Sepuluh Hari Terakhir Bersama Keluarga Nabi
Oleh: Asep M Tamam*
Menyedihkan! kalaulah tanpa kehadiran kakek nenek kita, mungkin tak tersisa lagi di antara umat Islam yang peduli dengan penanggalan Arab (Islam). Selain Ramadan, kebanyakan umat tak tahu lagi hari ini tanggal berapa, bulan apa dan tahun berapa. Atensi terhadap kalender Hijriyah, bahkan terhadap beberapa simbol keislaman sejatinya merupakan menu wajib yang disuapkan setiap orang tua muslim terhadap anaknya. Namun sayangnya, budaya asing yang hadir telah menggerus satu demi satu budaya ketimuran yang semakin dikesankan kuno dan out of date.
Untungnya, Allah menitipkan satu di antara dua belas bulan itu yang in sya a (kalau Dia berkehendak) umat tak akan menyepelekannya sampai kapanpun, yaitu Ramadan. Hari ini, semua orang, bahkan anak kecil pun tahu, Ramadan telah memasuki sepuluh hari terakhirnya. Bagi beberapa kalangan, dua puluh hari ke belakang terasa melelahkan. Kehadiran Ramadan tak lain hanyalah siksaan yang membelenggu kebebasan. Miskinnya iman dan lemahnya keyakinan pasti membuat siapapun terganggu dengan kedatangan Ramadan karena memang, Ramadan berkunjung hanya kepada mereka yang beriman saja, yaa ayyuhalladziina aamanuu.
Sempurnanya nikmat
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim [14]: 34). Ramadan adalah satu dari berbagai nikmat terbesar yang dipaketkan Allah untuk umat Islam. Kesempurnaan nikmatnya bahkan bukan lagi terasa oleh satu-dua kalangan, tapi semua orang larut merasakannya. Namun demikian, ada satu nikmat di bulan agung ini yang hanya terbatas di kalangan tertentu saja, ia adalah nikmat bathin. Sedihnya, tidak semua orang Islam tahu bahwa kesempurnaan nikmat Ramadan justru ada di ujung hari-harinya.
Di Indonesia, bahkan di kebanyakan negara-negara muslim di dunia, sepuluh hari terakhir dianggap subordinate atau hanya pelengkap saja. Mata batin kita sering tersiksa menyaksikan kesalahan patal yang dilakukan umat ini dalam memperlakukan detik-detik terakhir Ramadan, terutama sepuluh hari ketiganya.
Coba saja kita intip di mesjid-mesjid kampung, kegiatan dari mulai kanak-kanak sampai orang dewasa sudah terhenti dari mulai tanggal
Bersama nabi dan keluarganya
“Pada dua puluh malam pertama di bulan Ramadan, nabi masih melakukan shalat dan sempat tidur. Tapi bila datang sepuluh hari yang terakhir, beliau mengencangkan tali pinggangnya.” (HR. Ahmad dalam bukunya al- Musnad). Hadits ini menggambarkan konsentrasi nabi ketika Ramadan menyisakan sepuluh hari terakhirnya. Tak hanya untuk dirinya sendiri, nabi lalu mengajak serta keluarganya untuk mencurahkan perhatian hanya untuk Ramadan. ”apabila masuk sepuluh hari terakhir, nabi mengikat kainnya, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan dua hadits ini saja, kita harusnya malu untuk —terpaksa— membandingkan betapa berbeda idealisme kehidupan nabi sang panutan dengan realita kehidupan kita. ‘Mengikat kain’ diartikan para ulama sebagai kiasan yang berarti menjaga jarak dengan istri-istrinya. Artinya, bagi nabi, menahan diri untuk tidak menyalurkan hasrat seksual tidak cukup di siang hari, tapi juga di malam hari bila beliau berada pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Hal itu dilakukannya agar beliau dapat puas menyalurkan hasrat ibadahnya secara total kepada Allah swt.
Sementara ‘menghidupkan malam’ adalah menjadikan malam sebagai kehidupan. Berbagai penghambaan seperti baca alquran, zikir dan shalat akan terasa besar pengaruhnya di jiwa manakala hal itu dilakukan di waktu malam. Suasana malam yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan duniawi dan lepas dari segala aktifitas sangat kondusif untuk menjadi momentum munajat (berbisik kepada Allah), menyampaikan berbagai permohonan, memohon diampuni salah dan dosa. Malam hari pun rupanya telah menjadi ‘inspirasi’ bagi orang-orang saleh , dulu dan kini, untuk bukan hanya beribadah, tapi juga berkarya.
