecewakannya. Pendirian itu menyebabkan dia tidak pernah berputus asa dari rahmat Tuhan. Pengalaman manusia berkali-kali menunjukkan bahwa kesusahan tidaklah menetap susah saja, bahkan hidup adalah pergantian antara susah dengan senang. Karena keyakinan demikian teguh, maka pintu yang tertutup untuk orang lain demikian terbuka untuknya. Perbendaharaan orang yang bertawakal tidaklah akan dibiarkan Tuhan jadi kering; ketika dekat dengan kering, datang saja bantuan baru yang tidak disangka-sangka.”
Dengan bahasa yang indah, HAMKA pun berujar, “Segala sesuatu dipersiapkan, segala daya upaya, sekedar tenaga yang ada pada manusia semuanya dilengkapkan. Tidak ada yang dikerjakan dengan acuh tak acuh, selalu siap dan sedia. Dan keputusan terakhir terserahlah kepada Tuhan.” Demikian tawakal hakiki di mata HAMKA.
Di mata Cak Nur (Prof. DR. Nurcholis Majid) , kata yang benar adalah tawakul, beliau mengambil kata jadian (mashdar) dari bahasa Arab. Menurutya, tawakal adalah ‘mempercayakan diri atau menaruh kepercayaan’ kepada Allah SWT. Maka tawakal, ia adalah implikasi langsung dari iman. Ditegaskannya, tidak ada tawakal tanpa iman dan tdak ada ada iman tanpa tawakal, demikian yang ia fahami dari QS. Al- Maidah [5]: 3.
Tawakal, lebih jauhnya, adalah keberanian moral untuk menginsafi dan mengakui keterbatasan diri sendiri setelah upaya optimal, dan untuk menyatakan bahwa tidak semua persoalan dapat dikuasai dan diatasi tanpa bantuan (inayah) Tuhan Yang Maha Kuasa. Kekuatan dari tawakal adalah semangat akan berbagai harapan hidup. Jika takwa melandasi kesadaran berbuat baik demi ridha-Nya, maka tawakal menyediakan sumber kekuatan jiwa dan keteguhan hati menempuh hidup yang penuh tantangan dan tidak sepenuhnya dapat dipahami ini, terutama dalam perjuangan memperoleh ridha-Nya.
Tawakal, di mata Aa Gym (KH. Abdullah Gymnastiar) dalam otobiografinya Aa Gym Apa Adanya, adalah kunci utama untuk menjadi manusia terbaik, ia juga merupakan jalan terakhir setelah seorang muslim menempuh dan mengerahkan tiga potensi dasarnya; dzikir, pikir, dan ikhtiyar.
Dzikir, menurut Aa Gym adalah keyakinan yang benar disertai amalan yang penuh. Ia menjadi fondasi yang akan meluruskan niat dan menjadi sandaran yang kokoh bagi setiap aspek kehidupan yang dijalani. Tanpa dzikir, niat tak akan benar dan keyakinan pun akan mudah goyah. Selanjutnya, pikir adalah potensi berupa akal yang dengannya seorang muslim bisa membaca berbagai hal yang baik pada diri dan lingkungannya. Potensi ini, bila diolah akan berbuah karya nyata. Sementara ikhtiyar, ia adalah kombinasi antara dzikir dan pikir yang diaktualisasikan dengan wujud kerja keras. Maka, optimalisasi ketiga potensi ini, akan menghasilkan energi besar pada diri seorang muslim, yaitu keyakinan, penyerahan, dan penyandaran diri terhadap keMaha Kuasaan Allah SWT.
Kontekstualisasi tawakal
Sering kali kita goyah dan ragu, sering juga kita terburu-buru, seringnya kita pun berburuk sangka terhadap Allah terhadap berbagai permasalahan hidup yang terus menerus dan tanpa henti menghampiri. Inginnya, kita hanya menerima yang enaknya saja, maunya, nasib mujur selalu memihak kita dalam setiap episode demi episode kehidupan kita. Kita tak mau hidup ini selalu ada dalam balutan kesulitan, kesedihan dan kenestapaan
Ini semua adalah ekspresi dari ketidak tahuan kita akan makna terdalam dari tawakal. Pengetahuan kita akan makna tawakal berarti akan menggugah potensi positif kita dalam mengisi babak demi babak kehidupan kita hari ini dan masa yang akan datang. Maka, pelajaran berharga dari HAMKA, Cak Nur dan Aa Gym ini akan memandu langkah kita memahami dan menghayati makna tawakal yang sebenar-benarnya.
Saat ini, bencana ekonomi global tengah menyerang bukan hanya negara maju, imbasnya telah pula menerjang semua penghuni planet bumi ini. inilah episode paling mutakhir yang mau tak mau harus kita jalani dengan mengacu pada ketentuan Sang Maha Mengatur, Sang Maha Berkehendak, Allah Azza wa Jalla.
*Dosen IAIC Cipasung dan STAI Tasikmalaya
Posting Komentar