‘Membangunkan keluarga’ juga tak luput dari kisah penting dalam episode sepuluh hari terakhir Ramadan dalam kehidupan nabi. Bagi orang yang soleh, memanfatkan sesempit apapun peluang kebaikan yang diperolehnya, adalah juga merupakan kesempatan bagi keluarganya. Dalam hal ini nabi bersabda, “Allah merahmati seorang lelaki yang bangun dan shalat malam, lalu membangunkan isterinya. Bila isterinya tak bangun, ia mencipratkan air ke muka istrinya. Allah pun merahmati seorang isteri yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya. Bila suami tak jua bangun, ia mencipratkan air ke wajah suaminya.” (HR. Abu Daud).
Lebih dari itu, ‘Aisyah berkata, “pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan) nabi yajtahid, lebih giat lagi dalam beribadah. Yajtahid dalam hadits riwayat muslim ini difahami oleh para ulama seperti makna ijtihad, yaitu memusatkan fikiran dan mengerahkan segenap kemampuan untuk mengisi sepuluh hari terakhir dalam melampiaskan kebutuhan ukhrawi. Maka bisa dibayangkan keuletan beliau —yang pastinya juga diikuti keluarga dan para sahabatnya— dalam menghargai mahalnya kesempatan sepuluh hari dalam setahun ini.
I’tikaf
Pastinya, i’tikaf adalah kebiasaan nabi dan para sahabat yang biasa dilakukan terutama di penghujung Ramadan. Al- Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “nabi selalu beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai beliau wafat. Setelah wafat, isteri-isterinya juga melakukan i’tikaf.” Berdasarkan sunnah ini, para ulama berijma’ bahwa i’tikaf pada bulan Ramadan merupakan ibadah yang diperintahkan.
Beberapa amaliah seperti baca dan tadabbur alquran, munajat dan doa, istighfar dan taubat, menghitung keadaan diri atau muhasabah, zikir, wirid, shalat sunat dan i’tiraf (mengakui dosa) adalah rangkaian acara yang biasa mengisi kegiatan i’tikaf ini. Mengisi akhir Ramadan dengan i’tikaf akan lebih cepat mengantarkan kita pada kesucian lahir batin, seperti yang sering didengung-dengungkan orang menjelang ‘idul fitri tiba. I’tikaf di zaman ini, di negeri yang kental dengan dunia belanja untuk ‘idul fitri ini, pastinya hanya dilakukan oleh orang yang —karena jarangnya— dianggap aneh. Namun dalam urusan kebaikan, orang yang dianggap aneh menempati tempat terhormat di mata Allah. Nabi bersabda, “thuubaa lil ghurabaa” berbahagialah orang yang dianggap aneh.
Penutup
Sekali lagi, kesempurnaan nikmat Ramadan ada pada hari-hari terakhirnya, dan hanya sementara orang yang lulus mendaki jalannya. Bagaimana tidak, hari ini saja orang-orang sudah begitu sibuk mempersiapkan diri menyambut idul fitri yang waktunya masih lama. Bila kita concern dalam mengisi hari-hari terakhir ini dengan ritual ibadah, maka ‘nilai duniawi’ dari sepuluh hari tersisa tak semahal harga yang dibeli oleh mereka yang sibuk mempersiapkan ‘pesta’ idul fitri. Kalau demikian halnya, maka ada tiga kebiasaan umat dalam mengisi sepuluh hari Ramadan yang tersisa; pertama, mereka yang memilih khusyu’ beribadah dan tidak tergoda untuk berpesta. Kedua, mereka yang sibuk mempersiapkan pesta idul fitri dan tak lagi menghiraukan kesempatan ibadah terindah sepuluh hari dalam setahun. Dan ketiga adalah mereka yang memperlakukan sisa sepuluh hari dengan adil, ibadah bertambah khusyu, tapi tidak lupa mempersiapkan diri menghadapi idul fitri seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Maka tulisan ini harus diakhiri dengan pertanyaan, “jalan yang mana yang kita pilih?”
Wallaahu a’lam
*Dosen UIN
Posting Komentar